Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.224. Muslihat Tuan Gardana


__ADS_3

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta


Episode 224


“Gardana, apakah kepengecutanmu itu memang sengaja hendak mengandalkan orang lain dalam urusan kita. Apakah kedua bocah itu hendak kau jadikan korban selanjutnya seperti kedua cucu-cucuku ini?” Bentak si kakek tua.


Mendengar ucapan si kakek tua Bayu mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti duduk permasalahan yang terjadi. Itu sebabnya Bayu sampai sekarang belum bertindak. Matanya melirik kearah tuan Gardana dan Istrinya. Nampak kedua suami istri itu seperti orang ketakutan bersembunyi dibelakang Intan.


“Orang tua, apa sebenarnya maumu? Mengapa kau mengganggu keluarga ini?” tanya Bayu garang.


“Mengganggu katamu? Tanya pada majikanmu itu apakah aku mengganggunya? Atau dia yang mengganggu keluarga kami.


“Jangan dengar ocehan orang tua itu nak Bayu. Ia sengaja hendak mengadu domba kita. Aku mohon kepadamu tolong  dua orang anak kami.  Bunuh saja kedua orang tua penjahat itu, agar tak lagi mengganggu kami.”


Bayu mengerutkan keningnya. Ia bingung atas dasar apa tuan Gardana meminta pertolongan kepadanya. Padahal Ia tidak pernah bercerita bahwa ia memiliki kemampuan dalam beladiri.


Bayu pun mengerahkan tenaga saktinya. Kali  ini ia langsung mengerahkan tenaga gerbang ke enam tujuh ilmu  gerbang alam semesta. Namun  Ia hanya mengerahkan kekuatan itu pada matanya. Saat itulah Bayu melihat bahwa sebenarnya kedua suami istri yang memberikan tumpangan kepadanya itu memiliki ilmu tenaga sakti yang tinggi di tubuhnya.


“Sepertinya kedua suami istri ini memang menyimpan maksud tertentu.” Gumam Bayu dalam hatinya.


“Intan, mari kita pergi dari sini!” ajak Bayu kepada Intan.


Intan yang mengerti akan maksud ajakan Bayu pun menganggukkan kepalanya. Kemudian keduanya melesat meninggalkan tempat itu. Tentu saja hal ini sangat tidak diduga oleh tuan Gardana beserta istrinya.


“Bedebah.. ternyata orang yang bergelar Rajawali Merah itu sebegitu pengecutnya.” Maki tuan Gardana.

__ADS_1


Kaget juga si kakek tua mendengar ucapan tuan Gardana bahwa pemuda yang tadinya berada di situ adalah Rajawali Merah. Berita kehebatan seorang pemuda yang menjadi  pembicaraan santer orang-orang dunia persilatan telah sampai ketelinganya. Wajahnya berubah pucat, namun orang tua itu bersyukur pemuda yang dikatakan sebagai Rajawali Merah itu telah meninggalkan tempat.


“Sekarang tidak ada lagi yang membantu kalian. Cepat serahkan penawar racun penyesat jiwa itu. Dan pergi dari sini. Tidak berhak kalian berdiam di sini.” Bentak si kakek tua lagi.


“Hahaha.. kau kira kami takut dengan kalian orang tua yang sudah peot itu. Jangankan untuk menghabisi kami berdua berjalan saja kalian sudah tidak normal lagi. Aku mengandalkan Pemuda tadi untuk menghabisi kalian karena tidak ingin mengotori tangan kami yang mulia ini. Hahaha..


Raja yang sekarang terlalu baik kepada kalian sehingga masih diberi kesempatan untuk hidup dan bermewah-mewah di sini. Sedangkan aku yang menjadi anak buahnya dulu sebagai pejuang melakukan pemberontakan tidak ada sama sekali mendapatkan bagian kesenangan sepertimu. Sekarang mumpung Raja itu sedang sibuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Selatan, inilah kesempatanku untuk mengambil semua harta benda milik kedua bocah itu.” Ucap  Gardana.


“Jangan banyak bacot kau Gardana.” Bentak si kakek tua.


Prookk... prookk...


Gardana menepukkan tangannya dua kali. Tak berapa lama kemudian muncul sepuluh orang berpakaian hitam. Di dada mereka terdapat sulaman gambar api berwarna berwarna merah.


“Habisi semuanya kecuali kedua bocah linglung itu.” Perintah tuan Gardana.


