Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Pengobatan untuk Cempaka


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 259...


Sepeninggalnya begawan Nirwasita Bayu kembali ke Istana Lembah Neraka. Di sana pendekar Halilintar dan yang lainnya menunggu kedatangan pemuda itu dengan  harap-harap cemas. Melihat Bayu datang dengan senyuman, harapan besar pun tumbuh di hati mereka akan kesembuhan Cempaka. Mereka yakin Bayu sudah memiliki jalan keluar untuk mengobati istri Pendekar Halilintar itu.


“Bagaimana kak Bayu? Apakah ada cara lain mengobati kak Cempaka?” Tanya Intan.


“Tidak ada Intan, satu-satunya cara untuk mengobatinya hanyalah menggunakan tenaga sakti ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke enam yang sudah mencapai taraf sempurna,” jawab Bayu menjelaskan.


Mendengar jawaban itu semuanya pun kembali kecewa. Dalam pikiran mereka itu artinya tidak ada lagi harapan untuk mengobati Cempaka. Karena tidak mungkin bagi Bayu untuk dapat mencapai tingkatan itu dalam waktu singkat. Wajah mereka yang tadinya semangat kini pun berubah menjadi lesu.


“Tapi aku mempunyai cara untuk mencapai tingkat ke enam sempurna alam semesta dengan bantuan pedang pusaka naga dan kekuatan Bidadari Giok Es,” ucap Bayu dengan senyuman.


Mendengar hal ini tentu saja semuanya menjadi di gembira. Terlebih lagi Jaka si pendekar halilintar yang menjadi suami Cempaka. Nampak dari sorot matanya menyiratkan ungkapan terimakasih yang terpendam.


“Kapan kita memulainya kak Bayu?” tanya Intan bersemangat.


“Bila kau sudah siap kita bisa melakukannya sekarang juga,” jawab Bayu.


“Aku sudah siap, kak Bayu!” Jawab Intan sambil bangkit dari tampat duduknya.

__ADS_1


Bayu tersenyum melihat semangat yang ditunjukkan oleh Intan. Kemudian keduanya menghampiri Cempaka yang sedang terbaring di ranjangnya. Lalu Bayupun mengeluarkan pedang penguasa  naga dari dalam tubuhnya. Seketika muncul pedang penguasa naga dengan memancarkan cahaya keemasan yang menerangi tempat itu.


“Intan, salurkan tenagamu ke pedang ini!” ucap Bayu menyuruh Intan.


Intan pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Bayu untuk menyalurkan tenaga saktinya kepada penguasa naga. Begitu juga dengan Bayu, dia langsung mengerahkan tenaga saktinya ke pedang penguasa naga berlawanan dengan tangan Intan. Seketika cahaya pedang yang tadinya berwarna keemasan berubah menjadi warna putih menyilaukan.


Kemudian Bayu memegang pedang penguasa naga dengan kedua tangannya. Ia pun meletakkan pedang itu di depan dadanya. Tiba-tiba saja pedang itu melesak masuk kedalam tubuh Bayu.  Sesaat kemudian tubuh pemuda itu pun berubah menjadi manusia cahaya yang menyilaukan. Apa yang terjadi dengan Bayu saat ini sama persis dengan tubuh Begawan Nirwasita saat pertama kali menemui Bayu di Bukit kosong.


Kemudian Bayu menyentuh ubun-ubun  Cempaka yang sedang terbaring lemah di pembaringannya. Lalu pemuda itu menyalurkan tenaga sakti ke tubuh Cempaka. Perlahan tubuh Cempaka dirayapi sinar putih menyilaukan  dari ubun-ubun hingga ke ujung kaki. Kemudian cahaya itu pun mulai bergerak dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas mengitari dan mengelilingi seluruh tubuh istri pendekar halilintar itu.


Setelah sepeminuman teh lamanya cahaya putih menyilaukan itu mengitari tubuh Cempaka, perlahan-lahan cahaya itupun memudar hingga hilang sama sekali dari tubuh istri Pendekar Halilintar itu. Ajaibnya tubuh Cempaka yang tadinya menghitam seperti gosong kini sudah kembali lagi seperti semula. Bukan hanya itu nafas yang tadinya melemah itu sudah menjadi normal kembali seperti biasa, ia pun dalam kondisi tertidur.


“Kita biarkan saja dulu kak Cempaka beristirahat. Mungkin besok baru dia akan siuman,” ucap Bayu dengan wajah yang sedikit pucat. Sepertinya  pemuda itu sangat kelelahan dengan proses pengobatan tadi.


