Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Keadaan Berbalik


__ADS_3

...--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------...


...Episode 104...


Randu menyilangkan pedang di dadanya. Kemudian pemuda itu berkonsentrasi memusatkan tenaganya. Nampak pada badan pedang berpendar kilatan cahaya keperakan.


“Hmmm.. rupanya pemuda itu sudah akan menggunakan jurus pamungkasnya. Sepertinya ada yang aneh, apakah tidak terlalu cepat.” Gumam Bayu yang dari tadi memperhatikan jalannya pertandingan.


“Begitu rupanya, ternyata pemuda sakti itu berada di atas pohon itu” bisik Pendekar Pedang Kilat dalam hati. Rupanya gumaman pemuda itu samar-samar terdengar oleh telinga Pendekar Pedang Kilat yang tajam. Nampak orang tua buta itu tersenyum sinis.


Sringg..


Randu mulai melakukan penyerangan lagi. Pemuda itu menerjang Nalini dan menebaskan pedang dengan hebatnya. Kali ini Nalini hanya bisa menghindar tanpa balas menyerang. Beberapa kali lehernya hampir terkena sayatan pedang lawan.


Nalini kini merubah serangannya. Kini ia menggunakan jurus baru ciptaan Bayu. Akibat gencarnya serangan lawan, gadis itu langsung menggunakan jurus kedua dari Ilmu Pedang Pembelahan Jagat. Jurus Bertahan


Kali ini tak ada satu serangan pun yang mampu mendekati Nalini. Setiap sabetan pedang yang dilayangkan Randu, selalu ditangkis selarik sinar keperakan yang berasal dari Jawa pedang milik gadis itu. Namun sebaliknya, gadis itupun tidak dapat melancarkan serangan, karena gencarnya serangan lawan. Hingga pada satu kesempatan Randu yang mulai kelelahan mengendurkan serangannya.


Srreett...


Sebuah sabetan pedang Nalini mengenai bahu kiri pemuda itu. Seketika dsrah segar mengalir dari luka yang menganga di bahu kirinya. Randu melompat mundur sejenak.


"Jangan puas dulu. Kali ini kau tak akan bisa lolos dari seranganku." Ancam Randu.


"Hmmmm... inilah saatnya, memang sepertinya mau tidak mau Randu harus menggunakan ilmu terakhir ini. Ilmu Pedang Kilat Angin Puyuh" gumam Pendekar Pedang Kilat.


Randu mulai berkonsentrasi. Matanya di pejamkan, lslu pemuda itu merangkupkan kedua tangannya di depan dada. Perlahan angin di tempat itu mulai berhembus kencang. Debu dan dedaunan mulai berterbangan di tempat itu.


"Apa ini? Sebelumnya aku tak pernah melihat kedua orang itu melatih ilmu ini" desis Bayu yang mulai cemas.


Randu yang sudah mengerahkan tenaganya sampai puncak, siap melancarkan serangannya kepada Nalini. Pedangnya di acungkan kedepan. Serangkum angin menyelimuti pedang pemuda itu.


Hiyyaaatt...


Randu memekik keras. Kemudian ia menerjang Nalini dengan pedangnya. Saat mendekati tubuh gadis tersebut, Randu menyabetkan pedangnya dari arah kiri ke kanan. Serangkum angin dan selarik sinar keperakan menyertai pedang tersebut.

__ADS_1


Nalini menangkis serangan dahsyat Randu dengan jurus kedua Ilmu Pedang Pembelah Jagat. Walaupun setiap serangan pedang dan sinar keperakan dari hawa pedang serangan Randu dapat di tahannya, namun tetap saja ia harus terjajar kebelakang karena dorongan angin serangan si pemuda. Setiap serangan yang dilancarkan Randu, selalu saja menimbulkan keadaab serupa.


“Bagaimana ini Farja, sepertinya Nalini mulai kewalahan. Kalo begini terus tenaganya akan banyak terkuras. Lama-lama bisa tembus pertahanannya.” Ucap ki Jatar kepada ki Farja yang mengkhawatirkan keadaannya.


“Aku juga tidak tau harus berbuat apa ki, tak mungkin aku turun tangan membantu Nalini. Tentu itu akan menciderai rasa kependekaran putrimu itu. Lagipula sekalipun aku membantu, belum tentu bisa mengalahkannya. Takutnya malah menjadi beban anakmu.” Sahut ki Farja.


“Saat-saat seperti ini, di manakah nak Bayu” keluh ki Jatar.


Tiba-tiba saja terdengar teriakan Pendekar Pedang kilat kepada Bayu. “Anak muda, aku menantangmu  bertarung!” tantang Pendekar Buta itu.


Hal ini dilakukannya untuk mengalihkan perhatian pemuda itu dari Nalini. Tanpa menunggu jawaban dari Bayu, orang tua buta itu langsung melesat meyerang si pemuda dengan pukulan jarak jauhnya.


wussshh…


Serangkum angin dahsyat bergerak cepat ke arah Bayu. Pemuda itu melompat menghindari serangan. Karena kecemasannya terhadap Nalini Ia lupa bahwa pukulan seperti itu sangat mudah untuk ia tepiskan.


