Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
91. Tiba di daratan Negri Selatan


__ADS_3

PERHATIAN


Salam Dunia Persilatan...


Sebelumnya Author ingin menyampaikan permohonan maaf atas seringnya terlambat update cerita "ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA" dikarenakan beberapa hari ini sedang dalam masa sibuk. Namun sebagai ucapan terima kasih atas kepercayaanya terhadap karya ini, Author selalu berusaha menyempatkan bisa update minimal satu episode.


Insya Allah kedepannya akan diperbaiki lagi jadwal updatenya dan berusaha lebih banyak lagi. Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini.


Selamat membaca.


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 91


Tiba di daratan Negri Selatan


Setelah hari yang ditentukan tiba, Dewa Iblis Kegelapan bersama hampir seluruh pengikutnya pergi menyeberang dari Pulau Es menuju daratan Negeri Selatan. Nampak di lautan satu buah kapal besar diikuti puluhan kapal kecil bersusun. Keadaan itu menarik perhatian beberapa beberapa orang nelayan yang sedang mencari ikan di laut.


"Rombongan siapa itu ya min? kok banyak sekali." Tanya seorang nelayan kepada teman satu perahunya yang bernama Tarmin.


"Sepertinya mereka orang-orang Pulau Es Wo, karena semua perahu itu berasal dari sana." jawab Tarmin kepada Towo.


"Mudah-mudahan saja bukan pertanda buruk" desah Towo.


Setelah setengah hari berlayar, akhirnya rombongan Partai Iblis Berkabut sampai ke daratan Negara Selatan. Tiba di sana mereka langsung di sambut sekitar dua ratus orang prajurit kerajaan yang lengkap dengan persenjataan. Ada sekitar lima orang perwira kerajaan yang memimpin mereka.


"Tuan, mungkin itu yang dimaksud mata-mata kita tentang pasukan yang mencurigakan bergerak ke daratan negara kita" Kata salah seorang prajurit kepada perwira yang menjadi pemimpin pasukan tersebut.


"Hmmmm... tak dikira banyak sekali pasukan yang mereka bawa. Untung prajurit yang menyertai kita adalah prajurit pilihan yang kemampuannya satu orang berbanding sepuluh prajurit biasa." Ucap Perwira itu menyombongkan diri.

__ADS_1


Di perahu besar, Dewa Iblis Kegelapan mengamati pergerakan para prajurit kerajaan yang sedang melakukan penghadangan. Wajahnya menunjukan senyum jahat dan meremehkan. Hal serupa juga di tunjukkan para jagoan utama Partai Iblis Berkabut yang berada di samping kanan dan kiri ketuanya itu.


"Cari mati saja. Katakan pada anggota tingkat bawah untuk menghabisi mereka. Anggap ujicoba pukulan kelabang hitam yang beracun itu" Perintah Dewa Ibslis Kegelapan.


"Baik ketua!" jawab Iblis Merah. Kemudian ia memerintahkan Buto Ireng untuk melaksanakan perintah ketuanya tadi.


Mendapat perintah yang diteruskan oleh Iblis Merah, Buto Ireng segera memberi isarat kepada perahu-perahu kecil di sekitaran perahu besar yang dimuati Dewa Iblis Kegelapan dan beberapa tokoh utama Partai Iblis Berkabut lainnya.


Tiba-tiba kabut berwarna putih muncul dari arah perahu Partai Iblis Berkabut. Kabut putih itu mulai menutupi penglihatan kearah kumpulan perahu Dewa Iblis Kegelapan dan anak buahnya. Lama-kelamaan kabut putih itu terus bergerak ke arah pasukan kerajaan.


"Hati-hati..." Seru sang perwira yang menjadi pemimpin pasukan itu. "Tutup pernapasan kalian dengan kain, kabut itu bisa saja beracun." tambahnya lagi.


Seluruh pasukan mengambil kain yang ia bawa menutupi hidung dan mulutnya. Prajurit yang tidak memilikinya terpaksa merobek sebagian kain dari pakaian yang mereka gunakan. Mereka pun mulai bersiaga dengan segala kemungkinan yang terjadi.


"Aaaaa..."


Beberapa orang prajurit yang tak sempat menutup pernapasannya, roboh seketika ketika terhirup kabut yang menjalar ketempat mereka. Beberapa orang prajurit lain panik dan melarikan diri. Sang perwira pun gelagapan tanpa bisa melihat keadaan anak buahnya.


"Aaaaa..."


Kembali teriakan kesakitan dari beberapa orang prajurit terdengar. Setelah itu terdengar bunyi berjatuhan dari tubuh prajurit kerajaan. Makin lama makin banyak teriakan yang terdengar disusul bunyi berdebuk orang jatuh. Sampai akhirnya perlahan-lahan kabut mulai sirna dari tempat itu.


