
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 124...
Keesokan harinya Intan datang menemui Bayu dan Nalini. Ia pun memberi kabar bahwa telah mendapatkan mestika Raja Ular Api yang dicari. Tentu saja hal ini merupakan berita yang sangat menggembirakan bagi mereka. Bersama Intan, Nalini di ajak ke gua pulau es untuk melakukan pengobatan.
Intan melarang Bayu yang saat itu hendak menyertai mereka dengan alasan pengobatannya dilakukan sangat pribadi. Bayu yang tidak tau apa yang sedang direncakan Intan menurut saja diminta menunggu.
Sesampainya di gua pusaka pulau es, sudah ada Raja Pulau Es menunggu di sana. Nampak dari raut wajah penguasa pulau es itu menggambarkan perasaan yang tidak nyaman. Hal ini tak luput dari perhatian Nalini.
“Silakan berbaring di sini nona!” pinta Raja Pulau Es seraya menunjukkan ranjang yang terbuat dari bongkahan es.
Kemudian Raja Pulau Es menghampiri Intan. Masih terlihat ia sangat ragu untuk mengorbankan keponakannya. Sejenak Raja Pulau Es terdiam.
“Lakukanlah paman! Ini demi kebaikan kita semua, kebaikan umat persilatan.” Tegas Intan. Pada diri gadis itu tak sedikitpun tampak keragu-raguan.
“Baik buat kami, tapi malang untukmu.” Jawab Raja Pulau Es dengan suara yang berat
Di tempatnya Nalini mendengar semua percakapan paman dan keponakannya itu. Ia pun menangkap ada ketidak beresan dari pengobatan yang akan di jalani. Terlihat Raja Pulau Es akan meninggalkan tempat itu. Terlihat Intan seperti panik dan mengikuti arah pergi pamannya.Diam-diam Nalini mengikuti mereka.
Raja Pulau Es memasuki ruangan lain yang ada di goa itu. Di ikuti Intan yang masih membujuk pamannya itu. Nampak terjadi perdebatan antara mereka berdua. Nalini pun berjalan mengendap-endap mendekati.
“Paman.. kemarin kita sudah memutuskan untuk melakukannya. Mengapa paman berubah pikiran.” Desak Intan.
“Baru saja aku mengetahui bahwa adik bungsuku memiliki keturunan dan satu-satunya, lalu harus mengorbankannya untuk orang lain yang tidak ada hubungan sanak keluarga denganku. Paman mana yang tega melakukan itu.”
“Aku rela jantungku diberikan untuk mengobatinya paman. Anggap sebagai ucapan terima kasih suku es kepada pendekar penyelamatnya” tegas Nalini.
Perdebatan terus terjadi, sampai akhirnya Raja Pulau Es tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauan keponakannya. Semua percakapan kedua orang itu didengar oleh Nalini. Betapa gadis itu merasa semuanya bukan lah keputusan yang benar.
Nalini bergegas kembali ketempatnya. Untung tempat itu dipenuhi dengan es, sehingga kepekaan pendengaran menjadi sedikit terganggu. Sehingga gerak geriknya tidak sampai terdengar. Apalagi keduanya sedang dalam keadaan berdebat.
__ADS_1
Nalini kembali berbaring di ranjang es. Ia membenarkan posisinya agar terkesan tidak pernah pergi kemana-mana. Matanya dipejamkan seolah-olah sedang tertidur.
Raja Pulau Es menghampiri Nalini. “Apakah Nona sudah siap?” tanyanya kemudian.
Nalini mengangguk. Kemudian Raja Pulau Es mengambil sebuah cangkir berisi air yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Minumlah ini nona! Sementara kau akan tertidur hingga selesai proses pengobatan.” Ucap Raja Pulau Es.
“Bolehkah saya bicara empat engann tuan Raja?” pinta Nalini.
Raja Pulau Es mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa yang ingin dibicarakan gadis itu. Ia pun mengangguk meluluskan permintaan Nalini.
“Biar aku keluar sebentar.” Ucap Intan yang mendengar permintaan Nalini. Sebenarnya gadis itu berencana untuk menemui Bayu terakhir kalinya. Kebetulan sekali Nalini ingin bicara berdua saja dengan pamannya, ia pun menggunakan kesempatan ini.
Intan keluar dari goa pusaka pulau es. Sesampainya di luar tubuhnya melesat ke arah Istana. Sesampainya di sana dilihatnya Bayu sedang berbicara dengan beberapa orang anggota Istana Lembah Neraka. Ia pun berdiri mengawasi dari kejauhan.
“Ketua, ini surat peninggalan orang tua ketua yang kami temukan di ruangan rahasia. Di sana kami menemukan dua kerangka manusia yang kami perkirakan mereka adalah ayahanda dan ibunda ketua.” Tutur Pranggala seraya menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada Bayu.
Bayu menerima gulungan kertas itu. Dilihatnya masih dalam keadaan terikat benang berwarna kemerahan. Kemudian pemuda itu kembali menyerahkan gulungan tersebut pada Pranggala.
Pranggala mengambil dan menyimpan kembali gulungan surat itu. Dia tak berani membantah apa yang menjadi keputusan Bayu. Memang menurutnya pendapat Bayu ada benarnya.
