
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 154...
“Heyy.. mereka kabur!” Seru Pranggala. Ia pun berdiri hendak mengejar. Namun tangan seseorang menahannya untuk tidak beranjak.
“Kita lihat keadaan ketua dulu. Sepertinya ketua tidak berada dalam kesadaran penuhnya.” Ucap Pendekar Tongkat Emas yang memegang tangan Pranggala tadi.
Sementara itu Nalini sudah menghampiri Bayu yang perlahan turun menjejakkan kakinya ke tanah. Cahaya putih terang yang memancar dari tubuhnyapun sedikit demi sedikit mulai memudar. Sementara mata Bayu terlihat kembali terpejam.
Setelah menapakkan kakinya di tanah, seluruh cahaya terang yang memancar dari tubuh Bayu lenyap. Perlahan pemuda itu membuka matanya. Ia merasakan tenaga dan semangatnya telah kembali pulih. Bahkan ia merasa tenaga saktinya seperti telah bertambah.
“Bagaimana keadaanmu kak?” tanya Nalini.
“Lebih baikkan.” Sahut Bayu. “Mana orang-orang bertopeng tadi?” tanyanya lagiAgaknya iya memang tidak menyadari apa yang terjadi barusan.
“Mereka sudah pergi ketua.” Sahut Pranggala yang kini sudah berada di dekat Bayu.
“Pergi? Syukurlah.. Aku kira kita akan berakhir di sini. Bagaimana bisa mereka pergi padahal kemenangan di depan mata.”
Sesaat semua diam. Pranggala, Nalini dan yang lainnya saling pandang. Mengertilah mereka kini bahwa kejadian tadi benar-benar tak di sadari Bayu. Padahal dia sendiri yang mengalahkan lawan hingga terpaksa pergi melarikan diri.
“Ketua.. sebenarnya kau sendiri yang mengalahkan mereka.” Ucap Pranggala memecah kebisuan.
“Aku?” tanya Bayu terkejut.
“Ya ketua. Kau mengalahkan mereka dengan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke enam. Gerbang Cahaya.”
Pranggala pun menceritakan secara singkat kejadian tadi. Di mana Bayu telah mengalahkan orang bertopeng dengan menggunakan tenaga saktinya. Bayu mendengarkan dengan seksama hingga akhir cerita.
__ADS_1
“Ah.. entah kenapa aku tidak merasakan sama sekali. Aku hanya merasa tiba-tiba berada di sebuah tempat yang hanya terlihat cahaya terang benderang. Sehingga sempat aku berpikir bahwa aku telah berada di alam kematian.” Ucap Bayu menceritakan apa yang ia alami.
Sesaat pemuda itu tenggelam dalam pikirannya. Kini ia tau dalam tubuhnya mengeram tenaga dahsyat dari gerbang ke enam Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Hanya saja ia merasa tidak tau bagaimana cara menggunaka tenaga itu.
Setelah berunding dengan ketiga anak buahnya akhirnya Bayu dan Nalini melanjutkan perjalanan menuju Pulau Es. Sedangkan Pranggala dan dua orang lainnya kembali ke Lembah Neraka. Adapun mengapa bisa sampai ke tiga orang itu berada di sana saat Bayu bertarung tadi, memang anak para buah Bayu itu berniat melaporkan sesuatu hal yang penting pada Bayu. Salah satunya tentang keberadaan banyak Prajurit kerajaan di sekitar desa yang berdekatan dengan Lembah Neraka.
Di tempat lain, kelima orang bertopeng yang lari saat sang pemimpinnya mengalami kekalahan telak dari Bayu, sedang beristirahat. Nampak kelima orang itu sudah tak lagi mengenakan topengnya. Dan yang mengejutkan ternyata orang-orang itu tidak lain adalah Raja dari kerajaan Negeri Selatan bersama anak buahnya.
“Tak kusangka pemuda itu ternyata sudah menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta Tingkat Ke enam. Gerbang Cahaya. Benar-benar akan menjadi musuh yang tangguh buat kita.” Desah Raja Selatan.
“Yang Mulia.. apakah Ilmu itu memang tidak ada yang bisa mengalahkannya?” Tanya Maruta yang merupakan pengawal pribadi raja itu.
