Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Kabar Gembira Untuk Pendekar Halilintar


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 276...


Jaka dan Cempaka meninggalkan penginapan untuk menemui kawan barunya yang seorang tabib. Rumah orang itu berada di ujung kota raja, hampir dekat dengan perbatasan kota Raja. Sebenarnya ia adalah sahabat lama Jaka, murid mendiang dewa Obat yang pergi meninggalkan perguruan karena tidak sejalan dengan gurunya lagi.


Namanya Ki Dierja  Jani. Lelaki berumur  empat puluh tahunan murid termuda dewa obat. Sebenarnya orang inilah yang sangat berbakat mewarisi kemampuan gurunya. Hanya saja belum  ia mewarisi seluruh kemampuan gurunya, Ki Dierja terusir dari perguruan. Hal ini dikarenakan sikap kerasnya yang tidak mendukung keputusan gurunya mendukung Raja Barat Dalam rencananya menyerang kerajaan Selatan.


“Selamat datang Pendekar Halilintar! Sebuah kehormatan besar bagiku kedatangan pendekar besar seperti anda,” sapa Ki Dirja kepada Jaka dan Cempaka ketika melihat kedatangan kedua suami istri itu.


Ketika Pendekar halilintar dan istrinya tiba di depan rumah ki Dierja, keduanya langsung disambut bekas murid Dewa obat itu. Kebetulan sekali saat ini untuk keluarga sedang berada di pekarangan rumahnya menanam tanaman obat. Nampak Jaka dan Ki Dierja sudah begitu akrab.


“Ahhh.. jangan panggil aku begitu ki, kita sesama sahabat orang persilatan tidak perlu terikat dengan nama kosong seperti itu. Cukup panggil namaku saja,” ucap Jaka seraya menjabat tangan ki Dierja.


“Hahaha, benar-benar berbudi. Sangat pantas menjadi pendekar besar.. sungguh sangat pantas” puji ki Dierja. “Mari masuk kedalam, sambil minum teh buatanku, yang ku tanam sendiri daunnya.”


Ki Dierja dan Pendekar Halilintar suami istri masuk kedalam pondokan sederhana itu. Di dalam rumah, walau tidak terlalu mewah namun keadaannya sangat tertata rapi. Terlebih ruang tamunya, semua kursi dan mejanya terbuat dari bambu yang dihias dan di warna sedemikian rupa. Keadaan di situ semakin nyaman karena wewangian yang selalu tersebar dari beberapa kuntum bunga yang di letakkan di sana.


“Silakan duduk! Aku ke dalam dulu mengambilkan minum.”


Jaka dan Cempaka duduk di tempat yang telah disediakan setelah dipersilahkan oleh ki Dierja.  Ki dierja sendiri masuk ke dalam menyiapkan hidangan untuk kedua suami isteri itu.


Tak menunggu berapa lama Ki Dierja muncul membawakan senampan hidangan. Kemudian murid dewa obat itupun menyusun hidangan yang ia bawa di atas meja. Hidung Jaka dan Cempaka Kembang kempis mencium bau harum dari teh yang disuguhkan.


“Silakan diminum!” ucap Ki Dierja mempersilakan.

__ADS_1


Di meja telah tersuguh dua gelas kecil teh, jamur goreng, dan kue-kue kering lainnya. Memang terlihat sederhana namun aroma yang menyebar sangat harum menggugah selera. Jaka dan Cempaka langsung menyambar dua gelas teh yang dari tadi membuat mereka penasaran.


Sesaat setelah suami istri Pendekar Halilintar dan Cempaka meneguk teh di dalam cangkir, mereka merasakan sesuatu yang berbeda dari teh biasa. Tenaga sakti di dalam tubuh mereka terasa begolak, semangat merekapun terasa berkobar. Entah apa ramuan yang di campur ki Dierja dalam teh yang di suguhkan.


“Luar biasa ki. Ramuan apa yang kau campur di dalamnya? Bukan hanya segar dan enak diminum namun juga membangkitkan semangat bertarung membuat tenaga sakti di dalam tubuh bergolak,” tanya Jaka.


“Yang kau minum tadi adalah teh langka yang berhasil ku budidayakan di pekarangan rumahku. Teh ini berkhasiat memulihkan kembali tenaga dalam seseorang yang banyak terkuras setelah ia bertarung ataupun karena hal lainnya. Kalau di minum oleh orang yang dalam keadaan biasa, bisa menambah kejuatannya, walau hanya sementara.” ucap Ki Dierja menjelaskan.


