
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 238...
Jaka melirik ke arah istrinya yang berada di samping. Ia seolah-olah ingin meminta pendapat dari sang istri. Namun yang dimiliki hanya diam seolah-olah menyerahkan semuanya kepada penjaga halilintar.
“Lalu menurut tertua bagaimana sebaiknya?” tanya Jaka
“ Aku akan membantu kalian asalkan ada yang menjamin keselamatan Raden raga lawing saat aku melakukan ritual pencarian tempat gaib itu. Masa pemulihan ku pun sedikit lama apabila menggunakan kekuatan untuk menjelajah alam siluman. Jadi selama itu pula aku ingin ada yang menjaga Pangeran raga lawing. Minimal ia dijaga oleh orang yang sama kesaktiannya denganku,” jawab Malaikat Putih.
Jaka pun kembali terdiam. Sejenak ia memikirkan apa keputusan yang akan diambil. Lalu suami Cempaka itupun kembali berbicara.
“Sepertinya sulit untuk mencari orang yang memiliki kesaktian sepertimu tetua. Bagaimana mungkin kami mencarikan penjaga yang kesaktiannya minimal sama dengan tetua,” ucap Jaka.
“Untuk kali ini kau tidak perlu merendah Pendekar Halilintar. Semua yang ada disini tahu kau telah mengalahkan kedua orang sahabatku yang kesaktiannya tidak jauh berbeda denganku. Itu artinya kemampuanmu pun berada di atasku,” sanggah Malaikat Putih.
Jaka tersenyum kecut mendengar ucapan yang keluar dari mulut pendekar legenda itu. Sedikitpun ia tidak pernah merasa lebih hebat dari mereka tokoh-tokoh dunia persilatan nomor satu di jamannya. Sebenarnya ia ingin menghindari terjebak dalam situasi sulit yang membuat dirinya harus menjadi pengawal pribadi raden Raga lawing.
“Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk mendiskusikan ini dengan adikku dulu,” ucap Jaka meminta waktu.
“Itu terserahmu Pendekar Halilintar. Aku selalu siap membantumu asalkan kau mau memenuhi persyaratan yang aku ajukan itu. Malah lebih bagus kalau adik mu itu yang terlibat dalam penjagaan Raden Raga Lawing. Walaupun kekuatan pedang yang ada dalam tubuhnya itu akan membuat aku sulit untuk sering berada di dekatnya.”
Setelah pembicaraan mereka berakhir, Pendekar Halilintar dan Cempaka pun memohon diri untuk kembali ke lembah Neraka. Malaikat putih mengantar sepasang suami istri itu sampai kedepan pintu gerbang desa sangga alam. Keduanya pun meninggalkan tempat itu menggunakan kuda mereka masing-masing.
Saat sore mulai merangkak menuju malam, Pendekar Halilintar dan istrinya Dewi Selendang ungu beristirahat di salah satu penginapan yang mereka lalui. Saat ini sepasang suami istri itu berada di sebuah desa yang bernama desa Siring Tatakan. Seorang pelayan menghampiri keduanya saat kuda sepasang suami istri itu berhenti tepat di depan rumah makan.
“Biar saya saja den!” ucap si pelayan ketika Jaka akan menepikan kudanya.
__ADS_1
Pelayan itu mengambil tali kekang kuda Jaka dan Cempaka. Kemudian ia membawa dua ekor kuda itu ketempatnya. Sementara sepasang suami istri itu memasuki rumah makan dan memilih salah satu tempat. Keduanya pun memesan makanan yang mereka inginkan.
“Kakang apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah perlu kita sampaikan hal ini kepada Bayu?” tanya Cempaka.
“Sebenarnya aku tidak mau menyusahkannya lagi dengan memikirkan hal ini. Namun syarat yang diajukan oleh malaikat putih itu benar-benar membuat kita harus mendiskusikannya kepada Bayu.”
Cempaka mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban sang suami. Istri Pendekar Halilintar itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kemudian tiba-tiba saja ia bersuara mengejutkan sang suami.
“Kakang bukankah ini desa yang bersebelahan dengan Desa tempat kelahiranku?” tanya Cempaka.
“Eh.. benar, ini memang desa Siring Tatakan yang bersebelahan dengan desa Sirih Abangan,” sahut Jaka ketika membaca papan nama yang bertuliskan rumah makan asri Desa Siring tatakan.
Sesaat Cempaka terlihat sedih. Ia teringat masalalunya di desa Sirih Abangan. Kedua orang tuanya meninggal dan dimakamkan di desa ini. Kejadian beberapa tahun silam kembali terngiang di ingatannya. Saat bekas kekasih ayahnya membantai kedua orang tuanya.
