
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 142...
Bayu duduk bersila di pembaringannya. Pemuda itu memejamkan matanya dan mulai menenangkan dirinya. Sesaat kemudian di benak pemuda itu muncul semua ingatannya sewaktu masih kecil hingga ke pertarungan di bukit kosong. Lalu ingatannya menerawang pada kejadian saat ia terdampar di desa bojana, hingga pertarungan melawan Pendekar Pedang Kilat yang menyebabkan Nalini terkena racun.
Semua ingatannya benar-benar telah kembali. Tak ada satupun yang luput hingga kejadian di pulau es sampai terakhir saat dirinya di serang oleh orang Berjubah Biru. Kemudian Perlahan Bayu membuka matanya, nampak keringat membasahi dahinya. Rupanya ia telah berpikir dengan keras sehingga membuat tubuhnya keringatan.
“Nalini.. Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Eh.. a.. aku baik-baik saja kak, memang ada apa?” Sahut Nalini gugup
Tiba-tiba saja Bayu menanyakan hal itu kepada Nalini. Tentu saja hal ini membuat dia gelagapan. Di saat dia mengkhawatirkan keadaan Bayu, malah pemuda itu menanyakan keadaannya.
Mendengar Jawaban Nalini, Bayu hanya tersenyum. Nampak sekali senyum itu sangat di paksakan. Sesaat pada mata Bayu memancar cahaya putih terang. Namun semua terjadi sangat cepat, tak satupun yang berada di sana yang memperhatikan perubahan pada mata Bayu.
“Ketua.. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Kau pasti lelah selama tiga hari masuk dalam dunia semadi terus-terusan mengerahkan tenaga.” Ucap Pranggala.
“Tidak Paman, aku tidak lelah. Malah semadi tiga hari tadi membuat tubuhku benar-benar terasa segar.” Sahut Bayu seraya bangkit dari pembaringannya. “Paman, aku ingin berjalan-jalan sebentar di sekitaran Lembah ini bersama Nalini. Aku ingin memperlihatkan keindahan lembah ini padanya.” Ucap Bayu lagi.
Mendengar ucapan Bayu itu Pranggala hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan sang ketua. Kemudian Pranggala, Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan mohon diri meninggalkan Kamar Bayu. Setelah Itu Bayu mengajak Nalini keluar Istana berkeliling lembah yang dulu menjadi tempat tinggal dan bermainnya di masa kecil.
“Nalini.. di sini lah aku biasa bermain sewaktu masih kecil.”
__ADS_1
Saat ini Bayu dan Nalini berada di penghujung lembah bagian timur yang berbatasan langsung dengan gunung di atasnya. Daerah itu bukan tempat biasa, melainkan pekuburan. Tempat yang luasnya hampir satu hektar itu dipenuhi dengan beratus-ratus gundukan tanah yang di atasnya di letakkan sebuah batu penanda.
“Mereka yang beristirahat itu adalah penduduk-penduduk Istana Lembah Neraka di bantai oleh seorang berhati iblis. Merekalah penduduk asli lembah neraka.” Ucap Bayu.
Nalini yang belum mengerti arah pembicaraan Bayu hanya terdiam. Dilihatnya pujaan hatinya itu sedikit berubah sifatnya. Hampir-hampir ia merasakan sedang bersama orang lain.
“Yang tersisa dari Lembah Neraka ini hanya aku dan kuburan ini. Ayah da ibuku juga telah meninggal. Dulunya di sini merupakan perkampungan yang bernama desa Mirungga. Tempat mengungsinya sisa-sisa suku api yang selamat dari ratusan tahun silam.” Sesaat Bayu diam.
“Pada awalnya suku api hidup damai dan tenteram, hingga sebuah peperangan terjadi di negeri selatan ini. Kerajaan selatan hampir mengalami kekalahan. Lalu datang utusan kerajaan ke tempat ini meminta bantuan kepada suku api. Karena merasa berada di wilayah kerajaan selatan, kakekku yang waktu itu sebagai pimpinan di sini menyatakan bersedia membantu kerajaan. Setelah mendapatkan dari suku Api, akhirnya kerajaan menang dan tahta rajapun terselamatkan.
