
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 153...
Beruntung Nalini bergerak cepat menangkap tubuh bayu. Kemudian gadis itu membawanya turun ke bawah. Walaupun masih dalam keadaan sadar, pemuda itu terlihat sangat lemah. Meski begitu dia masih memaksakan diri untuk tetap berdiri.
“Menepilah Nalini.” Ucap Bayu.
“Tapi kak.. kau terluka dalam. Sebaiknya kita hadapi orang itu bersama.” Sahut Nalini.
Bayu tak menanggapi perkataan Nalini. Pemuda itu maju beberapa langkah, lalu mengerahkan tenaga saktinya kembali. Walau tak sedahsyat sebelumnya, tetap saja tenaga sakti itu membuat alam sekitar terpengaruh.
Pemuda itu kembali melayang dua tombak di atas tanah. Matana dipejamkan untuk memusatkan seluruh kemampuannya. Perlahan semua unsur tenaga saktinya muncul mengitari tubuh. Benda-benda kecil di dekatnya pun ikut melayang berhenti di udara di sekitar tubuh Bayu.
Sementara orang bertopeng masih merapalkan mantra sambil terus mengawasi pergerakan Bayu. Naga emas terus berputaran di langit tepat di atas lelaki berbaju hitam memakai topeng pewayangan itu. Keadaan di tempat itu benar-benar menjadi tidak biasa. Alam seperti ikut terlibat dalam pertarungan dua manusia sakti tersebut.
“Hiyaaaa..”
“Haaaa..”
Pekikan kedua orang yang sedang berseteru itu terdengar nyaring menggema langit. Tenaga Sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta kembali menggulung tanah dan udara di tempat itu. Si orang bertopeng pun menggerak-gerakan tangannya mengarahkan ke serangan Bayu. Naga Emas meliuk-liuk dan menerjang gulungan Tenaga Sakti Bayu.
Dessshhh..
Sekali lagi tenaga sakti yang dilancarkan Bayu buyar digulung lilitan Naga Emas. Melihat serangan Bayu sirna untuk kedua kalinya, dia tersenyum sinis di balik topengnya itu. Lalu tangan orang itu melakukan gerakan memutar kemudian mendorong ke arah Bayu. Naga Emas itupun meluruk kearah Bayu seakan hendak menenlan pemuda itu.
“Formasi Perisai Tiga Api Dewa..”
Tiba-tiba terdengar seruan keras disusul berkelebatnya Bayangan Jingga dan dua Bayangan Putih ke depan Bayu. Kemudian ketiga Bayangan itu langsung melakukan gerekan sedemikian rupa, kemudian mendorong tangan mereka ke arah depan. Seketika dari tangan itu memancar dua cahaya merah dan satu cahaya putih yang kemudian membentuk perisai sedemikian rupa.
Blammmm..
__ADS_1
Naga Emas yang tiba-tiba saja mendapat halangan berupa tembok tenaga meluncur laju dan menabrak tembok tenaga tersebut. Terjadi ledakan yang sangat dahsyat ketika binatang jelmaan pedang pusaka menghantam perisai tenaga yang dibuat tiga bayangan itu.
Tiga Bayangan itu terlempar sampai tiga tombak. Sedangakan orang bertopeng terjajar mundur dua langkah. Seolah terkejut, Naga Emas kembali ketuannya, si orang bertopeng.
Ketiga Bayangan yang tak lain Pranggala, Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan itu kembali bangkit dan menghampiri Bayu. Ketiga orang itu berlutut memberi penghormatan, kemudian ia kembali menghadap kearah orang bertopeng. Sekilas ketiganya nampak baik-baik aja, padahal mereka mengalami luka dalam yang tidak ringan.
“Kalian bertiga menepilah. Di hadapan kalian bukanlah orang sembarangan. Bentrokkan tadi pasti membuat kalian terluka dalam yang tak ringan.” Ucap Bayu.
“Kami tidak apa-apa ketua. Ketua lah yang perlu istirahat. Dari wajahmu dan keadaanmu sekarang, lukamu pasti lebih parah dari kami.” Sahut Pranggala.
Sedang asik ke empatnya berbicara, Nalini datang bergabung. Wajah ke khawatiran dan kecemasan nampak tergambar jelas.
“Hahaha tak usah kalian berdebat. Jangan khawatir, akan kukirim kalian sekaligus ke neraka.” Ucap orang bertopeng.
“Kalau kalian masih menganggapku ku ketua menepilah. Aku tidak akan apa-apa. Bawalah Nalini beserta kalian untuk menjauh dari tempat ini. Nalini, turutilah kata-kataku jangan membantah.”
Mendengar ketegasan ucapan Bayu, ketiganya terpaksa menuruti, walau mereka sangat khawatir keadaan pemuda itu. Perlahan mereka beranjak menepi agak jauh dari tempat Bayu.
