
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 147...
Di ujung hutan Jati Alam terdapat sungai membentang luas dengan airnya yang hijau kebiruan. Terlihat perahu lalu lalang besar dan kecil melintasi sungai. Tepat di seberang sungai nampak sebuah perkampungan yang sebagian rumahnya berada di pinggiran.
“Rupanya ujung hutan ini benar sebuah sungai yang luas kak.” Ucap Nalini.
Bayu hanya mengangguk menanggapi ucapan Nalini. Sesungguhnya si pemuda saat itu sedang menikmati keindahan alam yang terbentang di depan matanya. Bayupun berjongkok menyentuh air yang terasa begitu sejuk. Nalini hanya tersenyum melihat pujaan hatinya itu begitu menikmati keadaan alam sekitar.
“Den.. neng ayu.. mau naik perahu? Biar saya bawa menyusur sungai” teriak seorang lelaki diatas sebuah perahu yang lumayan besar.
Memang mata pencaharian penduduk di sekitar tempat itu kalua tidak sebagai nelayan, mereka bekerja sebagai tukang perahu pembawa barang ataupun mengantar orang. Jarang sekali di antara mereka yang berprofesi sebagai petani ataupun yang lain. Walaupun ada, dapat di hitung dengan jari.
“Nalini, ayo kita menyusur sungai menumpang perahu paman itu.” Ajak Bayu yang terlihat bergitu riang, bahkan sekilas muncul sifat kekanak-kanakan pemuda itu.
Nalini mengangguk tanda setuju. Dia sendiri juga tertarik mendengar tawaran si tukang perahu. Perahu itupun mendekat setelah bayu melambaikan tangan ke arah si tukang perahu. Setelah perahu menepi, keduanya pun naik ke atasnya.
“Mau kemana den? Saya antar ke desa seberang atau mau jalan-jalan menyusuri sungai ini melihat-lihat pemandangan.” Tanya si tukang perahu.
“Susur sungai dulu mang, baru nanti antar kami ke seberang.” Jawab Bayu.
Perahu pun mulai bergerak perlahan memyusuri sungai. Dari atas perahu dapat dengan mudah melihat pemandangan sekeliling sungai. Dua sisi yang sedikit berlawanan. Sebelah kiri mereka terlihat daratan yang dipinggir sungainya terdapat rumah-rumah penduduk, sedangkan di sebelah kanan mereka membentang hutan yang lebat.
“Ihh..” tiba-tiba Nalini memekik kaget.
Nalini terkejut tiba-tiba saja beberapa ekor buaya berada sekitar dua tombak jaraknya dari kanan dan kiri perahu. Nampak binatang buas itu bergerak searah dengan perahu yang mereka tumpangi. Buaya-buaya itu ukurannya bias dibilang sangat besar, hamper seperti perahu.
“Tenang Den, neng ayu. Jangan panik dan jangan bergerak memancing kemarahan mereka. Sungai ini memang banyak buayanya. Namun asal kita tenang, tidak panik mereka tidak akan menganggu.”
__ADS_1
Benar saja, buaya-buaya itu hanya mengikuti perahu dari samping. Setelah agak jauh dari tempatnya awal mengikuti perahu merekapun berbali. Namun baru beberapa saat buaya-buaya itu berbalik arah tiba-tiba saja sesuatu memancing perhatian mereka.
Byurrrr…
“Toloongg.. tolooongg..”
Terdengar bunyi sesuatu terjatuh ke dalam sungai. Kemudian terdengar lagi suara orang minta tolong. Terlihat dua orang perempuan jatuh dari sebuah kapal yang cukup besar berjarak sekitar tiga puluh tombak dari perahu yang Bayu tumpangi. Sebuah kapal besar dan juga mewah pada masa itu.
Di dekat Kapal Besar itu Nampak sebuah kapal kecil mengiringi. Dari kapal kecil beberapa orang melompat ke atas kapal besar. Dari perahu yang Bayu tumpangi terdengar suara pertempuran. Sementara buaya-buaya yang tadinya akan pulang ke tempatnya berbalik arah mendengar suara orang tercebur.
“Waduh gawat den, rupanya ada rampok di kapal besar itu. Kasian dua orang yang tercebur, buaya pasti memangsa mereka.”
“Kita tolong dua orang itu mang.” Sahut Bayu.
“Wahhh.. gak berani saya den.. perahu saya kecil. Apalagi di sana ada perampok. Mereka itu jahat dan kejam den, tak segan-segan membunuh orang.”
