Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
77. Terjun Ke Dunia Persilatan


__ADS_3

"Jurus Naga Api...!" Seru kakek yang sedang mengawasi si gadis yang berlatih.


Sesaat gadis yang menggunakan pakaian berwarna jingga bercampur merah itu diam. Kemudian ia menarik nafas panjang lalu berkonsentrasi mengerahkan tenaga saktinya. Sekilas terlihat cahanya berwarna jingga membias dari tubuh gadis itu. Kemudian hawa di tempat itu berangsur berubah menjadi panas. Sedangkan pedang ditangannya menyala semakin kemerahan.


"Pedang Naga Geni" gumam Cempaka melihat pedang yang di gunakan si gadis.


Gadis berbaju jingga kemerahan mulai mengeluarkan jurusnya. Sambil berlompatan di udara si gadis meliuk-liuk sambil menebas kan pedangnya, biasan cahaya dan pancaran api yang keluar dari pedang menambah perbawa gerakan yang ditunjukan gadis itu. Beberapa sabetan di udara ia lakukan, selalu memancarkan sinar api berwarna kemerahan. Bahkan beberapa kali bias api itu mengenai pohon terdekat dan membuatnya terbakar. Untung saja ada murid lain yang siap memadamkan setiap kali api menyala.


"Cukup..! bisa-bisa tempat ini terbakar oleh pedangmu itu Intan cucuku." Ucap si kakek.


"Hebat Intan" Puji Cempaka.


Gadis itu memang Intan Andini yang sudah kita kenal sebagai anak Pendekar Seruling Sakti. Setelah dia diantar Rajawali Merah ke Bukit Batu Geni ini, Kakeknya yang ketua padepokan Naga Geni ini mulai mengajarkannya Ilmu Ilmu kesaktian yang tinggi. Dengan bantuan ramuan dan buah-buah langka yang memang di tanam di tempat itu, hanya dalam tempo delapan bulan lamanya, hampir semua ilmu si kakek sudah ia kuasai.


"Kak Cempaka!" seru Intan saat melihat cempaka.


Gadis itu lalu meluruk ke arah istri Pedekar Halilintar kemudian memeluknya. Ada setitik air mata yang mengalir di kedua pipi Intan. Entah apa yang dirasakannya, mungkin hanya dia yang tau.


Sementara istrinya sedang asik menumpahkan kerinduan bersama sepupunya, Jaka menghampiri kakeknya Intan dan memberi hornat. Laki-laki tua itu pun membalasnya dengan senyuman ramah. Kemudian mereka berempat pun masuk setelah ketua Perguruan Naga Geni itu memintanya.


"Bagaimana kabar kalian? Aku sudah mendengar tentang kejadian di Bukit Kosong. Aku turut berduka atas kematian gurumu nak Jaka." Ucap ketua Perguruan Naga Geni itu memulai pembicaraan setelah menyuruh tamunya untuk duduk di meja yang di sediakan.

__ADS_1


"Terima kasih tetua." Sahut Jaka singkat berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Bagaimana dengan kabar gurumu itu Cempaka, kudengar dia telah bergabung dengan Istana Lembah Neraka." tanya Eyang Ranubala yang di kenal di dunia persilatan sebagai Pendekar Naga Geni kepada Cempaka.


"Benar kek" jawab Cempaka sambil menundukkan kepalanya. Seketika wajahnya murung kembali mengingat gurunya.


"Kau Jangan menyalahkan gurumu, cucuku. Percayalah apa yang dilakukannya pasti ada kebaikan. Kelak kau akan memahami kenapa gurumu melakukan hal itu." hibur Eyang Ranubala


Cempaka hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Eyang Ranubala. Nampak dipipi Istri Pendekar Halilintar itu mengalir airmata. Intan yang berada di dekatnya pun berusaha menghibur dengan cara memeluk sepupunya itu.


"Intan akan menyelesaikan latihannya dan menguasai seluruh kemampuanku dalam tempo kurang lebih satu bulan kedepan. Selanjutnya aku ingin dia mengembara mencari pengalaman. Bila kalian tak keberatan ajak lah dia bersama kalian. apabila keadaannya sudah memungkinkan boleh kau biarkan ia sendiri" Pinta Eyang Ranubala.


"Wahhh... benar kek aku boleh ikut kak Cempaka?" tanya Intan senang seraya memeluk kakeknya manja.


Tepat sebulan semenjak kedatangan Jaka dan Cempaka di Bukit Batu Geni, akhirnya Intan Andini berhasil menyelesaikan seluruh Ilmu yang diturunkan oleh kakeknya. Di tambah lagi dengan buah-buah langka yang di berikan Eyang Ranubala membuat tenaga sakti di dalam Intan menjadi lebih kuat lagi. Apalagi kakeknya itu telah mentransfer sebagian tenaganya sebagai metode latihan cepat, sehingga kemajuan yang diperoleh Intan tak perlu di ragukan lagi.