Walaupun pertarungan terlihat tidak seimbang, namun kedua orang tua itu mampu melayani sepuluh orang pengeroyoknya. Bahkan keduanya berada di atas angin. Sepuluh orang pengeroyok itu harus pontang-panting menghindari serangan pedang kedua orang tua itu.


Tak berapa lama kemudian empat orang pengeroyok terkena sabetan pedang suami istri yang sudah lanjut usia itu. Seketika keempatnya tewas dengan luka menganga di leher mereka. selang waktu berikutnya dua orang lagi yang terkapar yang mendapat bacokan pedang di perut mereka.


“Benar-benar tidak berguna, mundur kalian semua.” Bentak Gardana marah. “sepertinya memang harus kita yang turun tangan untuk menghadapi kedua orang tua itu.” Ucap Gardana kepada istrinya.


Gardana bersama istrinya langsung melompat menerjang kakek dan nenek yang telah melukai banyak anak buahnya. Pertarungan berbeda umur pun tak terelakkan. Sepasang  suami istri berumur sekitar lima puluh tahunan melawan sepasang suami istri yang sudah lanjut usia berapa umur sekitar tujuh puluh tahunan lebih.


 Berlalu dua puluh jurus nampak siapa yang lebih unggul di antara mereka. Walaupun sepasang orang tua itu jauh lebih berpengalaman rupanya masalah tenaga mereka masih jauh di bawah lawan. Tak berapa lama mereka pun dapat di tekan lawan.

__ADS_1


Braaaakkk..


Si kakek terpental beberapa tombak karena tendangan Gardana. Tubuh tua itu langsung menghantam keramik yang ada di sana. Mulutnya mengeluarkan darah segar dan tangannya memegang dadanya yang sesak. Dengan susah payah orang tua itu bangkit.


Tak berapa lama kemudian sesudah sang suami terlempar dihajar lawannya, kini nenek tua itu yang harus tersungkur mendapatkan pukulan di punggungnya. Perempuan tua itu mengalami luka dalam yang tak ringan. Bahkan ia tidak mampu bangkit lagi, hanya bisa duduk di tempat sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


“Hahaha dasar kalian tua bangka yang tak tau diri. Sudah bau tanah masih saja mengurusi urusan ini. Hari ini akan kukirim kalian berdua ke neraka. Dan dua orang bocah yang kalian anggap cucu ini akan kujadikan senjata untuk menghasut rakyat menggulingkan kerajaan.”


Tawa Gardana menggema di tempat itu. Ia merasa keadaan berpihak padanya. Lelaki itu tak sadar ada dua pasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Merekatak lain adalah Bayu dan Intan yang mengawasi dengan menggunakan ilmu Jagad Netra dan Jagad Rungu.


“Rupanya mereka ingin memakai tangan kita untuk melenyapkan kedua orang tua tersebut. Untung kita tidak terburu-buru mempercayai perkataan mereka. Ayo kak Bayu, kita beri pelajaran kedua suami istri itu.” Ucap Intan.


“Tunggu sebentar Intan. Lihat di sana, ada orang lain yang ingin menyelamatkan mereka. Sebaiknya kita lihat keadaan dulu.” Ucap Bayu.


Sementara itu Gardana dan istrinya sudah  mengikat kedua orang tua yang menjadi musuhnya itu di halaman rumah. Ia berniat untuk menyiksa mereka sebelum membunuh keduanya. Dengan  sebuah cambuk Gardana  berada pada jarak kurang lebih dua tombak dari mereka.


“Orang tua, sampai sekarang aku tidak tau siapa kalian dan ada hubungan  apa dengan kedua orang bocah cucu dari mendiang raja kerajaan barat terdahulu. Setahuku kerabat raja terdahulu hanya tinggal mereka berdua. Tapi mengapa kalian begitu gigih membela kedua bocah tak berguna ini.” Tanya Gardana Penasaran.


“Sudah kubilang kami berdua adalah kakek dan nenek mereka. Bila kau ingin selamat, maka lepaskan kami, berikan penawar kepada kedua anak itu. Aku tak akan memperpanjang urusan.” Ucap si kakek tua.


“Hahaha sudah berada dalam tawanan orang masih berani kau orang tua mengancamku. Apa kau kira aku takut dengan kalian. Sekalipun sepuluh orang macam kalian tak akan kami gentar.” Sahut Gardana.


“Seraanggg!!!”


Baru saja Gardana menyelesaikan ucapannya tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. Sesaat kemudian muncul puluhan orang berpakaian serba coklat masuk ke dalam melalui dinding yang di jebol kakek tua tadi. Puluhan orang itu langsung menyerang Gardana dan istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2