
"Hahaha... betul-betul gadis pilihan" tawa Datuk Sesat Seribu Wisa. Lalu dengan sigap ia melesat menangkap tubuh Nalini yang akan jatuh ke tanah.
Wusshhh...
"Ehh..."
Betapa terkejutnya Datuk Sesat Seribu Wisa ketika sebuah bayangan merah dengan kecepatan yang tak dapat diikuti mata telah mendahuluinya menangkap Nalini. Bahkan hembusan angin yang diakibatkan oleh bayangan merah itu membuat anak buahnya yang berada di dekat Nalini terlempar berjatuhan. Ia sendiri harus terdorong beberapa langkah akibat kibasan angin dari kecepatan bayangan merah.
"Bwahaha... Datuk Sesat Seiprit Racun seperti orang bodoh kehilangan hidung Bwahaha. Heii kakek peot, sudah ngaca belum? umur sudah sore masih saja mau main-main sama daun muda"
Tepat di sebelah kanan pintu gerbang masuk kediaman Siluman Racun telah berdiri Dewa Tuak Gila yang tertawa-tawa sambil mengejek Datuk Sesat Seribu Wisa. Di sampingnya berdiri Bayu sedang menggendong Nalini yang sedang pingsan. Nampak sorot mata pemuda itu menatap tajam kearah Datuk Sesat Seribu Wisa.
Bagaimana bisa Bayu dan Dewa Tuak Arak dengan mudah dan cepat memasuki Hutan Seribu Racun? Padahal saat dia menyelesaikan latihannya tadi haru sudah menjelang malam. Sedangkan Jarak nya saat itu dengan kediaman Siluman Racun bisa dibilang cukup jauh. Namun hanya dalam waktu yang singkat dia dan orang tua itu sudah berada di sana.
Bayu yang meminta ajarkan cara menggunakan ilmu meringankan tubuh kepada Dewa Tuak gila langsunh mempraktekkan apa yang diajarkan orang tua itu. Tanpa disadarinya secara otomatis pemuda sakti itu telah menggunakan Ilmu Biang Lala Melukis Langit miliknya. Ilmu meringankan tubuh terhebat yang pernah ada.
Saat mereka beranjak meninggalkan tempat latihannya Bayu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing, beberapa kali Dewa Tuak ketinggalan di belakang dan hilanh jejak. Sedang kan Bayu sendiri tidak mengetahui dimana tepatnya Hutan Seribu Racun berada. Lalu Pemuda itupun berinisiatif menggendong kakek tua itu dipunggungnya.
__ADS_1
Saat berada di punggung Bayu, beberapa kali kakek tua itu berdecak kagum. Apa yang disaksikannya saat itu benar-benar pemandangan luar biasa. Bayu tidak seperti orang berlari. Lebih mirip seperti orang yang terbang. Bahkan dengan membawa beban dirinya di punggung, pemuda itu tak sedikitpun merasa terbebani.
Bukan hanya hal itu yang membuat dia sangat mengagumi pemuda ini. Saat mereka mulai memasuki Hutan Seribu Racun tadi, beberapa rintangan yang dipasang oleh Siluman Racun dengan mudah ia lewati, dan beberapa ia musnahkan. Bahkan yang lebih membuatnya takjub, saat pemuda itu menawarkan Danau Beracun buatan Siluman Racun itu.
Saat tida di tepi danau itu, si kakek yang sudah turun dari punggung Bayu menjelaskan tentang bahayanya Danau itu. Lalu dia pun memberikan arahan untuk menggunakan tenaga panasnya menawarkan racun itu, lalu dengan tenaga dingin bayu untuk membuat air danau itu menjadi sejuk. Pemuda itupun melakukan apa yang diterangkan oleh si kakek-kakek. Dan hal menakjubkan terjadi, bukan hanya air itu menjadi bebas dari racun, air itupun berubah menjadi sejuk. Sungguh Dewa Tuak Gila sangat takjub melihat itu semua, padahal ia sendiri yang mengajarkan pada Bayu.
Sesampainya mereka di kediaman Siluman Racun, keadaan sudah mengkhawatirkan. Saat itu terlihat Nalini sedang akan jatuh karena terhirup racun yang ada di tempat itu. Dengan sigap Bayu langsung menyambar Nalini sebelum jatuh ke tanah.
Betapa terkejutnya Datuk Sesat Seribu Wisa melihat penampilan Bayu. Hampir saja dedengkot racun itu menjatuhkan dirinya berlutut. Setelah menarik nafas dalam-dalam baru dia bisa menguasai dirinya kembali. Kemudian ia pun menguatkan keyakinan bahwa di hadapannya adalah orang lain, bukan Rajawali Merah bekas pimpinannya dlu.
