
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Episode 231
Keadaan di perbatasan Negeri Selatan dan Negeri Barat semakin mencekam. Beberapa kali terjadi bentrokan pasukan kerajaan Barat dan Kerajaan Selatan yang menyebabkan kedamaian daerah konflik itu terganggu. Keegoan dan ketamakan kedua penguasa dari dua kerajaan tidak memperdulikan dampak yang diakibatkan oleh peperangan ini. Dalam setiap peperangan selalu saja rakyat lah yang akan menjadi korban.
Kini di kota yang menjadi perbatasan antara negeri Selatan dengan negeri barat sudah ribuan jumlahnya rakyat yang mengungsi. Tidak sedikit dari mereka yang meninggalkan rumah tanpa membawa harta benda. Karena terlalu cepatnya terjadi pertempuran, membuat para penduduk tidak sempat membawa barang-barangnya melainkan hanya lari menyelamatkan diri dari senjata yang salah sasaran.
Seperti hari itu, di kota daerah perbatasan bernama kota Batu Sangga Alam yang berbatasan langsung dengan kerajaan barat. Kota ini dipimpin oleh seorang lelaki bernama Pramana. Usianya berkisar antara lima puluh tahunan. Tanggung jawab Benteng pertahanan kerajaan Selatan di garis depan ada padanya.
“Lapor yang mulia pimpinan kota, pasukan musuh sudah mulai bergerak menuju perbatasan. Pasukan kita pun telah disiagakan untuk menjaga segala kemungkinan.” Ucap salah seorang prajurit melapor kepada pimpinan kota Batu Sangga Alam.
“Berapa jumlah pasukan mereka yang bergerak ke kota ini?” Tanya sang pemimpin kota.
“Menurut informasi dari telik sandi kita, ada sekitar sepuluh ribu pasukan, yang mulia.”
“Apa sepuluh ribu pasukan, tidak mungkin kita bisa menghalangi mereka masuk ke sini. Itu merupakan jumlah yang sangat besar. Mereka memang benar-benar mempersiapkan diri untuk menyerang kerajaan Selatan. Sedangkan kerajaan kita harus menghadapi dua gempuran, pemberontakan dari dalam dan juga peperangan dengan kerajaan lain. Kau umumkanlah kepada para penduduk kota untuk mengungsi.”
“Yang, hamba telah mengirimkan surat kepada kalian tentang kondisi yang kita hadapi dan apakah kita tidak menunggu tanggapan dari kerajaan untuk kepada para penduduk agar mengungsi. Siapa tahu kerajaan akan mengirimkan pasukan bantuan untuk kita menghadapi para musuh.” Ucap seorang perwira kepada pimpinan kota.
__ADS_1
“Kau tak usah terlalu banyak berharap kepada kerajaan kita. Sekiranya mereka pun mengirimkan bantuan, paling banyak mereka bisa mengirimkan lima ratus pasukan kepada kita. Apa artinya lima ratus pasukan untuk menghadapi sepuluh ribu pasukan yang terlatih. Apalagi seperti informasi yang kita dapatkan dari titik sandi, pasukan mereka terdiri dari beberapa kelompok. Salah satu kelompok adalah pendekar-pendekar dunia persilatan yang sangat terlatih dalam hal ilmu bela diri dan kanuragan.” Ucap Pramana sang pemimpin kota.
“Engkau sendiri bagaimana Tuan pemimpin kota? Apakah tidak sebaiknya kau ikut mengungsi saja bersama para penduduk. Sepertinya sangat berbahaya untuk tuan tetap berada di sini.” Tanya pengawal Pribadi sang pemimpin kota.
“Aku tetap disini. Kota batu Sangga alam ini merupakan tempat kelahiranku. Dan kebetulan aku dipercayakan untuk menjadi pemimpin di kota ini. Apapun yang terjadi nantinya aku akan tetap berada disini mempertahankan kota sampai titik darah penghabisan.” Sahut pemimpin kota.
Para prajurit dan perwira yang kebetulan berada disitu menjadi terharu mendengar ucapan pemimpin kota. Dalam hati mereka pun tumbuh semangat untuk berjuang bersama-sama pemimpin mempertahankan kota. Memang begitulah biasanya sifat para prajurit apabila dalam hatinya tumbuh Sifat ksatria. Maka pantang bagi mereka lari dari medan perang.
Tepat saat siang hari Di mana matahari sedang bersinar dengan teriknya. Terdengar tabuhan genderang perang benteng pertahanan kota Batu Sangga alam. Sementara pasukan pasukan penjaga gerbang kota telah berdiri di atas dengan senjata panah yang siap untuk dilepaskan.