Kemudian mereka yang ada di kamar Cempaka  meninggalkan tempat itu untuk memberikan kesempatan istri pendekar Halilintar  beristirahat. Tak terkecuali Jaka, ia pun keluar kamar membiarkan istrinya beristirahat. Hatinya sudah sangat lega dengan keadaan Cempaka yang sudah sembuh dari lukanya. Bayu sendiri meminta diri untuk beristirahat karena merasakan tubuhnya sangat letih.


...***...


Sementara itu di perbatasan kota Sedaha perang kembali berkecamuk. Kali ini Panglima maludra tak lagi mengerahkan prajurit biasa untuk menyerang kota itu dari luar. Panglima maludra sudah bersiap merobohkan benteng kota  dengan bantuan pasukan kelabang hitam milik Braja Pasupata.


Panglima Maludra bersama dua orang perwira pembantunya berada di posisi terdepan memimpin sekitar lima puluhan pasukan kelabang hitam. Panglima itu memandang jauh ke arah benteng pertahanan kota Sedaha yang berada ratusan tombak di depannya. Ia yakin kali ini dapat menguasai kota sedaha dengan mudah.

__ADS_1


“Karjo apakah  persiapan untuk merebut kota Sedaha sudah rampung semuanya. Kali ini aku tidak ingin lagi ada kegagalan dalam usaha kita merebut kota Sedaha itu terjadi lagi,” tegas panglima Maludra.


“Semua sudah kita siapkan panglima. Pasukan pemanah dan pasukan kelabang hitam sudah siap untuk di kerahkan,” Jawab seorang perwira yang dipanggil Karjo itu.


“Baguslah kalau begitu jangan sampai ada kesalahan lagi untuk penyerangan kali ini.  Apabila kita gagal lagi maka penyerangan selanjutnya akan diserahkan langsung kepada Braja Pasupata  itu,” sahut Panglima Maludra menegaskan dengan perasaan sedikit geram.


Sementara di dalam benteng kota Sedaha, pertahanan kota itu kini telah ditambah dengan pasukan dedemit mayat hidup yang di buat oleh Gayatri. Sesudah mengajarkan mantra pengendali mayat hidup kepada panglima yang memimpin prajurit di sana, Gayatri pun beranjak menuju kotaraja menyusul pangeran Mandaka dan yang lainnya.  Sementara Danastri sudah berangkat lebih dulu menggunakan kereta kuda yang disiapkan oleh pemimpin kota.


Sekitar dua puluh orang mayat hidup yang di siagakan menjaga benteng kota. Sementara  ada sekitar tiga puluhan berada di kediaman pemimpin kota untuk berjaga. Kali ini pertahanan kota Sedaha jauh lebih tangguh dari pada sebelumnya.


“Seraaaang!!”


Terdengar teriakan dari luar banteng, pertanda sebuah serangan dari pasukan kerajaan Barat telah dilancarkan. Di luar benteng terlihat sekitar sepuluh orang pasukan kelabang hitam menyerang. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka melesat menyerang benteng. Tidak  terlihat ada pasukan yang berjaga untuk menghadang mereka, namun mereka yakin di benteng itu ada pasukan yang sudah bersiap.


Sesampainya di dekat banteng, para pasukan kelabang hitam langsung melompat keatasnya. Hal yang mungkin tidak diperhitungkan oleh pihak kerajaan barat adalah pasukan baru memperkuat pertahanan benteng kota Sedaha. Pasukan mayat hidup yang akan menjadi lawan tangguh untuk dihadapi pasukan kelabang hitam milik kerajaan Barat.


Benar saja saat melompat ke atas benteng lalu turun ke bawahnya, mereka sudah disambut oleh sepuluh orang mayat hidup yang bersiaga di sana. Pertarungan pun tidak bisa dielakan, pasukan kelabang hitam langsung menggunakan pukulan kelabang beracunnya yang untuk mengalahkan mayat hidup. Seketika telapak tangan sampai pergelangan tangannya berubah berwarna hitam. Kesepuluh orang prajurit khusus gajian Barat itu langsung menyerang lawannya.


Namun mereka salah perhitungan kalau menganggap pasukan mayat hidup adalah pasukan biasa yang bisa dikalahkan dengan mudah. Beberapa kali pasukan mayat hidup terkena pukulan telapak kelabang beracun, namun tidak pun mereka mengalami keracunan. Tentu saja itu terjadi, karena mereka mayat yang sudah tidak lagi berfungsi organ tubuhnya. Yang ada malah dua orang dari mereka terkena cakaran kuku tajam pasukan mayat hidup yang langsung melesak ke dada  menembus jantung mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2