
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 264...
Saat malam tiba, Pangeran Mandaka bersama Gayatri meninggalkan hutan itu ditemani oleh pemimpin kota Sedaha. Bersama mereka juga ada dua orang prajurit ikut mengawal. Mereka menuju lokasi pemakaman yang dimaksudkan oleh pemimpin kota Sedaha tadi. Ketiganya melakukan perjalanan menggunakan kuda masing-masing. Tak begitu lama melakukan perjalanan, mereka pun akhirnya sampai di lokasi pemakaman.
“Yang Mulia Pangeran, inilah pemakaman yang saya maksud,” ucap Pemimpin Kota Sedaha.
Benar saja pemakaman yang dimaksud oleh pemimpin kota Sedaha itu berisi lebih daripada dua ratus kuburan. Tentu saja ini merupakan jumlah yang sangat besar untuk dijadikan mayat hidup dan menjadi sebuah tentara perang. Ditambah lagi keberadaan Gayatri dan juga pangeran Mandaka yang memiliki kesaktian tinggi, tentu akan menjadi kekuatan tangguh untuk merebut kembali kota Sedaha.
“Bagus paman! Pemakaman ini memang sangat tepat untuk dijadikan prajurit kita nanti dalam merebut kembali kota Sedaha,” Puji Pangeran Mandaka kepada pemimpin kota Sedaha. “Silakan Gayatri,” ucapnya lagi kepada Gayatri.”
“Baiklah yang mulia,” sahut Gayatri dengan tatapan mata menggoda.
Kemudian Gayatri mulai masuk ke dalam area pemakaman. Ia pun mengeluarkan beberapa peralatan yang diambil dari buntalan bawaannya. Setelah melakukan persiapan yang cukup, Gayatripun mulai melakukan ritual pembangkitan mayat hidup.
“Prajurit kemarilah bantu aku!” Seru Gayatri.
Dua orang prajurit itupun kemudian mendatangi Gayatri yang berada di dalam pemakaman. Tanpa curiga sedikitpun, keduanya langsung membantu Gayatri menyiapkan sesajen dan perlengkapan lainnya. Baru saja mereka selesai melakukan persiapan tiba-tiba saja tanpa diduga, Gayatri menyerang mereka berdua.
Sreeett..
Dua orang prajurit langsung roboh bermandikan darah. Keduanya terkena serangan kuku-kuku tajam Gayatri tepat di leher mereka. Darah Mereka pun membanjiri tempat itu dan sebagian mengenai sesajen yang telah disiapkan. Kemudian Gayatri mulai berkomat-kamit membaca mantra pembangkit mayat hidup.
__ADS_1
Aaauuuuu.. Aauuuuuu..
Tiba-tiba saja terdengar lolongan serigala yang sangat panjang dan saling bersahutan. Tak lama kemudian dari dalam tanah keluar mulai muncul tangan-tangan tengkorak manusia. Beberapa saat saja semua kuburan yang ada di situ sudah mengeluarkan isinya berupa tengkorak-tengkorak hidup. Hanya beberapa mayat saja yang terlihat masih sempurna bentuknya.
Kemudian Gayatri mengambil sesajen yang ada di tempat itu. Ia pun berkomat-kamit membacakan sebuah mantra lalu menaburkan sesajen berupa kembang itu ke depan. Terdengar ledakan kecil dan munculnya asap putih menyelimuti tempat itu.
Beberapa saat kemudian asap itu pun sirna. Kini terlihat pada tengkorak hidup yang tadinya berada di atas kuburannya masing-masing berubah menjadi mayat hidup yang memiliki jasad sempurna. Kekuatan ilmu hitam yang dimiliki Gayatri mampu menumbuhkan kembali daging yang telah dimakan cacing-cacing tanah.
“Pangeran, semua pasukan sudah siap kita kerahkan. Apakah kita akan melakukan penyerangan malam ini juga,” tanya Gayatri kepada Pangeran Mandaka.
“Belum saatnya Gayatri. Kita menunggu kedatangan guruku dulu. Bersama raja iblis kelelawar masih banyak pendekar pendekar tangguh, baik dari aliran putih maupun aliran hitam. Belum lagi raja mereka, yang memiliki kesaktian di atas guruku,” sahut pangeran Mandaka.
“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya yang mulia?” tanya pemimpin kota Sedaha kepada Pangeran Mandaka.
“Kita kumpulkan dulu mayat mayat hidup ini di tempat pengungsian sementara. Bila sudah waktunya nanti kita kan membawa mereka untuk merebut kembali kota Sedaha. Besok pagi kemungkinan guruku sudah berada di sini. Langkah selanjutnya akan kita bicarakan dengannya dulu.”
