Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.220. Pedang Geledek Hujan Petir


__ADS_3

...  Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 220...


Hiyaaaatt..


Malaikat pedang dari timur memekik keras sambil menyabetkan pedangnya ke arah pendekar Halilintar. Selarik sinar kemerahan melintang melesat ke arah Pendekar Halilintar. Suami Cempaka itupun menangkisnya dengan sebuah perisai terbuat dari gulungan tenaga halilintar.


Blammm..


Ledakan dahsyat terjadi. Keduanya sama-sama terdorong beberapa langkah ke belakang.  Dari sela-sela bibir Pendekar halilintar menetes darah, hal itu juga terjadi terhadap lawannya. Bahkan Malaikat Pedang Dari Timur menyemburkan darah yang cukup Banyak dari mulutnya.


“Cukup Wira Mukti. Lukamu sudah cukup parah. Kau memang bukan tandingannya.” Seru Mata Malaikat dari bukit Seribu Ular.


Pendekar buta itu sangat mengkhawatirkan keadaan temannya yang sudah terluka dalam. Iya melihat gelagat yang tidak baik dari temannya itu. Sepertinya malaikat pedang dari negeri timur itu masih penasaran dengan kehebatan Jaka.


Di sisi sungai yang lain nampak Cempaka mengkhawatirkan keadaan suaminya. “Kau tidak apa-apa kakang?” tanya istri Pendekar Halilintar itu.


Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Memang walaupun terlihat ada darah yang menetes di sela-sela bibirnya, sebenarnya Pendekar Halilintar tidak mengalami luka dalam yang serius.


“Pendekar Halilintar! aku akan mengerahkan jurus pamungkas ku. Bersiaplah kau. Kali ini kupastikan salah satu dari kita akan menemui raja akhirat.” Ucap Malaikat Pedang Dari Negeri Timur.


Malaikat Pedang Dari Negeri Timur bersalto kebelakang beberapa tombak hingga akhirnya kembali menjejakkan kaki di tanah. Kemudian orang tua itu mengerahkan tenaga saktinya hingga ke puncak. Bias warna merah yang memancar dari tubuh malaikat pedang dari negeri timur itu semakin nampak terlihat.


“Wira Mukti apa-apaan ini? Jangan kau turutkan perasaan hatimu. Hanya untuk menghilangkan kekesalan hatimu saja, kau telah menggunakan pukulan yang sangat berbahaya itu.”


Pendekar buta Si Mata Malaikat dari Bukit Seribu ular itu masih berusaha mengingatkan sahabatnya untuk tidak bertindak gegabah. Namun sepertinya Malaikat Pedang dari Negeri Timur itu sudah dibakar api amarah sehingga tak lagi memperdulikan nasehat sahabatnya. Pendekar Pedang itu semakin meningkatkan tenaga saktinya hingga mencapai puncak.


“Cempaka, menyingkirlah. Aku akan menggunakan tenaga sakti inti petir tingkat terakhir.” Ucap Jaka Memperingatkan.


mendengar ucapan suaminya, Cempaka pun menyingkir agak menjauh dari tempat pertarungan. Sebenarnya ia sangat khawatir akan keselamatan suaminya. Tapi di sisi lain ia pun percaya dengan kemampuan Jaka yang sekarang, tak banyak orang yang berada di atasnya.

__ADS_1


Jaka mengerahkan tenaga sakti yang berasal dari batu petir ketingkat tertinggi. Kini dari tubuhnya memancar kilat berwarna keperakan. Suara gemuruh halintar menyambar terdengar menggelegar. Bukan dari langit, melain terpancar dari tubuh suami Cempaka itu.


Hiyaaaaattt...


Malaikat Pedang dari Timur kembali memekik nyaring. Bersamaan dengan itu ia pun melancarkan serangan paling dahsyatnya kearah Jaka. Nampak ribuan sinar membentuk pedang menyerang dengan Dahsyatnya.


Secepat kilat pendekar Halilintar bergerak menghindari serangan lawan. Bahkan kini ia melesat-lesat diudara. Namun anehnya kemanapun Jaka bergerak, ribuan sinar merah berbentuk pedang itu terus menyerang seperti mengikuti sasarannya.


Sambil terus menghindar Jaka berpikir keras bagaimana cara mematahkan serangan musuh itu.


“Apakah dengan beradu tenaga aku bisa memenangkan pertarungan tanpa terluka? Setelah ini mungkin aku harus bertarung kembali dengan si buta itu. Dan sepertinya kesaktian pendekar buta itu tidak berada di bawah Pendekar pedang yang satu ini.” Gumam Jaka sambil terus menghindari serangan lawan.


Seketika Pendekar halilintar teringat dengan tadi diambilnya saat di pemakaman. Sambil terus terbang menghindari kejaran sinar kemerahan berbentuk pedang Pendekar Halilintar  berkonsentrasi menyiapkan jurus pedang geledek. Hampir putus asa Jaka berusaha tapi tak ada reaksi sedikitpun dari pedang geledek. Sesaat Jaka teringat ucapan Bayu untuk menyatu dengan batu.


