Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.191. Perjalanan Nalini


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 191...


 


Teriakan kesakitan Sujiwo atau Iblis Tak Genah semakin terdengar memilukan. Sesaat kemudian tubuh Sujiwo hancur menjadi debu bersamaan sirnanya kekuatan serangan. Sementara itu Raja Demit Serigala menghilang tak kelihatan batang hidungnya.


“Anak muda aku mengaku kalah darimu. Kita sudahi masalah ini sampai di sini. Aku berjanji aku dan juga pengikutku tak akan mengganggu desa ini selama kau masih hidup.”


Tiba-tiba terdengar suara Demit Serigala yang ditujukan kepada Bayu. Sesudah menyampaikan maksudnya suara itupun menghilang. Semua orang lega masalah di Desa Ampar Batuan ini selesai.


“Intan..” panggil Bayu.


Gadis itupun melihat ke arah Bayu. Kemudian Bayu memeberi isyarat anggukan kepada Intan. Gadis itu pun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba saja keduanya lenyap dari tempat itu.


“Eh kemana mereka? Tiba-tiba menghilang?” tanya ki Jati Suro.


“Mereka menghilang ayah. Mungkin masalah di desa kita benar-benar sudah selesai sehingga mereka pergi. Ahh kita tak sempat berterima kasih kepada mereka berdua.” Sahut Seruni.


“Apakah mereka benar-benar Dewa dan Dewi?” Gumam Ki Jati Suro seraya berlutut diikuti yang lainnya.


...***...


“Sepertinya kita telah kalah langkah oleh orang-orangnya Dewa Iblis Kegelapan. Mereka berhasil membuat kita terpecah” Ucap Pertapa Sakti Tanpa Nama.

__ADS_1


Beberapa orang memang belum meninggalkan Hutan Pengecoh Arwah. Terutama mereka-mereka yang sepemikiran dengan Pertapa Sakti Tanpa nama. Jaka, Cempaka, dan Canik kemuning juga ada di tempat itu. Walau mereka tidak sepenuhnya sependapat dengan Pertapa Sakti Tanpa Nama terutama yang kaitannya dengan Istana Lembah Neraka.


“Saat ini dari kita semua yang berada di sini aku berani jamin Jaka yang memiliki kesaktian paling tinggi.” Ucap Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Permasalahan kita bukan hanya orang-orang yang saat ini menguasai benteng dewa. Di Istana Lembah Neraka kita tahu sendiri bagaimana kesaktian ketua mereka. Belum lagi dari pihak Istana Kerajaan dan juga pemberontak. Rasa-rasanya pemilihan ketua Dunia Persilatan nanti mustahil mereka akan melewatkan begitu saja.” Ucap Pendekar Kipas Maut.


“Kita memang tidak dapat meraba siapa saja yang mengikuti pemilihan ketua dunia persilatan ini. Apabila kita berhasil paling tidak kita bisa merebut kembali benteng dewa. Walaupun tak bisa lagi mendirikan perguruan tangan dewa kembali, paling tidak kita bisa menyelamatkan tempat yang menjadi simbol dunia persilatan negeri selatan ini.” Timpal Arya murid utama mendiang Malaikat Bertangan Sakti.


“Aku setuju dengan pendapat anak muda ini tetua. Paling tidak kita berusaha. Untuk kali ini kita mengandalkan pendekar Halilintar seorang karena  dialah satu-satunya yang memiliki kesaktian paling tinggi, bahkan melebihi tetua sendiri.” Sahut Wakil ketua Perguruan Bambu Sakti.


Akhirnya semua sepakat untuk memilih Jaka sebagai jagoan yang akan diajukan sebagai calon ketua dunia persilatan. Mereka juga sepakat mengumpulkan kawan-kawan dunia persilatan yang lain untuk turut membantu berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kecurangan dipihak Dewa Iblis Kegelapan.


Setelah mencapai kesepakatan akhirnya mereka membubarkan diri dan sepakat untuk bertemu lagi di desa kaki dewa yang tepat berada di bawah bukit benteng dewa tiga hari sebelum perhelatan. Di Hutan Pengecoh Arwah hanya tinggal Pertapa Sakti Tanpa Nama dan murid-murid perguruan Tangan Dewa. Jaka sendiri bersama Cempaka dan Canik Kemuning sudah meninggalkan tempat itu.


