Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
70. Bangkitnya Gerbang ke Dua


__ADS_3

Sejenak keduanya terdiam. Ada raut putus asa nampak di wajah Bayu. Sejenak tenggelam dalam lamunan. Kemudian ia pun membuka suara.


"Lalu bagaimana aku harus membantu teman-temanku kek?" tanya Bayu kurang bersemangat.


"Kau dan kawan-kawanmu itu hanya akan mengantarkan nyawa bila ke sana. Aku yakin kemampuan kepala keamanan desa Bojana itu tidak berada di atasku. Jangan kan melawan Datuk Sesat Seribu Wisa, melawan muridnya saja tak akan unggulan." tukas Dewa Tuak Gila.


Mendengar jawaban orang tua itu Bayu pun menghela nafasnya yang terasa berat. Kembali ia tenggelam lamunan. Beberapa saat lamanya kedua orang itu terdiam. Tiba-tiba Bayu mengeluarkan ucapan yang tidak disangka-sangka  si orang tua.


"Kek, ajarkan aku menggunakan ilmu kesaktian" pinta Bayu.


"Apa maksudmu itu bocah?" tanya Kakek peminum tuak itu tak mengerti.


Kemudian Bayu menceritakan apa yang dialaminya saat menginap di Hutan Kayu Arum. Secara gamblang diceritakannya bagaimana tanpa sengaja ia mengeluarkan tenaga sakti dari dalam tubuhnya dan mengalahkan Genderuwo Pemakan Jiwa di hutan itu.


"Benarkah ada kejadian seperti itu?" tanya Dewa Tuak Gila.


Bayupun menjawab dengan anggukkan kepala. Seandainya orang lain yang bercerita mungkin kakek itu langsung tidak akan percaya. Tapi melihat kepolosan dan tatapan yang menyiratkan kejujuran dari si pemuda, iapun mencoba mempercayainya.


"Baiklah kita coba saja dulu. Apabila benar kau telah mengalahkan Genderuwo Pemakan Jiwa, maka akan sangat mudah bagimu mengalahkan Datuk Sesat Seribu Wisa. Karena kemampuan rajanya racun itu masih di bawah mahluk mengerikan itu." ucap orang tua itu.


Kemudian atas arahan Dewa Tuak Gila, Bayu duduk bersila.

__ADS_1


"Anak muda coba kau tenangkan pikiran dan jiwamu, kemudian satukan hatimu, cobalah berkonsentrasi untuk memanggil kekuatan sakti yang ada pada tubuhmu."


Bayu mengikuti segala arahan Dewa Tuak Gila. Kemudian pemuda itu benar-benar tenggelam dalam penyatuan pikiran dan jiwanya. Lalu dengan  hatinya ia mencoba mengerahkan tenaga saktinya agar memancar dari tubuhnya.


Perlahan-lahan muncul butiran-butiran embun  yang menguap, memancar dari tubuh pemuda itu. lama kelamaan butiran embun yang keluar dari tubuhnya semakin banyak dan semakin melebar jaraknya. Sedikit demi sedikit hawa sejuk mulai menyebar di tempat itu. Dedaunan dan pepohonan mulai mengeluarkan suara berderit seakan terpengaruh akan kekuatan yang di pancarkan anak muda itu.


"Luar biasa... kekuatan yang sangat dahsyat, baru pertama kali aku menyaksikan kekuatan yang maha dahsyat ini. Siapakah sebenarnya bocah edan ini. Apa mungkin dia merupakan murid dari tokoh sakti yang selama ini menyembunyikan diri" Bisik Dewa Tuak Gila yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Kali ini tenaga sakti Ilmu tujuh Gerbang Alam semesta milik Bayu benar-benar memancar dalam tarap yang sempurna. Bukan hanya tubuhnya yang mengeluarkan butiran-butiran embun, bahkan tumbuh-tumbuhan di sekitar Bayu pun mulai mengeluarkan embun lembut yang menyejukkan.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba perubahan kembali terjadi pada tubuh Bayu. Secara perlahan butiran-butiran embun yang keluar dari tubuhnya, mulai berganti dengan biasan cahaya berwarna kemerahan. Lama kelamaan cahaya merah itu semakin melebar dan memenuhi tempat itu. Perlahan-lahan hawa sejuk mulai berganti dengan hawa hangat yang menyebar.


Tak berapa lama kemudian cahaya merah semakin menebal dari tubuh Bayu. Hawa hangat pun mulai berubah menjadi hawa panas. Beberapa dedaunan di sekitar Bayu mulai menyala dan terbakar. Itulah gerbang kedua yang mulai bangkit.


