
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 234...
“Ini salah satu murid utamaku di padepokan Naga Geni yang bernama Mandaka.” Ucap Eyang Ranubala memperkenalkan muridnya. “Ini Intan cucuku, dan ini Bayu kekasihnya.” Celoteh eyang Ranubala memperkenalkan cucunya dan juga Bayu.
Mendengar ucapan kakeknya, Intan mencubit sang kakek karena malu. Gadis itu senang bercampur jengah. Wajahnya memerah, namun karena itu pula kecantikannya semakin nampak terlihat. Sementara Bayu hanya tersenyum tidak terlalu menanggapi apa yang di ucapkan kakeknya Intan.
“Sewaktu kau ada dulu Intan, Mandaka sudah meninggalkan padepokan. Itu sebabnya kau tak mengetahui siapa Mandaka ini.”
“Guru, apakah sebenarnya yang membuatmu turun gunung hingga jauh-jauh datang kan lagi Selatan ini?” sela pangeran Mandaka.
Sejenak Eyang Ranubala terdiam. Pikirannya nampak menerawang. Tak lama kemudian ia pun menyampaikan maksud hatinya.
“Aku ingin menemui ketua perguruan tangan dewa, si malaikat bertangan sakti. Ada yang hal yang ingin aku diskusikan dengannya?” ucap Eyang Ranubala.
“Apakah engkau benar-benar tidak tahu yang tentang kejadian dunia persilatan di negeri Selatan belakangan ini?” tanya pangeran Mandaka sambil mengerutkan dahinya.
“Memangnya apa yang terjadi? Aku benar-benar baru saja datang ke selatan ini dan sama sekali tidak mendengar berita apapun tentang dunia persilatan di negeri ini.” Sahut Eyang Ranubala keheranan.
“Sebuah musibah besar terjadi pada perguruan tangan dewa, seorang tokoh aliran hitam sempat mengambil alih perguruan tersebut. Kabarnya dikarenakan membela perguruan tangan dewa, malaikat bertangan Sakti pun tewas.”
“Apa! Malaikat Bertangan Sakti tewas?” jerit tertahan Eyang Ranubala.
“Lalu berita yang kudengar baru-baru ini, terjadi sebuah keajaiban dan keberuntungan besar buat tangan dewa. Kabarnya seorang pemuda Sakti telah menyelamatkan perguruan tersebut dari kehancuran.” Ucap Mandaka menerangkan kepada gurunya.
“Ah, ternyata ada kejadian seperti itu. Aku benar-benar tidak mengetahui kemalangan yang menimpa sahabatku itu. Lalu Apakah kau tahu siapa sekarang yang memimpin perguruan tangan dewa?” Tanya Eyang Ranubala.
“Ah itu yang aku masih ragu tentang kebenarannya guru. Menurut berita yang kuterima, pemuda yang menyelamatkan perguruan benteng Dewa itu adalah Rajawali merah ketua perkumpulan istana Lembah neraka. Dan Ia lah yang kini menjadi pemimpin perguruan tangan dewa itu.” jawab pangeran Mandaka.
“Rajawali Merah?” Seru Eyang Mandaka terkejut. Ia pun memandangi Bayu dan Intan bergantian.
__ADS_1
“Benar guru!” sahut Pangeran Mandaka.
“Benar Eyang! Apa yang di katakan kakang Mandaka itu memang benar.” Timpal Intan.
“Bukankah Rajawali Merah itu adalah kau Bayu? Apakah ada rajawali merah yang lain di dunia persilatan Selatan ini selain kau.” Tanya Eyang Ranubala dengan sangat penasaran.
“Sepengetahuanku tidak ada rajawali merah yang lain kecuali kak Bayu ini.” Timpal Intan sambil tersenyum.
Belum sempat Eyang Ranubala meminta kepastian kepada Bayu, tiba-tiba saja dari luar datang dua orang berpakaian serba putih yang langsung mendatangi pemuda itu.
“Hormat kepada ketua.” ucap doa orang yang baru datang itu serentak. Mereka memang tidak lain adalah dua orang murid tangan dewa yang turun bukit di perintahkan oleh Arya untuk menyusul Bayu dan Intan.
“Bangunlah! Ada apa sampai menyusulku kemari?” tanya Bayu sambil mengerutkan keningnya.
“Maafkan kami apabila mengganggu perjalanan ketua. Baru saja ketua meninggalkan perguruan, ada seseorang datang mengantar surat dan meminta surat itu untuk diserahkan kepada ketua langsung.” jawab perguruan tangan dewa saya menyerahkan sebuah surat kepada Bayu.
“Apakah kalian mengenali siapa orang yang mengantar surat itu?”
“Tidak ketua, bahkan dari penampilan mereka, sepertinya bukan berasal dari negeri Selatan ini.”
