Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
22. Iblis Kecapi


__ADS_3

Bayu hanya menggelengkan kepalanya membalas pertanyaan Cempaka. Perlahan pemuda itu berdiri namun tetap menyandarkan badannya pada pohon. Melihat itu Cempaka hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya sedikit bingung dengan sikap Bayu.


“Apa kabar paman Surya Pati?’ Sapa Jaka sambal menjura memberi hormat.


“Lancang Sekali kau mencampuri urusanku kunyuk” Bentak Buto Ireng kepada Jaka yang membuatnya tersinggung karena seolah tak menganggap keberadaannya.


“Ada urusan apa kau dengan Buto Ireng ini?” tanya Jaka lagi tanpa mempedulikan Buto Ireng yang kesal.


“Aku kira siapa yang datang, ternyata Kau nak Jaka. Bagaimana kabarmu?” Sahut Surya Pati seraya berjalan kearah Jaka lalu menjabat tangan Pendekar Halilintar itu.


Melihat keberadaan dirinya tidak dihiraukan, Buto Ireng semakin berang. Dengan amarah memuncak dikirimnya sebuah pukulan jarak jauh kea rah Jaka dan Surya Pati. Serangkum angin berhawa panas menyerang keduanya. Jaka yang melihal hal tersebut hanya tenang-tenang saja. Namun secara diam-diam tangan kanannya di bawah melakukan gerakan memutar sehingga muncul aliran listrik.


Blam!


Saat serangan Buto Ireng sudah berada di tengah, Jaka mengarahkan telunjuknya menangkis serangan yang dilakukan Buto Ireng hingga terjadi ledakan keras.


Hukk!!


Buto Ireng tersurut tiga langkah dari posisinya. Mulutnya menyemburkan darah segar pertanda mengalami luka dalam. Buto Ireng memegangi dadanya yang terasa sesak. Sesaat kemudian muncul dua orang yang berperawakan mirip dengan Buto Ireng. Yang membedakan hanya warna pakaian dan warna kulitnya. Satu berwarna merah, satunya lagi berwarna Hijau. Merekalah Buto Ijo dan Buto Abang. Ketiganya terkenal dengan sebutan Buto Sakti Lembah Setan.


"Cepat pergi dari sini" ucap Buto Abang kepada Saudaranya yang dibalas anggukan oleh Buto Ireng. Ketiganya pun melesat meninggalkan tempat itu dengan ilmu meringankan tubuhnya.

__ADS_1


"Celaka! mereka membawa kabur Mustika Sambung Nyawa" seru Surya Pati Cemas.


"Ayo kita kejar paman!" mendengar ucapan Surya Pati Jaka pun mengajak lelaki itu mengejar musuh, setelah sebelumnya memberi pesan kepada Cempaka untuk lebih dulu ke tempat Dewa Obat.


"Adik siapa namamu?" tanya Cempaka ramah kepada Bayu. Perempuan itu masih penasaran kenapa pemuda ini berada di sini, padahal terjadi pertarungan.


"Bayu." Jawab Rajawali Merah singkat, namun masih memberikan senyuman simpul kepada Cempaka.


"Hendak kemanakah kau Bayu, mengapa bisa terlibat perkelahian Buto Ireng dengan paman Surya Pati" tanya Cempaka lagi sedikit menyelidik. Namun yang ditanya hanya mengangkat bahunya enggan memberikan jawaban. Melihat reaksi orang yang seadanya Cempaka pun merasa kurang enak bertanya lebih. Istri Pendekar Halilintar itupun berpamitan untuk meninggalkan tempat itu. Namun belum sempat Cempaka mengutarakan niatnya, tiba-tiba terdengar teriakan suara perenpuan minta tolong.


Mendengar hal itu, Dewi Selendang Ungu pun langsung melesat ke arah datangnya suara. Berbeda dengan Bayu yang sempat terdiam, karena merasa mengenali suara itu tidak langsung mendatangi ke arah teriakan itu. Setelah beberapa saat terdiam barulah wajahnya menunjukan raut kecemasan, kemudian melesat mengejar kearah perginya Cempaka.


Sesampainya di sana terlihat Cempaka sudah bertarung melawan beberapa orang berpakaian hitam dengan Gambar Istana di kelilingi api di dadanya. Di sisi lain seorang lelaki berpakaian Coklat tua dengan gambar yang sama di dadanya berdiri mengawasi tempat itu. Di punggungnya tergantung sebuah kecapi berwarna keemasan. Tangan kanan orang itu menggenggam sebilah pedang berkepala naga dan sarung berupa badan bersisik naga. Sedangkan di tempat yang berlawanan seorang gadis menangis sambil memeluk orang tua.


"Terima kasih kak..." ucap Gadis yang tak lain adalah Intan Andini itu, kata-katanya terhenti karena memang belum tau siapa nama pemuda yang menolongnya ini.


"Bayu namaku!" sahut Bayu yang mengerti kebingungan Intan.


