Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.107. Penyerangan ke Benteng Dewa


__ADS_3

...---- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA ----...


...Episode 107...


Wrrraaaakk.. wrraaaakkkk.. wrraaaakkk..


Burung Rajawali Merah memekik nyaring di atas Intan, Jaka dan Cempaka yang sedang beristirahat di bawah pohon.


"Ssuuiiiit..."


Suara siulan Intan memanggil si rajawali. Ia tidak ingin suara rajawali yang sangat nyaring itu menarik perhatian orang-orang. Rajawali pun turun menghampiri gadis itu.


"Ada apa kakak rajawali?" tanya Intan kepada rajawali yang sedang terbang rendah  di hadapannya.


Wraakkk.. wraaakkk..


Hanya itu jawaban rajawali yang tidak dimengerti Intan. Rajawali kembali terbang ke atas. Lalu melayang ke arah utara.  Kepala burung itu mengangguk-angguk. Kemudian kembali rajawali itu turun kehadapan Intan. Bukan hanya itu, burung itu pun menarik-narik baju Intan.


"Kak Jaka, kak Cempaka, sepertinya rajawali ini ingin aku mengikutinya kembali ke utara. Mungkin ada petunjuk tentang kak Bayu yang ia dapatkan."


"Apakah kau ingin kita kembali ke sana Intan?" tanya Cempaka Lembut. Pandangannya di alihkan ke arah Jaka sesaat seperti meminta pendapat. "Sebaiknya kita selesaikan dulu masalah Perguruan Tangan Dewa ini." sambungnya lagi.


"Istriku, sebaiknya kau temani Intan. Urusan di sini biar aku saja yang menangani. Memang sebaiknya tak usah banyak-banyak, apalagi keberadaan kita memang tidak diinginkan." ucap Jaka.


“Apakah tidak sebaiknya kau ikut kami saja  kakang? Bukankah pihak Benteng Dewa tidak ingin ada orang luar yang ikut campur.” Jawab Cempaka.


“Aku yakin Malaikat Bertangan Sakti membuat pernyataan seperti itu dikarenakan tidak ingin orang lain ikut menjadi korban dalam perseteruan mereka. Bahkan bukan hanya orang luar, berita  yang  baru saja ku dapat ketua perguruan tangan dewa itu menyuruh sebagian besar muridnya meninggalkan benteng dewa.”


“Sungguh mulia hati orang tua itu.” Gumam Cempaka. “Baiklah kalau begitu kakang. Aku dan Intan pergi dulu. Kita bertemu lagi sebulan setelah hari ini di pondok Bukit Batu Hitam.

__ADS_1


Jaka mengangguk mengiyakan ucapan Istrinya. Setelah memeluk suaminya sesaat, Cempaka dan Intanpun meninggalkan Jaka. Keduanya mengikuti arah terbang rajawali yang menuntun mereka.


Sementara Jaka sendiri melanjutkan perjalannya menuju Benteng Dewa. Di perjalanan beberapa kali ia harus bersembunyi karena berpapasan dengan murid-murid Perguruan Tangan Dewa yang diperintahkan meninggalkan perguruan mereka sementara. Yang membuat Jaka miris, bahkan para penduduk di sekitaran Bukit itu banyak yang mengungsi.


“Sungguh membuat orang susah saja Partai Iblis Berkabut ini.” Gerutu Jaka.


Saat ini Pendekar Halilintar sedang berada di atas pohon bersembunyi. Di tempat itu ia sangat mudah memantau orang-orang yang berlalu lalang. Dari kejauhan, telinganya mendengar serombongan orang berkuda menuju tempat itu. Tiba-tiba saja hatinya berdebar, dia berpikir itu merupakan rombongan orang-orang Partai Iblis Berkabut.


“Tidak disangka secepat ini mereka datang”


Tepat menjelang malam, rombongan itu tiba di dekat Jaka  berada. Mereka memutuskan mendirikan kemah tak di tempat itu. Tak ingin keberadaannya diketahui Jaka langsung meninggalkan tempat itu.


“Berapa lama lagi kita sampai di Benteng Dewa?” tanya Dewa Iblis Kegelapan kepada Iblis Merah.


“Setengah harian berjalan kaki kita akan sampai ketua.”


“Merepotkan, kenapa tidak semua anggota kita memakai kuda?” Gumam ketua Partai Iblis Berkabut itu.


“Izin melaporkan ketua! Di depan ada serombongan penduduk berjumlah dua belas orang hendak pergi mengungsi. Saat ini mereka sedang di tawan oleh pasukan timur.” Ucap seorang anggota berpakaian serba hitam sambil berlutut satu kaki melapor kepada Dewa Iblis Kegelapan.


