
Jaka menatap tajam kearah Raja Iblis Bukit Tengkorak. Diluaran dia terlihat tenang, namun di dalam amarahnya bergejolak. Dari pandangan matanya seolah-olah ingin menelan lawan hidup-hidup.
"Kedua perwakilan apakah sudah siap?" tanya Pendekar Tongkat Emas.
Keduanya mengangguk bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu mulai" Teriak Pendekar Tongkat Emas.
Mendengar isyarat mulai, keduanya langsung melesat saling menyerang. Sebuah tendangan dilayangkan Pendekar Halilintar ke arah dada lawan. Dengan dua telapak tangan disilangkan di depan dada Raja Iblis Bukit Tengkorak menangkis serangan Jaka.
Tak mau kalah dengan serangan lawan, pelindung Istana Lembah Neraka itu mengirimkan satu pukulan mengarah ke kepala Pendekar Halilintar. Dengan sigap Jaka menangkis menggunakan tangan kanannya. Serangan demi serangan mereka lancarkan terhadap lawan. Sudah berlalu puluhan jurus belum terlihat siapa yang lebih unggul.
Pada jurus ke tiga puluh keduanya melompat mundur memisah dari pergelutan ketat. Raja Iblis Bukit tengkorak memasang kuda-kudanya menyiapkan pukulan andalan. Begitu juga Pendekar Halilintar, sesudah memasang kuda-kuda dan mengerahkan tenaga sakti, tubuhnya mulai memancarkan gelombang-gelombang listrik mirip halilintar.
Hiyaaaa...
Haaaahhh...
Pekikan yang di teriakan Pendekar Halilintar dan Raja Iblis Bukit Tengkorak membahana memenuhi bukit kosong. Keduanya melesat menyerang menghunakan pukulan andalan masing-masing.
Blammm...
Ledakan terjadi saat kedua telapak tangan beradu. Keduanya terlempar balik kebelakang beberapa tombak lalu sama sama berputaran di udara untuk menjaga keseimbangan. Nampak Tenaga keduanya berbang.
"Latihan apa yang dilakukannya sehingga bisa mengalami kemajuan sepesat ini" bisik Raja Iblis Bukit Tengkorak dalam hati.
Memang benar saja, seandainya Jaka masih memiliki kemampuan seperti sebelum pergi ke hutan Pengecoh Arwah tentu tidak akan bisa menandingi Raja Iblis Bukit Tengkorak. Namun semenjak mendaoat bantuan orang misterius di hutan Pengecoh Arwah, tenaga sakti dan kemampuannya meningkat beberapa kali lipat.
__ADS_1
Keduanya kembali menjejakkan kakinya di tanah. Dengan mandang Raja Iblis Bukit Tengkorak dengan pandangan mata yang menusuk. Kali ini dia mengerahkan seluruh tenaga saktinya ke tingkat paling tinggi. Pancaran halilintar dan suara gemuruh yang ditimbulkan semakin hebat. Tinju Halilintar membelah mega pun siap dilancarkan.
Raja Iblis Bukit Tengkorak pun tak mau kalah. Seluruh kemampuannya sudah dikerahkan. Gabungan Ilmu Pukulan Peremuk tulang dan Ilmu Pelebur Sukma akan segera ia hantamkan ke lawan.
Haaaaaaa...
Hiyaaaaaa...
Blammmm..
Kedua tenaga sakti sekali lagi bertemu. Kali ini jauh lebih dahsyat. Beberapa orang yang berada di barisan depan terlempar kebelakang akibat gelombang yang diciptakan kedua tenaga. Hanya mereka yang berkemampuan tinggi saja yang terdorong beberapa langkah.
Lain halnya dengan rombongan Istana Lembah Neraka. Tak sedikitpun mereka terpengaruh oleh pancaran gelombang dahsyat yang diakibatkan. Hal ini dikarenakan Tenaga Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta milik Rajawali Merah secara otomatis bereaksi membentuk benteng tenaga. Hingga gelombang tenaga yang menyebar seperti menghantam tembok kokoh.
Keadaan dua orang yang bertarung tak kalah hebat. Raja Iblis Bukit Tengkorak Terjengkang sejauh lima tombak. Tubuhnya langsung roboh ke tanah. Mulutnya menyemburkan darah segar sedangkan kedua telapak tangannya menghitam. Untung saja nyawanya masih menempel di badan.
"Aku mengaku kalah" ucap Raja Iblis Bukit Tengkorak. Suaranya terdengar pelan dan serak, namun masih jelas terdengar.
