
Walau sudah terpisah dari badannya, nampak jantung itu masih berdetak. Walau diambil dari tubuh seorang kakek-kakek, jantung itu masih terlihat sangat kuat. Jari Pedang pun mengambil Giok Es dari ranjang es milik kakek buntung. Seketika ranjang es itu berubah menjadi batu seperti sedia kala. Tiba-tiba saja dari tubuh kakek itu mengalir darah.
Kemudian kembali Jari Pedang menghampiri jasad pemuda sambil membawa giok es dan bejana emas. Di ranjang batu si pemuda diletakkannya giok es. Sama seperti sebelumnya ranjang batu itupun berubah menjadi es.
Jari Pedang menekan dahi pemuda yang terbaring itu. Kemudian ia mengeluarkan mutiara sambung nyawa lalu meletakkannya di telapak tangan pemuda tersebut. Lalu seperti yang ia lakukan pada jasad kakek buntung Jari Pedang membelah jasad tersebut dari kepala hingga dada. Setelah jasad itu terbelah, iapun mengeluarkan isi kepala dan jantung si pemuda. Lalu membuangnya ke sembarang tempat.
Setelah itu si Jari Pedang mengambil jantung dan otak yang ada dalam bejana emas. Selanjutnya diletakkannya ke dada dan kepala jasad si pemuda. Lalu Mutiara kembali ia letakan di dahi yang terbelah itu. Sungguh ajaib, organ baru yang masuk ke jasad itu mulai menyatu terhubung dengan syaraf-syaratnya. Hanya dalam waktu sepeminuman teh jasad itu kembali seperti sedia kala bagaikan tak pernah sekalipun mengalami luka.
Mustika sambung nyawa kembali melesak kedalam jasad si pemuda yang sudah menyatu dengan jantung dan isi kepala kakek buntung. Jasad itupun kembali bersinar kebiruan. Lambat lain sinar itu mulai memudar. Digantikan dengan kilauan kulit putih bersih si pemuda yang hanya menggunakan celana itu.
"Saatnya kita sambut kehadiran ketua dengan tubuhnya yang baru. Kita sambut kelahiran kedua sang Penguasa Kegelapan. Hidup Penguasa kegelapan..." Teriak Jari Pedang sambil mengangkat peti yang berisi mutiara pengikat jiwa.
"Hidup..." serentak semua orang menyahut teriakan jari pedang.
Teriakan demi teriakan saling bersahutan. Di tambah lagi kicauan suara burung hantu menambah mistis suasana di tempat itu. Lalu semua orang bersujud dengan menyentuhkan kepalanya ketanah, dan meluruskan tangannya ke depan sejajar dengan tanah.
"Siapkan darah ayam hitam sekarang." perintah Jari pedang.
Kali ini yang berdiri menanggapi perintah Jari Pedang adalah Ratu Iblis Api. Dia melangkah menuju sebelah kiri altar. Wanita itu mengambil sebuah bejana perak, kemudian membawanya kehadapan Jari Pedang. Istri Raja Iblis Api itu pun kembali ke tempatnya setelah menyerahkan bejana perak berisi darah ayam hitam itu.
"Saatnya kebangkitan Sang Penguasa Kegelapan" Teriak Jari Pedang sambil mengangkat bejana perak dan peti yang berisi mutiara pengikat jiwa.
"Hidup pemimpin..."
__ADS_1
"Hidup Sang Penguasa kegelapan..."
Pekikan Jari Pedang disambut teriakan-teriakan anak buahnya.
Kemudian Jari Pedang meletakkan mutiara pengikat jiwa di dahi tepat berada antara dua kening. Jari Pedang memasukan Mutiara Pengikat Jiwa itu kedalam kepala si pemuda dengan mengaliri tenaga sakti. Lalu di tempat itu juga Ia menyiramkan darah ayam hitam.
Jari Pedang membacakan mantra mantra dengan diiringi anak buahnya yang sedang berlutut. Seketika gemuruh angin melanda tempat itu. Purnama mendadak menjadi gerhana. Gelegar petir saling bersahutan diiringi nyanyian burung hantu menambah suasana membuat bulu kuduk meremang.
Kejadian ini bahkan sampai terasa di Benteng Dewa, tepatnya di perguruan Tangan Dewa. Beberapa orang tokoh sakti yang bertarung di bukit kosong masih berada di sana. Saat itu mereka berkumpul di ruangan utama perguruan. Saat asik mengobrol, tiba-tiba terdengar beberapa murid berteriak...
"Gerhana bulan..."
"Gerhana bulan..."
Blarrr...
"Entah pertanda apa ini? tak biasanya gerhana bulan terjadi diiringi badai dan petir." ucap Pertapa Sakti Tanpa Nama.
