Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Tarian Ghaib Pemanggil Jiwa


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 242...


Blaarrr...


Gelombang api besar memancar dari tubuh Nalini. Gadis itu begitu marah dengan orang suku api. Ia sadar bahwa mereka telah memanfaatkan keberadaannya untuk memanggil jiwa lain dari roh keramat burung api.


Puluhan  orang suku api yang mengepung Nalini terlempar beberapa tombak dengan kondisi tubuh terbakar. Dengan sigap temannya yang lain membawakan air untuk memadamkan api yang membakar tubuh mereka. Walaupun berhasil dipadamkan tetap saja luka bakar yang mereka terima tidak hilang begitu saja. Hal ini membuat nyali mereka sedikit gentar untuk berdekatan dengan Nalini.


“Cepat kalian buka gerbang gaib yang menutupi tempat ini. Kalau tidak akan ku bakar kalian semua hidup-hidup. Aku tidak ingin menjadi sesembahan kalian, karena aku manusia biasa seperti kalian. Bahkan kekuatan yang ku miliki ini tidak lebih dari kekuatan seroang mahluk, bukan dewa.”


Kembali nalini mengancam orang-orang suku api agar membuka pagar gaib yang mereka bentang. Gadis itu sangat marah saat tahu u bahwa wa ke tempat itu merekalah yang memagari dengan kekuatan gaib sehingga sulit untuk dicari dimana pintu keluarnya. Beberapa kali nalini mencoba menghancurkan pagar gaib itu dengan kekuatannya, namun selalu gagal karena pagar gaib itu sendiri tidak diketahui dimana keberadaannya.


“Den Ayu, pasrahkanlah jiwamu bersama Dewi api. Biarkan dunia ini mengalami tatanan kehidupan baru dengan berkuasanya sang makhluk Dewa. Kau tentu akan sangat berjasa kepada kehidupan manusia di muka bumi ini” ucap Empu Yudhika membujuk Nalini.


“Tatanan dunia baru apa maksudmu? Apa tatanan dunia yang dipimpin oleh seorang mahluk penuh dengan keinginan menghancurkan. Kalian semua telah ditipu oleh sisi jahat roh burung api. Sadarlah kalian!” bentak Nalini.


“Gunakan lagi irama pemanggil Dewi. Biar aku yang melakukan tarian ghaib pemanggil Jiwa untuk persembahannya.”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda dari arah belakang Empu Yudiba. Dia adalah ketua aliran penyembah Dewi api. Pemuda itu baru saja muncul dikarenakan baru pulih dari luka yang yang dialami saat bertempur melawan bayu waktu itu. Namanya Eka Wira, pemuda berusia sekitaran dua puluh dua tahun.


“Apakah ketua sudah sembuh? Tarian ghaib pemanggil Jiwa menggunakan tenaga dalam yang tidak sedikit. Memang hanya ketua yang bisa melakukan ini. Tapi apakah  keadaan ketua sudah  memungkinkan untuk melakukannya?”


“Tenang saja Empu  Yudiba. Tenagaku sudah pulih. Kita mulai sekarang saja ritual pemanggilan dewinya,” ucap Eka Wira ketua aliran penyembah Dewi Api.


“Irama Pemanggil Dewi..”


Empu Yudiba berteriak keras memberikan isyarat kepada orang-orang suku api yang memegang alat musik gendang. Tak lama kemudian para pemusik itu mulai memainkan sebuah irama. Dari perlahan irama yang dimainkan sampai Terdengar sangat nyaring. Ternyata kali ini yang mereka lakukan sangat berpengaruh pada konsentrasinya Nalini yang sedang mengarahkan kekuatan apinya untuk menyerang.


Eka Wira mulai melakukan gerakan tarian pemanggilan Dewi api. Sebuah kekuatan tak nampak mulai memancar dari tarian-tarian yang ia peragakan. Tabuhan genderang menjadi semakin kuat dan beraroma mistis. hal ini semakin mengganggu nalini. Gadis itu mulai tidak bisa berkonsentrasi lagi menyerang.


“Hahaha.. bagus.. bagus.. kalian berhasil memanggil kembali jiwa sejatiki dan membuatku kembali menguasai tubuh ini. Memang benar-benar tangguh gadis ini. Bahkan dia bisa beberapa kali memenangkan pertarungan  kami di alam jiwa.”


