
Ki Jatar menjawab ledekan Tabib Merah hanya dengan sebuah dengusan. Ia tak ingin keadaan jadi runyam hanya karena masalah sepele.
"Bagaimana selanjutnya ki?" tanya Ki Jatar kepada Tabib Merah.
"Aku menduga di tubuhnya ada semacam racun yang bersarang, tapi aku tak tahu jenis apa. Biar kita coba memasukkan racun ke dalam tubuhnya, sifat racun akan berlawanan kalo bertemu racun lain." Jawab Tabib Merah.
Sekitar sepeminuman teh lamanya, racun yang di racik oleh tabib merah sudah selesai dibuat. Kemudian orang tua itu mencampurkannya kedalam cangkir teh. Lalu ia pun memberikannya kepada Nalini untuk diminumkan ke pemuda itu.
Hanya sekitar seperempat cangkir teh yang bisa masuk ke tenggorokan pemuda itu. Sisanya tumpah keluar dari mulut si pemuda. Nampak dari wajah Nalini perasaan harap-harap cemas tergambar. Matanya tak lepas dari melihat kewajah si pemuda.
Beberapa saat kemudian mulai ada reaksi. Tubuh pemuda itu tampak mengejang dan berkelojotan. Nalini yang cemas sampai-sampai memeluk tubuh ayahnya erat. Lalu tubuh pemuda itu kembali tenang, diam seperti semula. Tak lama kemudian dari tubuh pemuda itu muncul semacam butiran embun yang menguap dan tiba tiba...
Wushh...
Brakkkk...
Serangkum angin dahsyat menyebar dan menghantam semua yang ada di sana. Sehingga orang-orang yang ada di sana terpental menabrak dinding kamar. Beberapa orang diantaranya pingsan. hanya Tabib Merah dan ki Jatar saja yang masih bisa bangkit walaupun masih merasakan sakit di tubuh mereka.
Ki Jatar membangunkan anaknya yang sedang pingsan. Tak berapa lama Nalini pun siuman. Ia memegang kepalanya yang masih pening. Lalu berusaha bangun dari tempatnya terlempar.
"Apa itu tadi ki?" tanya Ki Jatar kepada Tabib merah.
"Aku juga tidak mengerti. Mungkin reaksi dari racun hebat yang mengeram di tubuhnya." Jawab Tabib merah sekenanya.
Tak lama kemudian tubuh pemuda itu mulai bergerak. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka. Seperti orang yang baru bagun tidur iapun duduk dan meregangkan tubuhnya sengan mengangkat kedua tangannya lurus keatas. Lalu kedua tangannya mengucek-ngucek matanya yang terasa berat.
"Eh... Di mana aku?" Tanya pemuda itu setelah sesaat melihat kepada orang di sekelilingnya.
__ADS_1
Semua yang ada si situ heran, geli, bercampur dongkol. Setelah satu purnama lamanya mereka merawat pemuda ini, bangun-bangun bukannya mengucapkan terima kasih malah bertanya dimana dia berada.
"Kau di rumah ku anak muda. Di rumah kepala desa Bojana." jawab ki Jatar. Siapa namamu anak muda?" tanyanya balik.
Sejenak pemuda itu terdiam. Lalu terlihat pandangannya menerawang ke langit-langit rumah. beberapa saat kemudian dia mengaduh memegangi kepalanya.
"Kenapa?" seru Nalini khawatir. Ia pun langsung menghampiri pemuda itu.
"Aaku... Siapa aaku... Aaaa..." tiba-tiba pemuda itu pingsan kembali.
...***...
Di Bukit Iblis Berkabut di sebuah tanah kosong yang cukup luas ada sekitar lima puluhan orang berkumpul. Semua orang berlutut menghadap gundukan batu mirip sebuah altar. Di atas Altar ada tiga sosok di sana, satu orang berdiri, dua orang lainnya berbaring masing-masing di sebongkah batu.
"Malam ini kita akan melakukan ritual perpindahan jiwa. Semoga Raja Iblis di Neraka sana memberkati pemujaan kita. Dan berkenan memindahkan jiwa ketua ke tubuh pemuda ini." Teriak seorang kakek berpakaian hijau yang berada di dekat altar.
"Hidup Pemimpin..."
"Hidup Penguasa Kegelapan..."
Seru orang-orang yang berlutut.
