
"Menghadap Ketua!"
Saat suasana hening karena dilanda kesedihan, dari luar ruangan seorang murid perguruan Tangan Dewa datang menghadap.
"Ada apa Danu?" Tanya Malaikat Bertangan Sakti.
"Maaf mengganggu ketua, diluar ada orang yang berkata bisa menyembuhkan Pendekar Halilintar, dan meminta masuk."
"Siapa?" langsung saja Malaikat Petir memotong pembicaraan orang. Cempaka yamg tadinya menangispun langsung menghentikan tangisannya dan melihat kearah murid yang melapor.
"Maaf ketua, Orang itu berpakaian serba hitam, dan memakai penutup kain di wajahnya."
"Apakah orang itu bercaping?" tanya Malaikat Bertangan Sakti lagi
"Tidak Ketua, hanya menggunakan kain menutupi mukanya."
"Baiklah, bawa dia masuk".
Belum sempat murid itu melangkah keluar, di depan kasur Jaka berbaring telah berdiri seseorang menggunakan pakaian serba hitam dengan selembar kain menutup wajahnya. Orang itu hanya bisa dilihat matanya saja.
Semua orang yang berada di sana terkejut setengah mati. Entah kapan dan bagaimana caranya orang berpakaian serba hitam sudah berada di situ. Melihat orang hendak mendekati muridnya, Malaikat Petir hendak bertindak mencegah orang itu agar jangan sampai melakukan hal yang tak diinginkan. Namun Malaikat Bertangan Sakti memberi isyarat untuk tidak melakukan.
Dengan melakukan beberapa kali totokan, kemudian orang berpakaian hitam memegang perut Jaka. Tiba-tiba tubuh Pendekar Halilintar memancarkan kilat dah halilintar. Tak lama kemudian semua energi halilintar yang meliputi Jaka perlahan-lahan bergerak ke tangan orang berbaju hitam. Lama-kelamaan Halilintar itupun pudar dan lenyap. Wajah dan tubuh Jaka pun berangsur-angsur kembali normal.
__ADS_1
Melihat suaminya sudah mulai membaik, Cempaka menatap kearah orang berbaju hitam. Sesaat Cempaka terkejut melihat kilat yang memancar di mata penolong suaminya. Kemudian mata itupun berubah menjadi mata yang menyejukkan. Cempaka merasa tidak asing dengan orang ini. Kemudian istri Pendekar Halilintar itupun merangkap kan tangannya sebagai ucapan terima kasih.
Sama seperti saat datang, orang ini pun pergi bagai menghilang begitu saja. Bahkan tidak seperti biasanya orang menggunakan ilmu meringankan tubuh masih bisa dirasakan kesiuran angin saat dia melintas. Namun orang berbaju hitam itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.
"Melihat orang-orang sakti bermunculan, terasa tak berguna saja ilmu yang puluhan tahun ku pelajari ini" ucap Malaikat Petir memecah keheningan
"Entah siapa lagi orang barusan" sahut Dewa Obat. "Apakah nak Cempaka mengenalinya?" tanyanya lagi kepada Cempaka.
"Tidak ki." jawab Cempaka singkat Sambil menggelengkan kepalanya.
"Tinggal dua hari dari waktu yang telah di tentukan, mudah-mudahan keberuntungan berpihak kepada kita" Ucap Malaikat Bertangan Sakti sambil merangkapkan tangannya bagaikan berdoa.
...***...
Pranggala sedikit kaget dengan kedatangan Bayu yang begitu tiba-tiba. Seingat dia barusan latihan sendirian tanpa ada orang lain. Karena sudah biasa kalo ketuanya itu pergi tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Apalagi saat ini Bayu mengenakan pakaian serba hitam, hampir saja dia melompat untuk berjaga-jaga.
"Sudah mencapai tingkat ketiga ketua." jawabnya masih dengan nada bergetar belum hilang lagi kekagetannya.
"Bagus! berarti tinggal tingkat terakhir. Sampai tingkatan ini saja belum banyak yang bisa menandingi mu paman. Bahkan para anggota tingkat ke dua Istana Lembah Neraka pun kalo bertanding satu lawan satu bukanlah hal sulit untuk kau robohkan."
"Terima kasih ketua" Sahut Pranggala seraya berlutut dan merangkap kan kedua tangannya. "Semua berkat ajaran ketua, dan bantuan ketua dalam latihan. Budi baik ketua tak dapat saya balas. Mudah-mudahan Yang Kuasa memberikan ketua kebahagiaan dan perlindungan."
"Sudah-sudah bangunlah paman, semua sudah kewajiban ku untuk membantu bawahan ku sendiri" Ucap Bayu yang kini sudah berganti pakaian khas Rajawali Merah pimpinan Istana Lembah Neraka. "Mari kita lanjutkan perjalanan paman."