Pendekar Halilintar turun dan menjejakkan kembali kakinya ke tanah. Kemudian Ia pun mengerahkan tenaga sakti inti dari batu petir yang ada di dalam tubuhnya. Pendekar halilintar memusatkan pikiran membayangkan batu petir adalah jantungnya.


Sementara itu ribuan sinar merah berbentuk pedang semakin dekat dengan dirinya. Sebuah pemandangan menakjubkan terjadi kala ribuan sinar kemerahan berbentuk pedang itu tinggal berjarak sedepa dari Jaka. Halilintar keperakan yang menyelimuti tubuh Jaka menahan laju serangan tersebut hingga tertahan. Meski begitu serangan tidak langsung lenyap karena ia dikendalikan dari jarak jauh oleh Malaikat Pedang dari Negeri Timur.


“Pedang geledek hujan petir” pekik Jaka dengan keras


Tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat nyaring. Dari pedang geledek di tangan Jaka keluar banyak sekali sinar keperakan berbentuk pedang yang memancarkan sinar halilintar. Kekuatan itu langsung menghantam ribuan sinar merah yang menyerang Jaka. Tidak hanya sampai disitu kekuatan itu menembus sinar merah dan  membuyarkannya terus melesat ke arah Malaikat Pedang dari Negeri Timur.


Tentu saja hal ini mengejutkan Malaikat Pedang dan Si mata malaikat yang berdiri berdekatan. Belum lagi malaikat pedang dari timur menyemburkan darah segar berkali-kali dikarenakan patahnya serangannya tadi terhadap Jaka. nampak kedua pendekar tua itu wajahnya berubah menjadi sangat pucat.


“Ajian Panji Bayu Adilaga”


Si Mata Malaikat memekik keras sambil mengerahkan ilmu pamungkasnya memapaki serangan Jaka. Sebuah gulungan angin yang dahsyat muncul dari tangannya yang membentang ke depan.


Blaaaarrr...


Malaikat pedang dari negeri timur terlempar puluhan tombak jauhnya. Orang tua itu langsung tak sadarkan diri jatuh ke tanah. Sementara Mata Malaikat dari bukit seribu ular senjata lemparan tombak sendiri juga terlempar puluhan tombak. Hanya saja ia langsung mampu bangkit walaupun mulut nya menyemburkan darah segar. Sedangkan Jaka sedikitpun tak mengalami kerugian.

__ADS_1


“Cukup Pendekar Halilintar! Kami mengaku kalah.”


Jaka sendiri memang sudah menarik pengerahan tenaga saktinya. Pedang Geledek pun sudah kembali ia sarungkan. Sementara Cempaka langsung berlari menghampiri nya.


“Kau sungguh hebat kakang.” puji Cempaka tulus.


“Tidak kusangka pedang geledek menjadi sedahsyat ini istriku.”


“Bagaimana cara kau melakukannya kakang? Padahal sebelumnya kau tidak bisa membangkitkan kekuatan pedang geledek.”


“Sesaat tadi aku teringat ucapan Bayu tentang bagaimana menyatu dengan batu inti petir. Akupun melakukan cara itu sambil menyalurkan tenaga sakti ke pedang geledek.”


Tepat di depan Jaka dan istrinya berjarak sekitar dua puluh tombak, Mata Malaikat dari bukit seribu ular mencoba mengobati sahabatnya dengan menyalurkan tenaga sakti. Dua kali dia mencoba dua kali ia harus terlempar dan menyemburkan darah segar. Melihat itu Jaka pun menghampirinya.


“Apa yang terjadi tetua?”  tanya Jaka bersikap sopan. Sedikit banyaknya ia kagum dengan sikap gagah pendekar tua yang buta itu.


“Dia mengalami jalan api. Tenaga saktinya terkunci di dalam karena hantaman tenaga dahsyatmu. Di tubuhnya tenaga sakti yang kau layangkan tadi masih menyerang seluruh tubuhnya yang memiliki aliran tenaga. Kalau tak cepat diobati ia akan binasa. Paling tidak ia akan mengalami kelumpuhan selamanya.” Ucap Si Mata Malaikat Bukit Seribu Ular.


“Biarkan aku mencobanya tetua!” ucap Jaka menawarkan diri.


Pendekar Halilintar menghampiri Malaikat Pedang dari Negeri timur yang sudah dalam keadaan berduduk saat dilakukan pengobatan oleh Mata Malaikat tadi.


Bersambung...


Jangan Lupa Like dan Komen.. karena keduanya sangat berharga.


dukung Novel saya yang lain berjudul "Reinkarnasi Dewa Terkuat"


 


 

__ADS_1


__ADS_2