
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...
...Episode 280...
“Pangeran Mandaka!” Desis Danastri sedikit cemas dengan kehadiran pemuda itu.
Danastri sangat sadar dengan hadirnya pemuda ini, keadaannya menjadi sangat terancam. Bahkan bisa jadi dibawah pengaruh sihir mestika yang ada pada pemuda itu, ia kan balik menyerang Cempaka. Lalu tanpa banyak pertimbangan, Danastri langsung menerjang pangeran Mandaka.
Perbuatan Danastri yang tidak disangka-sangka oleh pangeran Mandaka ini sontak membuatnya sedikit kelabakan. Apalagi saat itu dan nasti langsung menggunakan kekuatan Ratu Siluman Serigala nya untuk menyerang Pangeran Mandaka. Namun bukan seorang pangeran Mandaka namanya apabila keadaan seperti itu membuatnya celaka. Apalagi putra mahkota itu pernah belajar ilmu kesaktian kepada Begawan Nirwasita.
Serangan Danastri hanya mengenai tempat kosong. Dengan menggeser sedikit badannya Pangeran Mandara sudah mampu menghindari serangan mautnya Danastri. Pangeran Mandaka sendiri sudah mengerahkan tenaga sakti sinar Pelangi nya. Sehingga setiap gerakannya terlihat sangat ringan dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Nampaknya penguasaan pangeran yang satu ini terhadap ilmu tenaga sakti sinar Pelangi melebihi penguasaan sang ayah.
Sesudah kembali menguasai keadaan dirinya yang tadi sempat gelagapan akibat dari serangan Danastri, kini Pangeran Mandaka terlihat lebih tenang. Wibawanya sebagai seorang putra mahkota terpancar dari wajah mudanya. Di tambah lagi pancaran sinar pelangi yang keluar dari tubuh Pangeran mandaka menambah kharisma nya. Kemudian Pangeran mandaka mengibaskan tangannya ke arah Danastri.
Serangkum cahaya pelangi melesat ke arah Danastri berasal dari kibasan Pangeran Mandaka. Walaupun hanya sebuah kibasan lengan baju namun berasal dari kekuatan sepuluh bagian yang dimiliki pangeran Mandaka. Melihat serangan itu Danastri pun bersiap untuk menangkisnya.
Blammmm..
Suara ledakan keras terdengar saat Danastri menangkis serangan. Keduanya sama-sama terjajar dua langkah kebelakang. Tapi hal ini bukan berarti tenaga Danastri berimbang dengan pangeran Mandaka. Danastri sudah menggunakan kekuatan penuh Ratu Siluman Serigala, sedangkan pangeran Mandaka hanya menggunakan delapan bagian dari dua belas bagian kekuatannya.
Pangeran Mandaka tersenyum mengejek. Ia mengambil sesuatu dari balik bajunya. Pangeran Mandaka mengeluarkan sebuah keris sakti berwarna kemerahan. Pada gagang keris itu terdapat mutiara berwarna merah. Melihat itu Danastri menjadi ketakutan, ia berniat melarikan diri, namun urung melakukannya teringat adiknya masih berada di sana.
__ADS_1
Sementara itu Pendekar Halilintar masih bersemadi mengobati dirinya sendiri. Kali ini luka dalam yang didapatnya sangat berat. Selain gabungan tenaga lawan yang memang dahsyat, ia juga harus menangkis serangan tenaga halilintarnya yang membalik. Dengan kata lain, saat bentrok tadi, ia melawan empat gabungan tenaga sakti, yang salah satunya tenaga sakti miliknya sendiri.
Ilmu membalik langit memang sangat istimewa. Walaupun ilmu itu tidak memiliki tenaga besar untuk menyerang lawan, namun ilmu sakti yang dimiliki pendekar bayangan setan itu memiliki keistimewaan mengembalikan serangan lawan. Jika saja Pendekar Halilintar tidak memiliki batu inti petir di dalam tubuhnya, niscaya suami Cempaka itu telah tewas seketika saat menerima sangat dahsyat tadi.
Pangeran mandaka merapalkan sebuah mantra dengan mengangkat kerisnya. Sebuah cahaya kemerahan memancar dari mutiara yang berada di gagang keris itu. Seketika Danastri Diam mematung saat pancaran sinar kemerahan menerpanya. Kini mata Danastri pun berubah menjadi merah menyala. Dia pun membungkuk memberi penghornatan kepada pangeran Mandaka.
“Hahaha.. jangan bermimpi kalian bisa mengalahkanku,” seru Pangeran Mandaka lantang ke arah Cempaka dan Pendekar halilintar. “Ratu Serigala habisi kedua suami istri itu! Hahaha..”
