
"Banyak lagak kau Pranggala!" bentak Ki Nyamat yang langsung menyerang Pranggala dengan jurus-jurus mematikan.
"Satu..." seru Pranggala. Sebuah Sodokan Tongkat Ki Nyamat tepat menyerang ke arah lambung Pranggala, namun dengan mudah dihindarinya.
Seketika Ki Nyamat merubah serangan dengan menekuk kakinya dan memutar tongkatnya. Kemudian Ketua perguruan Tongkat Sakti itu menyabetkan tongkatnya ke arah kepala Pranggala. Hanya dengan sedikit menarik badannya kebelakang, serangan itu pun lewat. "Dua..."
Ki Nyamat semakin penasaran, kini ia mulai menggabungkan jurus-jurusnya dengan tenaga saktinya. Deru angin yang dahsyat menyertai setiap hentakan serangannya. Dengan berlompatan di udara, Ki Nyamat mencoba menjatuhkan lawannya melalui serangan atas.
"Tiga..." Kembali Pranggala berseru setelah mampu menghindari! serangan musuh.
"Empat..." Ki Nyamat semakin berang dan semakin penasaran, karena sudah empat jurus yang ia gunakan untuk menyerang, tetap saja lawan tak sentuh serangannya.
"Lima..." teriak Pranggala yang sudah memberikan kesempatan lawannya lima jurus tanpa membalas.
bukkk...
Dua senjata Beradu, pada serangan selanjutnya Pranggala menangkis serangan Tongkat Maut Ki Nyamat menggunakan Ranting yang dia dapat di sana. Pada bentrokan tadi Pranggala tersurut mundur satu langkah, sementara Ki Nyamat terdorong satu tombak.
Melihat itu semua, murid-murdi Ki Nyamat terperanjat. Mereka tak menyangka sang guru akan kalah adu tenaga dengan bekas muridnya sendiri.
Pertarungan kembali terjadi, kini nampak jelas bahwa Pranggala berada diatas angin. Bahkan terlihat pengawal Rajawali Merah itu tidak benar-benar serius menyerang lawannya, seperti hanya mempermainkan saja. Namun berbeda dengan Ki Nyamat yang harus jatuh bangun menghindari serangan lawan. Padahal Jurus-jurus yang dipergunakan Pranggala tak lain adalah jurus-jurus yang ia ajarkan sendiri. Di tangan Pranggala jurus-jurus itu menjadi lebih dahsyat dan menakutkan.
"Paman Pranggala, waktumu tinggal sedikit saja, Tenaga sakti yang aku berikan sifatnya hanya titipan, dan terbatas dalam waktu tertentu."
Terdengar sebuah bisikan ke telinga Pranggala menggunakan ilmu mengirimkan suara. Sadarlah Pranggala betapa ia terlalu kesenangan sehingga lupa bahwa kemampuannya saat ini atas bantuan Ketua Istana Lembah Neraka.
__ADS_1
Pranggala pun memperkuat serangannya. Dipusatkan nya seluruh tenaga nya pada tangan dan ranting yang ia jadikan tongkat. Sebuah serangan terakhir ia lancarkan. Jurus pamungkas Ilmu Tongkat Sakti, Tongkat Sakti Menghancurkan Karang.
Prakkk...
Hukkk...
Bentrokan dua senjata terjadi. Tongkat yang dipegang Ki Nyamat patah menjadi dua bagian. Dia pun terlempar sejauh tiga tombak, dan menyemburkan darah segar dari mulutnya. Dadanya terasa sangat sesak dan ngilu. Nampak Orang tua itu terluka dalam yang tak ringan.
Sedangkan Pranggala tetao kokoh pada posisinya. Matanya berubah menjadi mencorong seperti kebanyakan pendekar sakti. Raut Wajahnya sangat serius. Kemudian lelaki itu membuang ranting di tangannya, lalu melangkah menuju kudanya. Pranggala merasakan tenaganya sudah kembali seperti semula, bahkan terasa sedikit lemas.
"Cepat menjura kepada senior kalian, termasuk kau orang tua" bentak Rajawali Merah.
Ki Nyamat dan muridnya yang lain hanya diam, dengan sorot mata menyimpan kemarahan.
Aaaa...
Tiba-tiba jerit kematian terdengar berbarengan. Ki Nyamat dan semua muridnya roboh dengan kepala berlubang mengeluarkan darah segar. Entah bagaimana caranya Rajawali Merah yang melihat perintahnya tidak di laksanakan, langsung menghabisi Ki Nyamat dan murid-muridnya tanpa seorangpun tahu bagaimana cara pemuda itu melakukannya. Termasuk Pranggala, dia hanya bisa menarik nafas dalam, karena sedih sedikit banyaknya yang tewas adalah Guru dan adik-adik seperguruannya.