“Hahahaha. Maruta.. Maruta. Bukankah kau merupakan seorang dari dunia persilatan. Sedangkan aku adalah seorang raja yang dari kecil hidup di istana. Seharusnya aku lah yang menanyakan hal itu padamu.” Sahut Raja sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mendengar jawaban Rajanya, Maruta tertunduk. Pemuda itu tidak berani membantah perkataan itu. Walaupun ia tau, bahwa benar sang Raja bukan orang dunia persilatan, namun majikannya itu banyak menimba ilmu kesaktian dari tokoh tokoh dunia persilatan baik dari aliran hitam maupun putih. Bahkan itu di lakukan sejak sang Raja masih kecil.
“Entahlah Maruta. Apakah ada ilmu kesaktian yang melebihi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta aku sendiri tak mengetahuinya. Bisa jadi ilmu itu memang ilmu tertinggi yang dikaruniakan dewa untuk manusia. Diatas kekuatan itu hanya kekuatan dewa adanya.”
“Selama orang itu masih bernama manusia, selalu ada kelemahan dan kekurangannya Maruta. Namun yang pasti kesaktiannya saat ini tidak ada manusia lain yang menandingi. Kau sendiri menyaksikan bukan, bagaimana pedang penguasa naga dibuat tidak berkutik. Sampai-sampai ia terpaksa kembali berubah wujud menjadi pedang, kalau tidak tentu naga emas akan lenyap dari muka bumi ini.”
“Maafkan hamba yang mulia ikut bicara. Setahu hamba Pedang Penguasa Naga merupakan jelmaan dewa naga yang sangat kuat, bagaimana bisa dewa naga kalah dengan kekuatan manusia.” Ucap tanya anak buah raja yang lain.
“Hmmm.. aku memang mengetahui kabar itu. Namun kebenarannya aku tak mengetahui secara pasti. Kenyataannya pedang itu takluk dengan tingkat ke enam ilmu kesaktian pemuda iu. Sedangkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta memiliki 7 tingkat.”
Keempat anak buah Raja terdiam. Mereka merasa ngeri sendiri mengingat kesaktian pemuda yang menjadi lawan mereka. Tingkat ke enam yang dimilikinya saja sudah mengalahkan kekuatan Penguasa Naga, entah bagaimana kekuatan tingkat ke tujuh ilmu tersebut.
“Yang aku tak mengerti, entah kenapa pemuda itu tidak langsung mengerahkan kekuatan gerbang ke enamnya saat aku mulai menggunakan pedang penguasa naga. Sampai-sampai dia rela menerima luka dalam yang tak ringan akibat terkena serangan naga emas itu.” Ucap Raja.
“Karena dia memang tidak mengetahui caranya.”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara sahutan dari arah kanan sang Raja. Sekitar tiga puluh tombak dari tempat mereka beristirahat, nampak seorang lelaki tua berjalan ke arah mereka. Ia tidak lain kusir kereta kuda yang ditumpangi Bayu dan Nalini.
“Apa maksudmu paman patih?” tanya Raja saat orang tua itu sudah tiba di depannya.
“Hormat kepada Yang Mulia.. Semoga Yang Mulia Panjang Umur.” Ucap lelaki yang dipanggil paman patih oleh raja itu seraya berlutut dengan satu kakinya, sedangkan kakinya nya yang lain ditekukkan kearah depan.
“Bangunlah paman patih, duduklah. Dan jelaskan apa maksud ucapanmu tadi.” Ucap Raja tak sabaran.
“Yang Mulia. Saat kalian meninggalkan tempat pertarungan tadi aku masih di sana. Kemudian aku mendengarkan beberapa percakapan mereka. Salah satunya mengenai pemuda itu yang tadi tidak sadar telah menggunakan kekuatannya mengalahkan jelmaan pedang penguasa naga.” Orang yang dipanggil paman patih itupun menceritakan secara jelas apa yang dilihatnya dan didengarnya saat masih berada di tempat pertarungan tadi.
“Mohon maaf guru, mengapa guru meninggalkan pemuda itu. Bukankah dengan cara tetap menjadi kusir kereta pemuda itu dapat dengan mudah mengawasinya. Bahkan mungkin bisa mencari kesempatan menghabisi pemuda itu saat ia lengah.” Tanya Maruta kepada patih kerajaan yang sekaligus gurunya tersebut.
“Tau apa kau Maruta. Saat orang menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke enam, ia memiliki kemampuan melihat sekecil apapaun energi yang ada di sekitarnya. Bahkan yang tersembunyi sekalipun. Walaupun aku mampu mengelabui orang lain dengan menyembunyikan tenagaku, tapi tidak kepada pemuda itu. Aku khawatir apabila ia menggunakan ilmu itu, penyamaranku akan di ketahuinya.” Sahut Patih Ramandha sedikit tidak senang dengan ucapan muridnya.
Bersambung...
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1