Bayu diam sejenak. Ia menghela nafasnya yang terasa berat. Sesaat terbayang segala kejadian yang telah ia lalui. Entah mengapa Bayu merasa setiap kejadian itu menuntunnya pada pemahaman hidup. Kini hatinya berasa lebih tenang dan mantap. Ia percaya mautnya ada di tangan Sang Penciptanya, bukan di tangan musuh yang kini berada di hadapannya.
Bayu mendongakkan kepalanya. Di lihatnya jelmaan seekor naga yang begitu gagah dan kuat. Mata Naga itu berwarna merah dengan seluruh tubuh berasal dari sinar keemasan.
Bayu berusaha menenangkan hatinya. Pemuda itu sadar tidak ada lagi yang mampu ia lakukan untuk menghadapi musuh. Semua tenaga dan kekuatannya buyar seketika tanpa bekas saat menyentuh sang Naga Emas. Hanya yang ia sesalkan tidak bisa melindungi orang-orang yang disayanginya.
“Wahai Sang Penguasa Semesta. Aku tahu selama hidupku tak pernah mempercayai keberadaanMu. Namun di saat-saat terakhir ini aku sadar, segala apa yang ada di semesta ini berasal darimu dan kembali kepadamu. Maka kuserahkan segalaku kepada Engkau wahai Semesta.”
Di tempatnya si orang bertopeng telah bersiap untuk menghabisi Bayu. Iapun mengerahkan tenaga saktinya hingga ketingkat tertinggi. Sementara Naga Emas Pun mulai berputaran dengan hebat di atasnya. Lalu Orang Bertopeng melakukan gerakan tangan sedemikian rupa. Lalu dengan hentakan yang keras, ia mendorong kedua telapak tangannya ke arah Bayu.
Naga Emas naik kelangit lalu berputaran diatas. Terdengar suara petir menyambar-nyambar menyatu dengan tubuh naga jelmaan pedang itu. Kemudian Naga itu meluruk ke bawah lalu berbelok menyerang ke arah Bayu.
Melihat serangan lawan yang sedemikian rupa, iapun memejamkan mata memasrahkan dirinya kepada Yang Kuasa. Tiba-tiba saja hati Bayu merasa tenang. Tak pernah ia merasa setenang ini. Kepasrahannya, ketidak berdayaannya, tanpa ia sadari telah memanggil tenaga sakti gerbang ke enam. Gerbang Cahaya
__ADS_1
“Akhh..”
Nalini dan tiga orang anak buah Bayu menjerit secara Bersamaan. Melihat Naga Emas menyerang Bayu mereka benar-benar dibuat lemas. Tanpa sdar ke empat orang-orang terdekat Bayu itupun menutup matanya. Tak berani melihat apa yang akan terjadi dengan Bayu.
“Penguasa Naga Membelah Semesta.”
Terdengar pekikan keras dari orang bertopeng bersamaan tangannya yang mendorong kearah Bayu. Bagaikan mendapat bantuan Tenaga, binatang Sakti jelmaan Pedang Penguasa Naga itu menghantam tubuh Bayu. Namun saat Naga itu sudah sangat dekat dengan pemuda itu tiba-tiba...
Tiba-tiba Bayu Membuka Matanya. Mata itu terlihat memancarkan sinar putih terang yang sangat menyilaukan. Lalu tubuh itu melayang di udara satu tombak dari tanah. Tak lama kemudian tubuh Bayupun memancarkan cahaya putih terang. Seketika Cahaya Putih itu meliputi seluruh tubuh Bayu.
Kini tubuh Bayu benar-benar diliputi Cahaya. Bahkan terang Cahaya yang memancar dari tubuh pemuda itu melebihi terang cahaya sang surya. Perlahan cahaya itu bergerak semakin lama semakin melebar memenuhi segala penjuru tempat itu. Seketika Tempai itu menjadi sangat terang melebihi terangnya siang.
Naga Emas seperti membentur tembok, tertahan sehasta dari tubuh Bayu. Lalu dalam sekejapan mata, mahluk itu kembali berubah menjadi pedang pusaka. Kemudian pedang itu berbalik arah dan meluncur cepat ke arah tuannya.
“Akkhhh..” jerit orang bertopeng.
Pedang Pusaka yang tak lain adalah pedang pusaka Penguasa Naga itu menancap tepat di bahu kanan orang bertopeng. Tubuh orang itu terjengkang beberapa tombak dan jatuh ke tanah. Iapun meringis kesakitan sambil memegangi bahunya yang tertancap sebuah pedang pusaka.
“Yang Mulia” teriak empat orang anak orang bertopeng yang tertikam pedang pusaka itu secara bersamaan. Kemudian mereka melesat menghampiri sang pimpinan. Lalu tanpa banyak bicara ke empat orang itu melesat membawa kabur pimpinan mereka meninggalkan tempat itu.
Bersambung...
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1