
Salam Dunia Persilatan...
Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.
Salam Dunia Persilatan
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Episode 85
Sebuah Jejak
Raja Iblis Kelabang sudah pasrah akan nasibnya. Ia yakin sekali hari ini adalah terakhir ia bernafas di dunia. Apalagi hawa dingin yang sangat menusuk itu mulai merasuk ketulang dan terus menjalar menuju jantung. Namun manusia boleh mengira-ngira tapi urusan hidup Yang kuasalah penentunya.
Di saat yang sangat kritis. Hawa dingin hampir membekukan darah dan menembus kejantung. Tiba-tiba saja di tubuh Raja Iblis Kelabang masuk serangkum hawa hangat menggantikan hawa dingin yang menusuk tulang. Raja Iblis Kelabang yang tadinya tertunduk pasrah mendongakkan kepalanya ke atas menatap Bayu.
Pada tubuh Bayu atau si Rajawali Merah telah terjadi perubahan. Butiran embun yang tadinya keluar dari tubuh pemuda itu berubah menjadi selapis cahaya berwarna kemerahan. Tenaga sakti yang terpancar kali ini menyebarkan hawa hangat bukan saja ke tubuh Raja Iblis Kelabang, tapi juga ke alam sekitar tempat itu. Orang itupun memejamkan matanya.
Sesaat kemudian dia tak lagi merasakan pancaran tenaga sakti dari lawannya. Raja Iblis Kelabang pun membuka matanya. Di hadapannya kini tak ada lagi pemuda yang tadi bertarung dengannya. Jangankan pancaran tenaga saktinya, jejak kaki saja tak ada. Hal yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepala, bukannya mendapatkan kerugian karena pertarungan tadi, malah ia mendapatkan rezeki terbesar dalam hidupnya.
Tiba-tiba saja Raja Iblis Kelabang berlutut di tanah.
"Terima kasih anak muda, terima kasih tuan penolong" Ucapnya berkali-kali.
Apa yang terjadi sebenanrnya? ternyata saat pertarungan tadi Bayu telah mengusir racun yang bersarang di tubuh orang tua itu sehingga tubuhnya memiliki belang kehitaman. Kini belang hitam di bagian tertentu tubuhnya itu telah lenyap. Bahkan ia merasakan peredaran darahnya yang dulu tersumbat kini menjadi lancar.
__ADS_1
Raja Iblis Kelabang pun bangkit berdiri. Kemudian dia mengibas-ngibaskan tangannya di pakaiannya yang kotor. Terlihat dia lebih semangat dari sebelumnya. Wajah kakek itu pun terlihat lebih cerah. Lalu matanya tertuju pada sebuah batu yang cukup besar. Terdapat sebuah tulisan yang menarik hatinya.
Berbuatlah baik di masa tuamu
Rajawali Merah
Sebuah tulisan berupa pesan untuknya. Raja Iblis Kelabang pun tersenyum. Lalu dia sedikit membungkuk ke arah batu dengan tangan kanannya menyilang kedada.
"Kelak aku akan jadi orang bawahanmu, tuan Rajawali Merah" ucap Raja Iblis Kelabang.
Kemudian Raja Iblis Kelabang melesat meninggalkan tempat itu. Tanpa di sadarinya tak jauh di atas dahan sebuah pohon yang cukup besar tak jauh di tempat itu Bayu sedang mengawasi. Ternyata pemuda itu tidak benar-benar pergi dari tempat itu. Sengaja ia memakai nama Rajawali Merah karena ada keyakinan bahwa orang itu adalah masalalu nya. Namun ia bertekat merubah pandangan orang tentang si Rajawali Merah.
Setelah membeli beberapa ekor ikan untuk keperluan hari ini Bayupun kembali ke kediaman ko Jatar kepala Desa Bojana. Sepeeti biasa pagi-pagi Nalini sudah berlatih ilmu pedang bersama gurunya. Tapi kali ini di samping gurunya ada orang lain yang ikut mengawasi. Dialah Dewa Tuak Gila yang datang mengunjungi Bayu.
"Kapan datang kek?" sapa Bayu.