"Paman... Ayo kita lanjutkan perjalanan" Perintah Bayu. kemudian keduanya pun beranjak pergi meninggalkan mayat-mayat perguruan Tongkat Sakti yang berserakan.
...***...
Sebuah Rombongan Besar meninggalkan Lembah Neraka. Sedikitnya ada tujuh puluhan orang meninggalkan tempat itu. Enam puluhan orang berpakaian serba hitam, dengan gambar istana di kelilingi api di dadanya. dua belas orang menggunakan pakaian abu-abu, lima orang berpakaian serba hijau, dan empat orang berpakaian serba putih. Semuanya sama, di dada mereka masing-masing terdapat lambang Istana yang di kelilingi api, mereka memang orang-orang Istana Lembah Neraka.
Hanya Anggota tingkat Empat yang dilakukan perekrutan, sedangkan tingkat tiga dan dua tidak walaupun posisi itu telah berkurang. Penyerangan Ke Bukit Benteng Dewa kelihatannya benar-benar serius dilakukan. Terbukti hampir semua anggota di boyong menuju tempat Perguruan Tangan Dewa itu. Hanya beberapa orang anggota tingkat empat yang tinggal menjaga istana.
__ADS_1
"Anak-anak, penyerangan kita kali ini sangat penting. Apabila kita mampu menaklukan Perguruan Tangan Dewa, sama artinya kita telah menguasai dunia persilatan." Teriak Raja Iblis Bukit Tengkorak menyemangati anak buahnya.
"Hidup Istana Lembah Neraka..."
"Hidup Rajawali Merah..."
Teriak semua orang serempak. Merekapun menaiki kudanya masing masing, dan beranjak meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di Bukit Benteng Dewa suasana semakin ramai. Orang-orang Dunia persilatan khususnya yang beraliran putih sudah banyak yang datang di tempat itu. Berbagai persiapan dan latihan mereka lakukan untuk menghadapi serangan orang-orang Istana Lembah Neraka.
"Salam hormat guru" Ucap Jaka seraya berlutut di hadapan Malaikat Petir. Di sampingnya terdapat Cempaka yang juga berlutut menghadap guru suaminya tersebut.
Jaka dan Cempaka memang baru saja tiba di perguruan Tangan Dewa. Betapa gembiranya kedua pasangan suami istri tersebut melihat banyak orang-orang dunia persilatan berkumpul. Bukan cuma tokoh-tokoh sakti yang datang, beberapa Ketua perguruan pun membawa murid-muridnya ke Bukit Benteng Dewa. Setelah diberi tahu bahwa gurunya sedang berada di lapangan belakang perguruan, sedang melatih pasukan Formasi Penakluk Naga.
"Bangunlah," ucap Malaikat Petir kepada Jaka dan Cempaka. "Waktu yang di tentukan orang-orang Istana Lembah Neraka sudah dekat, dari mata-mata yang disebar kabarnya rombongan mereka sudah bergerak menuju Benteng Dewa ini." lanjut Malaikat Petir. Kedua suami istri itupun berdiri.
"Guru, apakah semua orang sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi?" tanya Jaka.
"Entahlah, kami semua tidak punya pegangan untuk bisa memenangkan pertarungan nanti," Jawab Malaikat Petir seraya tenggelam dengan lamunannya sendiri. "Bagaimana perjalanan kalian, apakah membuahkan hasil?" tanya nya lagi.
Jaka pun menceritakan semua pengalamannya, terlebih saat berkunjung ke kediaman Pertapa Tanpa Nama. Panjang lebar dia menceritakan bahwa bertemu seorang misterius yang sudah membantunya meningkatkan ilmu kesaktiannya dan Cempaka. Beberapa kali Wajah Malaikat Petir menampakan wajah girangnya.
"Mungkinkah dia Empu Adhiyak Sona, pertapa sakti yang menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Setahuku hanya orang yang menguasai ilmu itu mampu meningkatkan kemampuan orang dalam sekejap." gumam Malaikat Petir
Ketiganya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Apa yang sudah dialami Jaka dan Cempaka menimbulkan harapan baru, terlebih nama Empu Adhiyak Sona merupakan tokoh persilatan aliran lurus yang seolah menjadi dongeng dunia persilatan apabila berbicara akan kesaktiannya.
__ADS_1
"Menghadap tetua!" lamunan mereka terhenti ketika dua orang murid perguruan Tangan Dewa menghampiri mereka. "Kami mendapatkan kabar bahwa Rajawali Merah bergerak terpisah dengan rombongan Istana Lembah Neraka. Menurut informasi yang di dapatkan dia hanya di temani seorang pengawal pribadi." salah satu murid memberi keterangan kepada Malaikat Petir.
"Baiklah, aku akan segera menemui ketua kalian, untuk mendiskusikan hal ini" sahut Malaikat Petir. Kedua murid perguruan tangan dewa itupun mohon diri meninggalkan tempat itu.