“Wahh.. sungguh beruntung kami mera..”


“Akkhhh..”


Brakkk...


“Cempaka! Apa yang terjadi?” teriak Jaka yang mencemaskan keadaan istrinya.


Saat itu Cempaka melayang di udara. Matanya memancarkan sinar berkilatan berbentuk halilintar. Pendekar halilintar yang khawatir melesat ke udara menghampiri istrinya. Namun baru saja ia hendak menyentuh istrinya, sebuah halilintar yang berasal dari tubuh cempaka menyambarnya. Mau tidak mau pendekar halilintar membuang diri ke samping menghindari sambaran Halilintar yang sangat tiba-tiba itu.


Blammmm..


Ledakan dahsyat terjadi saat halilintar menyambar tanah kosong di bawah. Nampak lubang besar terbentuk akibat sambaran halilintar itu. Ki Dierja yang baru saja muncul sampai-sampai terlongo melihat kekuatan yang di pancarkan cempaka.


“Apa itu? Apakah ia sedang kesurupan Iblis? Kekuatan yang benar-benar dahsyat,” gumam ki Dierja.


Setelah sepeminuman teh berada di udara, akhirnya  Cempaka meluruk jatuh ke bawah seiring sirnanya kekuatan halilintar yang memancar dari tubuh Istri Pendekar Halilintar itu. Melihat Cempaka akan jatuh, Jaka langung melesat menyambar tubuh istrinya itu. Saat itu Cempaka dalam keadaan tidak sadaran diri.

__ADS_1


“Bawa ke kamar tamu Jaka!” perintah ki Dierja kepada Jaka.


Jaka pun membawa istrinya ke kamar tamu yang dimaksud di ikuti oleh ki Dierja. Setelah mendapatkan izin dari Pendekar Halilintar, ki Dierja memeriksa cempaka. Beberapa kali terdengar decak kagum dari mulut ki Dierja saat memeriksa Cempaka.


“Selamat Jaka, istrimu sedang mengandung. Bahkan ia sudah mengandung tiga bulan,” ucap Ki Dierja.


Walaupun sudah menebak bahwa istrinya telah hamil, tetap saja apa yang diucapkan oleh ki Dierja mendatangkan kegembiraan tersendiri bagi Jaka. Kini ia benar-benar yakin bahwa istrinya telah mengandung anak pertamanya. Pendekar Halilintar sampai-sampai tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya di hadapan Ki Dierja.


“Namun ada sesuatu yang aneh pada kandungan istrimu ini Jaka,” ucap Ki Dierja.


“Maksudnya aneh bagaimana ki?” tanya Jaka keheranan dan agak khawatir.


“Di perut istrimu aku mendapati adanya sebuah kekuatan dahsyat yang aku tidak tau apa itu. Kekuatan itu seperti menyatu dengan janin di perutnya. Apakah kekuatan itu berasal dari janin itu atau memang milik istrimu aku tidak dapat memastikannya,” Jawab Ki Dierja.


“Ah.. ini mungkin ada hubungannya dengan ucapan seorang lelaki tua yang kami temui di rumah makan sebelum ini.”


Kemudian pendekar halilintar menceritakan kejadian yang mereka berdua suami istri alami di sebuah rumah makan. Kala itu mereka bertemu dengan orang tua berpakaian serba putih yang tiba-tiba memegang perut Cempaka. Kemudian orang tua itu memngucapkan sesuatu yang kurang dimengerti oleh Jaka dan Cempaka.


Mendengar semua penjelasan dari Jaka, Ki Dierja mengerutkan keningnya. Ia pun tidak mengerti apa yang di maksud orang tua itu. Ia menduga bahwa anak yang dikandung Cempaka memiliki kekuatan Halilintar yang dahsyat. Jaka sendiri hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Ki Dierja.


Setelah cukup lama tidak sadarkan diri Cempaka pun bangun. Istri Pendekar halilintar itu mengarahkan pandangannya ke sana kemari nampak sangat kebingungan. Jaka pun menjelaskan apa yang telah terjadi kepada istrinya itu secara singkat.


**Bersambung..


Mohon do'a rekan² sekalian, agar bisa cepat pulih. biar bisa up secara normal lagi**.

__ADS_1


__ADS_2