Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
80. Pergi Ke Utara


__ADS_3

Kedua orang berpakaian hitam bercaping menyerang menggunakan pukulan kelabang hitam mereka. Tepat saat akan menghantamkan pukulan beracun itu, Intan dan Cempaka Menyambut serangan itu menggunakan Ilmu andalan masing-masing. Pukulan Es dan tapak naga api.


Blamm...


Kedua penyerang terjungkal dua tombak. Walaupun pukulan yang mereka gunakan adalah ilmu beracun yang langka, namun nampak penguasaan mereka masih mentah. Sehingga dengan mudah bagi Intan dan Cempaka mengalahkan lawan.


Kedua orang itu berusaha bangkit. Dari mulut mereka nampak noda darah segar terlihat. Kelihatannya keduanya menderita luka dalam yang tak ringan.


"Intan, Cempaka, lumpuhkan mereka!" seru Pendekar Halikintar.


Berbeda dengan sebelumnya yang hanya menggunakan tenaga lima bagian, kali ini mereka mengerahkan tenaga sakti mencapai tujuh bagian. Hawa Panas dan dingin bercampur menjadi satu di tempat itu. Para prajurit dan pemimpin kota yang memiliki ilmu bela diri rendahan, terpaksa menahan siksaan bercampurnya kedua tenaga sakti di tempat itu.


Keduanyanya melompat bersiap memberikan pukulan terhadap kedua pengacau. Namun sesaat sebelum pukulan keduanya mencapai musuh, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan merah dan berhenti tepat berada diantara kedua pihak yang berlawanan. Dan terjadilah...


Blaammm...


Intan dan cempaka sama-sama tersurut mundur tiga langkah. Sedangkan orang berbaju merah yang tadi menghadang hanya tersurut mundur satu langkah.


Dia seorang lelaki tua dengan semua rambut yang ada di tubuhnya berwarna merah. Raja Iblis Api.


"Selamat berjumpa kembali Pendekar Halilintar." sapa Raja Iblis Api kepasa pendekar Halilintar.


"Raja Iblis Merah, lagi-lagi kau ternyata dalang semua ini." bentak Jaka yang sedikit gusar. "Tak ku sangka kalian turut andil dalam persaingan pemerintahan." Ejek Jaka sinis.


"Hahaha kau salah Pendekar Halilintar. Kami Partai Iblis Berkabut tidak sedikitpun tertarik dengan urusan pemerintahan. Cecunguk satu yang kau tangkap itu, terserah mau kau apakan. Dia sudah berusaha menyeret kami keurusan pribadinya. Kalau kau tidak membunuhnya, kelak kami yang akan menghabisinya."


Kaget juga Pendekar Halilintar mendengar ucapan Raja Iblis Api. Matanya menatap orang itu dengan tajam. Seolah mencari kebenaran dari kata-kata yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Kalau begitu serahkan penawar racun kelabang Hitam. Bila tidak terpaksa kita harus menyelesaikan ini dengan pertarungan." ancam Jaka"


"Hahaha belum saatnya kita bertarung. Kelak akan datang masa itu. Untuk penawar racun terus terang kami tak memilikinya. Kau bisa memintanya kepada Raja Iblis Kelabang di utara." Sahut Raja Iblis Api tak kalah garang. "Anak-anak kita pergi dari sini." perintahnya kepada anak buahnya.


Wushhh...


Akhhh...


Sebuah benda kecil melesat ketubuh Pradika. Jaka pun cepat melesat melihat keadaan anak mantan pemimpin kota itu. Sedangkan Ketiga orang lawan telah meninggalkan tempat itu. Rupanya sebelum meninggalkan tempat, salah seorang dari mereka melemparkan senjata rahasia yang mengincar Pradika.


"Bedebah... Jarum Api" bentak Jaka yang gusar setelah melihat di leher Pradika terdapat lubang kecil yang di sisi-sisinya di kelilingi bintik-bintik merah.


"Hahaha dalam waktu setengah hari dia akan tewas. Tp sudah cukup waktu yang kuberikan untuk kau berurusan dengannya Pendekar Halilintar." Ucap Raja Iblis Api dari kejauhan.


"Apakah kita kejar kakang?" tanya Cempaka.


"Bagaimana dengan nasib anakku tuan pendekar?" tanya Pemimpin kota.