Dewa Tuak Gila mulai meracau tak jelas. Antara perasaan gembira, kagum, panik bercampur menjadi satu. Terlebih lagi hawa panas yang ditimbulkan oleh tenaga sakti milik Bayu semakin kuat. Beberapa pohon di sekitarnya sudah terbakar habis. Bahkan beberapa diantaranya musnah menjadi debu.


Dewa Tuak Gila sendiri sudah sangat jauh menghindar dari tempat Bayu. Ia sendiri tidak sanggup menahan gempuran hawa panas yang menyebar. Kini melihat api yang mulai besar berkobar, iapun menjadi sangat panik. Namun yang anehnya, Bayu yang berada dalam kobaran api itu, tak sedikitpun tubuhnya di sentuh api.


"Bocah Edan... Cukup, apa kau ingin tempat ini menjadi lautan api." Teriak Dewa Tuak Gila yang semakin panik.


Bayu yang semakin tajam pendengarannya, kontan membuka mata mendengarkan teriakan orang tua itu. Betapa terkejutnya saat dia melihat tempat di sekitarnya sudah dilanda kobaran api. Lalu dengan sekali hentakan, dibentangkannya kedua tangan kesamping. Seketika meluncur butiran butiran embun yang menyebar kesegala arah dari tubuh Bayu. Dengan sekejap saja lautan api di tempat itu menjadi padam.

__ADS_1


Kemudian dengan gerakan yang tak dapat diikuti pandangan mata, Bayu melesat ke tempat Dewa Tuak Gila. Hal itu membuat takjub orang tua itu. Sampai-sampai mulutnya ternganga dan diam sejenak tanpa kata-kata.


"Kek..." tegur Bayu.


"Eh.. oh.." Hanya itu kata-kata yang mampu keluar dari mulut si kakek. Ia masih sangat terkejut dan sangat takjub dengan apa yang di lihatnya.


"Anak muda, siapa kah kau sebenarnya? Dengan kesaktian yang sedemikian dahsyat mustahil kau hanyalah orang biasa." tanya Dewa Tuak Gila keheranan.


"Entahlah kek, aku sendiri masih belum bisa mengingat apa-apa. Yang kutahu namaku Bayu, itu saja. Itupun ku ketahui dari Nalini putri kepala desa yang menemukan kalung di dekat ku dengan buahnya bertuliskan Bayu Aruna." jawab pemuda itu jujur.


"Lalu bagaimana bisa kau mengeluarkan kekuatan maha dahsyat tadi. Bahkan ada dua kekuatan berlainan jenis yang memancar bergantian." tanya Dewa Tuak Gila lagi.


"Aku hanya mengikuti apa yang kau katakan. Dan itu memang berhasil, kekuatan itupun dapat ku kendalikan."


"Tahukah kau anak muda, kesaktian mu itu mirip dengan Ilmu langka yang sudah lama menghilang. Dari ciri-ciri yang diceritakan mendiang guruku, ilmu kesaktian yang kau miliki tadi mirip dengan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta" tutur Dewa Tuak Gila menjelaskan.


"Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta... ahhh.. entah kenapa kalimat itu seperti tidak asing bagiku." desah Bayu. Ia pun coba mengingat-ngingat, namun tak membuahkan hasil sama sekali.


"hmmm.. kita kesampingkan dulu hal itu. Mari kita menyusul kawananmu ke tempat persembunyian Setan Racun itu. Jangan sampai terlambat, bisa-bisa semua temanmu sudah menjadi korban keganasan racun kedua orang guru dan murid itu." ucap si orang tua mengingatkan Bayu.


"Ayo kek, jangan sampai terlambat" jawab Bayu dengan nada sedikit khawatir.

__ADS_1


"Ayooo.. ingin kulihat bagaimana kau menghajar si tua Datuk Sesat Seribu Wisa itu. Agar puas hatiku bisa membalas hajarannya kemaren. Bwahahaha..." Dewa Tuak Gila kembali kumat tawa gilanya.


Sementara itu setelah cukup lama menunggu Bayu yang tak juga kunjung balik, Ki Farja, Nilina dan sepuluh orang pemuda pilihan dari desa Karang Wangi itupun memutuskan langsung berangkat menuju markas Gerombolan Partai Seribu Racun. Setelah sebelumnya menitip pesan kepada Ki Rambang untuk Bayu rombongan pun beranjak meninggalkan rumah kepala desa. Beberapa kali Nalini menengok ke belakang berharap Bayu muncul.


__ADS_2