Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
97. Serangan Perkumpulan Teratai Putih


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Jangan lupa bahagia. Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu menemani waktu santai kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan, sudilah kiranya memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 97


Serangan Perkumpulan Teratai Putih


"Cukup tuan pendekar! bukanlah sifat ksatria menyerang musuh yang sudah tidak berdaya." tegur pemuda berpakaian merah yang tak lain adalah Bayu si Rajawali Merah.


"Siapa kau? mengapa kau mencampuri urusan kami?" ucap Jaka dengan nada sedikit tinggi.


"Dia majikanku, Rajawali Merah Dari Utara" sahut Raja Iblis Kelabang mendahului sebelum Bayu membuka mulut.


Bayu sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan Raja Iblis Kelabang. Ia hanya diam tanpa membenarkan atau menyalahkan ucapan Raja Iblis Kelabang. Matanya menatap tajam kearah Pendekar Halilintar. Pandangan menyidik, bukan pandangan permusuhan.


Pendekar Halilintar agak terkejut saat nama Rajawali Merah di sebut. Ia memang belum pernah melihat wajah Bayu secara langsung. Bahkan saat pertarungan di bukit kosong, saat topeng Rajawali Merah terbuka, tetap saja tak mampu ia melihat karena ditutupi cahaya. Namun kata dari Utara diujung gelar Rajawali Merah itu membuatnya berpikir memang bukan Rajawali Merah pemimpin Istana Lembah Neraka.


"Hmmm.. Rupanya sekarang Raja Iblis Kelabang mempunyai majikan, berarti kau lah yang bertanggung jawab atas perbuatan murid-muridnya." tegas Jaka.


"Bukan kah tadi tuan mendengar sendiri bahwa dia tidak punya murid, dan dia juga bukan pelaku kekacauan di tempat tuan. Bahkan dia bersedia membantu tuan asal tuan tidak memaksanya dengan kekerasan" cecar Bayu yang kurang mengukai sikap Pendekar Halilintar.


"Baiklah, memandang kau sebagai majikannya, aku berusaha mempercayai dia. Tapi seandainya kelak ku tahu pelakunya memang orang itu, kemanapun akan kucari dan akan kuhabisi" Ancam Pendekae Halilintar.


"Apabila memang dia pelakunya, aku sendiri yang akan menghabisinya di depanmu." tegas Bayu. "Berikan penawar itu padanya" perintah Bayu kepasa Raja Iblis Kelabang .


"Pendekar Halilintar, supaya jangan sampai kau mengira aku memberikan obat palsu, aku ingin tau dulu sudah berapa lama temanmu itu terkena racun Kelabang Hitam?"


"Kurang lebih dua pekan." ucap Pendekar Halilintar menjawab pertanyaan Raja Iblis Kelabang.

__ADS_1


"Berarti obat ini tidak akan ada gunanya." ucap Raja Iblis Kelabang seraya melemparkan botol kecil kepada Pendekar Halilintar. "Racun Kelabang Hitam hanya dapat diobati pada orang yang terkena kurang dari satu minggu. Lebih dari itu hanya menunggu kematian" tambahnya lagi.


"Aku pun pernah mendengarnya seperti itu, aku kira itu hanya akal-akalan saja" ucap Jaka. Ada raut kekecewaan terpancar di matanya.


"Tidak adakah jalan lain?" tanya Bayu yang ikut prihatin.


"Ada tuanku." jawab Raja Iblis Kelabang.


"Apa itu?" tanya Bayu lagi.


Pendekar Halilintar pun mendekat kepada mereka berdua. Ucapan Raja Iblis Kelabang sangat menarik perhatiannya. Timbul harapan besar untuk kesembuhan putri pemimpin kota Rambalangan itu.


"Asalkan tuan mau melakukannya, seperti tuan mengeluarkan racun di tubuh hamba" jawab Raja Iblis Kelabang.


Jaka yang melihat sikap Raja Iblis Kelabang begitu tunduk terhadap Rajawali Merah, agak sedikit heran. Setaunya dari dulu, dedengkot aliran hitam yang satu ini paling anti di bawah pengaruh orang lain. Apalagi menghamba pada seorang yang masih sangat muda.


"Baiklah... Bisakah tuan antarkan kami ke tempat orang yang sakit itu, tuan pendekar?" pinta Bayu kepada Pendekar Halilintar.


Jaka pun mengangguk. Lalu mereka bertiga beranjak menuju penginapan tempat mereka bermalam.


Setelah menghabisi semua prajurit kerajaan yang menghadang mereka, rombongan Dewa Iblis Kegelapan yang berjumlah hampir tiga ratusan itu mendirikan kemah kemah di tanah lapang berjarak sekitar satu mil dari pantai. Selain bertujuan istirahat, mereka juga kembali mengatur dan memantapkan strategi yang sudah dirancang.


