
“Jaka... Cukup! Apa-apaan ini?” Suara itu kemudian disusul dengan suara lembut penuh wibawa dari orang lainnya di dalam gedung. “Cukup anak-anak! Kenapa berkelahi dengan orang sendiri?” tegurnya lembut.
Serentak kedua pihak menghentikan pertarungan mereka. Semua pun menghadap ke arah datangnya suara. Tepat di depan pintu utama bangunan besar, berdiri dua orang lelaki tua, yang satu mengenakan pakaian berwarna putih dan seorang lagi berwarna biru tua. Orang tua berbaju biru menatap mereka yang ada di sana dengan pandangan tajam, terlihat aura kemarahan dari tatapannya, terutama kepada Jaka. Sedangkan lelaki tua berbaju putih dengan pandangan welas asih menatap semuanya dengan senyuman, sangat bertentangan dengan keadaan orang di sampingnya.
Semua orang yang ada langsung berlutut di hadapan kedua orang tua itu. Mereka adalah guru dari orang-orang yang berselisih di sana. Si Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti.
“Mengapa kau mengacau di sini Jaka? Aku menyuruh kau kesini untuk membantu, bukan memperkeruh suasana,” bentak lelaki tua berbaju biru marah kepada Jaka. Orang tua itulah gurunya Pendekar Halilintar yang bergelar Malaikat Petir. Sedangkan namanya sendiri adalah ki Wangsa Sena, guru tunggal dari Jaka.
“Bukan aku yang mulai guru. Mer—"
“Diam!” Belum selesai Jaka menyampaikan kegusarannya. Malaikat Petir sudah membentak pemuda itu hingga ia pun terdiam. “Cepat minta maaf! Kalau tidak, kuputuskan lengan kananmu itu,” lanjut Malaikat Petir.
“Sudah. Tak usah diperpanjang. Semua pasti hanya kesalahpahaman saja,” ujar Malaikat Bertangan Sakti mencegah pertikaian antara murid dan guru tersebut. Sepintas ketua Perguruan Tangan Dewa itu mengarahkan pandangannya kepada Jaka, ia pun lalu mengangguk seraya tersenyum kepada Pendekar Halilintar. Dengan perasaan berterima kasih, Jaka membalas dengan tersenyum seraya menjura kepada lelaki tua itu. “Ajak muridmu masuk, mungkin dia ada sesuatu yang penting hingga malam-malam begini menemui kita.”
__ADS_1
Malaikat Petir pun mengangguk. Dengan suara yang masih terlihat garang, disuruhnya Jaka untuk masuk mengikuti mereka. Di dalam ruangan yang cukup besar, ternyata sudah ada beberapa orang duduk menunggu. Tiga orang merupakan kakak dan adik seperguruan Malaikat Bertangan Sakti, sedangkan sekitar enam orang lainnya merupakan ketua-ketua perguruan silat beraliran putih yang memang sengaja diundang untuk datang. Diantara mereka yang hadir ada ketua Perguruan Bambu Sakti, ketua Perguruan Bangau Putih, dan seorang wanita paruh baya ketua Perguruan Bunga Bidadari. Masing-masing mereka membawa satu orang murid utama.
Melihat para senior yang sedang berkumpul di sana, Pendekar Halilintar pun menjura seraya memberi salam.
“Aku yang muda memberi hormat kepada para tetua,” sapanya. Serentak semua yang ada di sana berdiri memberi hormat. Selain memandang Malaikat Petir sebagai guru Jaka, mereka memberikan penghormatan kepada pemuda itu karena memang hormat kepada seorang Pendekar Muda yang banyak membasmi keangkaramurkaan untuk menegakkan keadilan. Nama Pendekar Halilintar memang sudah tidak asing bagi kalangan aliran putih maupun hitam karena sepak terjangnya.
“Silakan duduk,” ucap Malaikat Bertangan Sakti kepada seluruh yang ada di ruangan itu. “Nak Jaka, ada apa gerangan sehingga malam-malam seperti ini ananda bergegas ingin bertemu?” tanya orang tua itu kepada Jaka yang sudah duduk di sebelah gurunya.
Sejenak orang-orang yang ada di sana terdiam mendengar penuturan Jaka. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah agak lama, barulah ketua Perguruan Bambu Sakti angkat bicara.