"Tenang tuan, asalkan tuan tidak keberatan anak tuan kami bawa ke Utara menemui datuk yang bisa mengobati anak tuan itu, tentu kami akan berusaha. Yang pasti perjalanan kami pulang pergi menggunakan kereta kuda mencapai dua puluh hari lebih bila tidak ada rintangan" sahut Jaka.


"Benar tuan, hanya itu satu-satunya cara untuk mengobati anak tuan. Kalau tidak, lewat tiga puluh hari anak tuan akan tewas" timpal Cempaka.


Keesokan harinya setelah mendapatkan persetujuan dari pemimpin kota, Jaka dan yang lainnya berangkat ke negeri utara. Jaka, Cempaka, dan Intan menunggang kudanya masing-masing sedangkan putri Pemimpin kota dalam kereta di dampingi ibu dan dua orang pengawalnya.


Setelah seharian berkuda, mereka memutuskan untuk beristirahat. Kebetulan sekali tempat mereka singgah saat itu dekat dengan Lembah Neraka. Hanya berjarak sekitar sepuluh mil saja.


"Kakang, bagaimana kalo kita coba ke lembah Neraka dulu, siapa tau Bayu ada di sana. Lalu dengan bantuan Intan meminta tolong menyembuhkan Putri pemimpin kota" Usul Cempaka

__ADS_1


"Hmmm... apakah tidak apa-apa kita ke sana?" tanya Jaka.


Sebenarnya suami Cempaka itu enggan untuk bertemu orang-orang Istana Lembah Neraka. Walaupun orang yang telah membunuh gurunya telah tewas, tapi tetap saja nama Istana Lembah Neraka lah yang menjadi penyebabnya. Hal yang masih membuatnya berusaha berpikiran baik tentang perkumpulan itu adalah karena adanya Pendekar Tongkat Emas, serta belakangan kabar tersiar bahwa perkumpulan itu banyak melakukan perbuatan baik dan membantu masyarakat-masyarakat yg membutuhkan.


Saat sedang asik beristirahat tiba-tiba saja lewat tiga orang berpakaian serba hitam lari tergesa-gesa. Mereka terlihat dalam keadaan terluka. Beberapa kali ketiganya melihat kebelakang seperti khawatir di kejar.


"Berhenti kalian, serahkan penawarnya baru kalian kubiarkan pergi."


Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang orang itu. Dari nadanya, orang itu benar-benar marah. Jaka dan Cempaka yang sedang duduk berdampingan saling memandang satu sama lain. Dari pakaian yang mereka kenakan nampaknya mereka sudah tidak asing lagi.


"Mirip pakaian yang di kenakan penyerang di rumah pemimpin kota kakang" Ucap Cempaka.


Jaka pun mengangguk menanggapi ucapan istrinya. Namun matanya tetap memperhatikan tiga orang yang sudah lari terseok-terseok. Tak lama kemudian datang seorang pengemis tua. Rupanya dialah yang mengejar ke tiga orang itu.


Kemudian diam-diam jaka mengambil tiga butir batu kecil dan menjentikkannya ke arah tiga orang berbaju hitam tadi. Seketika ke tiga orang itu roboh, karena batu yang di lontarkan Jaka tadi tepat mengenai titik kaku mereka bertiga.


"Hahaha... mau lari kemana lagi kalian." Ucap si kakek pengemis. "Eh kenapa kalian telungkup di sini" tanyanya lagi keherangan.


Pengemis itupun memeriksa tiga orang yang di kejarnya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati tiga orang itu sudah dalam keadaan tertotok. Karena penasaran Ia pun mengedarkan pandangannya kesekeliling. Tidak ada yang mencurigakan kecuali rombongan kereta yang sedang beristirahat di bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Hei kalian yang di sana!" seru pengemis itu ke arah rombongan jaka.


Seketika semua melihat ke arah pengemis itu. Semua nampak serius menanggapi seruan si pengemis. Hanya intan yang terlihat berusaha menahan tawanya.


"Kenapa kek?" tanya Jaka berpura-pura tidak mengerti.


Pengemis itu salah tingkah sendiri dengan pertanyaan Jaka. Awalnya ia curiga yang menotok tiga orang buruannya adalah salah satu dari mereka. Melihat reaksi Jaka yang seperti orang tak tau menau akan urusan di depannya

__ADS_1


__ADS_2