
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 175...
Melihat Intan masih tak kekurangan sesuatu apapun, mata Nalini nampak semakin memancarkan api. Kini warna cahaya api yang memancar dari mata Nalini berubah menjadi merah menyala. Pancaran kekuatan yang menyelimuti gadis itu pun berubah menjadi kobaran api yang sangat merah.
Nalini melesat menyerang intan. Bersamaan itu ia masih sempat mengirimkan meteor api merah ke arah para prajurit. Pukulan maut mengincar tubuh Intan. Dengan sigap gadis itu mengerahkan kekuatannya lalu membentangkan perisai giok es.
Blammm..
Sebuah ledakan dahsyat terjadi lagi. Bentrokan tenaga sakti dari kedua mahluk keramat itu menimbulkan bias tenaga yang sangat dahsyat. Pohon-pohon tumbang dan tanah bergetar. Beberapa orang prajurit bahkan sampai kehilangan nyawanya.
“Ada apa ini ki? Mengapa kedua gadis itu saling serang?” tanya Pranggala seraya mengalihkan pandangannya ke arah Pendekar Tongkat Emas.
“Entahlah wakil ketua, tapi kalau aku tak salah, gadis yang bernama Nalini itu sedang kehilangan kesadaran. Sepertinya kekuatan yang dimilikinya terlalu besar hingga ia tak bisa mengendalikan.” Jawab Pendekar Tongkat Emas.
Di udara nampak pertarungan antara Nalini dan Intan semakin dahsyat. Hawa di tempat itu berubah-rubah kadang panas kadang dingin. Nampak Intan mulai terdesak. Bukan karena ia kalah tenaga, namun gadis itu hanya menangkis dan bertahan tanpa balas menyerang.
“Kak Nalini.. sadarlah, jangan sampai jiwa hitam Burung Api menguasaimu.” Teriak Intan. Seolah tak mendengar sedikitpun ucapan intan, Nalini terus menyerang.
“Ki, mari kita bantu gadis yang satunya.” Ucap Pranggala mengajak Pendekar Tongkat Emas.
Pranggala dan pendekar tongkat emas melesat ke gelanggang pertarungan yang penuh dengan kobaran api itu. Keduanya langsung mengerahkan tenaga saktinya pada tingkat tertinggi. Cahaya putih keperakan memancar pada tubuh Pranggala, sedangkan pada tubuh Pendekar tongkat emas memancar cahaya kemerahan.
Sementara itu hampir seluruh prajurit kerajaan mati terpanggang. Hanya tinggal sekitar lima puluhan prajurit yang masih hidup. Itupun dengan tubuh yang penuh luka bakar. Perlahan mereka bergerak meninggalkan tempat itu. Malang bagi mereka, setiap ada yang bergerak setiap itu juga Nalini menyerang dengan kekuatan apinya. Hingga puluhan prajurit kembali tewas terpanggang.
Setelah kejadian itu terus-menerus terjadi, tak satupun dari sisa-sisa prajurit yang berani bergerak. Sementara di udara pertarungan Nalini dan Intan berlangsung semakin sengit.
Pranggala dan Pendekar tongkat emas mencoba menyerang Nalini dari bawah. Seberkas sinar berwarna putih keperakan dan merah melesat ke arah Nalini. Bukan sembarang sinar, namun mengandung kekuatan dahsyat tingkat tertinggi dari si pemilik.
Dua kekuatan terus menyeruak menyerang Nalini. Tanpa sedikitpun meoleh ke bawah, gadis itu mengibaskan tangannya sehinga dua tenaga itu terpental balik kearah pemiliknya. Pranggala dan pendekar tongkat emas yang tak menyangka serangan mereka dapat dengan mudah di kembalikan, kalang kabut menghindari tenaga yang balik menyerang mereka.
__ADS_1
Blaaaamm.. blaamm..
Dua tenaga yang terlontar balik mengenai tanah kosong. Namun tetap saja menimbulkan ledakan keras. Ini menandakan serangan kedua tokoh utama Istana Lembah Neraka itu tak main-main.
Melihat dua pemimpin mereka kalang kabut, anggota Istana Lembah Neraka tingkat ketiga yang menggunakan pakaian berwarna hijau dan cokelat melesat keluar lembah. Merekapun mengerahkan tenaga sakti mereka lalu menyerang Nalini dengan kekuatan gabungan.
Sekali lagi tanpa menoleh sedikitpun dan terus bertarung melawan Intan, Nalini menahan serangan para anggota Istana Lembah Neraka dengan satu tangan. Kemudian dengan sekali hentakan tenaga gabungan itu di kembalikan kearah penyerangnya.