Kalau kau menginginkan gadis mu kembali, serah kan gadis keturunan raja itu kepada kami. Akan ku jamin dia kembali dalam keadaan hidup. Anggap saja ini pertukaran yang adil.
Bayu meremas kertas di tangannya setelah membaca isi surat itu. Wajahnya nampak menyiratkan sebuah kemarahan.
“Ada apa kak Bayu?” tanya Intan.
Bayu pun menyerahkan surat yang ada tangannya kepada Gadis itu. Kemudian Intan membaca isi surat tersebut. Mukanya menampakan perubahan hebat setelah membaca isi surat.
“Ada apa sebenarnya? mengapa kalian seperti sangat marah setelah membaca surat itu.” Tanya Eyang Ranubala.
“Tidak ada apa-apa eyang, hanya ada permasalahan kecil yang harus kami selesaikan.” Sahut Bayu. Kemudian pemuda itu mempersilahkan kepada dua orang perguruan tangan Dewa untuk kembali ke tempatnya. “Lalu apa sebenarnya yang ingin eyang bicarakan kepada mendiang malaikat bertangan Sakti.”
__ADS_1
“Ah.. ternyata sekarang aku sedang berhadapan dengan pemuda yang yang lagi senter dibicarakan oleh orang-orang dunia persilatan. Maafkan aku tuan Rajawali merah karena tidak mengetahui Jati dirimu sebenarnya” ucap mandaka menyela pembicaraan Bayu dan Eyang ranubala.
“Jangan terlalu dibesar-besarkan Mandaka.” Sahut Bayu singkat. Nampak ia kurang suka perkataan Pangeran Mandaka yang terlalu memujinya. Apalagi dengan keadaan sekarang ia sedang memikirkan masalah yang dihadapinya.
“Ini tentang pedang Naga Geni dan batu mestika ular api.” Ucap Eyang Ranubala. orang tua itu sadar bahwa Bayu tidak menyukai ucapan dari mandaka yang mengumpak nya. Iapun segera mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa dengan pusaka pusaka itu eyang?” Potong Intan. Ia sedikit merasa tidak enak karena benda-benda yang disebutkan oleh eyang Ranubala tadi dulunya berada di tangannya. Kini pusaka-pusaka itu sudah berada di di dalam tubuh Nalini menjadi satu dalam wujud roh keramat burung api. Itu sebabnya gadis itu langsung menanyakannya.
“Dari perubahan yang terlihat di raut wajahmu, aku dapat menyimpulkan bahwa kedua benda itu tidak lagi berada di tangan mu. Benarkan cucuku Intan?”
Intan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Eyang Ranubala.
“Sesungguhnya dahulu keduanya merupakan satu kesatuan dari perwujudan satu mahluk ghaib roh keramat burung api. Dikarenakan sifatnya yang terlalu liar dan sering membawa kehancuran, oleh seorang yang yang sangat Sakti di zaman dahulu Ia pun ditangkap. Setelah melakukan beberapa ritual akhirnya roh gaib itu pun dijelmakan menjadi dua pusaka. Semenjak itulah dua pusaka itu diberikan kepada nenek moyang kami secara turun menurun.
Sebenarnya antara aku dan Malaikat bertangan Sakti masih ada hubungan kekeluargaan. Ayah kami merupakan saudara kandung. Dulu kedua benda itu masing-masing berada di tangan kami. Aku yang memegang Pedang Naga Geni dan Malaikat bertangan Sakti memegang batu pusakabular api. Setelah menjadi ketua perguruan tangan dewa Ia pun menyerahkan batu itu kepadaku karena merasa dengan batu itu berada di tangannya, emosinya kadang tidak stabil.” Ungkap Eyang Ranubala.
“Benar eyang. Kedua benda itu sudah berada di tubuh temanku. Dan kedua benda itu telah menjelma menjadi roh keramat burung api. Aku memberikannya kepada temanku itu dikarenakan dia telah terkena racun bulu landak salju yang berasal dari pulau es.” Jawab Intan.
“Ah.. pantas saja.. pantas saja..”
“Pantas saja apa eyang?” potong Bayu yang merasa ada sesuatu di balik perkataan orang tua itu.
“Nanti kujelaskan.” Jawab Eyang Ranu Bala. “Lalu bagaimana kau tau cara menyatukan benda itu, padahal aku sebelumnya tidak pernah mengajarimu.” Tanya eyang Ranubala lagi seraya mengalihkan pandangannya kepada Intan.
“Aku diajarkan roh keramat Bidadari Giok Es yang kini menitis di tubuhku eyang. Semua kekuatannya kini menyatu denganku.” Jawab Intan.
“Roh keramat Bidadari Giok Es? Ahhh.. apa benar ramalan itu akan benar-benar terjadi kali ini?” keluh Eyang Ranubala terlihat sedikit resah.
**Bersambung..
Jangan lupa like dan meninggalkan komentar di bawah**.
__ADS_1