Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.146. Salah Sasaran


__ADS_3

... ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 146...


“Aku tak mengenal kalian, tak mencampuri urusan kalian, mengapa mengganggu perjalanan kami?” Dengus Bayu dingin.


“Maafkan kami tuan, bukan maksud kami mengganggu perjalanan tuan. Ketahuilah tuan, bahwa perjalanan kalian kedepan itu menuju markas kami yang ada di dalam hutan. Sedangkan ujung hutan itu tidak ada jalan lagi kecuali sungai luas yang membentang. Itu sebabnya orang-orang kami mencurigai tuan.” Ungkap Raga Lawing.


“Mencurigai apa? Siapa sebenarnya kalian? Aku tahu sejak kami datang kalian sudah membuntuti. Bahkan akupun tahu dimakanan kami telah kalian masukan semacam racun pelemas tenaga. Bahkan sebenarnya rumah makan itupun ada lah milik kalian. Semua percakapan kalian di belakang rumah makan aku mendengar semua.”


Betapa terkejutnya Raga Lawing  atas ucapan Bayu. Lelaki itu sama sekali tidak menduga kesaktian si pemuda sampai mampu mendengarkan semua ucapannya di balik tembok. Nalini sendiri tak kalah terkejutnya. Pantas saja pada saat menikmati hidangan tadi tiba-tiba Bayu menyalurkan tenaga saktinya ke tubuh Nalini.


“Anak-anak barisan seribu panah!” melihat rencana nya sudah diketahui Bayu, Raga Lawing berteriak memerintahkan anak buahnya membentuk barisan pasukan pemanah.


Tiba-tiba di balik tanah, semak-semak dan beberapa tempat persembunyian lainnya muncul ratusan orang yang memegang busur dan anak panah. Saat ini posisi mereka  yang mengurung Bayu dan Nalini telah mengarahkan busur mereka ke arah kedua remaja itu. Anak panah siap dilepaskan.


“Pangeran, putri, sebaiknya kalian menyerah saja. Tempat ini telah dikepung. Penyamaran kalian tak akan bisa mengelabui kami.” Bentak Raga Lawing.


Bayu dan Nalini mengerutkan keningnya. Mereka tak mengerti apa maksud ucapan Raga Lawing. Yang mereka  dapat tangkap, Raga Lawing menyangka mereka adalah Pangeran dan Putri yang menyamar.


“Sebenarnya aku muak dengan kelakuan kalian. Kalau saja bukan karena janjiku tidak membunuh sembarangan, awal-awal sudah ku buat nyawa kalian lepas dari raga. Enyahlah! Jangan ganggu perjalanan kami.” Geram Bayu.


Melihat Bayu tak sedikitpun gentar dengan ancamannya Raga Lawing menjadi geram. Ia merasa sangat diremehkan oleh pemuda itu. Tanpa merasa kasihan sedikitpun, Raga Lawing memutuskan untuk menghabisk pemuda dan kekasihnya itu.


“Seraang!” Pekik Raga Lawing.


Seketika ratusan anak panah itu melesat ke arah Bayu dan Nalini. Namun keduanya tak gentar sedikitpun. Anak panah terus melesat memburu sasarannya. Namun  saat sudah berjarak satu tombak dari Bayu dan Nalini, anak Panah itu terhenti dan melayang di udara.


Kemudian dengan sekali hentakan Bayu merubah arah anak panah dan melontarkannya kembali ketempat asalnya, tanpa menyentuh, tanpa melakukan gerakan. Ilmu  Tujuh Gerbang Alam Semesta yang melakukannya. Sungguh tenaga sakti yang tak ada duanya di dunia persilatan.

__ADS_1


Para pemanah itu roboh terkena senjata mereka sendiri. Beberapa diantara mereka memang dapat menghindar dan selamat, namun sebagian lagi malah langsung tewas. Raga Lawing terkejut, hampir semua rencana yang disiapkannya  gagal. Kerugian yang di terima kelompoknya kali ini benar-benar tidak ringan.


“Kalian benar-benar tidak tau diri. Dikasih hati minta jantung.”


Kali ini Bayu benar-benar marah. Seberkas cahaya kemerahan menyelimuti tubuhnya. Cahaya itu melebar dan mendatangkan hawa panas. Bahkan kini tenaga sakti Bayu mulai membuat  tempat sekelilingnya terbakar.


“Kak Bayu, kita tinggalkan saja tempat ini.”


Melihat keadaan yang sudah mulai tak terkendali, Nalini mengajak Bayu beranjak dari tempat itu. Nalini khawatir apabila tidak dicegah, Bayu akan membumi hanguskan tempat itu. Walau masih merasa kesal Bayu pun mengikuti ajakan Nalini. Keduanya melesat meninggalkan tempat itu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


“Hampir saja kita jadi sapi panggang di tempat ini.” Desah Raga Lawing.


