
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
...Episode 103...
Setelah beberapa kali memutar di atas kediaman ki Jatar, burung itupun turun mendekati Bayu. Ternyata itu seekor burung Rajawali. Burung itu terbang rendah tepat di hadapan pemuda itu.
"Hati-hati kak" seru Nalini.
Burung itu terus memandangi Bayu dengan matanya yang tajam.
Wrraaakkkk... wrraaakk...
Burung rajawali bersuara dengan keras. Saking kerasnya membuat pohon-pohon di tempat itu bergerak. Sehingga banyak daun yang berjatuhan. Bahkan Ki Jatar sampai terjungkal, karenabia satu-satunya yang tak memiliki ilmu kesaktian.
Bayu tidak mengerti apa keinginan burung rajawali itu. Namun nalurinya menyuruh untuk mengangkat sikunya. Tiba-tiba saja Burung itu hinggap di lengan Bayu. Burung yang tampak.liar dan ganas itu pun berubah menjadi jinak.
"Rajawali, apa yang kau inginkan? dari mana kau berasal?" tanya Bayu sambil mengelus-elus kepala rajawali itu.
Wraaakkk... Wraakkk...
Rajawali itu kembali bersuara. Namun kali ini suara itu tidak mengandung kekuatan tenaga dalam. Sehingga tak menimbulkan akibat apapun. Sepertinya burung itu sedang berbicara dengan Bayu. Namun sedikitpun pemuda itu tak mengerti.
“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Rajawali.” Ucap Bayu.
Rajawali itupun diam. Sesaat kemudian rajawali itu terbang meninggalkan tempat itu. Sungguh cepat gerakannya. Hanya dalam sekejap burung itu sudah menghilang.
“Sungguh aneh, darimana burung itu berasal. Sepertinya ia piaraan orang sakti.” Ucap Ki Farja yang masih belum hilang rasa kaget dan kagumnya kepada Rajawali itu.
"Aku juga tidak tau ki, tiba-tiba saja dia menghampiriku."
"Apakah tidak mungkin burung itu memang peliharaanmu sebelum kau hilang ingatan." ucap ki Farja menebak-nebak.
"Entahlah." Sahut Bayu. "Kita kesampingkan dulu masalah rajawali itu ki. Baiknya kita pikirkan saja masalah besok" sambungnya lagi.
"Aku rasa untuk menghadapi pemuda itu, kemampuan Nalini saat ini sudah lebih dari pada cukup."
"Memang benar ki, asalkan Pendekar Pedang Kilat tidak turut campur dalam masalah ini niscaya Nalini yang akan menang."
Nalini yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya gadis itu sangat gugup mengingat pertarungan besok.
...***...
Hari yang di tentukan pun tiba. Nalini didampingi Ki Jatar dan Ki Farja menunggu kedatangan Pendekar Pedang Kilat dan cucunya. Untung saja kediaman ki Jatar jauh dari pemukiman penduduk yang lain. Sehingga segala berita dan tindak tanduk keluarga Ki Jatar jarang sekali orang mengetahuinya.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka menanti Randu dan kakeknya datang. Di punggung pemuda itu tergantung sebilah pedang pusaka yang mengantarkan kakeknya menjadi pendkar pedang nomor satu di utara. Bahkan mungkin apabila di laksanakan pertandingan antar pendekar pedang seluruh dunia persilatan, Pendekar Pedang Kilat lah yang akan merajainya.
Kedua orang cucu dan murid itu telah memasuki halaman rumah ki Jatar. Pada jarak sekitar lima tombak meteka pihak yang akan bertarung saling berhadap-hadapan. Nampak dari mata randu terpancar kebengisan dan perasaan dendam.
"Hai orang tua, apakah kau tidak sayang anakmu yang cantik itu berhadapan denganku. Apa kau tidak takut aku akan memisahkan kepala dan badannya" bentak Randu kepada ki Jatar dengan nada mengancam. "Apabila kau mau menggorok lehermu sendiri di sini, aku berjanji akan melepaskan putrimu. Namun tidak sahabatmu itu." sambungnya lagi seraya menunjuk Ki Farja.
"Sudahlah tak usah kau banyak mulut. Kita selesaikan hutang-piutang keluarga kita hari ini" tegas Nalini.
Sementara itu Pendekar Pedang Kilat nampak telinganya telah bergerak-gerak seperti mencoba mendengarkan sesuatu. Dahinya sampai berkerut. Sepertinya apa yang sedang dicarinya tidaj ia dapat.
"Di mana pemuda itu? tak dapat kurasakan keberadaannya" Bisik Pendekar Pedang Kilat dalam hati.
