Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.196. Pertemuan di Benteng Dewa


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 196...


 


“Pendekar Halilintar.” Seru Bargawa tertahan.


Walau suara itu terdengar pelan, namun cukup jelas di telinga Pendekar Halilintar. Ia pun menoleh kearah Bargawa. Suami Cempaka itupun mengenali siapa yang bersama Bargawa. Ia pun menghampiri lelaki tua yang bergelar Raja Iblis Kelabang itu, diikuti Cempaka dan Canik Kemuning.


“Intan!” seru Cempaka melihat di sana ada sepupunya.


“Kak Cempaka!” seru Intan juga. Kemudian gadis itu bangkit dan memeluk cempaka. Keduanya saling berpelukan melepaskan kerinduan masing-masing.


“Maafkan aku kak, kemarin sewaktu di perguruan Jari Sakti tidak sempat berpamitan.”


“Tidak mengapa, aku mengerti keadaan kalian kemarin.”


Setelah saling menyapa, Pendekar Halilintar, Cempa, Canik Kemuning bergabung dengan Bayu dan dua orang lainnya.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Hendak kemanakah kalian?” tanya Jaka.


“Kami hendak ke Benteng Dewa melihat keramaian kak.” Sahut Intan sambil tersenyum.


“Oh.. Apa Bayu juga ingin ikut dalam pemilihan ketua dunia persilatan?” tanya Jaka lagi?


“Tidak, aku tidak tertarik untuk itu.” Jawab Bayu singkat.


“Kalau begitu kalian tidak keberatan, ada baiknya kita bersama-sama dalam satu rombongan ke sana.” Usul Jaka.

__ADS_1


Bayupun mengangguk di sertai senyuman khasnya. Sedangkan yang lain tidak memberikan tanggapan apa-apa. Namun nampaknya apa yang menjadi keputusan Bayu, itulah keputusan mereka.


Setelah puas mengobrol, merekapun masuk ke kamar masing-masing yang sudah di pesan untuk beristirahat. Keesokan harinya, enam orang itu melanjutkan perjalanan menuju bukit Benteng Dewa. Mereka melaju menggunakan kudanya masing-masing.


Tiba di hari yang ditentukan, Benteng Dewa mulai dipadati oleh para pendekar dunia persilatan yang mendatangi tempat itu. Tidak terkecuali  Raden Raga Lawing dan Malaikat Putih yang sudah bergabung dengan beberapa orang pembantunya. Selain itu beberapa perguruan aliran silat juga datang. Di depan panggung  sudah di siapkan kursi-kursi untuk tempat duduk para rombongan yang datang.


“Pertapa Sakti Tanpa Nama dan rombongan dataang..!” teriak petugas penyambut tamu memberitahukan kepada hadirin yang berada di sana. Memang ada beberapa


Tak lama kemudian rombongan Pendekar Halilintar, Cempaka dan Canik Kemuning datang. Mereka datang tak bersama Bayu dan yang lainnya, melainkan bersama Pertapa Sakti Tanpa Nama dan beberapa orang pendekar lain. Memang di penginapan mereka sepakat untuk pergi sama-sama, namun di tengah perjalanan Bayu, Intan dan Bargawa memisahkan diri karena merasa tak leluasa kalau di Benteng Dewa Bergabung dengan Pendekar Halilintar.


Riuh pikuk tamu yang terlebih dahulu datang mulai terdengar. Kedatangan Pendekar Halilintar dengan yang lainnya memang ditunggu-tunggu. Walau pertemuan di Hutan  Pengecoh Arwah tidak seluruh pendekar datang, namun berita keputusan tentang Pendekar Halilintar yang akan dijagokan orang-orang pertapa sakti tanpa nama sudah senter terdengar.


“Rajawali Merah Ketua Istana Lembah Neraka beserta rombongan dataang!”


Kembali petugas pemandu tamu berteriak memberitahukan kedatangan Rajawali Merah. Sejenak semua orang diam melihat rombongan yang datang. Kali ini Bayu sudah mengenakan kembali pakaian khasnya yang berwarna merah dengan jubah yang menggantung di punggung.


Pertapa Sakti menatap tajam ke arah rombongan Bayu. Terutama kepada  pemuda itu dan juga Jari Malaikat.  Entah apa yang dipikirkan orang tua itu, tampak kegeraman yang ia tampakan dari raut wajah dan sorot pandangan matanya.


“Majikan Benteng Dewa memasuki mimbar teriak petugas pemandu.”


