
Episode 320
“Terima kasih anak muda aku sudah merasa lebih baik sekarang.”
Setelah merasa semua tenaganya kembali seperti semula, manusia suci kelabang menghentikan penyaluran tenaga dari Bayu. Hebatnya adalah, orang tua itu menahan penyaluran tenaga dari Bayu tanpa menimbulkan bentrokan tenaga. Bahkan orang tua yang satu ini mengembalikan semua tenaga yang sudah disalurkan oleh Bayu tanpa membuat keadaannya kembali menjadi lemah.
“Ahh.. tak pantas saya menerima ucapan terima kasih dari tetua, sementara tenaga yang sudah saya salurkan kini kembali lagi.”
Bayu bertambah kekagumannya dengan orang tua yang berada di hadapannya ini. Begitu kuatnya tenaga murni yang ia miliki, sehingga penyaluran tenaga yang sudah ia lakukan bisa dikembalikan tanpa sedikitpun membuat keadaan dirinya mengalami kerugian. Bahkan yang membuat Bayu sangat kagum adalah tenaga yang dikembalikan oleh manusia suci Agung seolah-olah memiliki kekuatan magis yang membuat orang yang menerimanya merasakan ketenangan.
“Anak muda, bolehkah aku meminta pertolongan kepadamu?” tanya Manusia Suci kuil agung.
“Budi baik tetua sangat besar kepadaku, tentu untuk bisa membalasnya aku siap melakukan apa saja yang tertua perintahkan,” jawab Bayu.
“Ahhh, kau terlalu sungkan anakku. Namun permintaanku kan ini mungkin merupakan sebuah permintaan besar. Aku memang sangat berharap kau mau menyanggupinya.”
__ADS_1
“Baik lah tetua, aku akan berusaha.”
Manusia suci kuil agung memgangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian ia mengambil sebuah kitab dari balik bajunya, dan menyerahkannya kepada Bayu. Dengan penuh tanda tanya Bayupun menyambutnya.
Sekilas Bayu melihat tulisan pada kitab yang diterimanya. Pada sampul buku terdapat tulisan yang bunyinya “ILMU HATI DEWA SUCI”. Bayu tidak mengerti apa maksud manusia suci kuil agung menyerahkan kitab itu padanya.
“Anak muda, aku titipkan kitab itu padamu, kelak aku ingin kau mengajarkannya kepada murid keduamu kelak. Ia yang akan menjadi penerus kuil agung ini. Hanya saja aku juga ingin kau sedikit merepotkan mu untuk mengambil kembali senjata Cakram dewa milikku yang telah dibawa lari murid kuil Agung yang berkhianat. Kemudian kau simpanlah atau boleh kau gunakan hingga kelak kau serahkan juga kepada murid kedua mu itu.”
Sejenak Bayu terdiam, tidak langsung mengiyakan permintaan Manusia suci kuil agung. Pemuda itu menimbang-nimbang apakah dia sanggup melaksanakan amanat yang diberikan oleh orang tua itu. Dengan keadaannya sekarang yang masih memiliki emosi yang tidak stabil, rasa-rasanya masih belum punya kesiapan untuk memiliki seorang murid. Apalagi banyak hal yang harus ia selesaikan, termasuk menyelesaikan yang Ilmu Tujuh Gerbang alam semesta.
“Kau tidak boleh khawatir dengan keadaanmu sekarang anakku. Kelak saat kau memiliki seorang murid, partitur keadaanmu sudah jauh lebih baik. Mungkin saat itu langit sudah memberikan kematangan pikiran dan kedewasaan hati untukmu. Dan aku yakin saat itu juga kau telah menyelesaikan ilmu tujuh gerbang alam semesta yang kamu miliki saat ini.”
Sementara Intan yang mendengarkan percakapan mereka berdua tidak begitu mengerti apa yang menyebabkan raut wajah Bayu menjadi sangat tegang. Gadis itu tidak mengetahui keterkejutan si Pemuda saat mengetahui isi benaknya dapat ditebak oleh manusia suci kuil agung dengan tepat. Intan hanya mendengar percakapan searah dari manusia suci kuil agung saja.