Tiba-tiba gadis itu  tertawa menyeramkan kemudian memuji apa yang dilakukan oleh orang-orang suku api palsu. Rupanya kini yang menguasai raganya Nalini Adalah roh keramat burung api kembali. Senyuman roh keramat burung api yang berada dalam tubuh gadis itu menunjukkan sebuah kepuasan. Lalu dengan kibasan kedua lengannya ia memadamkan api-api yang membakar akibat serangan Nalini tadi.


Semua orang suku api berlutut di hadapan roh burung api yang menamakan dirinya sebagai Dewi api itu. Melihat hal itu Dewi api  semakin puas dan senang. Ia pun menyuruh semua orang yang ada disana bangkit dari berlutut nya. Kemudian Dewi Api turun dan kembali menapak di tanah.


“Dewi, sepertinya batin gadis itu semakin kuat. Irama pemanggil Dewi yang biasa dilakukan tidak dapat membuatnya hilang kesadaran. Baru setelah ketua aliran melakukan tarian ghaib berhasil membuat gadis itu tak sadarkan diri,” tebak Empaku Yudiba.

__ADS_1


“Kau benar sekali Yudiba. Gadis yang bernama Nalini itu semakin kuat jiwanya. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di alam jiwa sehingga dia mengalami kemajuan. Akan lebih berbahaya lagi apabila dia bertemu dengan pemuda yang menguasai ilmu tujuh gerbang alam semesta itu. Dengan mudah pemuda itu menggunakan kekuatannya mengunci jiwa sejatiku.”


“Apakah tidak ada cara lain yang membuat Gadis itu benar-benar lenyap, Dewi? Sehingga kita tidak khawatir lagi dengan perlawanan yang ia lakukan.” tanya Eka Wira ketua aliran penyembah Dewi Api.


“Tentu ada! Yaitu dengan menggunakan  mustika lonceng pengikat jiwa. Dengan mestika itu kita bisa memindahkan jiwanya ketubuh orang lain. Hanya saja aku tidak mengetahui Di mana keberadaan mestika lonceng pengikat jiwa itu,” ungkap Dewi Api.


“Rupanya seperti itu, Aku pun pernah mendengar khasiat dari lonceng penyakit jiwa. Sebenarnya bukan loncengnya itu yang menjadi mustika melainkan dua biji mutiara yang menjadi batu pemukul lonceng. Kalau aku tidak salah mustika ini berada di negeri Selatan. Hanya saja siapa yang menjadi pemiliknya Aku tidak tahu,” ucap Empu Yudiba.


“Bagaimana kalau aku pergi ke selatan  mencari di mana keberadaan lonceng pengikat jiwa itu. Ini mungkin cara kita satu-satunya agar bisa membuat Dewi menguasai tubuh gadis ini. Mungkin aku bisa sambil mencari keberadaan Putri keturunan Raja itu. Jadi kita bisa melaksanakan dua rencana sekaligus apabila satu sudah berhasil maka yang satunya bisa kita abaikan,” Usul Eka Wira.


Sejenak semua diam memikirkan apa yang diucapkan oleh Eka Wira. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dewi api sendiri membenarkan apa yang yang dipikirkan oleh Eka Wira tersebut.


“Memang cara itu adalah cara yang paling baik untuk dilakukan. Ibarat bahasa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Hanya saja bagaimana jadinya apabila tanpa kehadiran ketua tiba-tiba saja Gadis itu berhasil kembali merebut raganya dari jiwa Dewi api. Tentu kami tidak bisa melakukan ritual pemanggilan dewi tanpa ketua.” sahut Empu Yudiba setelah lama suasana menjadi hening.


“Ahh.. kau benar sekali empu Yudiba. Kenapa aku tidak memikirkan sampai ke sana. Saat ini ritual pemanggilan Dewi hanya bisa dilakukan dengan menggabungkan tarian gaib pemanggil Dewi yang kumiliki dan tabuhan gendang irama pemanggil Dewi para penabuh gendang,” sahut Eka Wira yang sadar akan kekeliruan usulannya.


Bersambung..


Jangan lupa like dan komentar biar Author nulisnya tambah semangat!💪

__ADS_1


__ADS_2