Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Kekalahan Panglima Maludra dan Pasukannya


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 241...


“Seranggg!” pekik Panglima Maludra.


Sekitar seratus orang pasukan berpedang meluruk cepat menuju benteng pertahanan kota Sedaha. Dengan semangat membara para prajurit kerajaan Barat itu pun berlari sambil berteriak mengelu-elukan  rajanya. Seratus orang pasukan penyerang pertama itu sangat percaya diri mereka akan berhasil merebut benteng.


Baru saja seratus prajurit itu   mendekati dengan benteng, tiba-tiba saja benteng bagian atas yang terbuat dari kayu itu membuka. Nampak puluhan orang bersenjata panah api siap menyerang.  Sesaat kemudian para pasukan panah api melepaskan serangannya.


“Aaaa..”


Jeritan kesakitan terdengar dari mulut seratus orang penyerang pertama prajurit kerajaan Barat. Hampir semua dari mereka  terkena serangan panah api yang langsung membakar tubuh para prajurit itu. Hanya beberapa orang saja yang berhasil kembali. Tentu saja ini sangat mengejutkan para pimpinan pasukan terutama Panglima Maludra.


“Bedebah.. ternyata mereka menjebak kita. Siapkan pemanah api, bakar benteng mereka yang terbuat dari kayu itu,” Geram Panglima Maludra.


“Serang menggunakan panah api!” teriak perwira bawahan dari panglima Maludra.


Dengan sigap ratusan pelajar yang menggunakan panah menyiapkan ujung anak panah mereka dengan sebuah kain bercampur minyak. Kemudian  ujung anak panah tersebut dinyalakan  dengan api. Panah api pun siap untuk diluncurkan ke Benteng lawan.


“Lepaskan panah!” perintah perwira pemimpin pasukan panah.


Serentak pasukan pemenang api melepaskan anak panahnya ke arah benteng musuh. Ratusan anak panah yang ujungnya menyala melesat jelas ke arah benteng pertahanan kota sedaha. Lebih separu dari panah-panah tersebut yang berhasil mengenai tembok kayu. Sisanya jatuh di pasir tak jauh dari benteng pertahanan kota Sedaha.


Kali ini para pemimpin pasukan kerajaan barat kembali dibuat terkejut oleh pertahanan kota Sedaha. Dengan sigap para penjaga gerbang yang berada di balik tembok tinggi dari kayu itu menyiram setiap tembok kayu yang terkena anak panah api. Apabila  apinya sudah besar, mereka membongkar kembali tembok kayu dan menggantikannya dengan yang baru. Seakan-akan benteng itu sebuah mainan bongkar pasang yang mudah mereka atur.


“Bedebah mereka itu. Tidak disangka mereka memiliki siasat yang begitu rapi,” geram Panglima Maludra. Nampak lelaki separuh baya itu sangat emosi melihat keadaan yang mereka hadapi.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan Panglima Maludra?” tanya perwira bawahannya.


“Kirim tiga ratus pasukan. Bagi menjadi tiga  bagian seratu di sayap kiri seratus  di sayap kanan dan seratus melalui depan. Dari sini lepaskan anak panah me arah benteng kayu itu. Supaya pemanah mereka tidak berani muncul.”


Mendengar perintah Panglima Maludra sang bawahan pun menyiapkan semuanya. Ia telah membagi pasukan menjadi tiga bagian, dan semuanya terdiri dari pasukan pedang. Dalam waktu singkat formasi pasukan pun sudah siap untuk dikerahkan.


“Mulai Penyerangan!” perintah Panglima Maludra.


“Seraangg!”


Pekikan pemimpin pasukan pedang terdengar nyaring yang disambut pekikan teriakan semangat dari pasukan pedang yang menyerang tiga sisi pertahanan kota Sedaha. Bunyi bergemuruh yang diakibatkan hentakan kaki pasukan yang berlari benar-benar terdengar menggetarkan nyali. Ditambah kilauan pedang yang memantulkan sinar matahari menambah kegagahan pasukan penyerang.


Namun apalah daya, kemengangan kali ini memang bukan milik mereka. Tinggal seperempat perjalanan lagi mereka berhasil mendekati benteng kota Sedaha, tiba-tiba saja puluhan orang pasukan penyerang terperosok kedalam tanah. Sebagian dari mereka yang masih selamat tak memiliki keberuntungan yang panjang, tanpa mereka sangka dari dalam tanah bermunculan pasukan-pasukan lawan yang langsung menyergap mereka. Tentu saja Serangan yang sangat tiba-tiba itu membuat para pasukan pedang kerajaan Barat kelimpungan. Hampir tiga ratus pasukan itu kehilangan nyawanya atau tertawan musuh.


