Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.218. Hukuman Buat Penghianat Perguruan


__ADS_3

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta


Episode 218


Blammmm...


Ledakan yang sangat hebat terjadi. Bahkan tanah di tempat itu bergoncang. Dua orang penghianat perguruan Tangan Dewa Terlempar. Keduanya menyemburkan darah segar dan jatuh ke tanah.


Ki Rapaja dan Ki  Kusdi mencoba Bangkit lagi. Namun kembali mereka rebah. Ki Rapaja  mengambil sesuatu dari balik bajunya, kemudian orang tua itu memasukkannya ke dalam mulut. Ki Kusdi pun melakukan hal yang sama. Betapa terkejutnya mereka  merasakan tak ada reaksi apapun saat menelan pil pemulih tenaga pemberian Dewa Obat.


“Percuma kalian meminum pil itu. Tenaga sakti kalian telah aku musnahkan. Itu hukuman bagi kalian penghianat perguruan.”


Bagaikan disambar geledek Ki Rapaja dan Ki Kusdi mendengar ucapan Bayu. Keduanya pun mencoba menghimpun tenaga sakti membuktikan kebenaran ucapan Bayu. Betapa mereka lemas saat tau apa yang dikatakan pemuda itu benar. Mereka sudah tak mampu lagi mengerahkan tenaga sakti, karena kemampuan mereka telah musnah. Bagi orang-orang dunia persilatan kehilangan kemampuan lebih menyedihkan dibanding kehilangan nyawa.


Bayu menghampiri Ki Rapaja dan Ki Kusdi. Kemudian pemuda itu mengambil sesuatu di balik baju keduanya. Di temukannya beberapa buah pil pemilih tenaga. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat pemuda itu menghampiri Widura dan temannya. Bayu menyerahkan tiga biji pil pemulih tenaga kepada tiga pendekar sungai kuning itu. Kemudian ia bergerak kearah dua orang murid perguruan Tangan Dewa.


“Kalian bawalah kedua orang penghianat itu ke bukit Benteng Dewa. Serahkan kepada Arya untuk diadili.” Ucap Bayu kepada Rajani dan Kariba. “Telanlah pil ini supaya tenaga kalian pulih kembali.” Ucapnya lagi seraya menyerahkan dua buah pil pemulih tenaga yang didapatkannya dari kedua penghianat perguruan itu.


Rajani dan Kariba membungkuk memberi hormat. Setelah berlutut dan mengucapkan terima kasih, keduanya beranjak menuju Benteng Dewa atas perintah Bayu.


“Terima kasih atas pertolongan kalian bertiga kepada murid-murid Perguruan Tangan Dewa. Mudah-mudahan kelak kami bisa membalas Budi baik tuan-tuan.” Ucap Bayu  kepada tiga pendekar sungai kuning seraya menjura.


“Ahhh mana berani kami disebut menanam Budi terhadap perguruan tangan dewa. Kami hanya kebetulan saja membantu. Jikalau mengetahui ketua sendiri yang akan turun tangan, tak akan kami mempermalukan diri kami sendiri dengan kemampuan yang rendah ini menghadapi lawan.”. sahut Widura Sungkan.


Memang benar yang diucapkannya keluar dari hati sesungguhnya. Melihat kehebatan Bayu tadi, tentu saja mereka berkesimpulan bahwa bantuan mereka tak ada artinya. Cukup dengan kemampuan sang ketua sendiri sudah dapat mengatasi masalah yang ada di perguruan besar itu.


“Baiklah tuan-tuan aku mohon diri dulu.” Ucap Bayu berpamitan. Tiba-tiba pemuda itu lenyap dari pandangan mata tiga orang pendekar dari sungai kuning itu.

__ADS_1


“Tuan.. bolehkah kami tau gelar tuan pendekar yang mulia.” Teriak Widura.


Tak ada jawaban. Suasana terdengar sunyi. Kini tinggal mereka bertiga dan dua orang mayat saudagar beserta istrinya. Ketiganya menghela nafas panjang, mereka masih diliputi penasaran tentang siapa pemuda yang menjadi ketua perguruan tangan dewa tersebut.


“Dia adalah Rajawali Merah, pemuda yang memiliki kesaktian nomor satu dikolong langit ini.”


Tiba-tiba terdengar suara lelaki tua menjawab rasa penasaran mereka. Kini di tempat itu telah berdiri Pendekar Trisula Sakti. Pendekar tua itu memang penasaran dengan kebenaran ucapan Intan, hingga pergi ketempat ini.


“Hormat kami tetua. Kalau tidak salah anda pendekar sakti yang bergelar pendekar Trisula Sakti itu?” ucap Widura seraya menjura diikuti kedua temannya.