__ADS_1
Setelah berbenah, keduanya melanjutkan perjalanan menggunakan kudanya. Sampai di salah satu desa, mereka singgah di rumah makan terdekat. Di rumah makan itu tidak ramai, namun juga tak terlalu sepi. Ada beberapa meja yang sudah di tempati.
Kehadiran Bayu yang menggunakan pakaian tak biasa, dengan baju dan celana serba merah, jubah berwarna merah menggantung di punggungnya ditambah lagi topeng rajawali menutup wajahnya kontan menarik perhatian orang yang ada di sana. Apalagi gambar di dada Bayu dan Pranggala berbentuk Istana yang dikelilingi api, akan mudah bagi orang-orang persilatan mengenali mereka.
"Kiranya orang yang sok-sokan ingin menguasai dunia persilatan yang datang. Baru muncul seumur jagung saja sudah bermimpi untuk menguasai dunia, hahaha" ucap seorang Laki-laki yang duduk di sebelah kanan pintu keluar. Orang itu berperawakan tinggi besar, dengan wajah angker ditambah sebuah kain menutupi sebelah matanya. Pakaian yang dia gunakan terbuat dari kulit beruang hitam. Bersamanya seorang yang tak kalah gagah perawakannya hanya pakaian yang di gunakan berasal dari kulit beruang putih dengan mantel putih di lehernya. Mereka adalah dua bersaudara yang bergelar Setan beruang pulau es.
Di dalam dunia persilatan pulau es di anggap pulau keramat, yang tidak sembarang orang berani datang ke sana. Selain tempatnya yang memang berada di tengah-tengah lautan yang rentan harus melewati badai untuk bisa ke sana, Penghuni pulau es sendiri dikenal tidak bersahabat dengan orang lain. Siapa saja yang datang ke sana kalau tidak mati, maka ia akan menjadi budak di pulau itu. Terutama Raja Pulau Es penguasa di sana, selain kesaktiannya yang tidak dapat diukur, kekejamannya pun tidak ada duanya. Hanya saja mereka enggan membaur atau mencampuri urusan orang-orang di daratan.
"Tak tau entah sejak kapan orang-orang pulau es usil dengan urusan orang. Rupanya di pulau es sudah tidak ada lagi pekerjaan, sehingga harus mengurusi pekerjaan orang lain" sahut Pranggala yang sedikit jengkel dengan ucapan orang. Sebenarnya ia juga mengkhawatirkan kalau kalau sang ketua bertindak. Akan panjang urusan kalo sampai ada pihak yang terluka dari pulau Es.
"Hmmm... rupanya lebar juga mulut orang-orang Istana Lembah Neraka ini" timpal Setan Beruang Putih
"Rupanya bukan cuma bermulut tajam, tapi tidak pernah berkaca orang-orang pulau es ini" balas Pranggala lagi.
brakkk...
Setan Beruang Hitam menggebrak meja marah. Diraup nya sumpit diatas meja, lalu dilemparkannya kearah Pranggala. Ada sekitar delapan batang sumpit melesat bagaikan anak panah menerjang pengawal pribadi Rajawali Merah itu. Setan beruang hitam menyerang sekaligus mendemonstrasikan kemampuannya dihadapan lawan.
Pranggala pun merentangkan telapak tangan kanannya ke depan. Tepat sebelum satu jengkal di depan telapak tangan, sumpit-sumpit itupun berhenti. Lalu dengan gerakan memutar pergelangan tangan kemudian mendorong kedepan, sumpit-sumpit itu berbalik arah melesat lebih cepat ke arah Dua setan beruang bersaudara.
Dua orang penghuni pulau es itu berlompatan menghindari sumpit yang melesat, sehingga tak satupun yang mengenai mereka. Namun hebatnya beberapa sumpit menembus kendi minuman di atas meja, hanya membuat kendi itu berlubang, tidak pecah. Hal ini menunjukan betapa tenaga dalam yang dimiliki Pranggala saat ini sudah begitu tinggi, sehingga tenaga itu bisa terpusat pada serangan sumpit.
Bergidik juga Beruang bersaudara itu melihat serangan lawan. Setelah saling menganggukkan kepala keduanya melesat kearah Pranggala dan menyarangkan sepasang telapak mereka ke tubuh pengawal ketua Istana Lembah Neraka itu. Entah sejak kapan sepasang telapak tangan sampai siku kedua bersaudara itu berubah bagai diliputi es. Itulah sebuah pukulan yang bernama "Ilmu Tapak Es"
__ADS_1
Pranggala menyambut kedua pukulan itu menggunakan kedua telapak tangannya. Tenaga Inti Api yang ia miliki pun di kerahkan. Dua pasang telapak tangan musuh dihadang nya dengan sepasang telapak tangannya. Dua tenaga berlawanan beradu melalui telapak tangan kedua pihak yang bertarung. Hanya berjarak sejengkal sepasang telapak tangan bertemu dua pasang telapak tangan lawan.