Raga Lawing menyuruh anak buahnya memadamkan  api yang menyala di beberapa titik di tempat itu. Kemudian ia menghampiri Macan Kembar Hutan Garu. Beruntung orang tertua dari macan kembar itu masih bisa diselamatkan. Walau terluka parah namun nyawanya masih tertolong.


“Sepertinya kita memang salah orang ki.” Ucap Raga Lawing kepada kedua orang tua itu. “Rasanya tak mungkin Pangeran dan Putri Raja kerajaan Selatan  memiliki kesaktian yang demikian hebat.” Sambungnya lagi.


“Ahh.. akibat kecerobohan ku, kita telah menanam bibit permusuhan dengan orang persilatan yang sangat sakti itu. Beruntung yang perempuan masih berbaik hati mengajak yang lelaki pergi dari tempat ini. Kalau tidak, akan jadi apa tempat ini.”


“Ketua, telik sandi yang kita sebar membawa berita penting.”


Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian hitam datang menghadap dan melapor kepada Raga Lawing.


“Suruh dia ke sini.” Sahut Raga Lawing.


Tak lama kemudian datang seorang lelaki dan perempuan mengenakan pakaian ala petani di sawah. Keduanya nampak masih begitu muda, walau mereka menyamar sebagai orang tua dengan membuat putih rambut mereka. Namun guratan wajah yang masih kencang serta kulit  tubuh mereka tak dapat menutupi penyamaran mereka.


“Menghadap ketua. Saya Jalak Sudra dan adik saya Sekar Arum mendapatkan berita bahwa Pangeran dan Putri tidak melewati tempat ini. Melainkan ke pesisir pantai selatan untuk pelesir.”


“Ahhh.. ternyata benar kita telah salah orang.” Ucap Raga Lawing.

__ADS_1


Jalak sudra mengerutkan keningnya. Kemudian pemuda itu melirik gadis di sampingnya yang merupakan adik seperguruannya itu. Sesaat keduanya saling pandang. Kemudian Sekar Arum mengangkat kedua bahunya.


“Maaf ketua, saya tidak mengerti maksud ketua.” Ucap Jalak Sudra.


“Ahhh.. bukan apa-apa. Hanya masalah kecil karena salah mengenali orang.” Jawab raga Lawing.


Mendengar jawaban sang ketua, Jalak Sudra tak bertanya lagi. Walaupun hatinya masih diliputi pertanyaan, namun pemuda itu menyudahi saja. Karena ia menganggap rasa penasarannya itu bukanlah sesuatu yang penting.


“Baiklah. Perintahkan semua kelompok bendera merah bergerak ke pantai selatan untuk menagkap kedua anak raja itu dalam keadaan hidup.” Perintah Raga Lawing.


“Baik Ketua!”


Sahut Jalak Sudra dan Sekar Arum bersamaan. Keduanya kemudian  pamit mengundurkan diri. Kini tinggal Raga Lawing bersama Macan Kembar Hutan Garu di sana. Raga Lawing masih menyesali kecerobohannya tadi menyerang orang yang disangkakan pangeran dan putri raja, ternyata bukan.


Tanpa sepengetahuan mereka ternyata Bayu dan Nalini masih berada di tempat itu. Mereka bersembunyi di balik salah satu pohon rindang tak jauh dari tempat Raga Lawing. Semua pembicaraan Raga Lawing dan anak buahnya tadi dapat didengar jelas oleh Bayu dan Nalini.


“Rupanya mereka adalah pemberontak-pemberontak kerajaan yang menyangka kita pangeran dan putri raja kak Bayu. Apa yang akan kila lakukan selanjutnya kak?” Ucap Nalini.


“Hmmm.. biarlah urusan kerajaan tak udah kita campuri. Selama tidak menyentuh atau mengganggu kita, tak usah kita repot mengurusi mereka. Mari kira lanjutkan saja perjalanan.”


Bayu dan Nalini melesat cepat masuk ke dalam hutan Jati Alam. Sekilas Bayangan merah dan putih melintas cepat sempat terlihat oleh mata Raga Lawing. Memang Bayu tidak menggunakan Ilmu Bianglala Melukis Langitnya untuk mengimbangi kecepatan Nalini.


“Hehhh.. rupanya kedua orang sakti itu belum beranjak dari sini. Mudah-mudahan mereka tidak mencampuri urusan ini.” Desah Raga Lawing sambil menghela nafas.


Bersambung...


Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.


Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.

__ADS_1


__ADS_2