Dimanakah Bayu berada? Apakah pemuda itu benar-benar tidak ada di tempat itu? ternyata semua perkiraan Pendekar Pedang Kilat itu tidak tepat. Sebenarnya Bayu masih berada tak jauh di tempat itu. Pemuda itu sedang duduk santai di dahan sebatang pohon rindang sebelah utara tempat itu.
"Hahaha tajam juga mulutmu itu adik manis hahaha" ejek Randu.
"Kapan kita mulai?" tanya Nalini ketus.
"Hmmm... rupanya kau sudah tak sabaran untuk menjemput ajalmu nona manis. Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang"
Nalini melompat ketengah-tengah halaman depan rumahnya. Kemudian Randu menyusul dengan jarak lima tombak di hadapan Nalini.
"Mulailah duluan, dan jangan segan-segan. Karena akupun tak akan segan-segan mencabut nyawamu." ucap Randu.
"Sombong juga kau rupanya. Bersiaplah!" seru Randu.
"Hiyaaatt.."
Randu memekik hebat sambil melancarkan serangannya kepada Nalini. Sebuah tusukan di sarangkan pemuda itu ke arah dada lawan. Nalini memiringkan badannya sambil memberikan sabetan pedang ke arah punggung Randu.
Randu membungkukkan badannya menghindari tebasan Nalini. Sambil membungkun pemuda itu melakukan tebasan ke arah kaki lawannya. Dengan cepat Nalini bersalto kebelakang.
Sejenak keduanya terdiam. Mereka saling pandang seolah sedang mengukur kehebatan lawan masing-masing.
Di sisi lain, Pendekar Pedang kilat yang sedang memperhatikan pertarungan kedua orang itu dengan indra pendengarannya agak terkejut. Ia tak menyangka Nalini bisa mengimbangi gerakan cucunya. "Apakah pemuda itu yang mengajarkan putri Jatar ilmu pedang."
Sebenarnya Nalini masih menggunakan jurus-jurus pedang ajaran gurunya, ki Farja. Gadis itu pun belum menggunakan tenaga sepenuhnya. Ia masih mencoba meraba sehebat apa kemampuan lawan.
"Mengapa Nalini belum menggunakan jurus Pedang Pembelah Jagat, Farja?" Tanya ki Jatar.
"Kita lihat saja apa yang sedang direncanakan putrimu." jawab ki Farja.
Setelah cukup lama saling raba kemampuan lawan masing-masing, Nalini dan Randu mulai mengangkat pedang dan saling serang.
__ADS_1
Trang...
Traanggg...
Beberapa kali pedang mereka saling berbenturan. Setiap kali itu terjadi, Randu terlihat meringis menahan sakit. Rupanya dalam hal tenaga Randu memang berada di bawah Nalini. Sehingga setiap pedang itu berbenturan, tangan Randu menjadi kesemutan.
"Gunakan jurus-jurus pedang kilat" Bisik Pendekar Pedang Kilat kepada Randu dengan menggunakan ilmu mengirimlkan suara.
Mendengar perintah gurunya, Randu mulai bersiap menggunakan jurus Pedang Kilatnya.
Sring...
Secepat kilat Randu menebas leher nalini. Gadis itu menghindarinya melompat sedikit kebelakang. Kemudian ia balas menyerang, Secepat kilat gadis itu menerjang menebas kepala Randu. Kaget juga ia melihat kenyataan lawannya masih bisa menghindar bahkan balas menyerang dengan kecepatan yang hampir sama dengan miliknya
Sampai berlalu empat puluh jurus, tak satupun terlihat akan kalah. Keduanya melancarkan serangan-serangan yang mematikan. Bahkan kini Randu sudah menggunakan jurus ke empat dari ilmu pedang kilat.
Tranggg...
Lagi-lagi benturan terjadi. Randu terdorong tiga langkah. Sedangkan Nalini hanya satu langkah. Nampak kekesalan dari raut wajah Randu. Pemuda itu sangat kesal, karena sampai saat ini sedikitpun tak bisa menyentuh lawannya.
"Randu, gunakan jurus terakhir ilmu pedang kilat"
Kembali terdengar bisikan Pendekar Pedang kilat. Randu pun mulai meyiapkan dirinya. Di kerahkannya tenaganya sampai kepuncak. Ilmu Pedang kilat Tingkat ke lima pun siap dilancarkannya.
Bersambung...
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Salam Dunia Persilatan...
Mudah-mudahan keberkahan dan perlindungan Yang Maha Kuasa selalu bersama kita. Karya Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) mudah-mudahan bisa mendapat tempat di hati kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Jangan lupa kunjungi karya saya yang lain
Dark Hunter
Pendekar halilintar (Kisah Pertama trilogi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta)
Selanjutnya tetap dukung kisah ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA dengan memberikan like, dan komentar di bawah ini.
__ADS_1
Salam Dunia Persilatan