Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.137. Sisa Umur Pulau Es


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 137...


Keesokan harinya setelah kejadian malam tadi, Bayu memang belum bangun kesadarannya. Pemuda itu nampak seperti orang tertidur. Sinar putih terang yang memancar di seluruh tubuh Bayu pun belum menghilang. Walaupun jarak pancarahan cahaya itu kini hanya tinggal sehasta dari tubuhnya.


Sejak tadi malam, Nalini tak beranjak dari sisi Bayu. Gadis itu nampak telaten merawat si pemuda. Beberapa kali ia menatap wajah Bayu lekat. Bahkan sering airmatanya mengambang di kelopak mata.


Teringat gadis itu saat-saat pertama kali Bayu di temukan di desanya. Saat itu dia juga dengan telaten yang merawat. Tak terasa semua hampir satu tahun lamanya berlalu. Kini hanya Bayu satu-satunya yang ia miliki, semenjak Ayah dan gurunya tewas.


Beberapa kali ke khawatirannya muncul akan sikap Bayu nanti kepada dirinya. Seperti yang hampir semua penghuni Lembah Neraka ketahui bahwa kedatangan orang berjubah biru malam tadi selain menimbulkan kekacauan ada juga membawa manfaat bagi mereka. Salah satunya membuka kunci yang menyegel ingatan Bayu.


Nalini khawatir Bayu malah tidak mengenali dirinya lagi. Tentu itu sangat menyakitkan baginya. Dilihatnya lagi wajah tampan pemuda pujaannya. Tak terasa akhirnya jatuh juga air yang menggenang di kelopak matanya.


“Cah ayu.. apa yang kau sedihkan?”


Tiba-tiba saja tanpa di sadari Nalini, di dekatnya telah ada Dewi Pedang Khayangan. Guru Cempaka itu sudah beberapa saat lamanya berada di situ dan memperhatikan Nalini yang tampak bersedih.


“Ah.. tidak apa-apa nek” jawab Nalini kepada Wanita Tua itu.


“Tidak apa-apa bagaimana? Lihatlah sudah dari m tadi malam makanan dan minuman yang disediakan untukmu tidak kau sentuh sama sekali. Apakah kau khawatir bila pulih ingatannya tak mengenalimu lagi?”


Nalini terdiam sejenak. Kemudian gadis itupun mengangguk. Air matanya pun jatuh tak terbendung. Melihat itu, Dewi Pedang Khayangan membelai rambut Nalini dan menyandarkan kepala gadis itu ke dekatnya.


“Anak ku, cinta dan kasih sayang itu terletak di hati. Bukan dalam pikiran. Sekiranya kau ada dalam hatinya, tak akan ia melupakanmu.” Hibur Dewi Pedang Khayangan.


Nalini sesegukkan. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan datang membawakan makanan untuk mereka berdua. Dewi Pedang Khayangan memerintahkan pelayan membersihkan makanan yang disiapkan untuk malam tadi.

__ADS_1


“Anakku, mari kita mengganjel perut dulu. Jangan sampai kau sakit. Apalagi saat ketua bangun nanti bila kau sakit, tentu dia sangat bersedih.” Bujuk dewi Pedang Khayangan.


Keduanya pun menikmati sarapan yang disiapkan pelayan. Nalini sendiri merasa sedikit lega dengan ucapan Dewi Pedang Khayangan. Ia hanya takut, tak bisa lagi bersama Bayu.


Sementara itu di Hutan Pengecoh Arwah, Jaka, Pertapa Sakti Tanpa Nama,  Iblis Muka Hitam dan Cempaka sedang berdiskusi serius. Nampak dari raut wajah yang mereka tunjukkan sebuah ke khawatiran yang besar. Sudah dua hari ini Jaka berada di sana.


“Eyang, semenjak tewasnya Malaikat Bertangan Sakti dunia persilatan aliran putih kehilangan pemimpin. Banyak dari mereka melakukan pergerakan sendiri-sendiri melawan orang yang menamai diri Dewa Iblis Kegelapan itu. Bukannya menang yang ada mereka bunuh diri mencari mati.” Ucap Jaka.


“Itulah sebabnya menjadi kesempatan orang-orang partai iblis itu mengadakan pertemuan dengan alasan memilih ketua dunia persilatan. Entah apa tujuan mereka sebenarnya. Yang pasti tujuan mereka tak mungkin baik-baik saja.”


