
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 185...
“Maaf nak Bayu, dari mana dan hendak kemanakah kau hingga bisa singgah di sini?” Tanya Jari Malaikat.
“Aku baru saja dari makam leluhurku paman, dan inidalam perjalanan pulang ke Lembah Neraka.” Sahut bayu.
Sesaat kemudian datang seorang pelayan membawa seporsi makanan yang kemudian diletakkan di atas meja depan Bayu. “Silakan den!” ucap si pelayan.
“Silakan nak Bayu!” ucap Jari Malaikat juga. “Kemarin aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadamu atas pertolongan yang kau berikan. Kau telah membebaskan kami dari cengkraman Dedemit Sukma Ular yang terkenal sakti itu.”
“Tidak usah terlalu dibesar-besarkan paman, kebetulan saja aku melewati kediaman paman.” Sahut Bayu.
Sedang asik berbincang-bincang tiba-tiba dua orang murid perguruan teratai putih menghampiri mereka.
“Rajawali Merah, kami atas nama perguruan Teratai Putih mengucapkan terima kasih atas jasamu menghabisi ketua palsu yang menyamar di perguruan Teratai Putih.” Ucap salah satu murid perguruan teratai putih itu.
Sejenak Bayu menghentikan kegiatan bersantapnya. Ia pun menoleh ke arah kedua lelaki yang menghampirinya. Perkataan orang tadi kurang dimengertinya. “Maaf kisanak berdua, aku kurang mengerti.” Sahutnya.
Salah seorang dari murid perguruan Teratai Putih itupun menjelaskan bahwa semenjak tewasnya ketua perguruan mereka di tangan Jari Pedang anak buah Dewa Iblis Kegelapan, ketua perguruan berganti orang. Entah dari mana datangnya tiba-tiba ia merebut jabatan ketua dengan cara mengungguli semua jago-jago perguruan teratai putih yang ada. Hampir dua pekan ia menduduki jabatan ketua, sampai akhirnya tanpa sengaja bentrok dengan rajawali merah hingga tewas.
“Tak perlu kau besar-besarkan kisanak. Aku sendiri tidak ingat kapan bentrok dengan orang yang kau maksud. Mungkin semua sudah takdir perguruan Teratai Putih terselamatkan dari orang jahat.” Ucap Bayu seraya tersenyum.
“Biar bagaimanapun kami tetap berterima kasih kepadamu pendekar muda.” Sahut kedua murid utama perguruan Teratai Putih itu sambil tersenyum. Akhirnya merekapun sama-sama menjura.
Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan Bayu berada di tempat itu. Sehari setelah pingsan sewaktu diselematkan Bayu, Dewi Pedang Khayangan pun sadar dari pingsannya. Kebetulan saat itu Bayu ada di tempat Dewi Pedang Khayangan, perempuan tua itupun menceritakan apa yang terjadi padanya sehingga bisa tertangkap oleh orang-orang Dewa Iblis Kegelapan.
Waktu itu ia sedang berada di luar lembah. Lalu tiba-tiba datang Cempaka menghampirinya. Muridnya itupun mengajak Dewi Pedang Khayangan kesuatu tempat karena ada hal penting yang ingin ditunjukkan. Sampai di tempat yang dimaksud ternyata perempuan tua itu dijebak. Ia diracuni dengan racun pelemah tenaga.
Kemudian Cempaka menunjukan wajah aslinya yang ternyata dia adalah seorang Iblis Seribu Wajah yang menyamar menjadi muridnya. Karena sudah tidak berdaya mudah saja ia di bawa anak buahnya Iblis Seribu Wajah ke Benteng Dewa. Sementara posisinya digantikan oleh Iblis Seribu Wajah yang merubah wajah menjadi dirinya.
__ADS_1
Saat menjadi tawanan Dewa Iblis Kegelapan, ia sempat mendengar bahwa kitab Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang seharusnya jadi milik sang ketua jatuh ke tangan musuh. Hal itulah yang ia sampaikan pada Bayu saat sadar dari pingsannya. Untuk mengetahui kebenaran berita itu, Bayupun langsung menuju pemakaman kakek dari ayahnya.
Sesampainya di pemakaman Bayu melihat keadaan makam di samping kakek sudah dibongkar. Benar saja, isi di dalamnya pun sudah raib. Padahal perlu petunjuk tertentu untuk membongkar makam, namun karena sang pencuri sudah mengetahui isi surat wasiat ibunya, mudah saja mereka melakukannya.