Namun rupanya kehebatan suku api dalam ilmu kesaktian dan ilmu peperangan dianggap sebagai ancaman yang suatu saat bisa merongrong kerajaan. Sehingga suatu ketika kerajaan mengutus orang sakti untuk membasmi suku api kala itu. Beruntung saat itu Ibu dan juga kakek tidak berada di sini, sehingga selamat dari pembunuhan masal itu. Setelah beberapa tahun sesudah kejadian, barulah kakek pulang kesini dan membuat benteng dari api alam yang tak bisa dilewati kecuali oleh orang-orang suku api atau mereka yang dipercaya.”
Mendengar penuturan Bayu, tentu saja Nalini menjadi sangat terkejut. Otak cerdasnya mulai menyimpulkan apa yang terjadi pada Bayu dulunya.
“Menurut cerita orang tuaku, pihak kerajaan selain mengutus orang sakti itu juga melakukan tipu daya yang membuat orang-orang suku api lengah dan mudah dihancurkan.”
“Berarti selama ini tujuan Perkumpulan Istana Lembah Neraka didirikan untuk membalas dendam atas kejadian yang selama ini menimpa suku api.”
Mendengar perkataan Nalini yang sangat tepat itu Bayu mengangguk seraya tersenyum.
“Ratusan suku api yang telah binasa harus ada yang mempertanggung jawabkannya. Sekalipun Raja yang berbuat, ia pun harus bertanggung jawab.”
Tiba-tiba saja Nalini bergidik mendengar ucapan Bayu. Ia merasakan bias api amarah di dada pujaan hatinya itu. Sejenak ia tenggelam dalam lamunannya. Gadis itu berpikir bagaimana nantinya Bayu saat dia telah tiada.
__ADS_1
“Nalini.. maukah kau jujur menjawab pertanyaanku?”
Sesaat wajah Nalini berubah pucat. Tiba-tiba Bayu berucap seperti itu. Gadis itu merasa pertanyaan si pemuda kali ini akan memiliki dampak yang tidak ringan. Dengan gugup Nalini mengangguk memjawab pertanyaan Bayu.
“Mengapa kau berbohong bahwa racunmu sudah sembuh?” tanya Bayu serius.
“Maksudnya apa kak?” tanya Nalini berpura-pura tidak mengerti. Padahal hatinya saat ini begitu cemas. Jantungnya berdetak dengan cepat. Hampir-hampir dia terduduk karena lemas.
“Aku sudah tau bahwa racun Bulu Landak Salju masih mengeram di tubuhmu. Saat gerbang keenam Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semestaku terbuka, dengan menggunakan kekuatan itu aku mampu melihat semacam tenaga sakti atau energi asing dalam tubuh orang lain. Sesaat waktu aku sadar kekuatan gerbang keenam masih menyelimuti, saat itu mataku melihatnya.”
Mendengar penjelasan Bayu, kali ini Nalini benar-benar lemas. Kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya hingga ia jatuh terduduk. Matanyapun tak kuasa menahan airmata yang mengembang hingga jatuh mengalir. Kemudian Bayu pun ikut duduk di sampingnya.
“Aku tak berniat sama sekali membohongimu. Aku hanya tak ingin kesembuhanku mengorbankan kehidupan orang lain. Sebenarnya hal ini hanya aku dan Raja Pulau Es yang mengetahuinya. Bahkan Intan sendiri tidak mengetahuinya.”
Kemudian Nalini menceritakan panjang lebar kejadian yang di lewatinya saat di goa pusaka pulau es. Saat itu ia mendengar permohonan Intan kepada Raja Pulau Es untuk mengambil Jantungnya demi kesembuhan Nalini. Hal ini ia lakukan karena tak ingin Bayu bersedih apabil Nalini meninggal. Intan rela mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.
Mendengar cerita Nalini sejenak Bayu terdiam. Ia sendiri bingung harus menentukan sikap. Ia sendiri seandainya berada di posisi Nalini tidak akan mau kesembuhannya ditukar dengan kehidupan orang lain. Apalagi setelah ingatannya pulih, hatinya saat ini dihuni dua orang gadis cantik ini. Bukan ia yang menghendaki, tapi keadaan yang membuatnyanseperti itu.
“Setelah aku menyelesaikan urusan di sini, kita akan ke pulau es menanyakan kepada Raja Pulau Es siapa tau ada cara lain untuk menyembuhkanmu.” Tegas Bayu.
Nalini hanya diam. Dia tidak mengiyakan tidak juga menolak ucapan Bayu. Namun hatinya benar-benar risau dengan perubahan sikap Bayu. Nampak sekali sikap dingin yang menyiratkan kekejaman tersembunyi dalam dirinya.
Bersambung...
__ADS_1
Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja.