
Setelah menyepakati menyudahi urusan, masing-masing pihak pun berbenah dan memohon diri. Terutama pihak Istana Lembah Neraka yang tersisa, menghilanhnya ketua mereka tanpa sedikitpun meninggalkan jejak, menjadi pukulan tersendiri buat mereka. Apalagi saat ini yang mereka tahu di Istana Lembah Neraka hanya menyisakan tiga orang utama di tingkat kedua.
"Apakah kau akan kembali ke Istana Lembah Neraka ki?" tanya Malaikat Bertangan Sakti kepada Pendekar Tongkat Emas.
"Iya, aku akan membawa sisa-sisa anggota Istana Lembah Neraka kembali. Sudah dari awal aku katakan, aku masuk Istana Lembah Neraka karena ada tujuan. Tapi aku sendiri sudah merasa lembah itu adalah rumahku. Sambil mencari kabar ketua, mungkin aku akan membangun kembali Istana Lembah Neraka dan membenahinya."
"Mungkin ada baiknya juga kau tetap berada di Istana Lembah Neraka ki, membenahi kembali perkumpulan itu, membimbing anggotanya untuk tidak melakukan kejahatan."
"Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin. Ingat Pesan Empu Adhiyak Sona akan muncul keangkara murkaan yang berusaha menguasai dunia ini. mungkin kedepannya tugas kita akan lebih berat" jawab Pendekar tongkat emas sambil memandang makam Empu Adhiyak Sona.
Memang kedua belah pihak sepakat, semua anggota mereka yang tewas dikuburkan di Bukit kosong saja. Dalam peristiwa ini banyak tokoh-tokoh sakti yang mengakhiri hidup mereka. Empat Sakti Dunia Persilatan hanya menyisakan Dewa Pedang Sejagat. Bahkan Dunia Persilatan harus kehilangan tokoh sakti yang menjadi legenda seperti Empu Adhiyak Sona.
"Aku tidak ikut kembali ke Istana Lembah Neraka"
Tiba-tiba di belakang Pendekar Tongkat Emas ada yang berbicara. Ia pun berbalik melihat siapa yang barusan bersuara. Ternyata itu adalah Datuk Sesat Seribu Wisa.
"Aku keluar dari Istana Lembah Neraka. Dan beberapa orang anggota tingkat empat juga ikut denganku" ucap Daruk Sesat Seribu Wisa dengan congkak.
"Hmmm... bukankah kau tau aturan Istana Lembah Neraka seperti apa? dan apa akibatnya bagi anggota yang keluar." sahut Pendekar Tongkat Emas dengan geram.
"Hahaha apa kau kira aku takut denganmu. Selain ketua siapa yang sanggup mengalahkanku di Istana Lembah Neraka itu."
"Kau kira aku tak mampu melumpuhkanmu" geram Pendekar Tongkat Emas
__ADS_1
"Boleh coba" tantang Datuk Sesat Seribu Wisa.
Di saat Pendekar Tongkat Emas hendak bersiap melancarkan serangan kepada Datuk Sesat Seribu Wisa, datang Dewi Pedang Khayangan mencegah.
"Tahan ki, biarkan saja, kelak akan kita lihat bagaimana nasibnya nanti bertemu ketua"
Mendengar kata-kata dari Dewi Pedang Khayangan, sempat keder juga Datuk Sesat Seribu Wisa. Padahal tadi orang tua itu sempat menyiapkan dirinya untuk bertarung dengan Pendekar Tongkat Emas. Tanpa mengeluarkan kata sepatahpun Datuk Sesat Seribu Wisa berlalu dari tempat itu diikuti anggota yang berpihak padanya.
"Baiknya kita kembali dulu kelembah. Lalu benahi saja dulu semuanya. Semoga kelak kita dapat merubah pandangan orang terhadap Istana Lembah Neraka. Dan aku merasa ketua belum tewas ki" ucap Dewi Pedang Khayangan
"Entahlah Nyi, mudah-mudahan memang ketua masih hidup, dan perangainya pun berubah. Kelak Istana Lembah Neraka akan punya peranan dalam menjaga dunia persilatan." sahut Pendekar Tongkat Emas Lirih.
Setelah berpamitan dengan yang lain, masing-masing pihak pun pamit kembali ketempat asalnya. Dari pihak Istana Lembah Neraka hanya menyisakan Pendekar Tongkat Emas, Dewi Pedang Khayangan, Empat orang anggota tingkat tiga, dan lima belasan anggota tingkat empat. Sisanya kalau tidak tewas berarti ikut bersama Datuk Sesat Seribu Wisa.