Betapa terkejutnya dua orang perwira kerajaan saat mendapati semua teman dan anakbuahnya telah tewas dengan kondisi tubuh menghitam. Bau amis menyengat juga tercium dari tubuh-tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Sementara kedua orang prajurit itu kini telah dikepung puluhan orang berpakaian serba hitam.


"Ampuuuunn tuann ampuuunnn... ampuni nyawa kami, kami hanya orang suruhan." Ucap seorang perwira seraya berlutut dan sesekali bersujud mencium tanah mengharap ampunan.


Sementara satu orang perwira lain yang tersisa melihat temannya bersujud meminta ampun, iapun mengikutinya. Kini keduanya bersujud menjadi orang-orang pengecut mengharapkan ampunan lawan. Kegagahan yang mereka tunjukan sebelumnya tiba-tiba saja sirna.


"Hahaha dasar manusia sampah kerajaan." ejek Dewa Iblis kegelapan.

__ADS_1


Blammm...


Sebuah petir berwarna hitam bercampur kemerahan menyerang kedua orang perwira itu. Seketika keduanya musnah menjadi abu tanpa sempat berkata apa-apa. Sungguh dahsyat kekuatan Dewa Iblis Kegelapan yang sudah mencapat taraf sempurna.


"Hidup Dewa Iblis Kegelapan..."


"Hidup Dewa Iblis Kegelapan..."


Sorak sorai dari anak buah Dewa Iblis Kegelapan melihat kehebatan ilmu junjungannya membahana memenuhi tempat itu.


Berjarak cukup jauh dari tempat itu seorang kakek tanpa baju mengawasi segala tindak-tanduk mereka. Wajahnya nampak pucat melihat kejadian tadi. "Sungguh tak disangka kedatangan mereka secepat ini." gumamnya.


Kakek tua tanpa baju yang tak lain adalah Pertapa Sakti Tanpa Nama itupun segera meninggalkan tempat itu. Nampak tujuannya pergi kearah Benteng Dewa tempat Perguruan Tangan Dewa berada. Orang tua itu terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya tanpa henti. Setelah satu hari satu malam lebih berlari barulah ia tiba di perguruan Tangan Dewa.


Suasana di tempat itu sudah agak siang. Matahari nampak bersinar sangat menyengat. Namun tak sedikitpun menghalangi murid-murid Benteng Dewa Berlatih. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan pertapa sakti tanpa nama itu langsung membungkuk memberi hormat. Orang tua itu menga sudah sangat di kenal di sana.


Setibanya di depan bangunan utama Perguruan Tangan Dewa, Pertapa Sakti Tanpa Nama langsung masuk ke dalamnya. Bagi penghuni Benteng Dewa sudah terbiasa melihat orang tua itu seenak udelnya keluar masuk perguruan. Malaikat Bertangan Sakti yang menjadi ketua perguruan tersebut sedikitpun tak mempermasalahkannya.


"Gawatt.. Gawatt.. sungguh gawattt.." Seru Pertapa Tanpa Nama kepada orang-orang yang kebetulan berkumpul di ruang pertemuan Perguruan Tangan Dewa.


Nampak di sana telah berkumpul Malaikat Bertangan Sakti, kedua putra-putri Raja Pulau Es, dan beberapa ketua perguruan lain yang menjadi sahabat Perguruan Tangan Dewa itu. Semua orang serentak mengalihkan pandangan mereka ke arah Pertapa Tanpa Nama yang baru datang. Mereka nampak terkejut melihat kepanikan orang tua itu.


"Salam hormat tetua Petapa Sakti Tanpa Nama" sapa Malaikat Bertangan Sakti. "Ada kabar apa yang tetua dapatkan sehingga sampai sedemikian rupa paniknya? tanya nya lagi.


"Sudah-sudah tak usah menghormat segala." cegah Pertapa Tanpa nama saat melihat beberapa orang di sana akan maju untuk menghormat kepadanya.


"Barusan aku dari pantai yang bereberangan dengan Pulau Es. Aku melihat serombongan kapal yang bertolak dari Pulau Es menuju daratan Negara kita. Sebelum mereka sampai kedaratan ratusan prajuri kerajaan menghadang mereka dengan persenjataan lengkap." Tutur Pertapa Sakti Tanpa Nama menceritakan apa yang kemarin dilihatnya.


"Lalu bagaimana kek? apa pihak kerajaan bisa mengusir mereka?" Tanya Putri Pulau Es langsung menyambar perkataan Pertapa Sakti Tanpa nama tidak menunggu orang tua itu menyelesaikan perkataannya.

__ADS_1


"Apa boro-boro mengusir rombongan Partai Iblis Berkabut itu. Yang ada mereka dibantai habis kawanan iblis itu." sungut Pertapa Sakti Tanpa Nama.


__ADS_2