Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Raja Selatan Turun Tangan


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...


...Episode 278...


 


“Maung Geni!” Gumam Jaka.


“Hahaha.. rupanya kau masih mengenali aku pendekar halilintar, dan sepertinya takdir mempertemukan kita lagi di sini. Mungkin kita diberi kesempatan menyelesaikan hutang piutang di antara kita agar tak ada lagi perasaan tidak puas. Kali ini tak akan ada yang mampu bangkit lagi apa bila ada satu di antara kita yang tewas. Dan bersiaplah kau menjadi orang itu,  hahaha..” ucap Maung Geni.


“Hmmmm.. kau kira aku takut denganmu. Bukan kah dulu kau pernah ku kirim ke neraka? Tidak ada sulitnya untuk aku mengembalikanmu lagi ke neraka,” dengus Jaka.


“Bedebah kau Pendekar Halilintar. Kau kira aku maung geni  yang sekarang ini sama saja dengan yang dulu, mudah kau kalahkan. Asal kau tahu,  sekarang aku sudah sepenuhnya menyatu dengan Raja Siluman Harimau,” bentak maung geni.


Maung geni yang gusar oleh ucapan Pendekar merapal sebuah mantra. Tiba-tiba tubuhnya bagian pinggang ke atas berubah menjadi harimau belang. Tubuhnya pun memancarkan sinar ke emasan. Hal ini tentu saja mengejutkan Jaka yang memang pernah bertarung dengannya sepuluh tahun yang lalu.


Jaka pun tak mau kalah, sadar akan perubahan lawan pendekar halilintar itu tidak mau tanggung-tanggung lagi. Iya langsung mengerahkan tenaga sakti inti batu petir tingkat terakhir. Seketika tubuhnya memancarkan sinar kilat keperakan. Bunyi menggelegar geledek terdengar setiap kali tubuh jaka memancarkan kilat besar.


“Hmmm.. rupanya Pendekar Halilintarpun telah banyak berubah,” gumam maung Geni.

__ADS_1


Keduanya pun langsung terlibat pertarungan di tempat itu. Kursi meja dan perabotan lain berhamburan porak poranda akibat serangan-serangan tenaga sakti yang meleset. Beberapa orang prajurit yang berada di sana pun mulai menjadi korban. Apabila mereka terkena sambaran halilintar Jaka, kontan prajurit itu meledak dengan tubuh tercerai berai hangus. Sementara apabila terkena sambaran tenaga maung geni, kontan mereka roboh dengan tubuh meleleh.


Di sisi lain Danastri dan Cempaka pun sudah mulai terlibat pertarungan sejak kedatangan beberapa tokoh sakti dunia persilatan yang berpihak pada kerajaan. Untuk sementara pertarungan itu pihak Cempaka dan Danastri lah yang berada di atas angin. Namun semakin lama semakin banyak jago-jago kerajaan berdatangan. Mereka langsung  membantu teman-temannya mengeroyok  kedua kakak beradik itu.


Perlahan keadaan menjadi berbalik. Kini pihak kerajaanlah yang berada di atas angin. Danastri dan Cempaka dibuat kelabakan dengan banyaknya ahli-ahli silat kerajaan yang menyerang. Bahkan  hampir saja Cempaka terkena sabetan pedang dari salah satu lawan. Tentu saja bila hal ini terus berlanjut mereka akan mendapatkan kerugian.


Melihat keadaan yang sudah tidak menguntungkan, Danastri menjadi cemas. Iapun memutuskan untuk menggunakan kekuatan siluman ratu serigala. Sesaat Danastri memejamkan matanya, tak lama kemudian ia pun mulai berubah wujud. Kuku-kuku tanannya mulai memanjang dan meruncing, seluruh tubuhnya pun mulai ditumbuhi dengan bulu. Sesaat saja tubuhnya sudah berubah menjadi manusia setengah Serigala.


Danastri melesat ke arah Cempaka yang sedang dikeroyok puluhan orang ahli silat kerajaan. Memang sebelumnya keadaan  istri pendekar Halilintar itu masih bisa bertahan dan dalam keadaan seimbang dengan para pengeroyoknya. Dengan datangnya Danastri ke Medan pertarungan, posisi di atas angin kini berada di pihak Cempaka dan kakaknya itu.


“Mardi, coba kau menghadap pangeran Mandaka, katakan pada beliau bahwa gadis Serigala itu telah berpaling ke pihak musuh,” ucap seorang lelaki berpakaian Panglima kepada salah satu prajurit.