Setelah berpamitan dengan Eyang Ranubala, Intan, Jaka, pun meninggalkan Bukit Naga Geni. Tujuan mereka pertama kali akan mengunjuki Malaikat Bertangan Sakti di bukit Benteng Dewa. Dengan menunggangi kuda masing-masing mereka melakukan perjalanan. Nampak Intan beberapa kali memalingkan wajahnya melihat Bukit Batu Geni. Pipi gadis cantik itupun kelihatan basah.


Setelah tiga hari melakukan perjalanan akhirnya mereka tiba di Negeri Selatan. Antara wilayah negara Timur dan Selatan itu di batasi oleh pegungungan yang cukup tinggi. Satu-satunya tempat yang mudah di lewati terdapat Sebuah Benteng yang cukup tinggi dengan pintu gerbang yang di jaga ketat oleh petugas. Setelah menimbang-nimbang mereka bertiga pun memutuskan untuk melewati benteng itu.


Setibanya di depan benteng perbatasan, mereka harus mengantri dengan para penduduk yang juga ingin memasuki negara tersebut. Ketiganya pun turun dari kuda, lalu berjalan kaki sambil menuntun kuda mengikuti antrian. Nampak penjaga-penjaga yang berjaga begitu ramah dan sabar dalam melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


"Apakah kisanak dan nisanak berdua ini orang-orang dunia persilatan?" tanya salah seorang penjaga yang kebetulan memeriksa mereka bertiga.


Serempak ketiganya saling pandang mendengar pertanyaan penjaga itu. Lalu Jaka yang dianggap pemimpin di rombongan itupun menganggukkan kepalanya. Ia sendiri belum bisa meraba apa maksud dari pertanyaan penjaga itu.


"Berarti tidak salah penilaianku melihat dari penampilan kalian. Bila tidak berkeberatan maukah kalian bertemu dengan tuan pimpinan kota? Beliau berpesan apabila kebetulan ada orang-orang persilatan yang melintas, untuk diminta kekediaman beliau ada hal yang sangat genting ingin dimintakan pertolongan." tutur penjaga itu


"Pertolongan apa tuan?" tanya Jaka yang sedikit penasaran.


"Ah.. aku tak berhak mengatakannya. Ada baiknya tuan pemimpin kota saja yang mengatakannya langsung." tolak penjaga itu secara halus.


Jaka pun mengalihkan pandangannya ke pada Cempaka dan Intan seolah ingin meminta pendapat. Kedua nya pun mengangguk tanda setuju. Apalagi mereka terlihat dibuat penasaran oleh sikap penjaga itu. Lagipula perjalanan mereka ke Benteng Dewa memang tidak tergesa-gesa.


"Baiklah, antarkan kami kepada tuan pemimpin kota itu." tukas Jaka setelah berunding dengan kedua rekan seperjalanannya.


Tiba-tiba wajah pemuda itu berubah menjadi cerah. Senyumnyapun mengembang. Kemudian diajaknya ketiga pendekar itu ke kediaman pemimpin kota.


Sepanjang jalan mereka melihat bahwa betapa kehidupan penduduk di tempat itu bisa dikatakan sangat berkecukupan. Seluas mata memandang, tak mereka temui bangunan berupa gubuk ataupun rumah kumuh. Bahkan rumah makan dan rumah penginapan yang ada di sana terlihat begitu mewah. Nampak kota ini begitu tertata.


Kota ini bernama kota Rambalangan. Kota kecil Negara Selatan yang berbatasan langsung dengan Negara Timur. Walaupun bukan kota raja, nampak kehidupan di tempat ini begitu maju. Tata kota yang begitu indah membuat kesan bahwa sang pemimpinnya begitu memperhatikan pembangunan di wilayahnya.


Nama pemimpin kotanya Jaga Reksa. Ia merupakan seorang lelaki berumur lima puluh tahunan. Di kota ini Jaga Reksa dikenal pemurah dan sangat memperhatikan rakyatnya. Ketegasannya terhadap pelaku kejahatan maupun kecurangan di kotanya, membuat sang pemimpin itu begitu disegani. Namun sikap adil dan pemurahnya itu membuat dirinya sangat di cintai oleh rakyatnya.

__ADS_1


Sekitar dua pekan yang lalu telah terjadi musibah di kediamannya. Putri semata wayangnya telah di racun oleh orang yang tak di kenal. Beberapa orang pengawal yang mencoba menangkap pelaku tewas, karena memang bukan tandingannya. Dari cara bertarung penyerang itu, nampak dia berasal dari dunia persilatan.


__ADS_2