
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 155...
“Hmmm.. menimbang dari ceritamu itu paman patih, kita masih punya kesempatan untuk menghabisi pemuda itu. Hanya saja kita harus mencari kesempatan saat pemuda itu lengah, agar mudah menghabisinya.” Ucap Raja Selatan.
“Kapan kita melakukannya yang mulia?”
“Yang Pasti tidak sekarang. Pedang Penguasa Naga tak akan mampu menjelma menjadi naga emas sampai sepuluh hari kedepan. Kekuatannya akan melemah selama sepuluh hari apabila bertemu kekuatan yang mampu membuat wujud naganya kembali menjadi wujud pedang.” Sahut sang Raja. “Untuk sementara kita kembali dulu ke istana. Tapi kirim orang untuk mengawasi gerak-gerik pemuda itu.
Setelah mengatur semua rencana yang akan dijalankan kedepan, Raja Selatan dan para bawahannya itu kembali pulang ke istana. Tanpa mereka sadari segala percakapan mereka di dengar oleh seseorang yang telah bersembunyi tak jauh dari tempat mereka beristirahat tadi. Sebenarnya orang itu telah ada sebelum Raja Selatan dan anak buahnya datang ke tempat itu.
“Sebaiknya aku peringatkan tuan Rajawali Merah untuk berhati-hati.” Ucap orang tadi. Kemudian orang itupun melesat pergi meninggalkan tempat itu.
...***...
Di desa yang bernama Desa Taruma Saka, tidak seperti biasanya sudah tiga hari ini kedatangan banyak orang-orang dunia persilatan. Bukannya merasa khawatir dengan kedatangan mereka, Keadaan itu justru menguntungkan para penduduk di sana. Rumah penginapan yang biasanya sepi menjadi penuh. Sampai rumah makan saja terjadi antrian.
Di Desa Taruma Saka terdapat salah satu perguruan besar dunia persilatan negara Selatan. Perguruan bernama perguruan Jari Sakti. Perguruan ini dipimpin oleh seorang lelaki berumur lima puluh tahunan lebih yang bernama Ki Anggaradaha. Atau yang dikenal dengan julukan si Jari Malaikat.
Keramaian yang terjadi di desa itu memang ada hubungannya dengan Perguruan Jari Sakti. Lima hari kedepan akan ada acara perayaan ulang tahun perguruan besar tersebut. Para sahabat kerabat dari Jari Malaikat pun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat.
Walaupun keadaan yang ramai itu membawa berkah bagi para pengusaha rumah makan dan penginapan, bahkan bagi penduduk di desa itu, tak sedikit juga kehadiran mereka orang-orang persilatan membawa musibah. Perkelahian mereka antar orang-orang persilatan tidak sekali dua menyeret penduduk sekitar menjadi korban. Karena yang datang kesana bukan hanya aliran putih, tak sedikit dari aliran hitam datang. Bukan karena diundang, melainkan karena memang ingin mengacau.
Seperti kejadian hari ini di rumah makan yang jaraknya tak begitu jauh dari letak perguruan Jari Sakti. Saat itu dua orang murid utusan perguruan Macan Putih sedang makan di sebuah rumah makan, tiba-tiba saja seorang laki-laki bertubuh besar bersuara nyaring menyindir keberadaan mereka. Laki-laki besar itu berusia sekitar emoat puluh tahunan. Ia menggunakan pakaian tak berlengan mirip sebuah rompi yang terbuat dari kulit serigala.
“Hmmm.. rupanya si macan peot itu benar-benar sudah ompong dan dekat dengan akhirat sehingga mengutus dua orang muridnya yang masih ingusan yang belum punya taring.” Sindir silelaki besar sambil matanya menatap sinis ke arah dua orang murid perguruan macan putih itu.
“Heiii.. apa maksud perkataan mu itu manusia besar. Apakah kau menyindir kami dan guru kami?” bentak Sudika yang termuda diantara murid utusan perguruan macan putih itu.
__ADS_1
“Siapa bilang aku menyindir. Aku mengatakan hal benar tentang orang tua pengecut itu. Dia telah berjanji padaku akan bertemu dan menyelesaikan hutang nyawa di antara kami kemarin. Ternyata macan ompong itu tidak datang.” Sahut Si lelaki besar.