Semua orang disitu hanya diam, tak ada seorangpun yang membuka mulut untuk menanggapi. Padahal di sana berkumpul tokoh-tokoh senior seperti Dewa Pedang Se Jagat, Malaikat Bertangan Sakti, Jari Malaikat, Ketua Perguruan Macan Putih, dan yang lainnya. Kecuali Pendekar Halilintar dan Istrinya yang sudah pergi, Iblis Muka hitam pun sudah meninggalkan tempat itu.
"Mudah-mudahan saja tidak ada kejadian buruk lagi menimpa dunia persilatan Ki." Sahut Malaikat Bertangan Sakti
"Ya mudah-mudahan saja" sahut yang lain bergantian.
__ADS_1
Sementara itu kegemparan juga terjadi di Istana Lembah Neraka. Para jago utama sedang berkumpul di luar istana. Pandangan mereka langsung tertuju kearah langit. Terlihat sedikit demi sedikit bulan menjadi gelap. Hingga hanya terlihat bulatan hitam.
"Gerhana bulan... Rasa-rasanya belum waktunya gerhana terjadi. Entah ada pertanda apa ini. Mudah-mudahan bukan pertanda buruk" Ujar Pranggala yang di temani Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan.
"Wakil ketua, Mendiang Empu Adhiyak Sona sempat berkata bahwa akan datang kejahatan melanda dunia persilatan. Kala itu beliau berharap ketua Rajawali Merah akan tampil sebagai pelindung dan pembela kebenaran. Namun melihat keadaan seperti nya harapan itu pupus. Sudah satu bulan ketua tak ada kabarnya" Ucap Pendekar Tongkat Emas.
"Tapi Ki, walaupun ketua masih hidup, apakah dia mau ikut serta dalam memberantas kejahatan? Apalagi yang kita tahu ketua memang mengakui dirinya dan Istana Lembah Neraka merupakan aliran hitam. Di tambah lagi sifatnya yang kadang kejam, membunuh tanpa ampun." timpal Dewi Pedang Khayangan.
"Mungkin kalian tidak mengenal ketua sedekat aku mengenalnya. Walau di luaran dia memiliki sifat kejam, namun di dalam dia sangat welas asih. Bahkan kala itu aku hanya seorang anggota tingkat rendah dia jadikan seperti ini. Menurutku kenapa dia bersikap keras dikarenakan ketidak percayaannya kepada orang."
Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan mengangguk-anggukkan kepala mendengar perkataan Pranggala. Entah apa artinya, setuju dengan pendapat wakil ketua tersebut atau hanya sekedar menghargai pendapat orang. Beberapa saat kemudian mereka pun bermeditasi untuk memperdalam Ilmu Tenaga Sakti Inti Api.
Memang Rajawali Merah sempat berpesan kepada Pranggala untuk mengajarkan Ilmu Tenaga Sakti Inti Api kepada seluruh anggota yang setia kepadanya. Termasuk anggota-anggota tingkat terendah akan diajarkan Tenaga Sakti Inti Api pada tingkat pertama. Sedangkan Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan diajarkan sampai tingkat ke tiga. Pranggala sendiri sudah mencapai tahap awal di tingkat ke empat.
Walaupun memiliki dasar ilmu yang tinggi, tanpa bantuan Rajawali Merah Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Kayangan tak mudah mempelajari Ilmu Tenaga Inti Api. Walaupun tak sedahsyat Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta, namun ilmu ini tergolong dalam tingkatan tertinggi di dunia persilatan. Sampai saat ini kedua pejabat baru Pelindung Istana Lembah Neraka itu hanya mampu mempelajari tahap Akhir di tingkat kedua Tenaga Inti Api.
Blaammm..
Sebuah ledakan dahsyat menggelegar akibat pukulan yang meluncur dari kedua telapak tangan Pranggala. Sesaat tadi dari telapak tangannya meluncur api berwarna putih dan menghantam batu yang ada di sana. Batu itu pun meledak lalu serpihan-serpihannya terbakar sisa-sisa api hingga menjadi debu.
Dalam Ilmu Tenaga Inti Api terdiri dari empat tingkatan. Tingkat pertama apabila dikuasai api yang keluar dari pukulan berwarna kuning. Tingkat kedua berwarna Biru. Tingkat ke tiga berwarna merah. Dan tingkat ke empat api yang memancar berwarna putih.
"Selamat wakil ketua, anda telah menguasai tahap kedua dari tingkat ke empat Ilmu Tenaga Inti Api. Mungkin selain ketua sendiri, di dunia persilatan belum ada yang mampu menandingi wakil ketua." puji Dewi Pedang Khayangan.
__ADS_1