
Sekitar dua puluhan lelaki berpakaian abu-abu melesat kearah empat orang utusan desa Karang Wangi itu. Pertempuran yang tak berimbang itupun terjadi. Hanya dalam waktu singkat dua orang pemuda asal desa Karang Wangi itupun roboh dengan penuh luka bacok. Kini yang tersisa hanya Ki Farja dan Nalini.
Walaupun agak kewalahan melawan musuh yang jumlahnya puluhan orang, namun Ki Farja dan Nalini masih mampu membunuh beberapa orang pengeroyoknya. Posisi Nalini sendiri sedikit diuntungkan. Di karenakan Datuk Sesat Seribu Wisa yang menginginkan Nalini di tangkap hidup-hidup, maka tak satupun penyerangnya yang berani melukai gadis itu.
Anak buah Datuk Sesat Seribu Wisa lebih memilih menyerang Ki Farja ketimbang menyerang Nalini. Akibatnya orang tua itu sangat kewalahan. Beberapa kali badannya tergores pedang lawan. Untung saja Nalini yang tahu gelagat, terus membantu gurunya.
"Hahaha gadis pintar." puji Datuk Sesat Seribu Wisa. "Sungguh pantas menjadi pendampingku" celoteh kakek ahli racun itu.
Siluman Racun yang sudah mulai membaik keadaannya atas pertolongan sang guru, langsung saja ikut menyerang dua orang guru dan murid itu. Dengan datangnya Siluman Racun keadaan mereka berdua semakin payah. Hingga pada sebuah kesempatan Siluman Racun berhasil memukul bahu ki Farja dengan tongkat beracunnya.
Plakk....
Ki Farja pun roboh seketika terkena serangan lawan.
"Guru..." Pekik Nalini yang panik melihat gurunya roboh.
Sreetttt... sreeettt...
Dua orang anak buah anak buah Datuk Sesat Seribu Wisa lehernya tertebas pedang Nalini yang berubah menjadi ganas. Gadis itu berusaha mendekati gurunya untuk memastikan keadaan orang tua tersebut. Beberapa orang pengeroyok mencoba menyergapnya, namun keganasan pedangnya yang diakibatkan perasaan murka sang guru roboh membuat tak satu pun orang pun berhasil. Malah mereka sendiri yang menjadi korban.
Sreetttt...
"ukhhh..."
Kali ini Siluman Racun yang menjadi korban tebasan pedang Nalini. Untungnya tebasan itu hanya mengenai bahu kanannya. Walaupun mengeluarkan banyak darah, namun bukan sesuatu yang bahaya bagi Siluman Racun.
"Hahaha... bagus bagus."
__ADS_1
Bukannya khawatir akan keadaan muridnya, Datuk Sesat Seribu Wisa malah senang melihat keganasan Nalini. Ada kesenangan tersendiri melihat wanita yang diinginkannya memiliki keganasan bertarung.
Lama-kelamaan tenaga Nalini mulai berkurang. Pengaruh racun yang tersebar di tempat itupun mulai muncul. Kepala gadis itu terasa mulai berat. Ia pun mulai sempoyongan. Tak lama kemudian gadis itupun jatuh.
...***...
"Mengapa kalian terlambat?" tanya seorang kakek-kakek berbaju serba hijau yang bergelar Jari pedang itu.
Nampak dari raut wajahnya Jari Pedang sedang menahan emosi. Di depannya dua orang berlutut tertunduk. Mereka adalah Raja Iblis Api dan Setan Tengkorak Putih. Di belakangnya beberapa orang anak buah melakukan hal yang sama.
"Maaf wakil ketua, aku tidak dapat membawa kedua anak Raja Pulau Es kembali. Keduanya di selamatkan seorang pendekar yang terkenal sakti di daratan luas. Sudah dua kali hamba kalah dengannya." tutur Setan Tengkorak Putih memelas.
"Lalu apa saja pekerjaanmu sebagai pelindung, Iblis Api? Masa kau juga dipecundangi oleh orang-orang daratan itu." Tanya Jari Pedang kepada Raja Iblis Api dengan geram.
"Maafkan hamba Wakil Ketua. Luka dalam yang hamba derita saat di Bukit Kosong belum benar-benar sembuh. Sehingga hamba tak mampu mengimbangi pendekar itu." ucap Raja Iblis Api menjelaskan.