Setelah memastikan kitab Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta memang berada di tangan lawan, iapun meninggalkan pemakaman. Awalnya Bayu hendak merebut kembali kitab itu dari tangan Raja Barat yang berada di Benteng Dewa. Namun dengan pertimbangan yang matang, ia sadar mengandalkan tingkat ke lima Ilmu Gerbang Alam semesta yang dikuasai belum cukup menghadapi Raja Barat di bantu ratusan anak buahnya.
Dengan pertimbangan itu iapun kembali ke Istana Lembah Neraka. Rencananya ingin meminta bantuan Intan dan Nalini menyerang Benteng Dewa. Di perjalanan iapun singgah di sebuah rumah makan, hingga akhirnya bertemu dengan Jari Malaikat dan yang lainnya.
Setelah merasa cukup mengganjal perutnya, Bayu berpamitan meninggalkan tempat itu. Kepergiannya di iringi penghormatan tulus dari pendekar-pendekar yang ada di situ. Namun semua tak membuat pemuda itu bangga atau besar kepala. Karena memang sifatnya tak pernah memperdulikan apa tanggapan orang lain terhadap dirinya.
“Sungguh sangat berbeda dengan apa yang kebanyakan orang ceritakan. Seorang pemuda yang rendah hati dan tak peduli dengan pujian orang.” Gumam Jari Malaikat.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari, akhirnya Bayu tiba kembali di Lembah Neraka. Setibanya ia di sana, Intan langsung menyambut kedatangan si pemuda. Setelah melihat keadaan Bayu yang cukup tenang, Intanpun menceritakan perihal kepergian Nalini dari Lembah Neraka.
Mendengar penuturan Intan, Bayu cukup khawatir dengan kepergian Nalini. Iapun memutuskan untuk mencari gadis itu. Di temani Intan, Bayu meninggalkan Lembah Neraka mencari keberadaan Nalini.
Sepasang muda-mudi itu melakukan perjalanan hanya dengan berjalan kaki. Mereka tidak melakukannya dengan ilmu meringankan tubuh atau berkuda, karena takut ada jejak yang terlewat. Karena melakukan perjalanan dengan berjalan kaki tak jarang keberadaan mereka menarik perhatian orang yang di lewati. Tidak sedikit dari mereka yang berdecak kagum dengan paras tampan dan cantik keduanya.
“Tolooong!”
Saat asik berjalan di pinggiran sungai yang mereka lewati, sambil menikmati pemandangan sekitarnya tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong seorang perempuan. Suara terdengar dari balik semak-semak yang tak jauh dari tempat mereka berada. Mendengar itu, Bayu langsung melesat kearah datangnya suara.
Sesampainya di balik semaak-semak, nampak seorang lelaki berpakaian serba biru akan menggagahi seorang gadis. Nampak posisi lelaki itu sudah berada di atas tubuh gadis itu. Lalu tanpa banyak tanya, Bayu langsung menendang lelaki berpakaian biru itu.
Buuukk..
“Aduhh..”
Terdengar suara mengaduh dari lelaki yang di tendang Bayu. Lelaki itu langsung melihat tajam ke arah Bayu yang sedang membangunkan gadis yang akan menjadi korbannya. Perasaannya sempat gentar dikarenakan kemunculan Bayu yang tak ia rasakan. Padahal ia masih mengerahkankan kekuatannya untuk berjaga-jaga.
“Bocah sialan berani kau mengganggu kesenanganku.” Bentak orang berbaju biru. Lelaki berbaju biru mengerahkan tenaga saktinya, terlihat asap biru mengepul di tubuhnya.
__ADS_1
“Lihatlah aku bocah! Tubuhku menjadi naga raksasa!” bentak lelaki berbaju biru.
“Hiiii..” pekik ketakutan calon korban lelaki biru yang terlihat berubah menjadi naga biru raksasa.
“Tak guna ilmu untuk menakut-nakuti anak kecil itu kau tunjukkan padaku.” Bentak Bayu.
Di pandangan Bayu tak sedikitpun lelaki berbaju biru itu berubah menjadi naga. Memang lelaki itu sedang menggunakan sihirnya. Sedangkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tak akan terpengaruh terhadap sihir.
Bayu mengibaskan lengan baju sebelah kanannya ke arah lelaki yang berubah menjadi naga dalam pandangan gadis calon korbannya. Deru angin tercipta melesat ke arah naga jelmaan itu.
Bukkk..
“Ukhhh”
Lelaki Berbaju biru terjengkang kebelakang beberapa tombak. Ia merasakan betapa dadanya teramat sesak. Serangan Bayu sungguh dahsyat. Padahal pemuda itu hanya menggunakan tenaga biasa, belum tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.
**Bersambung..
sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
memencet tombol like
Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini**.
__ADS_1