Danastri yang sudah dibawah pengaruh keris mestika yang berada di tangan pangeran Mandaka langsung menyerang ke arah Cempaka. Tentu saja hal itu tidak pernah di duga sedikitpun oleh Cempaka. Tiba-tiba sajja kakaknya berbalik menyerangnya. Mau tidak mau Cempaka pun berusaha melawan sang kakak yang memiliki kekuatan Ratu siluman serigala itu.
Diawal-awal Cempaka masih bisa melayani serangan-serangan kakaknya. Namun hingga berlalu dua puluh jurus, nampak istri pendekar Halilintar itu sudah mulai kewalahan. Beberapa kali ia harus melempar tubuhnya sambil bergulingan menghindari serangan cakar maut dari sang kakak. Melihat keadaan seperti itu pangeran Mandaka dan orang-orangnya tertawa terbahak-bahak merasa puas.
Melihat gelagat bahwa pendekar halilintar sudah mulai mengalami kemajuan dalam pengobatannya, Pangeran Mandaka tidak menginginkan hal ini terjadi. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk habis Pendekar Halilintar. Salah seorang jago silat dari pihak kerajaan melompat menuju tempat Pendekar Halilintar. Setelah berada di hadapan suami cempaka itu, iapun mengangkat tangannya bersiap memukul kepala pendekar Halilintar.
Cempaka yang sempat melihat pergerakan dari orangnya Pangeran Mandaka menjadi pecah konsentrasinya. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan sang suami. Memang seorang ahli silat yang sedang bersemadi untuk melakukan pengobatan terhadap dirinya sendiri, saat itulah ia berada dalam titik terlemah. Sedikit saja orang memberikan pukulan kepadanya, niscaya ia akan tewas seketika, atau minimal akan mengalami luka dalam yang sangat berat.
Bukkkk..
Perut Cempaka terkena tendangan keras dari Danastri akibat kelengahannya sendiri karena menghawatirkan suaminya. Perempuan yang bergelar Dewi selendang ungu itupun terlempar ke keras hingga belasan tombak. Mulutnya langsung menyemburkan darah segar. Ia pun hanya bisa terduduk, karena tak berdaya lagi akibat serangan Danastri yang dibawah pengaruh kekuatan keris di tangan Pangeran Mandaka itu.
Blaammm..
__ADS_1
Terdengar ledakan di sisi pendekar Halilintar. Terlihat dua sosok tubuh terlempar berlawanan dari tempatnya. Dua tubuh yang terlempar itu adalah milik Pendekar Halilintar dan juga penyerangnya. Rupanya saat orang yang ditugaskan Pangeran Mandaka tadi mengerahkan tenaga saktinya untuk memukul kepala pendekar Halilintar, secara otomatis tenaga sakti inti batu petir di dalam tubuh suami Cempaka itu bereaksi melindunginya. Meski begitu, tetap saja tenaga perlindungan itu sangat lemah, sehingga lawan berhasil memukul pendekar sakti itu.
Memang saat Pendekar Halilintar melakukan pengobatan dalam semadinya, seluruh tenaga sakti inti batu petir terpusat untuk melakukan pengobatan. Beruntung saat serangan tadi, masih ada sisa tenaga sakti dari inti batu petir yang melindungi tubuhnya. Sehingga walaupun kini pengobatannya gagal, dan lukanya semakin parah, namun tidak sampai merenggut nyawanya. Pendekar Halilintarpun pingsan tersungkur di tempatnya, sementara orang yang menyerangnya tewas seketika.
“Kakaang!” jerit Cempaka saat melihat suaminya terlempar lalu jatuh tak bergerak lagi.
“Hueeekk!”
Akibat jeritannya itu, Cempaka menyemburkan darah segar yang membuat perempuan itu bertambah parah luka dalamnya.
“Hahaha.. rupa-rupanya takdir menuntun kalian ke sini untuk menjemput kematian. Hari ini dan tempat ini akan menjadi akhir perjalanan hidup kalian,” ucap Pangeran Mandaka. “Prajurit, Habisi mereka berdua,” perintah Pangeran Mandaka.
“Biar aku saja pangeran yang , terutama si pendekar halilintar itu,” pinta Iblis Kalong Merah yang dibalas anggukkan oleh pangeran Mandaka.
Sementara itu, luput dari perhatian orang, terjadi sebuah perubahan pada diri Cempaka. Dari perut istri Pendekar Halilintar itu terlihat sesekali memancarkan sinar halilintar keperakan. Matanya pun berkali-kali memperlihatkan cahaya kilat. Perlahan-lahan Cempaka bangkit dari duduknya.
Bersambung..
Ditunggu dukungannya di karya saya PENDEKAR BAYANGAN DEWA, cerita ke tiga dari Trilogi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Silakan klik profil saya..
.
__ADS_1