Pendekar Trisula Sakti balas menjura kepada ketiga pendekar dari sungai kuning. Kemudian orang tua itu menghampiri ketiganya.


“Sebuah keberuntungan besar bagi kita hari ini melihat kesaktian seorang tokoh nomor satu di dunia persilatan. Yang disayabgkan kalau aku tidak salah lihat tadi yang digunakannya melawan kedua orang penghianat perguruan tangan dewa  itu adalah ilmu khas perguruan tersebut. Itu artinya kita belum melihat secara langsung ilmu legenda yang disebut dengan ilmu tujuh gerbang alam semesta.” Tutur Pendekar Tri Suka Sakti.


“Tapi aku yang belum bisa mengerti mengapa pemuda itu yang menjadi ketua perguruan tangan dewa. Lalu seperti yang kau katakan tadi bahwa pemuda itu menggunakan ilmu khas pegunungan tangan dewa, yang artinya dalam waktu singkat pemuda itu telah menguasai ilmu tersebut.” Sahut Widura.


Ketiga orang pendekar dari sungai kuning itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju akan pendapat dari pendekar Trisula Sakti. Betapa mereka sangat kagum sekaligus sendiri membayangkan kehebatan Rajawali Merah.


“Beruntunglah bagi kita orang-orang persilatan beraliran putih dengan keberadaan Rajawali Merah yang segolongan dengan kita.” Timpal Widura.


Kemudian ketiganya pun memutuskan menghubungkan mayat-mayat korban kejadian tadi. Setelah itu pendekar Tri Sula Sakti dan Tiga Pendekar Sungai Kuning memisahkan diri mengambil jalan masing-masing.


Di lain tempat Bayu sedang mengejar bayangan putih yang berlari di depannya. Nampak bayangan di depannya itu bergerak begitu gesit dan lincah. Tapi bukan Rajawali merah namanya apabila dia tak dapat mengejar buruannya. Ketika pemuda itu sudah sangat dekat dengan bayangan putih itu ia pun langsung menyambarnya.


“Ihhh.. Kak Bayu curang, pasti menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta lagi.” Rengek Intan setelah tubuhnya disambar oleh Bayu kemudian digendongnya.


“Suruh siapa tak menurut. Disuruh menunggu  di rumah makan malah kabur.” Sahut Bayu sambil terus membawa Intan berlari dalam gendongannya.

__ADS_1


Memang awalnya pemuda itu hendak kembali ke rumah makan tempat sebelumnya ia berada. Tapi ketika hendak beranjak, ia melihat sebuah bayangan putih bergerak cepat melintasinya. Bayu sangat mengenali bahwa bayangan itu adalah bayangan Intan.  Iapun membalikkan badan kemudian mengejar Bayangan tersebut, hingga akhirnya dapat mengejarnya.


***


“Kakang, mengapa kau mengajakku ke sini?” tanya Cempaka.


Saat itu Cempaka dan Pendekar Halilintar  memang sedang berada di depan sebuah pemakaman. Makam itu adalah makam milik keluarganya Jaka si Pendekar Halilintar, Makam ayah ibu dan juga kakaknya.


Sejenak suasana sepi tak ada jawaban dari Pendekar Halilintar.


“Aku ingin mengambil sesuatu yang telah kukubur di dekat pemakaman keluargaku ini?”


“Apa itu kakang?”


“Kau pasti pernah melihatnya sewaktu kita belum menikah dulu.”


Kemudian Pendekar Halilintar membongkar sebuah makam yang letaknya berada di samping makam kakaknya itu. Setelah sedepa dalamnya Pendekar Halilintar membongkar kuburan itu, terlihat sebuah peti. Iapun kemudian mengambil peti tersebut. Pendekar halilintarpun membuka peti yang diambil nya itu.


“Pedang Geledek!” Seru Cempaka. “Untuk apa pedang itu kakang?bukankah pedang itu telah kehilangan kekuatannya, sekarang hanya tinggal sebuah rongsokan. Waktu itu kau pun menguburnya  karena ingin menyimpan sebagai kenang-kenangan.” Tanya Cempaka lagi.


“Kau lihatlah Cempaka!” ucap Jaka.


Kemudian Pendekar Halilintar melompat keatas sambil mengerahkan tenaga saktinya. Iya pun mengambang di udara sebagaimana dulu ia lakukan di benteng Dewa. Sinar kilat keperakan  membungkus tubuh Pendekar Halilintar. Ia pun mengangkat pedangnya mengarah ke langit.


**Bersambung...


Jangan lupa like dan komen**.

__ADS_1


 


__ADS_2