Memang di dalam perkumpulan Istana Lembah Neraka, hanya beberapa orang saja yang pernah melihat wajah Bayu secara langsung. Sehingga beberapa orang saja yang dapat mengenalinya sebagai pimpinan Istana Lembah Neraka. Sesaat tadi perasaannya betul-betul goncang, dan nyalinya serasa melayang. Perawakan dan warna pakaian yang dikenakan Bayu sangat menyerupai pakaian yang biasa ia gunakan saat menjadi Rajawali Merah. Hanya perbedaannya Bayu tidak menggunakan topeng dan jubah yang menggantung di bahunya.
"Bwahahaha... Takut yaaaa... Bwahahaha... Bagaimana rasanya ketemu malaikat maut bwahahaha." goda Dewa Tuak Gila.
"Kurang ajar kau orang gila. Setelah ku hajar sampai keok masih berani rupanya datang kesini. Apa kau ingin minta gebuk lagi" Balas Datuk Sesat Seribu Wisa.
Ngeri juga Dewa Tuak Gila mendengar ancaman lawan. Secara tak sadar orang tua itu menggeser tubuhnya agak mendekat dengan Bayu. Seandainya tidak gengsi, mungkin orang tua itu sudah bersembunyi di belakang anak muda itu.
__ADS_1
"Hai bocah sialan... kembalikan gadis itu dan angkat kaki dari sini kalau kau masih sayang nyawamu. Jika tidak jangan salahkan racun ku ini menghabisi nyawamu." Bentak Datuk Sesat Seribu Wisa mengancam Bayu.
"Pergilah dari sini dan jangan kembali lagi. Kalau tidak jangan menyesal kau tak akan melihat matahari lagi."
Tanpa mempedulikan bentakan Datuk Sesat Seribu Wisa, Bayu malah mengancam orang tua sesat itu dengan nada bicara yang dingin. Entah kenapa Datuk Sesat Seribu Wisa bergidik dan bulu kuduknya merinding mendengar ucapan Bayu itu. Jika saja di situ tidak ada Dewa Tuak Gila, mungkin dia sudah angkat kaki dari sana. Walau tak yakin pemuda di depan dapat mengalahkannya, namun dia sendiri tak suka mengambil resiko yang menjadikan nyawanya sebagai taruhan.
Wusshhh...
Sebuah benda kecil melayang kearah Datuk Sesat Seribu Wisa hingga membuat kakek-kakek itu berjingkrak menghindarinya. Dikiranya serangan itu berasal dari si pemuda berbaju merah. Ternyata itu hanyalah lemparan batu dari Dewa Tuak Gila.
"Bwahahaha... Datuk sesat berubah menjadi kodok sesat" ejek Dewa Tuak Gila sambil tertawa tawa dan sesekali menyemburkan tuak di mulutnya ke arah Datuk Sesat Seribu Wisa.
Walaupun dalam keadaab bimbang akan kekuatan lawannya, namun karena diejek terus sedemikian rupa, akhirnya Datuk Sesat Seribu Wisa kehilangan kesabarannya. Orang tua itu mengambil sebuah bambu kecil di balik bajunya. Kemudian ditiupnya bambu itu hingga menimbulkan suara.
Rupanya suara itu merupakan suara panggilan buat hewan-hewan piaraannya. Dalam waktu sebentar saja, tempat itu mulai berdatangan binatang-binatang kecil yang berbisa. Ratusan ular, kelabang, dan kalajengking merayap menuju tempat Bayu.
Melihat apa yang di lakukan oleh Datuk Sesat Seribu Wisa Bayu benar benar marah. Dari matanya nampak sesekali memancar kilatan-kilatan halus. Seandainya saat itu Datuk Sesat Seribu Wisa melihat perubahan pada mata Bayu, tentu ia akan segera mengetahui siapa jati diri pemuda itu.
__ADS_1
"Kek tolong jaga Nalini" ucap Bayu sambil menurunkan gadis itu dari gendongan dan menyererahkannya kepada Dewa Tuak Gila.
Kemudian Bayu maju beberapa langkah dari tempatnya. Pemuda itu lalu mengibaskan lengan bajunya sehingga menimbulkan terjangan angin yang menerbangkan balik hewan-hewan kecil berbisa itu ke arah pemiliknya. Datuk Sesat Seribu Wisa pun tercengang melihat pemandangan di depan matanya.