"Ketua, apakah kita tetap pada tujuan semula untuk menguasai Benteng Dewa dahulu baru menyerang perguruan lain?" tanya Iblis Merah yang kini berposisi sebagai wakil bersama Jari Pedang.


"Ya, dengan menguasai Benteng Dewa dahulu, kita akan mempengaruhi mental-mental perguruan yang lain. Sehingga akan mudah menaklukan mereka" jawab Dewa Iblis Kegelapan sambil santai duduk di kursinya.


Saat itu beberapa orang utama Partai Iblis Berkabut memang sedang berkumpul di kemah besar milik Dewa Iblis Kegelapan. Nampak Pemimpin perkumpulan itu sangat percaya diri akan kekuatannya. Mereka sangat yakin akan dapat dengan mudah menguasai orang-orang dunia persilatan.


"Mohon ampun ketua apa bila saya lancang berpendapat." Ucap Raja Iblis Api seraya membungkukkan badannya.


"Katakanlah!"


"Menurut pendapat hamba, selain benteng Dewa ada satu perkumpulan lagi yang mesti kita waspadai"


"Perkumpulan mana yang kau maksud?"

__ADS_1


"Istana Lembah Neraka, ketua"


"Bukan kah perkumpulan itu telah kalah, bahkan ketuanya sendiri telah tewas? Kau tanyakan pada Dewa Obat, kala itu dia sendiri yang menyaksikan itu"


"Benar sekali kakang" sahut Dewa Obat.


"Mohon maaf ketua, tapi..."


"Ahh.. sudahlah, jangan merusak suasana kemenangan ini."


Belum selesai mengucapkan kata-katanya, Dewa Iblsi Kegelapan yang tak menyukai langsung memotong dan menyudahi ucapan Raja Iblis Api. Ketua Partai Iblis Berkabut itu tidak ingin suasana hatinya di rusak.


"Besok kita akan bergerak menuju Benteng Dewa. Dalam waktu satu pekan kita akan sudah tiba di sana. Persiapkan pasukan kita, jangan sampai ada kekurangan suatu apapun dalam rencana kali ini." ucap Dewa Iblis Kegelapan.


"Baik Ketua" Jawab semua yang ada di situ seraya berlutut di hadapan ketua mereka.


Keesokan harinya Dewa Iblis Kegelapan bersama seluruh anak buahnya bergerak menuju Benteng Dewa. Pergerakan mereka dengan jumlah besar ini tak luput dari perhatian pihak kerajaan. Beberapa kali Pasukan Kerajaan dikirim untuk memperingati mereka dan mminta keterangan akan tujuan rombongan tersebut, selalu saja musnah terbasmi.


Akhirnya pihak kerajaan pun membiarkan keberadaan Dewa Iblis Kegelapan dan anak buahnya. Selain karena selalu gagal menghadapinya, telik sandi yang kerajaan utus pun sudah memberikan infornasi bahwa tujuan mereka adalah menguasai Benteng Dewa. Pihak kerajaan sendiri tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan.


Hari kedua perjalanan mereka ke benteng dewa tak sedikitpun menemukan hambatan. Pergerakan mereka dilakukan hanya pada waktu siang hari. Malam harinya mereka beristirahat dengan mendirikan kemah-kemah di tanah yang lapang.


Namun di hari ketiga, kembali mereka mendapatkan penghadangan.


Kali ini yang menghadang mereka bukan lagi dari pihak kerajaan. Sebuah perkumpulan yang bernama perguruan teratai putih menghadang mereka. Perkumpulan ini memang terkenal suka mencari nama dengan cara yang kadang-kadang tidak disukai orang-orang dunia persilatan. Walaupun mereka berasal dari aliran putih, tapi sepak terjang mereka kadang-kadang tak berbeda dengan orang-orang dari aliran hitam.


Dengan jumlah sekitar lima puluhan orang, perkumpulan Teratai Putih menghadang Partai Iblis Berkabut di sebuah hutan yang mereka lewati.


Baru saja Rombongan Dewa Iblis kegelapan masuk mulut hutan, puluhan anak panah melesat menyerang mereka. Mudah saja bagi mereka menangkis serangan anak panah itu.


"Seraaangg..."


Suara teriakan perintah menyerang tiba-tiba terdengar dari dalam hutan. Tak berapa lama kemudian puluhan anggota Perguruan Teratai Putih berlari menyerang ke arah rombongan Dewa Iblis Kegelapan. Di sisi lain serangan anak panah semakin banyak menghujani mereka.


"Cari Mati." dengus Dewa Iblis Kegelapan. "Serang mereka dengan kabut beracun" Perintahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2