
Setelah hampir sepeminunan teh mereka berjalan, akhirnya tiba di sebuah yang tanahnya agak meninggi dari di sekitarnya. Di situ terdapat beberapa buah rumah berdiri. Dari semua rumah yang ada di sana, satu bangunan yang perbedaannya sangat mencolok dari yang lain.
Di dataran yang berbeda ketinggiannya itu di kelilingi pagar yang cukup tinggi. Tepat di tempat mereka berdiri saat ini ada sebuah pintu gerbang yang bertuliskan "Partai Seribu Racun" . Mereka terhenti di depan Gerbang yang tertutup rapat itu.
"Bagaimana selanjutnya Ki? apakah kita dobrak saja pintu ini? tidak sabar rasanya aku mencincang-cincang tubuh pimpinannya untuk membalas dendam ke empat teman kami." ucap pemuda yang kini menjadi pimpinan teman-teman nya.
"Biar aku mendobraknya" sahut Ki Farja.
Kemudian kepala keamanan desa Bojana itu mengeluarkan pedangnya. Sesaat dia diam untuk mengerahkan tenaga saktinya. Lalu dengan cara menyalurkan tenaga ke dalam pedang, orang tua itu menggunakan jurus andalannya menebas pintu gerbang.
Sreeeettt.... Sreeeettt...
Brakkk...
Pintu pun terpotong menjadi beberapa bagian dan ambruk.
Ternyata di balik pintu telah menghadang orang-orang Partai Seribu Racun. Namun dari pakaian dan gayanya Nampak mereka semuanya hanya keroco-keroco bahawan saja.
“Seraaang…” teriak salah seorang penghadang dari pihak Partai Seribu Racun.
Serentak belasan orang di belakangnya meluruk kearah rombongan ki Farja. Ki Farja dan kawanannya yang memang sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. langsung saja ia dan teman-temannya maju menggempur musuh.
Pertarungan yang tak seimbang pun terjadi. Walaupun musuh dari segi jumlah lebih unggul, namun dari segi kemampuan masih jauh di bawah ki Farja dan Nalini. Hanya dalam waktu yang tak lama, musuh yang jumlahnya sekitar lima belasan orang itu dapat dipukul roboh.
“Hahaha… lumayan juga cecurut-cecurut yang masuk hutan kali ini”
Tiba-tiba muncul seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahunan. Di belakangnya berdiri puluhan orang berbaju hitam. Laki-laki itu mengenakan pakaian berwarna keperakan. Di tangan kanan dan kirinya melinggkar gelang emas yang jumlahnya puluhan. Sehingga terlihat seperti saudagar kaya saja. Di tangan kanan lelaki itu menggenggam sebatang tongkat dengan kepalanya berbentuk seekor ular.
__ADS_1
“Kau kah Setan Racun?” Tanya ki Farja lantang.
“Benar sekali orang tua, apa maumu mengacau di sini” sahut Siluman Racun sinis.
“Aku ingin kau enyah dari sini.” Jawab Ki Farja dingin.
“kalau aku tidak mau?” tantang siluman racun.
“Maka kau akan kehilangan satu-satunya kepalamu itu.” Tegas ki Farja.
“Hahaha senang bermimpi kau rupanya orang tua. Jangankan untuk menghabisi ku, keluar dalam keadaan hidup saja belum tentu. Aku tahu kau telah meminum ramuan anti racun dari Tabib Merah. Tapi tak kan lama lagi reaksi obat itu akan hilang. Dan kalian akan mati. Hahaha”
Terkejut juga ki Farja bahwa siasatnya di ketahui oleh Siluman Racun. Tapi wajahnya ia usahakan tetap kaku agar tak membuat orang-orangnya kehilangan kepercayaan diri. Ia pun berpikir keras bagaimana caranya dalam waktu singkat bisa merobohkan lawan.
"Hmmm... Lagi pula tak kan lagi kau bisa meminta bantuan Tabib sialan itu." ucap Siluman Racun yang membuat pikiran Ki Farja buyar.
"Binatang kau Siluman Racun!" pekik Ki Farja yang sangat marah melihat kekejaman Siluman
“Hahahaha..." Tawa Siluman Racun yang puas melihat reaksi Ki Farja. "Anak-anak serang” serunya lagi.