“Hmm.. Baiklah, biar aku saja yang kesana. Nalini, kau tunggu saja di sini berjaga-jaga di perahu.”
Tiba-tiba Bayu melayang di udara. Kemudian tanpa melakukan Gerakan tubuh pemuda itu tau-tau sudah berada tepat di atas dua orang perempuan yang tercebur di sungai. Kemudian ke duanya terangkat keatas di saat hampir saja terkena terkaman buaya. Kemudian Bayu melayang ke atas kapal diikuti dua orang perempuan yang tadi tercebur di sungai.
Si tukang perahu yang tadi menyaksikan langsung bagaimana Bayu melayang di udara, lalu tiba-tiba saja berpindah tempat kedekat perahu besar terlongo-longo keheranan. Sampai-sampai lelaki itu lupa menutup mulutnya. Matanya terbelalak melihat kejadian luar biasa di depannya.
“Paman, mari kita dekati kapal itu.” Ucap Nalini.
Belum sempat si tukang perahu menjawab ajakan Nalini, gadis itu menggunakan tenaga saktinya memukul kea rah air sehingga perahu melaju dengan cepat ke arah kapal. Saat akan mendekati kapal besar, Nalini menghentikan laju perahu. Tentu saja kejadian ini membuat si tukang perahu semakin takjub keheranan.
“Oh gusti.. rupanya Dewa Dewi yang sedang menumpang di kapalku.” Ucap si tukang perahu tak yang langsung berlutut kepada Nalini.
Melihat keheranan si tukang perahu dan sikapnya itu, Nalini tersenyum geli. Kemudian gadis itu melihat kearah kapal tanpa memperdulikan lagi si tukang perahu yang merasa sangat beruntung menganggap kapalnya sudah di tumpangi dewa dan dewi yang turun dari langit.
__ADS_1
Sementara itu Bayu yang tiba-tiba turun dari atas ke tengah-tengah perahu saat dua pihak bertarung, membuat pertarungan itu sementara terhenti. Hampir seisi kapal melongo melihat cara Bayu datang ke kapal itu. Sementara dua orang perempuan yang ternyata pembantu-pembantu pemilik kapal itu langsung berlari menghampiri majikan perempuannya.
“Syukurlah kalian selamat. Bagaimana bisa tiba-tiba kalian ada di sini?” tanya sang majikan. Sebenarnya Perempuan separu baya itu dapat menebak siapa yang menyelamatkan kedua pembantunya. Hanya saja ia ingin memastikan penglihatannya itu tidak salah.
“Siapa kau bocah? Datang-datang mengganggu kami. Jangan kau kira aku takut dengan tipuan murahanmu itu” bentak kepala perampok.
“Tinggalkan kapal ini kalau kalian masih ingin hidup di dunia ini.” Ucap Bayu dingin.
Bukannya menjawab pertanyaan si kepala perampok, Bayu malah mengancamnya. Ucapan Bayu itu terdengar jelas di telinga semua orang di kapal. Tanpa sadar perampok-perampok itu tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Kata-kata pemuda itu seperti mengandung kekuatan yang membuat nyali siapa saja mendengarnya menjadi ciut. Bahkan di telinga si pemilik kapal.
“Bangsat.. kau kira aku takut dengan ancamanmu itu bocah.” Sahut Kepala Perampok. “Habisi bocah sialan itu!” perintahnya kepada anak buahnya.
Beberapa saat lamanya tak ada satupun perampok yang bergerak menyerang Bayu. Nyali mereka masih tergetar dengan ancaman Bayu tadi. Beberapa orang dari mereka bahkan saling pandang.
“Tunggu apa lagi. Cepat serang!” bentak si kepala perampok.
Melihat pimpinanannya mulai marah, para anak buah perampok itupun melompat menyerang Bayu. Semuanya langsung mencabut pedang mereka masing-masing. Dua orang diantaranya langsung menerjang menebas ke arah leher Bayu.
“Hmmm..” dengus Bayu.
Byuuurr..
“Aaaaaa..
Belum sempat pedang mereka mengenai si pemuda, tubuh mereka terlempar keluar kapal. Di bawah sungai, Buaya-buaya yang kelaparan langsung menyambar kedua perampok itu. Semua orang di kapal keheranan apa yang terjadi dengan kedua orang tadi. Mereka tak melihat sipemuda melakukan apa-apa, tiba-tiba saja keduanya terlempar.
“Cepat enyah dari sini, kalau tidak kujadikan kalian semua santapan buaya itu.” Bentak Bayu dengan nada mengancam.
Bersambung...
__ADS_1
Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.