Intan pun membalasnya dengan senyuman. Tak lama kemudian Ayahnya sadar dari pingsannya, gadis itu langsung memeluk orang tua yang sangat dicintainya itu. Kemudian Pendekar Seruling Sakti menatap kearah pemuda yang memangku nya dan berkata, "Terima kasih anak muda, dua kali sudah kau menyelamatkan nyawaku."


Rajawali Merah hanya tersenyum membalas ucapan orang itu. Kemudian diserahkannya Pendekar Seruling Sakti kepada Intan. Bayu melihat kearah pertarungan Cempaka melawan anak buahnya sendiri. Ada pergolakan hebat di hati pemuda itu, yang bingung harus memihak siapa. Satu sisi ia harus menjaga nama Istana Lembah Neraka agar tetap disegani lawan. Namun di sisi lain ia sangat berterima kasih karena Cempaka cepat datang dan menyelamatkan Intan. Entah apa sebabnya ia sendiri tak mengerti mengapa begitu memperhatikan keselamatan gadis itu.

__ADS_1


Lima orang lawan Cempaka nampak mulai kewalahan. Seandainya mereka bertemu dengan Cempaka beberapa hari sebelumnya ketika Dewi Selendang Ungu itu belum mengunjungi kediaman Petapa Sakti Tanpa Nama, mungkin posisi merekalah yang di atas angin. Namun setelah meminum ramuan dari orang misterius itu, kesaktiannya jauh berlipat dari dirinya yang dlu.


"Hiyaatt!"


Tiba-tiba Cempaka berteriak keras. Selendang nya berputar-putar bagaikan naga yang mengamuk. Satu demi satu lawannya berjatuhan tewas dengan tubuh membiru. Cempaka pun kini berkacak pinggang seolah menantang musuh yang tersisa seorang.


"Hahaha, berisi juga kau ternyata anak manis. Tidak sembarang orang mampu menghadapi apalagi menghabisi keroyokan anggota tingkat tiga Istana Lembah Neraka. Tapi jangan senang dulu, kali ini kau berhadapan dengan Iblis Kecapi yang akan membinasakan mu. Tapi sebelum itu akan ku nikmati dulu tubuh indah mu hahaha"


Mendengar ucapan kurang ajar dari iblis kecapi, Cempaka jadi berang. Tanpa peringatan terlebih dahulu, selendangnya telah meluncur kearah mulut Iblis kecapi seraya berteriak" akan kurobek mulut kurang ajarmu itu.


"Hahaha" Iblis kecapi hanya tertawa sambil melompat menghindari serangan Cempaka. Tanpa disadari nya mata Rajawali Merah menatap dengan penuh kemarahan. Bayu tadi memang sempat mendengar kata-kata kurang ajar dari Iblis Kecapi kepada Cempaka. Walaupun dia berasal dari Perkumpulan Aliran Hitam, tapi paling pantang baginya mendengar anak buahnya melakukan perbuatan kurang ajar terhadap wanita. Apalagi ada yang berani melakukan di hadapannya.


Cempaka meningkatkan serangannya. Kali ini Istri Pendekar Halilintar itu menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi untuk menyerang Iblis Kecapi. Bagaikan Seorang Dewi khayangan yang sedang menari-nari Cempaka berlompatan diatas udara memutar-mutar selendangnya dan sesekali menghantam ke arah bagian mematikan musuh.


Agak kerepotan juga Iblis kecapi menghindari serangan demi serangan Cempaka. Setelah menggantung Pedang Naga Geni yang sebelumnya berhasil direbut dari Intan, Iblis Kecapi mengambil kecapinya yang digantung dipunggung. Kemudian satu dari empat Naga Penjaga Istana Lembah Neraka itu mulai memainkan kecapinya. Alunan musik mulai terdengar dari petikan jari Iblis kecapi. Bukan hanya menghasilkan irama musik, petikan jari itupun menghasilkan tenaga sakti berbentuk seperti puluhan jarum yang melesat menyerang ke arah Cempaka.


Walaupun Diserang banyak tenaga sakti berbentuk jarum kearahnya, wanita itu masih tetap bisa mengimbangi bahkan sesekali menyerang lawan. Tidak sekali dua Iblis Kecapi harus berjumpalitan menghindari serangan balik lawan. Sampai akhirnya selendang Ungu milik Cempaka berhasil menghantam kecapi miliknya serta mematahkannya.


"Bedebah kau iblis betina" bentak Iblis kecapi yang geram senjata andalannya hancur akibat serangan Cempaka.


Dengan rasa marah yang memuncak, Iblis kecapi mencabut pedang Naga Geni dari sarungnya. Seketika Cahaya Merah yang berasal dari pedang memancar terang di sekitar tempat itu. Dengan memusatkan tenaga saktinya, Iblis kecapi mengalirkan tenaga saktinya ke pedang pusaka tersebut.

__ADS_1


"Hati-hati kak... Pedang Naga Geni itu sangat berbahaya" teriak Intan khawatir saat melihat Iblis kecapi mulai menggunakan Pedang sakti itu.


__ADS_2