Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.194. Rencana Malaikat Putih


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 194 ...


 “Kakek Bargawa, bagaimana ceritanya kau bisa ada di sini?” tanya Bayu memulai pembicaraan setelah mereka bertiga memilih sebuah meja dan memesan makanan yang diinginkan.


“Cuma kebetulan saja tuanku. Setelah lama menunggu di desa Bojana kalian tidak datang, aku bermaksud menyusul kalian ke pulau es. Namun saat berada di negeri selatan ini aku mendengar cerita sepak terjang tuan, dan berkesimpulan pelaku yang mendalangi kejadian itu sudah diketemukan.


Mendengar akan adanya pertemuan para pendekar di bukit Benteng Dewa untuk memilih ketua dunia persilatan di negeri selatan ini akupun berencana kesana. Aku berpikir tuan juga akan ke sana, sehingga rencanaku semula hendak menyusulmu ke Lembah Neraka aku urungkan. Saat hendak beristirahat di penginapan ini aku melihat kalian berdua hendak masuk.” Tutur Bargawa atau Raja Kelabang.


“Kau memang benar kek. Aku memang hendak pergi ke Benteng Dewa. Beberapa orang anggota Istana Lembah Neraka juga aku perintahkan untuk ke sana. Tidak ikut dalam perhelatan hanya melihat-lihat perkembangan yang terjadi.” Ucap Bayu.


Saat sedang asik mengobrol sambil menikmati hidangan, dua orang lelaki masuk kedalam rumah makan. Satu orang lelaki berpakaian cokelat tua dengan usia kurang lebih empat puluhan. Sedang yang satunya seorang lelaki yang entah berapa usianya. Seluruh rambut, jenggot, dan alisnya berwarna putih, selaras dengan pakaian yang dipakainya. Mereka tak lain adalah Raga Lawing dan Malaikat Putih.


Kebetulan sekali saat itu Bayu dan intan membelakangi pintu masuk yang berhadapan posisinya dengan Raja Kelabang. Sehingga kehadiran Raga Lawing dan Malaikat Putih hanya dilihat oleh Raja Kelabang yang bernama Bargawa itu. Meskipun tak melihat secara langsung, Bayu dan Intan dapat merasakan hawa manusia setengah siluman masuk ketempat itu.


Bayu dan Intan seketika menenggelamkan tenaga sakti mereka supaya tak bisa dirasakan oleh orang lain. Hal ini mereka lakukan supaya tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Terutama orang-orang yang memiliki tingkat kesaktian yang tinggi.


“Apakah tuan mengenal mereka yang datang?” tanya Bargawa dengan cara berbisik melihat Bayu tiba-tiba menyembunyikan kekuatannya.


Bayu hanya mengangguk  menjawab pertanyaan Bargawa. Lelaki yang bergelar Raja Kelabang itupun mengerti akan maksud dari sikap diamnya Bayu. Raja Kelabang tak lagi meneruskan kata-katanya. Iapun kembali makan menikmati hidangan di depan meja.


“Apakah kita memang harus mengikuti  sayembara pemilihan ketua dunia persiatan itu eyang?” tanya Raga Lawing kepada Malaikat Putih.

__ADS_1


Pada dasarnya Malaikat Putih merupakan salah satu guru dari Raga Lawing. Bisa dikatakan tokoh setengah siluman setengah manusia itu merupakan guru utamanya. Hanya saja malaikat putih enggan dipanggil guru oleh Raga Lawing. Sehingga lelaki itu memanggil gurunya dengan sebutan Eyang.


“Ini salah satu cara kita menghimpun kekuatan dan mendapat dukungan dari kawan-kawan dunia persilatan. Dengan mendapatkan dukungan mereka kekuatan kita akan bertambah jauh lebih besar.” Jawab Malaikat Putih.


“Tapi Eyang, dengan kemampuanku sekarang rasanya mustahil untuk memenangkan pertandingan nanti. Ada banyak pendekar-pendekar sakti di Negeri Selatan ini. Tidak menutup kemungkinan mereka hadir mengikuti pemilihan itu eyang.”


“Tenanglah Raga Lawing, saat pertarungan nanti apabila lawanmu lebih tangguh aku akan merubah diriku menjadi siluman naga putih dan masuk ke dalam tubuhmu.” Sahut Malaikat Putih.