"Hmmm... Ketua Istana Lembah Neraka itu rupanya memang benar-benar hebat. Luka dalam yang kau dapatkan sebenarnya sudah dioabati dengan ramuan khusus dan bantuan tenaga dari ketua. Ternyata belum juga menyembuhkan sepenuhnya" keluh Jari Pedang. "Orang itu akan menjadi batu sandungan yang terbesar bagi kita" tambahnya lagi.
"Apa itu?" tanya Jari Pedang Serius.
"Dari kabar yang beredar dan beberapa orang kita yang melakukan penyelidikan bahwa Ketua Istana Lembah Neraka telah tewas saat bertarung di Bukit kosong."
"Tewas? bagaimana bisa? di dunia persilatan saat Ini Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta belum ada yang mampu mengimbanginya. Apalagi sampai mengalahkannya."
"Benar wakil ketua. Orang itu tewas saat bertarung dengan Emou Adhiyak Sona di bukit barisan. Bahkan Empu Adhiyak Sona juga harus kehilangan nyawanya."
"Benar juga... Hanya matahari yang mampu mengalahkan matahari. Hanya Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang mampu mengalahkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta hahaha... Berarti tidak ada lagi yang mampu menghalangi kita untuk menguasai dunia . Hahaha..."
__ADS_1
Tawa Jari Pedang semakin menggelegar. Berita kematian ketua Istana Lembah Neraka dan Empu Adhiyak Sona sangat menggembirakannya. Yang dia tau di dunia ini tak ada satupun yang mampu menandingi kesaktian ketuanya, Dewa Iblis Kegelapan. Kecuali orang yang menguasai Ilmu tujuh Gerbang Alam Semesta. Makanya sang ketua terus berlatih untuk bisa menandingi ilmu tersebut.
Sepengetahuannya yang menyebabkan keadaan sang ketua dulu sangat memprihatinkan itu dikarenakan bertarung dengan tokoh sakti yang menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke dua. Semenjak kejadian itu, sang ketua selalu berlatih untuk menyempurnakan ilmunya. Ia pun berkesimpulan yang mengalahkan Dewa Iblis Kegelapan dulu adalah Empu Adhiyak Sona.
"Walaupun kabar gembira yang kalian bawa itu cukup menggembirakan hatiku, Tak akan kalian lepas dari hukuman karena kesalahan kalian. Terutama kau Setan Tengkorak Putih. Akibat ketidak becusanmu menangkap anak Raja Pulau Es, takutnya rencana kita ingin menaklukan daratan itu tersebar. Sehingga membuat mereka bersiap-siap untuk menghalangi tujuan kita." tegas Jari Pedang.
Kakek berpakaian serba hijau itupun mengangkat tangannya. Tampak dari jarinya membias cahanya tipis berwarna keperakan. Rupanya orang tua itu telah mengerahkan ilmu andalannya, Jari Pedang. Wajah Setan Tengkorak Putih pun memucat. Menambah jelek wajahnya yang penuh codetan. Namun Belum Sempat jarinya mengenai Setan Tengkorak Putih, tiba-tiba saja...
"Tak ada seorangpun yang memberi hukuman kepada muridku, selain aku sendiri Si Iblis Merah".
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Jari Pedang. Bersamaan munculnya suara, seorang kakek-kakek berpakaian serba merah muncul dan langsung menyerang Jari Pedang. Untung saja Jari Pedang sekalu waspada, sehingga serangan musuh dapat ia sadari dan langsung menyiapkan diri untuk menangkisnya.
Blammmm..
Dua Pasang Tangan Beradu. Hasilnya kedua belah pihak sama-sama terdorong empat langkah kebelakang. Nampak keduanya memiliki kekuatan yang seimbang.
"Hahaha lama tidak bertemu ternyata kesaktianmu semakin meningkat saja Jari Pedang" Puji Iblis Merah.
"Ilmu mu pun semakin berisi Iblis Merah" puji Jari Pedang.
"Tiada guna aku memiliki murid sepertimu" ucap Iblis merah seraya menghantamkan telapak tangannya ke kepala Setan Tengkorak Putih.
Praakkkk...
bukkk...
Tak ada satu orangpun yang menyangka akan perbuatan Iblis Merah. Dengan sangat tega ia menghantam kepala muridnya sehingga pecah. Seketika Setan Tengkorak Putih pun tewas seketika.
__ADS_1
"Kenapa kau bunuh dia Iblis Merah" tanya jari pedang sedikit kesal.
"Aku tak ingin mempunyai murid yang tak becus itu" Jawab Iblis Merah. "Antarkan aku kepada ketua. Aku ingin bergabung menjadi bawahannya" Tambah Iblis Merah.