“Baiklah tetua. Aku akan berusaha sebaik-baiknya melaksanakan sebuah tanggung jawab yang kau percayakan padaku. Aku harap kau pun mendoakanku agar bisa melaksanakannya dengan baik,” ucap Bayu setelah berpikir cukup lama.
__ADS_1
“Hahaha.. aku yakin kau pasti bisa melakukannya dengan baik. Langit telah memilihmu sebagai orang yang istimewa,” sahut Manusia suci kuil agung dengan tawanya yang khas.
Akhirnya setelah berpamitan dengan manusia suci kuil agung, Bayu dan Intan pun berpamitan. Mereka mulai melakukan perjalanan untuk mencari jejak keberadaan murid manusia suci kuil agung. Dari cerita yang ia dapat melalui manusia suci kuil Agung, Bayu dan Intan mengetahui bahwa dalang terjadinya kekacauan di ke Agung adalah Raja Selatan Pertama dan Pangeran Mandaka. Dengan tewasnya sang raja pertama, maka pemimpin kekuatan yang melakukan kekacauan tersebut sudah dapat dipastikan berada di tangan Pangeran Mandaka.
Pertama-tama Bayu akan menyinggahi perguruan tangan dewa di puncak benteng dewa. Ia hendak mengatur segala urusan di sana dan berencana menggunakan beberapa orang murid untuk mencari informasi tentang pangeran Mandaka. Sementara Intan diminta untuk kembali ke negeri Ganendra mengatur urusan di sana dan memilih beberapa orang untuk ditugaskan mencari jejak pangeran Mandaka.
Sementara itu, pangeran Mandaka sendiri bersama orang-orangnya sedang melakukan perjalanan ke negeri barat. Bekas putra mahkota kerajaan selatan itu bermaksud menemui sepasang dewa dan Dewi api yang merupakan jelmaan sepasang burung api keramat. Pangeran Mandaka bermaksud mengajak sepasang burung api itu untuk bekerjasama. Setelah cukup lama mencari keberadaan mereka, akhirnya pangeran Mandaka menemukannya.
Dengan bantuan orang dalam yang berada di pihak Pangeran Mandaka, akhirnya ia dan orang-orangnya dipersilakan masuk ke perkampungan suku api yang dipimpin oleh Eka Wira. Seluruh suku api menjadikan sepasang burung api itu sebagai sesembahan. Untuk mendapatkan simpati dan kepercayaan dari para suku api, pangeran Mandaka dan orang-orangnya pun terpaksa mengikuti menyembah dewa dan Dewi api.
“Saudara Eka Wira, kapankah kau akan membantuku memohonkan kepada Dewa dan Dewi api. Aku sangat memerlukan penyaluran kekuatan api murni milik mereka untuk bisa mempelajari ilmu inti Surya dengan sempurna.”
Pangeran Mandaka berusaha untuk membujuk Eka Wira agar mau membantunya memohonkan bantuan kepada Dewa dan Dewa api. Saat itu keduanya memang sedang berjalan-jalan santai mengelilingi perkampungan suku api. Hal ini dimanfaatkan oleh Pangeran Mandaka untuk berbicara secara pribadi kepada Eka Wira yang menjadi orang kepercayaan Dewa dan Dewi api.
“Tenang saja Mandaka, aku pasti akan membantumu untuk membujuk Dewa dan Dewi api agar bersedia membantumu. Asal kau tidak lupa sebagian harta yang kau dapatkan nanti, kau berikan kepada kami para suku api. Kalau kau tak menepatinya, aku akan meminta Dewa dan Dewi Api agar mencarimu dan membakarmu hidup-hidup.”
__ADS_1
Eka Wira menyatakan diriny setuju membantu pangeran Mandaka dengan syarat sang pangeran tidak lupa dengan janjinya kepada suku api untuk membagi dua harta yang mereka dapatkan. Bahkan Eka Wira dan para suku api bersedia membantu Pangeran Mandaka untuk menyerang istana raja. Tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi pangeran Mandaka. Dengan kekuatan orang-orang suku api, apabila mereka sampai bentrok, tentu akan sangat membantu.