Lalu sebenarnya kemanakah Nalini? Setelah meninggalkan lembah Neraka waktu lalu, gadis itu terus berjalan ke arah Barat. Tanpa di sadarinya dia telah berjalan ke negeri barat. Sepanjang perjalanan berkuda tidak sedikit kehadirannya mengundang perhatian orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya.


“Silakan neng.” Ucap seorang pelayan yang langsung menyambut kedatangan Nalini ketika turun dari kuda di depan sebuah rumah makan. Pelayan itupun mengambil tali  kekang kuda milik Nalini kemudian membawa kuda itu ketempatnya.


Nalinipun memasuki rumah makan. Sejenak ia berdiri melihat-lihat di mana tempat yang kosong. Hampir semua tempat terisi, kecuali dua meja. Satu meja tempatnya berada di kerumunan para lelaki yang nampaknya ahli silat karena mereka masing-masing membawa senjata. Satunya lagi di pinggiran di mana di sebelah meja itu terdapat lelaki tua yang sedang menikmati hidangannya.


Nalini lebih memilih tempat yang bersebelahan dengan lelaki tua yang sedang menyantap makannyannya itu. Perlahan gadis itu berjalan menuju meja yang tersedia. Hampir semua mata tertuju padanya. Bukan  hanya kecantikan gadis itu yang menarik perhatian, tapi juga penampilannya yang kini mengenakan baju berwarna merah dengan mutiara batu merah di dahinya membuat kecantikannya terlihat tak biasa.


“Kenapa tidak di sini saja neng ayu.. mau-maunya makan bersebelahan dengan tua bangka budukan itu. Haha..” goda salah seorang di rumah makan itu. Dia seorang lelaki yang menggunakan sepasang kapak sebagai senjatanya. Di negeri timur dia dikenal dengan sebutan Kapak Maut.


“Tentu saja dia lebih memilih duduk di sampingku yang tua bangaka ini dibanding duduk di kelilingi manusia-manusia tak genah macam kalian.” Balas lelaki tua yang sedang duduk di pojokan tempat yang bersebelahan dengan meja Nalini.

__ADS_1


“Tua bangka busuk, berani kau memakiku manusia tak genah. Jangan kau kira mengandalkan namamu sebagai tongkat geledek membuat kami gentar.” hardik kapak maut yang tak terima dengan ucapan orang tua yang bergelar tongkat geledek itu.


Wushh..


Kapak maut melemparkan dua buah sendok ke arah  Tongkat geledek. Kedua benda itu melesat cepat kearah orang tua itu. Hali ini di karenakan lemparan itu bukan lemparan biasa tapi lemparan yang mengandung tenaga dalam.


Mendapat serangan seperti itu si Tongkat Geledek tak menjadi gugup. Dengan sigap di tangkapnya dua buah sendok yang melesat kearahnya. Kaget juga orang tua itu saat menangkap sendok yang dilemparkan. Sampai di tangannya masih berasa tenaga sakti yang terkirim melalui sendok yang dilemparkan. Sesaat Tongkat Geledek merasakan tangannya kesemutan.


Tak ingin dianggap kalah, Tongkat geledek melempar kendi arak ke arah Kapak Maut. Kendi arak meluncur dengan cepat ke arah yang dituju. Kapak maut yang melihat orang membalas hanya tersenyum mengejek melihat serangan lawan.  Dengan mudah lelaki bertampang brewokan itu mengangkap kendi yang dilemparkan..


Praaakkk..


Desss..


“Aduhhh..”


“Bedebah..”


Kapak Maut mengaduh karena tiba-tiba kendi arak yang di tangkapnya pecah. Yang membuatnya heran, arak dalam kendi itu berubah menjadi sangat panas hingga membuatnya mengaduh saat terkena arak. Bukan hanya kapak maut yang terkena cipratan arak panas, beberapa orang temannya juga terkena. Sampai-sampai membuat baju mereka berlubang, makianpun keluar dari mulut mereka.


Sementara itu di pihak tongkat geledek tak kalah herannya. Ia tak menyangka kendi yang di lemparnya bisa pecah di tangan Kapak Maut. Ditambah lagi arak yang berada di dalamnya berubah menjadi sangat panas. Matanyanya pun mengedar ke sekitar, ia yakin ada seseorang yang ikut andil dalam serangan kendinya tadi.


Cukup lama Tongkat Geledek memeriksa sekitar, tak ada satupun yang patut di curigai. Kecuali gadis yang menjadi bahan candaan mereka. Nampak Nalini tersenyum geli melihat keadaan Kapak Maut dan rekannya.


**Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen**


__ADS_2