Semenjak kedatangan kedua orang pembantu utama pangeran Mandaka, keadaan menjadi berbalik. Jaka sedikit kewalahan melayani mereka. Terutama terhadap Pendekar Bayangan Setan, beberapa kali pendekar sakti itu membalikkan tenaga pukulan yang Jaka lancarkan hingga berbalik menyerangnya sendiri.


Sebenarnya walau mereka bertiga bergabung, tenaga ketiganya masih di bawah pendekar Halilintar. Hanya saja saat pendekar sakti itu menyerang pendekar bayangan setan, tenaga saktinya yang sangat dahsyat itu berbalik menyerang dirinya sendiri. Tentu saja itu membuatnya sangat kerepotan. Pendekar Halilintar pun berpikir keras sampai iapun memutuskan menghindari bentrok dengan pendekar Bayangan Setan dan menyerang dua orang lainnya saja.


Blaaaammm..


Ledakan besar terjadi di susul terlemparnya kedua pihak yang bertarung. Bahkan mereka sampai tersungkur ke tanah. Mulut mereka  ber empat sama-sama menyemburkan darah. Jaka sedikit lebih mendingan, ia masih mampu bangkit walau agak sempoyongan, sedangkan tiga orang lawannya yang lain  terbaring tak mampu bangkit, kecuali pendekar Bayangan Setan yang masih mampu untuk duduk.

__ADS_1


Apa yang menyebabkan mereka terlempar tadi sehingga sama-sama mengalami luka dalam? Sebenarnya hal ini akibat tenaga  yang dikerahkan Jaka lalu ia pusatkan pada pukulan saktinya. Tenaga itu membalik ke dirinya sendiri. Namun karena tubuhnya  dilindungi tenaga sakti yang berasal dari batu petir di dalam tubuh, sehingga terjadi benturan dua tenaga sakti yang menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan itu membuat ke empat orang yang bertarung terlempar.


Pendekar Halilintar melihat ke arah pertarungan Istrinya dan Danastri yang melawan ahli-ahli silat dari kerajaan Selatan. Dilihatnya Cempaka dan Danastri masih berada di atas angin. Sudah lebih dari lima orang dari pihak istana yang ia robohkan. Jakapun bisa bernafas lega.


Baru Saja Jaka hendak melancarkan serangan mematikan terhadap maung geni, tiba-tiba saja  melesat sebuah bayangan berwarna keemasan. Bayangan kemasan itupun mengirimkan serangkum kekuatan berbentuk Cahaya Pelangi  ke arah Pendekar Halilintar. Dengan sigap Pendekar Halilintar menangkis serangan itu dengan tenaga sakti halilintar peraknya. Dua tenaga pun beradu.


Blaammm..


Pendekar Halilintar terdorong dua tombak dari tempatnya berdiri. Sementara bayangan kemasan tadi pun mengalami hal yang sama. Namun keduanya sama-sama masih bisa tegak berdiri sesudah memperbaiki posisinya masing-masing. Kini di hadapan pendengar halilintar berdiri Raja kerajaan Selatan.


“Hmmmm.. rupa-rupanya Pendekar Halilintar yang telah mengacaukan ketenangan istana ini. Kabarnya Kau adalah ketua dunia persilatan di negeri Selatan ini. Namun mengapa kau marah mengacaukan kerajaan tempat kau berdiri. Atau jangan-jangan kau sudah bersekutu dengan para pemberontak itu,” bentak Raja Selatan Garang.


“Maafkan aku bila telah mengganggu ketenanganmu Baginda Raja. Aku datang ke sini bukan untuk memberontak melainkan untuk menjemput saudari dari istriku. Aku sama sekali tidak ada keinginan untuk memberontak apalagi ada keterkaitan dengan para pemberontak yang kau maksud,” sahut pendekar halilintar.


“Hmmmm.. itu alasan kau saja. Apabila kau memang ingin menjemput sanak famili mu mengapa kau tidak datang baik-baik ke istana ini? Sepertinya tidak selamanya kau memang benar-benar ingin melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Selatan,” tuduh Raja Selatan.


Mendengar tuduhan dari raja kerajaan Selatan itu Pendekar Halilintar pun tidak bisa melakukan pembelaan. Apalagi benar kata Sang Raja tadi, apabila ia memang ingin menjemput keluarganya mengapa tidak datang dengan cara baik-baik. Tapi siapapun pasti tahu apabila ia melakukan hal itu, tentu tidak akan semudah yang dipikirkan. Bahkan  bisa saja dia menghadapi permasalahan yang lebih berat daripada yang dihadapinya sekarang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2