“Terserah mau kalian apakan. Habisi saja bila bikin repot. Ambil harta mereka untuk kebutuhan kita.” sahut Dewa Iblis kegelapan sambil mengibaskan tangannya isyarat menyuruh anak buahnya berlalu.


Setelah memberi hormat, anggota itupun beranjak meninggalkan tempat itu.


“Hahaha... Rupanya Malaikat Bertangan Sakti lebih memilih meninggalkan Benteng Dewa daripada berhadapan dengan kita.” Ejek Dewa Iblis Kegelapan.


Sementara itu di Benteng Dewa, Malaikat Bertangan Sakti hanya di temani sepuluh orang muridnya saja.


“Mengapa kalian tidak ikut meninggalkan bukit ini.” Tegur Malaikat Bertangan Sakti dengan perasaan menyesal.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi kami akan bersamamu menghadapi musuh guru” sahut Arya.


“Kau satu-satunya muridku paling berbakat Arya. Satu-satunya harapanku untuk membangun kembali perguruan ini apabila keadaan sudah memungkinkan.”


“Bersama murid-murid yang lain sudah ada Danu guru. Anak itu jauh lebih berbakat daripada aku guru. Masa depan Perguruan Tangan Dewa pasti akan lebih baik di tangannya dari pada aku”


“Terserahlah, mudah-mudahan keberuntungan berpihak pada kita. Seandainya tidak karena sumpahku untuk mempertahankan tempat ini sampai titik darah penghabisan, tentu akupun akan meninggalkan tempat ini sementara waktu.” Keluh Malaikat Bertangan Sakti.


Keesokan harinya, terdengar bunyi terompet dibunyikan dari bawah bukit. Samar-samar terdengar teriakan para penduduk sekitar bukit Benteng Dewa. Teriakan yang sangat mengirisan.


“Rupanya mereka benar-benar tak membiarkan penduduk di bawah untuk hidup.” Desah Malaikat bertangan sakti yang memantau dari atas bukit.


Tak berselang lama, terlihat rombongan Partai Iblis Berkabut mulai merayap naik menggunakan kuda mereka. Ada sekitar dua puluh orang yang menggunakan kuda, sedangkan yang lain berjalan kaki. Mereka dengan percaya diri dan sombong menaiki Bukit Benteng Dewa.


“Sebaiknya kalian cepat meninggalkan tempat ini. Masih ada waktu, sebelum mereka tiba.” Ucap Malaikat Bertangan Sakti masih mengharapkan murid-muridnya meninggalkan tempat itu.


Serempak kesepuluh orang murid Malaikat bertangan Sakti berlutut dan menundukkan kepalanya. Orang tua itu paham murid-muridnya tidak ingin meninggalkan dia seorang diri. Iapun menggeleng-gelengkan kepala lalu menghela nafas berat.


Akhirnya rombongan Dewa Iblis Kegelapan tiba di puncak Bukit Benteng Dewa. Pintu gerbang Perguruan Tangan Dewa pun dibiarkan terbuka. Mereka tidak ingin terjadi pengrusakan di tempat itu. Makanya membiarkan begitu saja gerbang masuk terbuka.


Dengan jarak dua puluh tombak, kini Dewa Iblis Kegelapan dan puluhan anak buahnya berada di depan. Wajah mereka nampak penuh keangkuhan. Apalagi melihat lawan di depan mereka yang hanya berjumlah sebelas orang.


“Hahaha! apa yang kalian pikirkan dengan menghadang kami hanya sebelas orang” ejek Iblis merah melihat keadaan Malaikat Bertangan Sakti dengan murid-muridnya. “Jangankan dengan sebelas orang saja, Sekalipun keseluruhan murid Tangan Dewa berkumpul di sini, kalian hanya mengantarkan nyawa.”


“Sebaiknya kalian menyerah,mungkin ketua akan bermurah hati untuk kalian.” Ucap Jari Pedang dengan sinis.


Murid-murid Malaikat Bertangan Dewa yang mendengar ucapan-ucapan lawan jadi tidak sabaran. Tanpa mengenal takut, dan terang-terangan semua perbuatan sia-sia dua orang murid Malaikat Bertangan Dewa menerjang rombongan Dewa Iblis Kegelapan. Tanpa sempat dicegah kedua orang murid itu sudah menyerang dengan pedang di tangan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


...---- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA ----...


__ADS_2