“Bangsat! Apa-apaan ini. Sejak kapan mereka punya jebakan seperti ini? Mengapa kalian satupun tidak mendapatkan informasi seperti ini?”


“Mohon maaf yang Mulia, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”


Setelah lama tidak ada yang berani bersuara, akhirnya salah satu perwira memberanikan diri menanyakan langkah apa yang selanjutnya akan diambil untuk menghadapi lawan. Sesaat Panglima Maludra hanya diam tanpa memberikan jawaban. Ia berpikir keras Bagaimana caranya untuk bisa menghancurkan benteng lawan. Apabila dia kembali dengan keadaan kalah tentu  panglima-panglima lain akan mencemoohnya.


“Kerahkan seluruh pasukan! Kita akan serang mereka habis-habisan.”


“Titah Raja...!”


Baru saja panglima Maludra hendak mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang benteng lawan tiba-tiba saja terdengar seorang utusan  raja berteriak. Sontak semua orang yang tadi sudah bersiap akan menyerang, langsung menghentikan langkah mereka. Serentak semuanya berlutut mendengarkan isi titah dari sang Raja.


Kepada Panglima Maludra

__ADS_1


Hentikan Penyerangan ke kota Sedaha dan tarik semua pasukanmu kembali ke kota Batu Sangga Alam.


Raja,


Singkat namun sangat jelas perintah yang diberikan Raja kerajaan Barat. Setelah selesai dibacakan surat yang merupakan titah raja itupun diserahkan kepada Panglima Maludra. Setelah utusan Raja itu meninggalkan tempat barulah Panglima Maludra bangkit. Wajah lelaki itu memerah menahan marah.


“Cepat sekali yang Mulia Raja mengetahui keadaan kita. Ini pasti ulah Pasupata itu,” ucap panglima Maludra penuh kemarahan. “Ayo kembali,” bentaknya lagi penuh kemarahan.


Panglima Maludrs dan seluruh pasukannya kembali ke kota Batu Sangga Alam sesuai dengan perintah Raja Barat. Tanpa suara sedikitpun mereka  beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah-wajah masam itu meninggalkan perbatasan kota Sedaha diiringi sorak sorai kemenangan para prajurit penjaga gerbang kota musuh.


...***...


Di sebuah tempat pedalaman wilayah kerajaan barat orang-orang yang menyatakan diri mereka sebagai suku  sedang bertarung melawan Nalini yang berhasil kembali kesadarannya. Gadis itu mengamuk dengan kekuatan api merahnya. Ada sekitar seratusan oramg-orang suku api yang mengepungnya.


“Tangkap gadis itu, jangan sampai dia berhasil lolos. Kita akan kehilangan Dewi api apabila ia sampai jatuh ketangan kwanannya,” teriak empu Yudiba.


Orang-orang suka api mengelilingi nalini yang terus mengamuk di tempat itu. Gadis itu menyerang siapa saja yang berusaha menghalanginya. Lebih dari sepuluh orang sudah orang-orang suku api terkapar terluka parah. Sayangnya Nalini mengalami kesulitan untuk keluar dari tempat itu. Tempat yang telah dipakai dengan pagar gaib itu membuatnya sulit untuk menggunakan ilmu berpindah tempat dalam sekejap.


“Cepat katakan bagaimana caranya keluar dari tempat ini? Kalau tidak akan kuhancurkan tempat ini dan kubunuh kalian semua,” ancam Nalini.


Hampir setengah harian sudah Nalini  berusaha keluar di tempat itu. Sedikitpun dia tidak dapat menemukan pintu gerbang untuk keluar dari Desa pedalaman itu. Kali ini tekatnya yang kuat mampu membuatnya kembali menguasai raganya. Bahkan berkali-kali orang suku api menggunakan tabuhan gendang irama pemanggil Dewi  tidak berhasil membuat Nalini hilang kesadarannya.


“Terus serang gadis itu, buat dia kelelahan agar dia kelelahan, dan dengan mudah kita bisa memanggil roh dewi api dengan irama pemanggil dewi.”


Empu Yudiba memerintahkan orang-orang suku api untuk terus menyerang dan membuat Nalini kelelahan. Memang  sudah hampir setengah hari mereka terus mengepung Nalini dan menyerangnya dengan bermacam-macam cara. Untung saja kekuatan burung api tidak mudah habis dan melemah sehingga ia pun masih bisa bertahan. Nalini sendiri berusaha untuk tidak menggunakan tenaga api hitam agar ia tidak mudah kehilangan kesadaran.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan Lupa kasih like dan komentarnya


__ADS_2