Semua orang melihat ke arah seorang lelaki tampan berusia dua puluh tahunan lebih yang mengenakan pakaian berwarna keemasan. Hampir semua orang yang berada di sana tidak ada yang mengenali pemuda itu kecuali Bayu dan beberapa orang yang pernah bentrok dengannya. Dia memang orang yang menamakan dirinya sebagai Dewa Iblis Kegelapan. Yang dahulu pernah melakukan ritual berpindah raga.


“Siapa pemuda itu?” tanya Pertapa Sakti Tanpa Nama kepada Bayu dengan berbisik.


“Entahlah Eyang, akupun tidak mengetahui siapa gerangan pemuda itu. Tapi besar kemungkinan dialah Dewa Iblis Kegelapan.” Sahut Jaka.


“Ahh.. tidak mungkin. Sewaktu muda aku pernah bertarung dengan Dewa Iblis Kegelapan atau yang dulunya bergelar Raja Iblis Kelelawar Hitam itu. Kalaupun orang itu masih hidup, seharusnya usianya lebih tua daripada aku.”Sahut Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Mungkin seperti kabar burung yang beredar, ia telah menggunakan ilmu hitam untuk melakukan ritual perpindahan raga.”  Sahut Pendekar Halilintar.

__ADS_1


“Hmmm entahlah. Aku sendiri hanya pernah mendengar ilmu hitam semacamitu, namun tak pernah melihatnya sendiri.”


“Kawan-kawan dunia Persilatan sekalian. Namaku Braja Pasupata atau kalian boleh panggil dengan sebutan Majikan Benteng Dewa.” Ucap Dewa Iblis Kegelapan.


Mendengar ucapan Dewa Iblis Kegelapan beberapa orang menjadi berang. Terutama para murid perguran Tangan Dewa yang berada di samping panggung besar yang di jadikan tempat pertandinagan nanti. Bukan Panggung besar, lebih tepatnya lapangan yang di bangun tinggi.


“Bangsat! Siapa yang sudi menganggap kau sebagai majikan Benteng Dewa. Kalian merebut tempat kami dengan ca..  huueeekk!”


Belum sempat salah satu murid Perguruan Tangan Dewa itu menyelesaikan ucapannya, sebuah kerikil melesat dan menghantam tepat di tenggorokannya. Kontan lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan itu tewas dengan tenggorokan berlubang dan mengeluarkan darah. Beberapa orang bereaksi tidak puas dengan sikap tuan rumah. Namun rata-rata mereka di cegah oleh orang sendiri saathendak bertindak.


“Di sini kita akan memilih ketua dunia persilatan, bukan mengurusi maslah pribadi. Apabila ada yang memiliki dendam pribadi denganku ataupun dengan yang lainnya, tunggu selesai pemilihan ketua ini menyelesaikannya.” Tegas Braja Pasupata.


“Apakah Tuan mengenali  orang itu? Tanya Bargawa.


“Tidak, hanya saja aku pernah bentrk dengannya di Benteng Dewa ini. Dilihat secara kasat mata dia adalah pemimpin gerombolan  di tempat ini. Tapi pada dasarnya ia merupakan anak buah dari orang lain, Dari Raja Barat.” Sahut Bayu.


“Apa! Raja Barat yang menjadi otak pergerakan ini? Kalau begitu pergerakan mereka erat kaitannya dengan unsur politik kenegaraan.”


“Akupun menduganya seperti itu kakek Bargawa” sahut Bayu.


“Hari ini kita akan memilih ketua dunia persilatan berdasarkan kemampuan, kehebatannya dalam ilmu kesaktian dan bela diri. Siapapun boleh mencalonkan dirinya sendiri ataupun orang lain dengan aturan ia harus bertarung dan memenangkan pertarungan sampai akhir. Jadi pemilihan kita lakukan orang perorangan, bukan atas nama kelompok.


Pada pertandingan pertama, siapa yang menang akan menghadapi penantang berikutnya, begitu seterusnya sampai tidak ada lagi yang berani menantangnya. Bagi orang yang sudah memenangkan pertandingan sebanyak tiga kali berturut-turut boleh beristirahat sebentar lalu harus kembali melanjutkan pertandingan. Setiap ertandingan akan berakhir sampai ada salah satu dari mereka yang pingsan, mati, ataupun ada yang menyatakan diri menyerah. Dan setiap mereka yang menyerah wajib mencium kaki si pemenang.


Braja Pasupata diam sejenak setelah menjelaskan panjang lebar tentang peraturan pertandingan.


Bersambung..


Jangan lupa Like dan komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2