Seorang penunggang kuda melarikan kudanya sendirian ke arah gerbang kota. Nampak lelaki itu membawa bendera tanda utusan. Dalam peraturan peperangan apabila salah satu pihak yang mengirimkan utusan kepada pihak yang lain maka tidak boleh ada satupun pihak yang mengganggu si utusan tersebut.
Lelaki sebagai utusan kerajaan Barat itu mengibas-ngibaskan bendera utusan di depan pintu gerbang. Melihat itu, gerbang pun dibuka untuk memberi jalan kepada sang utusan. Kemudian Ia pun masuk setelah gerbang dibukakan. “Antarkan aku menghadap pimpinan kota.” Ucap utusan itu.
“Menghadap Yang Mulia!” ucap murid kepada sang pemimpin kota sambil berlutut dengan satu kaki. Utusan kerajaan Barat itu pun mengikuti apa yang dilakukan oleh sang prajurit untuk memberikan penghormatan kepada sang pemimpin kota.
“Bangunlah!” seru pemimpin kota. “Ada apa gerangan raja kerajaan barat mengutus engkau untuk menemuiku.” tanya pemimpin kota Batu Sangga alam kepada sang utusan.
“Maaf yang mulia. Hamba membawa surat sebagai pesan dari yang mulia raja kerajaan Barat.” Ucap sang utusan kemudian memperlihatkan sebuah jaksaan di tangannya.
__ADS_1
Sang pemimpin kota memberi isyarat kepada penjaga yang berada di kanannya untuk mengambil surat dari sang utusan. Kemudian prajurit itu pun bergerak untuk memenuhi perintah dari sang pemimpin kota. Ia mengambil surat dari utusan kerajaan barat kemudian menyerahkannya kepada sang pimpinan. Lalu pimpinan kota itu membuka dan membaca isi surat.
Dari Raja barat, untuk sang pemimpin kota Batu Sangga alam.
Peperangan baru saja kami mulakan. Kota Anda merupakan wilayah pertama yang akan kami taklukan. Apabila pemimpin kota mau menyerah tanpa perlawanan maka jabatannya tidak akan digantikan oleh yang lain apabila kami memenangkan perang ini. Namun apabila pemimpin kota melakukan perlawanan maka kami akan merebut kota dengan dengan peperangan.
Singkat padat dan jelas isi surat yang ditulis oleh raja Barat. Bergetar juga nyali seorang Pramana pemimpin kota batu Sangga alam membaca surat tersebut. Namun kekerasan hatinya membuatnya tetap kokoh untuk bertahan.
“Katakan pada rajamu, apapun yang terjadi aku akan tetap disini mempertahankan apa yang menjadi milik kami. Sudah sejak lama kerajaan barat dan kerajaan Selatan hidup berdampingan tanpa ada peperangan. Namun entah apa sebabnya Raja berat memilih untuk menyudahi kedamaian itu dengan dengan peperangan.” Ucap sang pemimpin kota bernada sindiran.
Setelah menyerahkan surat dari Raja Barat dan mendapatkan jawaban dari sang pemimpin kota, utusan itu pun kembali. Tidak sedikitpun sang utusan mendapatkan perlakuan yang tidak baik atau gangguan di perjalanan. Sesampainya di perkemahan sementara pasukan kerajaan barat, Ia pun langsung menemui panglima yang memimpin pasukan perang.
“Hormat kepada yang mulia panglima!” ucap prajurit yang menjadi utusan tadi sambil berlutut satu kaki.
“Apa jawaban dari pemimpin kota batu Sangga alam?” tanya sang panglima.
“Mohon maaf yang mulia, pemimpin kota Batu Sangga klambir segelas untuk tetap bertahan tidak membukakan pintu gerbang. Ia berucap bahwa akan mempertahankan kota sampai titik darah penghabisan. Ia pun menyindir yang mulia Raja katanya ya kerajaan barat telah menodai perdamaian yang selama ini ini berlaku antara kedua kerajaan.”
“Hmmm.. lancang sekali mereka mengkritik kebijakan Raja kita. Kalau begitu besok pagi kita akan memulai penyerangan dan penaklukan kota. Dari telik sendi yang di seberang ke kota itu aku mendapat informasi bahwa pertahanan mereka sangat rapuh kecuali pasukan pasukan pemanah yang berada di atas benteng pertahanan. Untuk itu yang kita kerahkan saat menaklukkan nanti adalah pasukan-pasukan yang terdiri dari jago-jago silat dunia persilatan.
__ADS_1
**Bersambung..
Jangan lupa like and komentar ya**..