"Eh apa yang kau bawa itu?" tanya Dewa Tuak Gila sambil celingukan memeriksa bakul yang di bawa anak muda itu. Lalu orang tua itupun tertawa terbahak-bahak "bwahahaha... dunia rupanya sedang terbalik, yang perempuan belajar pedang, yang lelaki pergi ke pasar bwahahahaha"
"Uhukk uhuk... aduhhhh pedaass glek.. glekkk..." Kakek Tuak Gila terbatuk batuk kemudian ia minum tuak di tangannya untuk menghilangkan rasa pedas di lidahnya. "Dasar bocah edan" makinya lagi kepada Bayu.
Nalini tertawa sambil menutup mulutnya. Lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Bayu. Sedangkan ki Farja terkekeh-kekeh melihat kelakuan Dewa Tuak Gila. Bayu sendiri senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya.
"Sini aku yang antar ke dalam kak" pinta Nalini sambil mengambil bakul yang ada di tangan Bayu. Kemudian gadis itu masuk kedalam rumah membawa bakul yang di pegangnya.
Sebenarnya membeli keperluan rumah sudah menjadi tugasnya mbo Inah. Namun semenjak Pemuda itu sadar dari pingsannya, ia merasa tidak enak tidak melakukan apa-apa. Jadi selain membantu-bantu urusa desa, pemuda itupun sering menolong mbo Inah dalam urusan membeli keperluan-keperluan dapur.
"Nak Bayu... aku ingin bicara denganmu" ucap Dewa Tuak Gila Berubah serius.
Ki Farja yang takut mengganggu urusan orang segera mohon diri meninggalkan tempat itu. Kemudian guru Nalini itu beranjak menuju ke balai Desa. Di pekarangan rumah ki Jatar hanya menyisakan Bayu dan Dewa Tuak Gila.
__ADS_1
"Ada berita apa kek?" tanya Bayu setelah melihat ki Farja sudah jauh meninggalkan mereka.
"Dari salah satu penduduk yang bermukim di pesisir aku menemukan ini." Ucap Dewa Tuak Gila sambil menunjukan selembar pakaian berwarna merah.
Kemudian Bayu membuka baju itu. Ternyata di dada baju terdapat sebuah gambar bangunan yang dikelilingi api. Sekilas Bayu seperti mengingat akan lambang itu. Namun bayangan itu masih buram di kepalanya.
"Kata penduduk yang menemukannya, pakaian ini di temukan tak lama sesudah ditemukannya orang terdampar tak jauh dari tempat itu." Tutur Dewa Tuak Gila.
Bayu sadar yang dimaksud penduduk orang terdampar itu adalah dirinya. "Apakah ini yang biasa di pakai Rajawali Merah kek?" tanya Bayu.
"Entahlah, aku sendiri belum pernah melihatnya. Rajawali Merah dan Istana Lembah Neraka berada di selatan. Sedangkan aku yang sudah tua ini jarang sekali melakukan perjalanan ke sana." Sahut orang tua itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih ki atas bantuannya." Ucap Bayu tak ingin membuat orang tua itu merasa kecewa.
"Bagaimana dengan kekuatanmu? apakah kau pernah melatihnya sesudah pulang ke tempat ini." tanya orang tua penyuka tuak itu.
"Belum kek, belum ada kesempatan." Jawab Bayu.
"Baiklah, aku pergi dlu, apabila ada perkembangan nanti akan aku kabari lagi." pamit orang tua itu.
Dewa Tuak Gila pun melesat meninggalkan kediaman kepala Desa Bojana. Tak lama setelah itu Nalini keluar membawa piring yang isinya pisang goreng.
"Kemana Kakek Dewa Tuak tadi kak?" tanya Nalini kepada Bayu.
"Sudah pulang, katanya masih ada urusan. Mungkin mau mengisi bumbung tuak nya yang sudah kosong." ucap Bayu seraya tersenyum.
"Ih kak Bayu jahat banget sama kakek Dewa Tuak" sahut Nalini seraya tersenyum sambil menyodorkan piring kepada Bayu.
Sesaat Pemuda itu terpana melihat gadis di depannya. Nalini memang gadis yang sangat cantik, dengan kulit putih ditambah hidungnya yang bangir menambah kecantikannya sempurna. Apalagi sikapnya yang anggun tidak seperti kebanyakan pendekar wanita di dunia persilatan.
__ADS_1
"Tolong... tolongg"
Tiba-tiba terdengar suara orang meminta tolong mengejutkan keduanya. Serentak keduanya mengalihkan pandangan kearah datangnya suara. Nampak seorang lelaki sedang berlari terseok seok penuh dengan luka sedang menuju ke arah mereka.