Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
46. Munculnya Sepasang Iblis Api


__ADS_3

Cempaka menatap gurunya yang masih berusaha bangkit. Ada perasaan marah, ada perasaan bersalah berkecamuk di hatinya. Melihat keadaan gurunya timbul juga rasa iba.


Sementara itu pertarungan antara Rupaksa melawan Datuk Sesat Seribu Wisa semakin menegangkan. Tampak Rupaksa mulai keteteran. Rupanya khasiat ramuan yang diberikan Dewa Obat mulai berkurang.


Berlalu empat puluh jurus, beberapa kali Rupaksa harus jatuh bangun menghindari pukulan dan senjata rahasia lawannya. Datuk Sesat Seribu Wisa memang bukan hanya hebat ilmu kesaktiannya, namun juga hebat dalam hal racun.


craapp...


"Akhhh..."


Rupaksa terpekik kesakitan ketika salah satu senjata rahasia milik Datuk Sesat Seribu Wisa menancap di bahu kirinya. Diapun berguling anak roboh. Tak berselang lama seluruh wajahnya membiru keracunan. Setelah sebentar badannya berkelojotan, pemuda itupun meregang nyawa.


"Rupaksaaa.." jerit ketua Perguruan Macan Putih yang melihat muridnya roboh. Lelaki tua itupun bergegas melesat menghampiri tubuh muridnya yang sudah kaku.


"Jangan sentuh"


Tiba-tiba terdengar teriakan peringatan Dewa Obat saat ketua Perguruan Macan Putih akan menyentuh jasad muridnya.


"Jangan sentuh, tubuh itu beracun"


Sekali lagi Dewa Obat memperingati. Ketua Perguruan Macan Putih pun hanya bisa terisak kehilangan murid yang paling disayanginya. Matanya yang tadinya basah karena menangis kini berubah menjadi merah karena api amarah.


"Kendalikan dirimu Ki, ada hal yang harus kita dahulukan." bujuk Malaikat Bertangan Sakti.


Pertandingan antara Pendekar Tongkat Emas dengan Arya sudah berlalu puluhan jurus. Tak berbeda dengan sebelumnya nampak Pendekar Tongkat Emas masih menguasai pertandingan. Dengan sedikit hentakan, tongkatnya menyerang perut Arya Sona hingga membuat pemuda itu terjungkal roboh dan pingsan.


"Hahaha... nyonya manis, sekarang tinggal kau sendirian melawan kami berdua di babak ini. Kau mau teruskan atau menyerah hahaha" goda Datuk Sesat Seribu Wisa.


"Menyerah saja, simpan tenagamu untuk menghadapi Rajawali Merah nanti"


Sebuah suara yang dikirimkan kepada Dewi Selendang Ungu mencegahnya untuk meneruskan pertarungan. Memang suara itu hanya di dengar oleh Cempaka saja. Dengan menjura ke arah Raja Pulau Es dan Setan Beruang Hitam, Cempaka berbalik kembali ke rombongan Benteng Dewa.

__ADS_1


"Hahaha tau diri... tau diri..."


Entah apa maksud ucapan Datuk Sesat Seribu Wisa, memuji ataukah menghina. Kemudian ia dan rekan-rekannya pun kembali ke rombongan Istana Lembah Neraka. Setelah memberi hormat kepada Bayu, ketiganya pun menempatkan diri di belakang pimpinannya itu.


"Istana Lembah Neraka menang" teriak Setan Beruang Hitam. "Silakan masing-masing pihak pertarungan selanjutnya menempati arena" tambahnya lagi.


Dari pihak Istana Lembah Neraka maju tiga Dewa Dunia Persilatan bersamaan lonceng yang dibunyikan Iblis Pelebur Sukma termuda. Di pihak Benteng Dewa Pertapa Sakit Tanpa Nama, Iblis Muka Hitam, dan Malaikat Bertangan Sakti yang maju.


Dilihat siapa yang bertarung, pertandingan ini tentunya akan menjadi tontonan yang hebat. Tokoh-tokoh sakti zaman lampau dan masih berjaya di zaman ini akan bertarung dan memamerkan kehebatannya masing-masing.


Semua orang kelihatan tegang dan menanti apa yang terjadi saat melihat ke enam tokoh dunia persilatan itu saling berhadapan. Tidak seperti sebelumnya, kali ini suasana menjadi hening menegangkan. Bahkan tak terkecuali tiga orang dari pihak Benteng Dewa yang siap bertarung.


Hanya Rajawali Merah saja yang kelihatan tenang. Mungkin karena topeng yang menutupi sebagian besar wajahnya atau memang dia tak begitu memperdulikan akan pertandingan orang. Hal inipun tak luput dari perhatian Dewi Selendang Ungu yang berada di samping Pendekar Halilintar.