Blammm..
Ledakan dahsyat terjadi. Anggota tingkat kedua dan ketiga Istana lembah Neraka yang tau tenaga gabungan mereka di kembalikan segera menghimpun kembali tenaga sakti untuk menangkis serangan yang berbalik. Kedua tenaga pun beradu hingga menimbulkan ledakan dahsyat.
Seluruh anggota tingkat kedua dan ke tiga Istana Lembah Neraka yang tadi menyerang Nalini terlempar dari tempatnya. Tak hanya itu mulut merekapun menyemburkan darah segar. Hanya sedikit dari mereka yang mampu berdiri kembali.
“Paman Pranggala, berhenti menyerang kak Nalini. Tenaga kalian tidak akan mampu menandingi tenaga mahluk keramat burung api. Cari kak Bayu, gerbang keenam miliknya lah yang mampu mengendalikannya.” Ucap Intan.
Pranggala yang mendengar ucapan Intan mengangguk lalu melesat meninggalkan tempat itu. Sementara pendekar tongkat emas yang kini dibantu oleh Dewi Pedang Khayangan masih berusaha untuk membantu Intan. Berkali-kali mereka harus terpental karena tenaga sendiri yang membalik.
Intan yang mendengar teriakan Dewi Pedang Khayangan sebenarnya sadar apa yang dilakukannya itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri. Namun gadis itupun tidak ingin balas menyerang terhadap Nalini yang hilang kesadarannya.
Blammm..
Ledakan yang sangat dahsyat kembali terjadi. Tenaga api Nalini membentur perisai giok es Intan hingga menyebabkan terjadinya ledakan tenaga. Beberapa orang yang tingkatan tenaganya rendah mengalami nasib malang harus terlempar dan terluka dalam di akibatkan gelombang tenaga yang menyebar akibat bentrokan tadi. Sebagian besar yang terlempar adalah para prajurit kerajaan.
Sementara itu Pranggala yang beranjak untuk mencari Bayu, akhirnya menemukan pemuda itu. Ia sedang memadamkan api yang membakar pepohonan di bukit yang mengelilingi lembah Neraka.
“Ketua.. Sapa Pranggala.” Yang berusaha tetap tenang tak ingin membuat panik Bayu.
“Ada apa paman? Bagaimana keadaan Lembah?”
“Api di dalam lembah sudah berhasil di padamkan ketua. Ini semua berkat Non Intan.”
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu. Lalu apa yang membawamu kemari paman?” tanya Bayu sambil memandang alam sekitar.
“Ketua, di luar lembah Nona Nalini sedang mengamuk. Sepertinya ia hilang kendali di karenakan kekuatan yang ada pada dirinya tak mampu dikuasi ketua.”
“Ahh.. mengapa kau baru bilang paman. Mari kita kesana!” ucap Bayu dengan Nada khawatir.
Bayu yang khawatir akan keadaan Nalini langsung melesat ke bawah tidak mengambil jalan biasanya. Pranggala yang berada di belakang hanya menggelengkan kepalanya, bukan hanya melihat sikap pemuda itu yang sangat khawatir, tapi juga kesaktiannya yang langsung menerjuni jurang tanpa mengambil jalan yang seharusnya di lewati.
“Hmmm.. kalo aku yang langsung terjun ke bawah seperti itu, mungkin sekarang sudah tinggal nama dengan jarak jurang setinggi itu.” Gumam Pranggala.
Tak butuh waktu lama, Bayu sudah berada di depan pintu gerbang Lembah Neraka. Pemuda itu sangat terkejut melihat keadaan di sana. Terutama melihat banyaknya prajurit yang tewas terpanggang api.
Sementara itu di udara Nalini masih menggempur habis-habisan Intan. Sikap bertarungnya yang masih juga bertahan tanpa memberikan perlawanan malah merugikan dirinya sendiri. Berapa kali gadis itu terlempar oleh serangan tenaga sakti Nalini.
Blammm..
Sekali lagi terjadi benturan tenaga antara kedua gadis itu. Intan terlempar hebat. Kali ini gadis itu menyemburkan darah segar. Melihat itu Bayu langsung menangkap tubuh Intan yang meluncur deras.
“Kau tidak apa-apa Intan?” tanya Bayu kepada Intan yang berada dalam gendongannya.
Intan yang ditanya menganggukan kepalanya. Tangannya masih melingkar di leher Bayu. Sesaat ia teringat pertemuan pertamanya dulu dengan Bayu sewaktu berada di kediaman ayahnya.
Bersambung..
sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.
__ADS_1