Melihat lawannya masih hidup, Pendekar Halilintar masih tidak puas. Dendam atas kematian gurunya belum reda. Sekali lagi Pendekar Halilintar mengerahkan tenaga saktinya. Walaupun tak sehebat sebelumnya, karena sudah banyak tenaga yang terkuras. Tapi tetap saja apabila sekali lagi Raja Iblis Bukit tengkorak terkena serangan pasti akan melayang nyawanya.
Melihat Pendekar Halilintar tidak mau menyudahi pertarungannya, bahkan masih ingin menghabisi anak buahnya, Rajawali merah mulai mengerahkan tenaga saktinya. Dari Telapak tangan kanannya memancar biasan embun. Hawa sejuk pun mulai menyebar di tempat itu.
Apa yang dilakukan Pendekar Halilintar dan Rajawali Merah tak luput dari perhatian Pendekar Tongkat Emas. Wajahnya nampak tegang mengkhawatirkan keselamatan Jaka. Pandangannya dialihkan ke arah rombongan Benteng Dewa. Berharap ada dari mereka yang bertindak mencegah Pendekar Halilintar melakukan serangan.
Di saat yang sangat menentukan. Kemarahan Jaka yang sudah memuncak, tiba tiba ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Cukup kakang, jangan biarkan amarah menguasaimu."
__ADS_1
Suara lembut sang istri menyadarkannya dari amarah yang membara. Pancaran ilmu Tenaga Halilintarpun perlahan memudar. Lalu Jakapun menggenggam tangan istrinya.
"Maafkan aku" sesalnya lirih.
"Benteng Dewa Menang"
Suara teriakan Pendekar Tongkat Emas yang mengumumkan kemenangan Pendekar tongkat Emas memecah suasana yang cukup menegangkan tadi. Bayupun sudah menyimpan kembali tenaganya. Teriakan kegembiraan pun terdengar dipihak Benteng Dewa.
"Selanjutnya yang akan bertarung adalah ketua Istana Lembah Neraka melawan siapa saja dari pihak Benteng Dewa." Seru Pendekar Tongkat Emas.
Rajawali Merah maju empat langkah dari tempatnya. Disusul kemudian satu persatu dari rombongan Benteng Dewa berlompatan ke arena pertandingan. dalam waktu singkat dari pihak Benteng Dewa telah berdiri Pertapa Sakti Tanpa Nama, Iblis Muka Hitam, Pendekar Halilintar, Dewi Selendang Ungu, Malaikat Bertangan Sakti, Jari Malaikat, Ketua Perguran Macan Putih, dan beberapa tokoh sakti yang lain.
Sementara itu pengejaran yang di lakukan oleh Raja Pulau Es dan kedua anak buahnya membuahkan hasil. Setelah berlarian cepat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sekitar tiga puluhan tombak di depan mereka telah terlihat Sepasang Iblis Api dan tiga Buto Bersaudara. Merasa di belakang mereka ada yang mengikuti, Sepasang Iblis Api dan tiga bersaudara mempercepat lari mereka.
"Berhenti..." Bentak Raja Pulau Es.
Setelah sadar orang yang menyusul mereka ternyata bukanlah orang yang mereka khawatirkan, kelima orang itupun berhenti dan berbalik arah.
"Aku kira siapa yang mengikuti, ternyata hanya sampah dari pulau es" Dengus Raja Iblis Api.
"Haha masih berani kau mengatakan kami sampah sesudah dihajar sampai babak belur oleh Ketua Istana Lembah Neraka" Balas Raja Pulau Es.
"Bedebah kau, mulutmu minta ku robek rupanya." Raja Iblis Api menerjang Raja Pulau Es dengan tinju apinya. Namun karena masih dalam keadaan luka dalam mudah saja bagi lawannya menghindari.
"Hahaha rupanya raga peotmu itu sdah tak mamou bergerak lincah Raja Iblis Api hahaha. Sebenarnya tak pantas kau menyebut dirimu raja. Lebih pantas disebut Kecoa Iblis Api" Ejek Raja pulau Es lagi.
Raja Pulau Es memang sengaja memancing kemarahan Raja Iblis Api agar semakin terkuras tenaganya sehingga mudah untuk dirobohkan. Sedangkan Raja Iblis Api sendiri sadar saat ini bukan tandingan lawan. Keadaannya yang sudah terluka berat mudah saja bagi musuh melumpuhkannya. Apalagi keadaan istrinya yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan ketiga Buto Bersaudara tentu bukan tandingan Raja Pulau Es.
__ADS_1