“Dari ciri-ciri yang disebutkan nak Jaka tadi, aku yakin orang yang berbaju hitam itu adalah salah seorang dari Dua Iblis Pelebur Sukma. Sedangkan tiga orang lainnya aku tidak dapat menebak siapa dan dari perguruan mana mereka berasal,” terang lelaki tua itu.
Yang lain pun mengangguk-angguk pertanda setuju dengan pendapat ketua Perguruan Bambu Sakti. Namun dalam hati mereka sama-sama mempertanyakan siapa gerangan orang yang telah mengirimkan pesan lewat ilmu mengirim suara. Apakah salah satu dari empat orang di sana? atau ada orang lain di tempat itu yang juga sangat mengetahui keadaan yang terjadi sekarang. Lalu siapa utusan yang di maksud akan datang ketempat ini, apakah memang mereka berempat, atau ada orang lain.
__ADS_1
Kembali semua orang tenggelam dalam pikirannya masing- masing. Saat kesunyian mulai melanda ruangan itu, tiba-tiba Malaikat bertangan sakti berkata, “Silakan bergabung kisanak, sudah berada di dalam kenapa masih bersembunyi?”
Semua orang merasa heran dengan pernyataan orang tua itu. Dari kalimat yang ia lontarkan, saat ini ada orang lain yang bersembunyi di ruangan dan mendengarkan percakapan mereka. Tak berapa lama kemudian tepat di tengah-tengah pertemuan berdiri seorang berpakaian hitam. Kepalanya memakai caping dengan kain berwarna hitam menutupi seluruh wajahnya.
“Waktuku tidak banyak, aku akan menerangkan sedikit tentang perkumpulan Istana Lembah Neraka,” ucap lelaki itu tapi dengan menggunakan ilmu mengirimkan suara. Walau suaranya terdengar seperti orang berbisik, namun cukup jelas untuk didengar. Entah apa sebabnya orang itu tidak berbicara langsung. Mereka yang hadir pun mendengarkan dengan seksama. Namun tidak sedikit dari mereka yang waspada, bahkan murid-murid utama ketua perguruan yang hadir tangannya sudah menggenggam gagang pedang, siaga seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Siapa orang ini sampai-sampai aku tak bisa merasakan kehadirannya. Sungguh sangat mengerikan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini,” pikir Malaikat Petir. Betapa terkejutnya dia ada orang lain hadir di sana tanpa bisa diketahuinya. Padahal Malaikat Petir bukan orang yang sembarangan, guru dari pendekar Halilintar itu merupakan salah satu tokoh senior aliran putih yang jarang ada tandingannya.
“Perkumpulan Istana Lembah Neraka merupakan kumpulan tokoh-tokoh sakti dari berbagai macam aliran. Perkumpulan ini dipimpin oleh seseorang yang menamakan dirinya Rajawali Merah. Anggota perkumpulan ini sudah cukup banyak, walau sebagian besar dari aliran hitam namun mereka merupakan orang-orang yang berkemampuan hebat. Ada empat tingkatan dalam keanggotaan Istana Lembah Neraka. Tingkatan pertama hanya terdiri dari empat orang. Mereka disebut sebagai Empat Pelindung Api. Keempat orang itu merupakan tokoh tua dunia persilatan, yaitu Empat Sakti Dunia Persilatan. Raja Iblis Bukit Tengkorak dan tiga Dewa Dunia Persilatan.”
“Apa?! Empat Sakti Dunia Persilatan?” Sontak semua orang yang ada di sana terkejut. Siapa yang tidak mengenal Empat Sakti Dunia Persilatan? Tokoh tua yang mungkin usianya rata-rata mencapai seratus tahun. Hampir semua dari mereka tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh orang misterius ini.
Murid ketua Perguruan Bangau Putih yang tidak sabaran langsung bangkit dan mencabut pedangnya berniat langsung menerjang orang bercaping. Biar bagaimanapun salah satu dari tiga Dewa Dunia Persilatan merupakan pendiri dari perguruan Bangau Putih. Namun belum sempat pedang itu tercabut dari sarungnya, tiba-tiba si murid itu jatuh. Sekilas tadi terlihat benda kecil berwarna keperakan melesat ke arahnya. Ketua Perguruan Bangau Putih pun dengan cepat memeriksa muridnya. Pada leher si murid menempel sekeping uang perak. Namun ia lega muridnya tidak apa-apa hanya tertotok sehingga tertidur untuk sementara waktu.
__ADS_1