Serentak puluhan orang di belakang siluman racun melompat dan menyerang kearah rombongan ki Farja. Para utusan desa Karang Wangi itupun memberi perlawanan dengan sengit. Namun kali ini ternyata selain jumlah mereka yang lebih banyak dari sebelumnya, ternyata kemampuan mereka juga. Tak lama berselang enam pemuda dari desa Karang Wangi mulai kewalahan. Hanya Ki Farja dan Nalini yang berada di atas angin melawan musuh mereka.
Tak berapa lama kemudian empat pemuda lagi yang tewas dari pihak Desa Karang Wangi. Sedangkan dari pihak musuh delapan orang yang meregang nyawanya. Walaupun begitu tetap saja ini merupakan satu kerugian besar untuk kelompok Ki Farja. Empat menghadapi puluhan orang musuh. Menyadari kondisi yang demikian, ki Farja pun mendekati Nalini sambil menyerang beberapa orang musuh.
“Nak kau bantu dua orang pemuda yang tersisa menghadapi keroco-keroco musuh. Biar aku menyerang Siluman Racun. Waktu kita sudah tidak banyak.” Baik guru.
Setelah mengatur siasat bersama Nilina, Ki Farja langsung melesat menyerang Siluman Racun.
__ADS_1
Bukkk…
“Aduhh...”
Tak menyangka akan serangan ki Farja, pada gebrakan pertama tadi Siluman Racun mendapat kerugian besar. Tubuhnya terjungkal dan jatuh berdebuk. Dari mulutnya mengeluarkan darah. Untung saja luka dalamnya tak terlalu parah.
"Bedebah... Beraninya kau membokongku" maki Siluman Racun.
Siluman Racun langsung melompat membalas serangan Ki Farja. Mudah saja bagi gurunya Nalini itu menghindari. Malah Siluman Racun yang sekali lagi harus terjungkal terkena tendangan balasan Guru Nalini tersebut.
Melihat pimpinannya beberapa kali terjungkal, para anggota Partai Seribu Racun mulai panik. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Nalini dan dua orang pemuda dari desa Karang Wangi untuk menghabisi mereka. Tak perlu waktu yang lama sudah lebih separuh dari anak buah dari Siluman Racun yang tewas. Dan beberapa saat kemudian anggota Partai Seribu Racun hanya tinggal Siluman Racun sendiri.
"Siapa yang berani mengacaukan kediaman muridku"
Di saat kemenangan hampir di depan mata, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang tak jelas dari mana asalnya. Tak lama kemudian asap berwarna kehijauan muncul dari dari arah kiri hutan. Bersamaan dengan itu muncul sesosok manusia berpakaian serba hijau yang langsung melesat memberi tendangan ke tubuh Ki Farja. Sontak lelaki itu terjungkal sejauh lima tombak.
"Nalini cepat kau pergi dari sini bersama yang lain. Waktu kita sudah akan habis. " Seru Ki Farja, sambil memegangi dadanya yang sakit terkena serangan orang berpakaian serba hijau.
"Guru sendiri bagaimana?" Tanya Nalini yang mulai kelihatan panik.
Memang ia mulai merasakan pening dan mual pada perutnya. Khasiat pil anti racun yang di berikan oleh Ki Farja tadi sudah mulai berkurang. Bahkan dua pemuda lainnya nampak keringat keluar deras dari tubuh. Beberapa kali kedua pemuda itu memukul-mukul kepalanya akibat pandangannya yang mulai buram.
"Hmmmm... Tak ada satupun yang bisa lolos dari Datuk Sesat Seribu Wisa" seru orang itu.
Ternyata lelaki tua berpakaian serba hijau itu adalah Datuk Sesat Seribu Wisa yang merubah penampilannya berbeda saat masih bergabung dengan Istana Lembah Neraka. Saat dia datang tadi, puluhan orang berpakaian abu-abu menyertainya. Merekalah bekas anggota-anggota Istana Lembah Neraka yang membelot bersama Datuk Sesat Seribu Wisa.
"Anak-anak habisi mereka, sisakan gadis cantik itu saja, hahaha..." Perintah Datuk Sesat Seribu Wisa dengan suara tawa liciknya.
__ADS_1