“Menghadap Dewi..” seru Eka Wira seraya berlutut kepada Dewi Api.
“Bangkitlah!” sahut Dewi Api.
Kemudian Eka Wira pun bangkit dari berlututnya. Pemuda itu mengambil sebuah kursi kemudian menariknya beberapa tombak di hadapan Dewi api. Eka Wira pun duduk di kursi itu hendak melaporkan apa yang dialaminya tadi. Namun mulutnya tak jadi dibuka ketika Dewi Api yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
“Kediaman Raja Iblis kelelawar telah aku temukan. Hanya saja sepertinya tidak mudah bagi kita untuk merebut mutiara pengikat jiwa dari tangan orang tersebut. Bersamanya ada tokoh sakti yang menjadi gurunya, mungkin kesaktiannya sebanding dengan kesaktian ku saat ini. Seandainya kekuatanku dapat kugunakan secara maksimal tentu dia bukan apa-apa bagiku,” ucap Dewi Api kepada Eka Wira.
__ADS_1
“Yang Mulia Dewi, akupun ingin melaporkan apa yang ku lihat hari ini tadi. Di ujung kota sedaha sebelah kanan ada sebuah hutan yang menjadi tempat persembunyian pemimpin kota terdahulu. Dan kebetulan sekali disana ada pangeran putra mahkota kerajaan Selatan. Mereka berencana menggempur raja iblis kelelawar dan merebut kota kembali,” ucap Eka Wira.
“Hmmm.. Lalu apa hubungannya dengan kita?” tanya Dewi Api.
“Mungkin kita bisa memanfaatkan mereka untuk menggempur kekuatan raja iblis kelelawar. Dengan terjadinya perang berkecamuk di kota ini tentu tokoh-tokoh yang lain akan berfokus pada pemenangan perang. Sehingga kita bisa dengan mudah bertarung hanya dengan Raja Iblis Kelelawar. Kita akan memanfaatkan hiruk-pikuk perang untuk menyerang Raja Iblis Kelelawar. Atau kalau Dewi berkenan kita bisa mengajak mereka bekerjasama,” ucap Eka Wira menjelaskan.
Kemudian Eka Wirapun menceritakan semua yang dilihatnya saat membuntuti pangeran mandaka dan yang lainnya. Ia juga menceritakan tentang Gayatri yang mampu membangkitkan manusia yang telah mati menjadi mayat hidup. Ia pun menceritakan bahwa sebenarnya Pangeran Mandaka itu adalah orang yang mereka temui di penginapan waktu lalu.
Mereka salah satu kelompok yang menginginkan kekuatan Mahluk keramat roh burung api. Dewi api mendengarkan cerita Eka Wira dengan seksama. Baru setelah selesai Eka Wira bercerita ia pun menanggapi ucapan pemuda itu.
“Sebenarnya bantuan Rajawali merah lebih kita butuhkan, ketimbang kekuatan kerajaan Selatan yang sudah diambang kehancuran ini. Dengan satu orang Rajawali merah sudah cukup untuk menghabisi ribuan prajurit dan puluhan tokoh-tokoh persilatan yang sakti,” timpal Dewi Api.
Sejenak Eka Wira terdiam. Ia memang tidak mengetahui seberapa hebat kekuatan yang dimiliki Rajawali merah. Namun dengan keyakinan Dewi api saat ini, iya percaya roh burung keramat itu tidak salah dalam menilai.
“Mungkin tidak ada salahnya apabila kita bekerja sama dengan mereka. Hanya saja bukankah kau bilang tadi bahwa Pangeran Mandaka itu adalah orang yang berbicara waktu itu di penginapan yang hendak mencari kekuatan mahluk keramat roh burung api,” tanya Dewi Api.
“Benar yang mulia Dewi, merekalah yang kita temui di penginapan waktu itu. Hal itu juga yang masih menjadi pertimbangan hamba apakah mungkin mereka bisa kita ajak bekerja sama,” ucap Eka Wira ragu.
“Mungkin kita bisa memanfaatkan suasana perangnya saja. Tapi tetap kita membutuhkan kekuatan Rajawali merah untuk mendapatkan mutiara pengikat jiwa itu. Untuk itu apabila dekat waktunya pertarungan dengan raja iblis kelelawar, kau buka rajah gaib yang ada padaku,” ucap Dewi Api.
Akhirnya mereka sepakat mengenai rencana apa yang akan dijalankan nantinya. Eka Wira pun meninggalkan kamar Dewi api menuju kamarnya untuk beristirahat.
**Bersambung..
__ADS_1
Ditunggu like dan komentarnya**.