Bayu terdiam sejenak. Kepekaannya menyadari bahwa ada seseorang mengawasinya. Lalu Bayu mencoba melihat kearah balik Pohon yang diketahuinya orang itu bersembunyi di sana. “Intan..” gumamnya.
Bayu berpura-pura tidak menyadari keberadaan Intan. Sebenarnya ia masih merasa tak enak dengan gadis itu. Ia menebak mungkin di masa lalu memiliki hubungan khusus dengan Intan. Namun yang terjadi saat ini memang tidak dapat mengingat sama sekali apa yang terjadi di masa lalunya. Sehingga ia hanya bisa bersikap biasa-biasa saja.
Merasa sudah cukup lama meninggalkan goa pusaka, Intan pun beranjak dari tempat itu untuk kembali. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Bayu, karena merasa tidak sanggup. Dengan air mata yang bercucuran ia kembali ke tempat pamannya dan Nalini berada.
Sesampainya di goa, nampak Nalini dan pamannya telah selesai berbicara. Nalini sudah berbaring kembali di ranjangnya.
“Paman, aku sudah siap.” Ucap Intan.
__ADS_1
“Baiklah kalau keputusanmu memang sudah bulat, paman tidak bisa menolaknya lagi. Minumlah ini, lalu duduklah di ranjang es di dekat nona Nalini.” Sahut Raja Pulau Es.
Kemudian Intan meminum isi cangkir yang di berikan oleh pamannya. Kemudian Ia pun duduk di ranjang es sebelah Nalini.
“Masuklah dalam semadimu, biar nanti setelah jantungmu di ambil, tubuhmu tidak langsung rusak, dan akan tetap seperti sedia kala walaupun nantinya kau di kubur dalam tanah.” Ucap Raja Pulau Es dengan suara bergetar.
Intan Pun mengikuti perintah pamannya. Kemudian Gadis itu duduk bersila di atas ranjang es. Lalu ia mulai bersemedi. Beberapa saat kemudian Intanpun sudah tenggelam dalam semadinya.
Setelah dilihatnya Intan masuk dalam semedi, Raja Pulau Es beranjak meninggalkan goa itu. Hampir setengah harian ia pergi, hingga kembali lagi ke tempat itu. Setelah beristirahat sejenak, ia pun mulai melakukan proses pengobatan.
Keesokan harinya proses pengobatan selesai dilakukan. Nampak jelas perubahan pada tubuh dan wajah Nalini. Gadis itu tak lagi pucat. Nampak wajahnya berseri-seri penuh dengan tenaga, walau masih dalam keadaan tertidur.
“Nona.. Bangun lah. Pengobatan sudah selesai dilakukan.” Panggil Raja Pulau Es.
Tak lama kemudian Nalini membuka matanya. Ia pun bangkit dari pembaringannya. Kemudian Nalini menghampiri Raja Pulau Es. Tiba-tiba gadis itu langsung berlutut di hadapan orang tua itu.
“Terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan tuan Raja.” Ucap Nalini tulus.
“Bangunlah nona, aku tidak layang mendapat penghormatan seperti itu dari mu.” Sahut Raja Pulau Es seraya memegang pundak Nalini dan menyuruhnya bangkit. Nampak di kelopak mata penguasa pulau es itu menggenang air yang ditahannya untuk tidak terjatuh. “Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih itu kepada Pendekar Bayu dan Nona atas segala kemurahan hati membantu kami.” Sambungnya lagi.
Nalinipun bangkit. Kemudian ia menghampiri Intan yang terbaring di ranjang es. Gadis itu kemudian menyentuh pipi Intan dan membelainya. Kelopak mata Nalini mulai basah. Kemudian gadis itu mengecup kening Intan lalu beranjak meninggalkan tempat itu sambil menyeka matanya yang sudah berair.
Sesampainya di luar goa Nalini langsung melesat menggunakan Ilmu meringankan tubuhnya. Gadis itu berlari cepat menuju Istana Pulau Es. Tak perlu waktu lama, iapun sudah tiba di tempat tujuannya.
“Kak Bayu..” tegur Nalini saat dilihatnya pemuda itu sedang duduk dengan mata terpejam di bawah pohon yang tak jauh dari Istana.
Memang pemuda itu sejak dari semalam menunggu di bawah pohon. Bahkan ia tidur tadi malam di bawah pohon itu. Bayu sangat khawatir akan keadaan Nalini yang hampir sehari semalam tak ada kabar. Sempat berpikir hendak menyusul gadis itu, namun hal itu diurungkannya takut Raja Pulau Es tersinggung.
Perlahan Bayu membuka matanya. Di lihatnya di depannya kini sudah ada Nalini yang keadaanya terlihat sangat baik. Ia pun tersenyum girang lalu memeluk gadis itu. Nalini yang di peluk hanya diam tanpa membalas, namun dari matanya mengalir deras air mata. Kemudian Bayu melepas pelukannya.
Bersambung...
__ADS_1
** Sebelumnya Author minta maaf agak telat updatenya malam ini. Biasa kesibukan hari Senin yang tak dapat di hindari. Untuk update yang kedua hari ini mungkin agak malam.
Buat teman-teman pembaca yang menyukai cerita ini silakan like, komen, dan vote novel ini untuk membantu author mendapatkan apresiasi dari pihak MT, bagi pembaca yang tidak menyukainya, silakan lewat aja.