"Sungguh disayangkan dia berada di jalan yang salah. Padahal dia sangat serasi dengan dik Intan. Entah bagaimana perasaan gadis itu kalau dia tau bintang penolongnya adalah pimpinan kelompok aliran hitam." bisik Cempaka dalam hati.


"Ada apa istriku? Kenapa dari tadi kulihat kau terus memperhatikan Rajawali Merah?" Tanya Jaka kepada Istrinya.


"Ah tidak ada?" jawab Cempaka gelagapan. Dia tak menyangka suaminya dari tadi memperhatikannya.


"Tidak juga kakang, aku merasa pendekar Tongkat Emas Sudah memiliki rencana yang matang untuk menghadapinya. Hanya saja aku menyayangkan orang sepertinya berada diantara orang-orang sesat."


"Maaf para tetua, apakah sudah siap?"


Teriakan Setan Beruang Hitam menghentikan pembicaraan suami istri itu. Kini pandangan keduanya tertuju ke arena pertandingan. Setelah memberikan jawabab dengan anggukan kepada Setan Beruang Hitam, ke enam tokoh sakti pun terlibat pertarungan.


kali ini pertarungan mereka bukan seperti kedua pertarungan sebelumnya. Mereka bertarung benar-benar tiga lawan tiga. Dengan keadaan seperti ini nampak Tiga Dewa Dunia Persilatan berada di atas angin. Selain memang hanya dua orang yang kekuatannya seimbang dengan tiga orang musuh, namun juga Tiga Dunia Persilatan di pengaruhi oleh lonceng pengikat jiwa sehingga mereka seperti satu jiwa.


Bukkkk


brakkkk

__ADS_1


Malaikat Bertangan Sakti terlempar beberapa tombak. Tubuhnya menimpa batu hingga pecah. Untung saja dia tak terluka sedikitpun. Malaikat Bertangan Sakti bangkit, berdiam sejenak melihat keadaan.


"Kau tidak apa-apa Ki?" Tanya Jaka yang kebetulan berada tak jauh dari tempat Malaikat Tangan Sakti Jatuh.


Malaikat Bertangan Sakti menggelengkan kepalanya seraya tersenyum menjawab pertanyaan Jaka. Kemudian orang tua itu melesat kembali ke arena pertarungan. Terlihat dua orang pihaknya mulai terdesak melawan tiga orang musuh.


Kembali tiga orang dari Benteng Dewa Melawan tiga orang pihak Istana Lembah Neraka. Gerakan-gerakan indah dengan kecepatan sulit ditangkap oleh mata orang biasa mereka pertontonkan. Tidak sekali dua terdengar decak kagum dari penonton maupun pihak yang bertarung.


Berlalu seratus jurus, nampak tiga orang pihak Benteng Dewa mulai kewalahan. Beberapa kali pukulan lawan bersarang ke tubuh mereka. Yang paling merasakan akibatnya adalah Malaikat bertangan sakti. Beberapa kali ia harus jatuh bangun terkena serangan lawan.


"Bila begini terus kita akan kalah" keluh Jaka melihat pertandingan itu.


"Tenang saja, sebentar lagi rencana kita akan berjalan."


Entah dari dari kapan berada di belakang Jaka, ketua perguruan sakti menjawab keresahan Jaka. Pendekar Halilintar pun menoleh untuk melihat siapa yang berbicara.


"Bagaimana kau bisa yakin Ki?" tanya Jaka


"Lihat saja sebentar lagi.


"Hahaha... ada keramaian tidak memberitahukan kami."


Tiba-tiba saja terdengar suara tawa menggelegar dari bawah bukit. Tak lama kemudian dengan menjadikan kepala-kepala penonton disana sebagai pijakan, Lima orang berlari menuju ketengah-tengah arena perlombaan. Setelah mempijakan kakinya di tanah kelima orang itupun melihat kearena pertarungan tanpa mempedulikan orang.


"Sepasang Iblis Api" gumam Raja Pulau Es.


"Tuanku, itu tiga Buto Bersaudara. Apakah kita tanyakan saja langsung kepada mereka tentang pusaka Pulau Es yang hilang." bisik Setan Beruang Putih kepada Raja Pulau Es.


"Nanti dulu, kalau aku tidak salah, bersama mereka adalah sepasang Iblis Api yang telah lama menghilang di dunia persilatan. Apabila memang benar mereka, maka urusan kita akan bertambah sukar."


"Memangnya kenapa yang mulia?"

__ADS_1


"Karena biarpun kita bertiga bergabung, bukanlah lawan salah satu dari mereka."


"Benarkah itu yang mulia?" Tanya Setan Beruang Putih. Tak ia sadari matanya melotot menatap Rajanya. Saking kagetnya dia atas perkataan rajanya, hingga tata kesopanan pun terlupakan.


__ADS_2