Mendengar ucapan gurunya Raga Lawing sedikit lega. Iapun yakin dipertarungan nanti dapat mengungguli semua lawannya. Dengan bantuan Malaikat Putih ia anggap tak ada satupun yang mampu menandingi kekuatan gurunya tersebut. Raga Lawing dan Malaikat Putihpun meninggalkan rumah makan setelah selesai bersantap.


“Siapakah mereka tuan?” tanya Raja Kelabang kepada Bayu setelah Raga Lawing dan Malaikat Putih meninggalkan tempat  itu.


“Yang aku tahu yang lelaki berbaju cokelat adalah kepala pemberontak bernama Raga Lawing. Menurut cerita ia merupakan anak Panglima kerajaan yang ayahnya telah dihukum mati karena menentang kebijakan raja. Sedangkan lelaki yang berpakaian serba putih itu adalah pendekar legenda yang bergelar Malaikat Putih.” Jawab Bayu.


“Ia tidak menghilang. Hanya mengundurkan diri dan mengabdi pada kerajaan selatan. Lalu karena perbedaan pemikiran dengan raja yang sekarang, iapun memilih berjuang bersama pemberontak.” Sahut Bayu yang mengetahui cerita itu dari beberapa pendekar yang ditemuinya.


Setelah  lama mengobrol, merekapun memutuskan beristirahat dan memesan tiga buah kamar di rumah makan sekaligus penginapan itu.


Keesokan harinya Bayu, Intan dan Bargawa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kuda masing-masing. Kali ini untuk menghindari perhatian orang, mereka menggunakan pakaian biasa untuk menyamar. Bayu menggunakan pakaian putih, begitu juga Intan, bahkan Raja Kelabang yang biasanya memakai pakaian khas hitam menggunakan pakaian putih-putih juga.


Trangg.. trangg..


Terdengar suara pertempuran dari kejauhan. Bayu dan yang lainnya memperlahankan lari kuda mereka. Kemudian pemuda itu menggunakan ilmu Jagad Netra untuk melihat jauh kedepan.

__ADS_1


“Pasukan Kerajaan sedang bertarung dengan pasukan yang lain. Masing-masing pihak terdiri dari sekitar tiga puluhan. Nampaknya pihak kerajaan sudah mulai terdesak.” Ucap Bayu memberikan gambaran akan keadaan di depan.


Ketiganya kembali menggebah kudanya dengan cepat. Tak berapa lama mereka sudah berada dekat dengan posisi pertarungan. Nampak pasukan kerajaan sudah mulai terpojok. Seorang pemimpin dari pasukan kerajaan  mengangkat bendera berwarna putih tanda menyerah.


Serempak semua pasukan kerajaan melepaskan senjata lalu berlutut. Seketika pasukan lawan mengambil posisi di belakang para pasukan yang menyerah dengan menghunuskan pedang ke leher mereka. Pemimpin pasukan lawan tertawa penuh kemenangan.


“Bagi kami tidak ada istilah menyerah. Menyerah berarti mati. Karena kalian menyerah, maka bersiaplah menghadapi kematian.” Ucap sang pemimpin pasukan lawan.


“Tidak ada peraturan seperti itu. Menyerah berarti menjadi tawanan. Mengapa kalian tetap ingin membunuh kami disaat kami sudah menyatakan kalah dan menyerah. Di manakah kegagahan kalian yang berjuang mengatas namakan Rakyat.” Protes sang pemimpin pasukan kerajaan.


“Hahaha peraturan perang dibuat oleh manusia sendiri. Jadi apapun peraturan perang bisa saja berubah. Bagi kami kemenangan adalah kematian pihak kalian.”


“Kalau begitu penggal lah aku, tapi lepaskan para prajurit yang tak bersalah itu. Mereka hanya menjalankan perintah.” Ucap sang pemimpin pasukan kerajaan.


Tak jauh dari tempat peperangan  kecil itu, Bayu dan dua orang lainnya mendengarkan semua percakapan antara kedua belah pihak. Terbesit rasa kekaguman pemuda itu pada kegagahan sang pemimpin pasukan kerajaan. Ia siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan anak buahnya. Walau di sisi lain keputusan menyerah terhadap lawan itu seperti seorang pecundang.


“Anak-anak habisi mereka semua!” perintah pemimpin pasukan lawan.


Serentak semua pasukan mengangkat pedang mereka. Lalu mereka mengayunkan pedang ke arah leher para prajurit kerajaan. Para prajurit hanya pasrah dan memejamkan mata mereka.


**Bersambung..


Jangan lupa, like dan komen**

__ADS_1


__ADS_2