“Apakah sebaiknya kita tak usah datang ke sana saja eyang?” usul Cempaka.


“Bila kita tidak datang, maka sudah dipastikan  yang akan menjadi ketua dunia persilatan adalah pihak iblis itu. Lalu mau tidak mau kita akan tunduk di bawah kekuasaan mereka karena sudah menjadi prinsif dunia persilatan.” Sungut Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Sejenak semuanya terdiam. Keadaan kali ini memang benar-benar sulit. Berbeda saat kejadian penyerangan Istana Lembah Neraka dulu. Masih ada tokoh sakti yang mendampingi mereka saat itu.


“Bagaimana dengan murid-murid Perguruan Tangan Dewa. Di mana mereka sekarang?” Tanya Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Aku juga belum mngetahui pasti keberadaan mereka eyang. Entah bagaimana nasib mereka saat ini?”  jawab Jaka.


“Ada baiknya kita mengumpulkan tokoh-tokoh penting dunia persilatan, lalu membahas ini bersama-sama.”


“Aku juga sependapat eyang. Rasanya hanya mengandalkan kita berempat bukan sebuah keputusan yang bagus. Sekali lagi kita harus bersiasat untuk menghadapi kekuatan lawan yang Tangguh.”


“Kalau begitu kita berpencar. Satu bulan lagi kita bertemu di tempat ini. Semoga keberuntungan ada pada kita.”


Setelah sepakat ke empat orang itu berpencar menjadi tiga arah. Pertapa Tanpa Nama dan Iblis Muka Hitam pergi kearah barat dan timur. Sedangkan Jaka dan Istrinya kea rah utara. Mereka akan mengunjungi tokoh-tokoh sakti dunia persilatan untuk diajak Kerjasama.

__ADS_1


Sementara itu di pulau Es nampak  orang-orang berkumpul di depan Istana. Di hadapan mereka berdiri Raja Pulau Es di damping putra putrinya. Nampak semua orang menunggu dengan harap-harap cemas apa yang akan di sampaikan sang Raja.


“Rakyatku.. ketahuilah, semenjak pulau ini dikuasai para iblis-iblis pengacau itu, banyak hal-hal yang tidak senonoh dan hal-hal  tidak baik mencemari. Akibatnya alam mulai tidak bersahabat di pulau kita. Batu giok pusaka pulau es pun tak lagi berkenan menjaga pulau ini.”


Semua orang terdiam. Mereka  orang-orang pulau es tau apa yang di katakan raja itu memang benar. Mereka pun melihat sendiri keadaan alam di pulau es mulai terjadi banyak bencana dan kerusakan. Saljupun mulai mencair.


“Kita hanya punya waktu empat puluh hari saja dari sekarang bisa berdiam di pulau ini. Setelah itu pulau akan tenggelam. Apalagi Penunggu Batu giok es telah memilih orang yang akan menerima kekuatan pusaka itu.”


Sejenak terjadi riak riuh perbincangan para penduduk pulau es. Mereka menebak-nebak siapa yang beruntung menerima kekuatan itu. Setiap seribu tahun sekali Batu Giok Es berubah menjadi kekuatan sakti yang akan mengeram dalam tubuh orang yang terpilih.


“Anakku tertua telah melakukan perjalanan  mencari pulau pengganti untuk kita suku es tinggal. Maka persiapkanlah diri kalian hingga bila sudah tiba masanya nanti kita pergi sama-sama ke pulau baru”


“Baik Yang Mulia..” Seru semua orang sembari berlutut.


Setelah menerima berita dan arahan dari raja mereka, semua orang kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini yang tersisa hanya Raja Pulau Es bersama dua orang anaknya.


“Ayah, apakah kau yakin Batu Giok Es sudah memilih seseorang yang tepat.” Tanya Tanaka kepada Ayahnya.


“Sepertinya seperti itu anakku. Menurut cerita turun temurun yang ku dengar, apabila cahaya Batu Giok Es mulai berganti warna menjadi kehijauan, tanda ia telah memilih orang untuk menerima kekuatan saktinya.”


Tiba-tiba terjadi gempa kecil di Pulau Es. Nampak terjadi retakan pada dinding istana. Selain itu salju-salju yang tadinya menyelimuti hampir seluruh permukaan pulau kini nampak berkurang. Mungkin hanya separu tempat pulau itu saja yang diselimuti es.


Bersambung...


Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja. 


 

__ADS_1


__ADS_2