"Siapkan tiga benda pusaka. Sebentar lagi purnama akan datang di tempat kita. Saatnya ritual perpindahan kita laksanakan." perintah Kakek berpakaian hijau.
Sepasang Iblis api pun bangkit dari berlutut. Kemudian keduanya mengambil tiga buah peti kayu lalu di serahkan kepada kakek berbaju hijau.
"Letakkan di situ." perintah kakek berbaju hijau kepada sepasang iblis api menunjuk ke meja altar yang tepat berada di tengah-tengah dua bongkahan batu besar tempat diletakkannya dua tubuh manusia.
__ADS_1
Di dekat Altar memang terbaring dua sosok tubuh manusia. Satu tubuh pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun, satunya lagi kakek-kakek cacat tanpa tangan dan kaki. Si kakek terlihat masih bergerak-gerak, sedangkan tubuh si pemuda terbujur kaku mirip mayat.
Kakek berbaju hijau atau wakil pemimpin di pulau iblis berkabut itu mengambil pusaka yang berada di salah satu peti. Ternyata isinya mustika Sambung nyawa yang dulu di curi buto ireng dari Dewa Obat. Mestika itu bentuknya bulat seperti biji kelereng. namun berkilau berwarna kebiruan. Kemudian kakek berbaju hijau itu meletakkan mestika Sambung Nyawa di antara kedua kening jasad pemuda tersebut.
Tiba-tiba saja jasad pemuda yang berada di batu pembaringan yang tadinya pucat bagai mayat perlahan berubah kemerahan dan kembali seperti sosok yang hidup. Kemudian Mustika Sambung Nyawa itu melesak masuk ke dahi si pemuda. Perlahan jasad pemuda itu memancar cahaya kebiruan.
"Siapkan bejana emas!" perintah kakek berpakaian hijau lagi.
Kembali Raja Iblis Api bangkit dan menyerah bejana yang terbuat dari emas. Kakek baju hijaupun menyambut bejana itu kemudian meletakkannya di samping tubuh kakek buntung. Raja Iblis Api pun kembali ketempatnya berlutut.
"Apakah ketua sudah siap?" tanya kakek berpakaian hijau itu kepada kakek buntung yang berbaring di atas batu.
Yang ditanya hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
Kakek berpakaian hijau kembali membuka peti pusaka. Kali ini ia mengambil butiran buah dari lonceng pengikat jiwa yang ternyata adalah sebuah mutiara yang di sebut mutiara pengikat jiwa. Kakek baju hijau meletakkan mutiara itu diatas dahi kakek buntung. Tiba-tiba saja tubuh kakek buntung mengejang bagaikan orang yang sedang meregangkan nyawa.
Beberapa saat lamanya kakek buntung berkelojotan, kemudian iapun lemas dengan kepala terkulai ke kanan. Sesaat setelah itu mutiara pengikat jiwa memancarkan warna kemerahan. Cahaya itu terus menyala berkilauan. Lalu kakek berpakaian hijau menyimpan kembali mutiara pengikat jiwa ke dalam peti semula.
Kemudian ia mengambil pusaka Giok Es dari dalam peti. Diletakkannya giok es itu di batu pembaringan kakek buntung. Seketika batu itu berubah seperti gundukan es.
Kemudian kakek berpakaian hijau mengerahkan tenaga saktinya ketingkat tertinggi. Lalu dia mengangkat tangan kanannya dengan mengacungkan jari tengah dan jari telunjuk. Dari kedua jari itu sekitar terlihat cahaya keperakan membias. Dia pun mengarahkan jarinya ketubuh kakek buntung lalu menggerakkan jari itu dari atas kepala sampai kedada. Itulah Ilmu Jari Pedang.
Memang kakek berpakaian hijau itu adalah tokoh tua yang lama tak terdengar lagi namanya. Dialah si Jari Pedang.
Tiba-tiba tubuh kakek itu terbelah dari kepala sampai dada. Seketika isi kepala dan isi dada kakek buntung terlihat. Namun anehnya tak sedikit darah keluar atau tercecer dari tubuh itu. Mungkin itulah keistimewaan pusaka giok es.
Kemudian Jari Pedang mengambil jantung dan otak si kakek buntung. Lalu kedua organ tubuh itu dimasukkannya kedalam bejana Emas.
__ADS_1