Berjarak cukup jauh dari daratan di sebelah timur, terdapat sebuah pulau yang bila dari kejauhan hanya terlihat gumpalan kabut. Para Nelayan di daratan timur biasa menyebut pulau itu dengan sebutan pulau Iblis Berkabut.
Bagi para nelayan yang sering menangkap ikan, sangat pantang melewati pulau itu. Apalagi sampai singgah di tempat itu. Pernah suatu ketika beberapa perahu nelayan nekat melewati pulau berkabut. Setelah keluar dari gumpalan kabut yang menutupi sekitaran pulau itu, semua nelayan di dapati telah tewas dengan tubuh mengering tanpa darah. Semenjak kejadian itu, tidak ada satupun orang yang berani melintasinya lagi.
Bertolak belakang dengan yang nampak dari luar dan cerita kebanyakan orang, ternyata di pulau itu memiliki pemandangan yang sangat indah. Banyak tumbuhan-tumbuhan yang langka hidup di sana. Terlihat di pulau itu seperti pemukiman kecil sekelompok orang. Ada satu buah bangunan yang mencolok berbeda dari kebanyakan bangunan di sana.
Hari ini semua penghuni pulau di kumpulkan di bangunan paling mewah itu. Ada sekitar lima puluhan orang berkumpul di sebuah ruangan besar di sana. Tepat berada paling depan berhadapan dengan orang-orang, seorang kakek duduk di kursi yang mirip dengan singgasana kerajaan. di sampingnya terdapat orang tua berbaju serba hijau dengan rambut dan jenggot memutih seluruhnya. Dihadapan mereka semua orang berlutut bagaikan berhadapan dengan seorang raja.
Nampak berada di barisan paling depan kumpulan orang, sepasang Iblis Api. Rupanya keduanya sudah sembuh dari luka dalam yang di derita. Berada di barisan lain Buto Ijo, Buto Ireng, dan Buto Abang berlutut, namun tetap saja seperti berdiri karena badan mereka yang seperti raksasa.
__ADS_1
"Semua pusaka sudah terkumpul, perpindahan siap dilakukan pemimpin." Ucap kakek berbaju hijau berbicara kepada kakek yang duduk di singgasana.
Ada pemandangan yang tak biasa pada kakek-kakek yang duduk di singgasana. Walaupun memakai pakaian mewah berwarna keemasan, ternyata kakek itu merupakan seorang yang cacat fisiknya. Tangan dan kakinya keduanya buntung, matanya buta, bahkan dia juga bisu. Namun luar biasanya, dengan kekuatan tenaga dalam, kaki itu dapat bersuara kepada semuanya menggunakan Ilmu mengirimkan suara.
"Sudahkah kau siapkan pemuda pengganti tubuhku yang tak berguna ini" Tanya kakek di singgasana dengan menggunakan ilmu mengirimkan suara.
"Sudah ketua. Kami telah menemukan seorang pemuda yang sempurna sebagai tubuh pengganti ketua. Tubuh itupun sangat sempurna untuk menjadi seorang jago silat pilih tanding." Jawab kakek berbaju hijau.
"Bagus... kapan kau akan memindahkan jiwa, dan isi kepalaku ini ke tubuh itu?"
"Tiga hari lagi yang mulia, tepat pada malam purnama penuh nanti kita akan melakukannya."
"Baiklah, sebenarnya aku sudah tidak sabar lagi untuk memiliki tubuh baru. Apakah kau yakin semua akan berhasil?"
"Yakin sekali ketua, dengan bantuan Giok Es, mutiara pengikat jiwa, dan mustika sambung nyawa, semua pasti akan berhasil."
"Baguslah kalau begitu. Kau siapkan saja semuanya. Jangan lupa kau persiapkan juga orang-orang kita, bila tiba saatnya nanti untuk pergi kedaratan dan menaklukan orang-orang persilatan di sana. Sehingga kelak keinginan ku menguasai dunia akan segera terwujud. Saat ini tak kan ada lagi yang mampu menandingi kesaktianku" ucap Kakek cacat itu.
"Baik ketua, segera aku persiapkan" jawab kakek baju hijau sambil membungkuk.
Kemudian pemandangan luar biasa terlihat. Kakek cacat berpakaian warna emas itu melayang dari tempatnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Serentak orang-orang yang berlutut berseru
"Hidup pemimpin..."
__ADS_1
"Hidup penguasa kegelapan..."