“Hmmm.. apakah kau yang bergelar Serigala Bangkok bukit duri?” tanya Ramaji murid utama perguruan macan putih. Nampak lelaki berusia tiga puluh lima tahunan ini lebih tenang dari adik seperguruannya.
“Hmmm.. kenal juga kau rupanya denganku.” Sahut Serigala Bangkok Bukit Duri.
“Ketahuilah.. guru kami sudah tiga hari yang lalu meninggalkan padepokan untuk menemuimu di Bukit Duri. Bukan kah kau sepertinya yang pengecut disantroni kediamanmu malah kabur ke sini.” Ungkap Ramaji.
“Bedebah kau macan ingusan. Tajam rupanya lidahmu itu. Sudah tiga harian aku menunggu gurumu macan ompong itu, namun tak datang-datang hingga aku putuskan ke sini saja mencari dia.”
“Alasan kau saja, bilang saja sebenarnya kau melarikan diri dari guru kami.” Ejek Sudika.
“Kurang Ajar!”
Brakkk..
“ku jangan menyesal jika robek mulut ceriwismu itu bocah.”
Beberapa orang penduduk biasa dan orang yang berkemampuan rendah langsung meninggalkan tempat itu melihat perbuatan Serigala Bangkok. Mereka khawatir terbawa-bawa masalah dan bakalan mengancam nyawa mereka. Sedangkan pemilik warung bersembunyi di balik meja tempat menerima pesanan.
Kini di tempat itu hanya tersisa empat meja yang masih ada orangnya. Meja Serigala Bangkok itu sendiri, meja dua orang murid perguruan macan putih, meja sepasang remaja yang lelakinya menggunakan pakaian serba merah dengan mantel jubah sedangkan perempuan menggunakan pakaian serba putih, dengan mantel jubah biru muda. Sedangkan meja yang satu lagi ditempati seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan menggunakan pakaian serba hitam.
“Adik, mari tinggalkan tempat ini, jangan sampai serigala besar otak kecil itu menghancurkan tempat ini gara-gara kita.” Ajak Ramaji Kepada Sudika.
“Baik kakang. Sulit juga meladeni orang yang otaknya seperti otak udang ini, kakang. Lebih baik kita yang waras yang mengalah.” Sahut Sudika.
Baru saja Ramaji dan Sudika akan bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba dua buah pecahan kendi arak melayang ke arah mereka. Keduanya kemudian merunduk sehingga serangan berupa lemparan benda itu hanya lewat diatas kepala mereka.
“Bangsat kau bocah-bocah berani mengataiku otak udang.” Geram Serigala Bangkok.
__ADS_1
Kali ini Serigala Bangkok mengangkat meja yang ada di hadapannya. Ia melemparkan meja di tangannya ke arah dua orang murid perguruan macan putih. Melihat meja melayang ke arah mereka, keduanya menarik nafas dalam kemudian menangkap meja itu. Indah sekali gerakan yang mereka lakukan, meja itu dapat di tangkap tanpa menyebabkan kerusakan.
“Otak udang, sebaiknya kita selesaikan di luar saja.” Teriak Ramaji sambil melesat bersama adik seperguruannya ke luar rumah makan.
“Bedebah busuk mau lari kemana kalian, kalau sampai aku dapatkan akan kubuat kalian menjadi perkedel.” Geram Serigala Bangkok Bukit Duri sambil melompat keluar rumah makan.
Sekitar tiga puluh tombak dari rumah makan, kedua murid perguruan macan putih menghadang. Sementara serigala Bangkok bergerak cepat meluruk kearah mereka.
Sreettt..
“Auu”
Sudika yang tak menyangka datang serangan Serigala Bangkok yang begitu cepat, terkena cakar yang dilancarkan oleh Serigala Bangkok Bukit Duri. Sementara Ramaji berhasil menghindari jurus cakar manusia besar itu. Untung saja luka cakar yang didapat Sudika tidak dalam.
“Bangsat kau serigala bangkok, terimalah seranganku.” Pekik Sudika.
Sudika membalas Serigala Bangkok dengan cakar macan putihnya. Pemuda itu melesat menyerang lawannya dengan cakar macan putih andalan perguruannya. Walaupun sudah menggunakan jurus-jurus andalan perguruannya, sulit bagi Sudika menyentuh lelaki besar yang menjadi lawannya.
Bersambung...
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1