Braakkk…


Dahan pohon patah terkena sambaran pukulan jarak jauh yang dilontarkan Pendekar Pedang Kilat. Orang tua but aitu dapat merasakan kecemasan Bayu, sehingga ia pun tidak ingin melewatkan kesempatan ini.


Belum sempat Bayu  menjejakkan kakinya ke tanah ia harus berlompatan lagi menghindari pukulan jarak jauh Pendekar Pedang Kilat. Tanah yang tadinya akan dijadikan pijakan pemuda itu bergetar oleh ledakan kecil dari pukulan Pendekar Pedang Kilat.


Baru saja kakinya sampai di tanah, orang tua buta itu kembali menyerang Bayu. Menggunakan tongkat di tangannya Pendekar Pedang Kilat memainkan semua jurus pedang andalannya untuk menyerang pemuda itu. Tanpa sempat berpikir, pemuda itu hanya bisa menghindari setiap serangan Pendekar Pedang Kilat yang sangat cepat dan bertenaga itu. Bahkan kualitas Gerakan orang tua itu berada jauh diatas cucunya.


Srreett…


Lengan baju Bayu terkena sabetan tongkat pendekar buta itu. Untung saja hanya mengenai lengan bajunya, sehingga tak sedikitpun membuat anak muda itu terluka. Tapi tetap saja serangan Pendekar Pedang Kilat yang begitu cepat sehingga membuatnya sangat kerepotan.


Memang pada satu kesempatan pemuda itu sesekali menyerang dengan jurus ciptaanya, namun hanya dengan tangan kosong.  Tentu mudah saja bagi Pendekar Pedang Kilat menangkisnya. Apalagi Bayu hanya menggunakan tenaga dalam biasa, bukan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.


“Heii bocah edan! Kau betul-betul lupa ingatan rupanya. Atau memang  kepengen mati konyol di tangan si tua buta itu. Kau kemanakan kesaktianmu itu bwahahaha...” 


Tiba-tiba saja Dewa Tuak Gila muncul dan mengingatkan Bayu. Pemuda itu lalu tersenyum girang. Ia betul-betul sempat lupa akan kekuatannya.


Berbeda dengan Pendekar Pedang Kilat, kedatangan Dewa Tuak Gila membuat kerugian besar untuknya. Membuat Bayu sadar akan keadaannya tentu itu hal yang sangat tidak ia inginkan.

__ADS_1


Wussh....


Sambil menyabetkan tongkatnya ke kepala Bayu,  Pendekar Pedang Kilat yang kesal kepada Dewa tuak Gila, mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh kearah orang itu.


Blamm...


“Gak kena.. gak kena.. bwee” Dewa Tuak Gila dengan mudah melompat menghindari serangan orang tua buta itu. Malahan dengan tingkahnya yang kocak ia meleletkan lidah mengolok-olok Pendekar Pedang Kilat. Padahal jelas-jelas orang tua buta itu tidak melihatnya.


Betapa terkejutnya Pendekar Pedang Kilat saat mengetahui Bayu tidak lagi menghindari serangannya. Tebasan tongkatnya tertahan tepat sejengkal sebelum mengenai tubuh pemuda itu. Dari tubuhnya terlihat butiran embun halus memancar mengitari pemuda itu.


Pendekar Pedang Kilat menarik tongkatnya lalu mundur beberapa langkah.


“Ingat anak muda, kau sudah berjanji tidak mencampuri pertarungan mereka berdua” Ucap Pendekar Pedang Kilat mengingatkan Bayu. Ia khawatir kalau-kalau pemuda itu membantu Nalini dalam menghadapi cucunya.


“Selama kau orang tua tak turut campur, aku pasti akan menepati janjiku” Tegas Bayu seraya tersenyum dengan senyuman khasnya.


“Kalau begitu kita lanjutkan pertarungan kita” Balas Pendekar Pedang Kilat.


Kembali serangan dahsyat dilancarkan orang tua buta itu. Kali ini serangan yang dilancarkan mirip dengan ilmu yang digunakan Randu. Hanya saja kekuatan dan kecepatannya jauh lebih dahsyat. Orang tua itu telah menggunakan Ilmu Pedang Kilat Angin Puyuh untuk menyerang Bayu.


Walaupun Bayu sudah menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat pertamanya, tetap saja ia tak bisa menyembunyikan  kekagumannya pada Pendekar Buta itu. Serangan bertubi-tubi disertai tiupan angin dahsyat yang dilancarkan si kakek buta beberapa kali membuatnya terjajar kebelakang. Memang pemuda itu belum mengerahkan tenaga sepenuhnya. Namun tetap saja gempuran Pendekar Pedang Kilat begitu dahsyat.


Sementara itu Nalini mulai terdesak oleh serangan Randu yang semakin kuat. Beberapa kali gadis itu harus berjumpalitan menghindari serangan lawan. Hingga pada satu kesempatan akhirnya Randu berhasil  menyarangkan satu serangannya ke perut Nalini.


Bukkk...


Nalini terjengkang beberapa tombak akibat tendangan Randu yang bersarang di perutnya. Untung saja tendangan itu tidak begitu keras, karena konsentrasi tenaga pemuda itu berada di pedangnya. Gadis itu hanya merasakan sedikit nyeri pada bagian perutnya.


Bersambung...


...--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2