Istri Pendekar Halilintar itu juga teringat akan satu-satunya saudari yang ia miliki. Walaupun saudaranya itu adalah saudara tiri namun hubungan mereka begitu dekat. Bahkan kala itu sang kakak rela berkorban nyawa untuk menyelamatkannya.
“Jangan kau ingat-ingat lagi kejadian masa lalu bila hanya akan membuatmu bersedih. Kedua orang tuamu dan juga kakakmu telah tenang,” hibur Jaka yang melihat istrinya mulai bersedih.
Jaka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menjawab pertanyaan sang istri. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini. Ia pun sebenarnya ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Namun tempatnya memang agak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
Sebelum ke istana lembah neraka, Jaka dan Cempaka singgah di Desa Sirih Abangan. Tiba di desa itu, keduanya langsung menuju pemakaman keluarga cempaka. Tempat yang dulunya sebuah rumah kini berubah sepenuhnya menjadi sebuah makam. Waktu itu bangunan yang menjadi rumah masa kecilnya cempaka itu dirobohkan karena tidak ada yang mendiami lagi.
“Neng Cempaka! Ini neng Cempaka kan?” Seorang lelaki separuh baya tiba-tiba datang menyapa Cempaka.
“Ki Darso! Apa kabar ki?” sahut Cempaka sambil tersenyum.
“Ahh.. ternyata benar neng Cempaka. Kebetulan sekali neng ada di sini. Ini den Jaka ya?” tanya Ki Darso setelah melihat lelaki di samping Cempaka.
__ADS_1
“Iya benar ki,” jawab Jaka.
“Ah.. sungguh sangat kebetulan sekali kalian berdua ada disini,” ucap lelaki itu. Ia memang tidak mengetahui bahwa Jaka dan Cempaka sudah menjadi sepasang suami istri. “Baru sekitar sepekan ada kejadian menimpa Desa ini den. Coba kalian liat ke pemakaman!” ucap ki Darso lagi.
Kemudian Jaka, Cempaka dan ki Darso masuk ke dalam pemakaman keluarga Cempaka. Betapa kagetnya istri pendekar halilintar itu saat melihat sebuah kuburan di sisi ayahnya terbongkar berantakan.
“Apa yang terjadi dengan makam kak Danastri ki?” tanya Cempaka mulai terisak.
Keadaan makam danastri kakak tirinya Cempaka memang sangat berantakan. Kuburan gadis yang tewas saat masih muda itu terbingkar, sedangkan isi di dalamnya sudah tidak ada lagi. Tak ada sedikitpun terlihat jejak jasadnya Danastri.
“Sebulan yang lalu ada seorang lelaki muda bersama seorang lelaki tua datang ke makam ini. Keduanya melakukan ritual kemudian membangkitkan kembali kakak neng Cempaka. Namun neng danastri bangkit dalam wujud manusia serigala.”
“Apa! kak Danastri di bangkitkan lagi dalam wujud siluman serigala?” jerit Cempaka tertahan.
“Apakah ki Darso mengetahui siapa kedua orang itu?” tanya Jaka menimpali.
“Saya tidak mengetahui tentang mereka berdua, den. Mereka tidak hanya membangkitkan mayat neng danastri, namun juga membangkitkan mayat Gayatri, Ki Madar dan maung geni. Semuanya dibangkitkan dalam bentuk manusia siluman. Bukan hanya sampai disitu, Mereka pun mengamuk di desa ini hingga puluhan warga tewas menjadi korban,” terang ki Darso.
“Lalu kemana mereka setelah itu ki?”
“Setelah mengamuk di desa ini mereka pun pergi tanpa meninggalkan pesan atau jejak sedikitpun. Namun yang sempat aku dengar dari pembicaraan mereka, mereka akan membangkitkan beberapa manusia siluman lagi untuk dijadikan prajurit. Kalau aku tidak salah dengar, salah satu dari mereka memanggil yang muda dengan sebutan Mandaka.”
Setelah mendengar semua keterangan dari ki Darso, Jaka pun merapikan kembali keadaan makam yang terbongkar itu walaupun tidak ada lagi jasad didalamnya. Kemudian mereka berdua berpamitan dan meninggalkan Desa itu. Meski hati mereka diliputi dengan rasa penasaran namun petunjuk yang diberikan oleh Ki Darso belum bisa memberikan mereka keterangan pasti siapa pelaku pembongkaran makam kakak tiri cempaka itu.
Bersambung...
Mohon sempatkan memberi like dan komentar.
__ADS_1