Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.139. Canik Kemuning


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 139...


Bidadari Giok Es tersenyum mendengar ucapan Intan. Senyum itu sangat indah. Bahkan sebagai seorang perempuan saja Intan terpesona. Bahkan terbetik rasa iri terhadap paras cantik di depannya.


“Kau tidak perlu iri terhadapku Intan.” Ucap Bidadari Giok Es.


Lagi-lagi Intan dibuat tersipu. Bahkan kali ini ia sedikit jengkel. Sampai-sampai gadis itu mencibirkan bibirnya ke arah Bidadari giok Es.


“Ketahuilah, aku adalah bagian dari dirimu. Dan itu semua sudah digariskan


. Dengan kata lain apa yang ada padaku adalah apa yang akan ada padamu nantinya. Ketahuilah Intan, sesungguhnya kau tak pernah kehilangan jantungmu.” Ungkap Bidadari Giok Es.


Kemudian Jelmaan kekuatan penjaga Pulau Es itupun menceritakan semua kejadian sebenarnya pada Intan. Tentu saja gadis itu sangat terkejut. Bahkan air matanya sampai mengalir dipipi. Seketika Intan teringat kepada Bayu dan apa yang akan terjadi pada pemudia itu apabila tau Nalini akan meninggal dunia.


“Mengapa bisa terjadi seperti ini? Aku lebih memilih mati agar bisa menyelamatkan kak Nalini.” Rintih Intan lirih.


“Semua sudah di takdirkan Intan. Sebagai mahluk ciptaan Yang Maha Kuasa kau hanya bisa menjalani takdirmu. Kau masih bisa menyembuhkan gadis itu Intan, karena aku akan mengeluarkan mustika ular api dari tubuhmu. Kekuatan api itu tidak ada gunanya untukmu, kekuatan yang akan kau miliki nantinya jauh lebih dahsyat. Setelah aku mengeluarkan mustika itu kau bisa memberikan kepadanya.”


“Benarkah itu giok es?”


“Benar Intan. Hanya saja kesembuhannya tidak akan bisa merubah takdir yang mengiringinya.”


“Maksudmu?”


Bidadari Giok Es hanya tersenyum menanggapi pertanyaan intan. Kemudian iapun berkata “Biarkan waktu yang akan menjawab pertanyaanmu. Takdir akan melakukan peranannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.”

__ADS_1


Intan masih belum mengerti apa yang dikatakan Bidadari Giok Es. Namun entah mengapa ia merasakan perasaan tidak enak mendengar ucapannya. Tapi di sisi lain ia sangat senang mendengar bahwa mustika Ular Api dapat dikeluarkan dari tubuhnya.


“Kebaikanmu, dan ketulusanmu mengorbankan diri untuk kebahagiaan orang lain dan demi terciptanya keamanan dunia membuat kau dipilih.” Ujar Bidadari Giok Es. “Sekarang akan kita mulai. Bersemadilah Intan, setelah empat belas hari kedepan kau akan berada di dunia kembali.” Sambung bidadari giok Es.


Intanpun mulai melakukan semadi. Gadis itu duduk bersila dan mulai memejamkan mata. Pada awalnya tenaga sakti yang memancar dari tubuhnya adalah tenaga sakti Naga Geni. Tubuh gadis itupun memancarkan cahaya berwarna kuning api.


Kemudian Bidadari giok es mendekati Intan. Lalu telapak tangannya mengarah tepat ke bagian jantung gadis itu. Perlahan sebuah benda sebesar telur burung puyuh yang bersinar kekuningan keluar dari dada Intan. Sesaat tubuh gadis itu bergetar.


Bidadari Giok Es berubah wujud menjadi cahaya berwarna hijau muda terang. Kemudian cahaya itu masuk ke tubuh intan melalui tempat di antara kening gadis itu. Tiba-tiba di dahi yang berada diantara kedua kening intan muncul benda kecil berbentuk kristal. Lalu tubuh gadis itu mulai memancarkan sinar berwarna kehijauan.


Di alam dunia pun terjadi sesuatu pada tubuh gadis itu. Seandainya Raja Pulau Es dan kedua anaknya tidak beranjak dari situ, tentu mereka melihat semua keanehan yang terjadi. Mustika ular api telah keluar dari tubuh gadis itu. Sementara tubuhnya yang tadinya berbaring, kini sudah berubah posisi menjadi bersila dan memancarkan cahaya kehijauan.


...***...


Pagi yang begitu sejuk di gunung belawu. Gunung yang dilihat dari bawah berwarna kebiruan. Di sana tempat menyepinya seorang tokoh sakti yang lama mengundurkan diri dari dunia persilatan. Orang itu bernama Empu Basarudita atau yang bergelar Dewa Penyair Jiwa.


Dua sosok tubuh tampak menaiki gunung belawu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Satu orang menggunakan pakaian berwarna biru, sedangkan yang satunya lagi keunguan. Satu perempuan dan satu lelaki. Mereka tak lain Jaka dan Cempaka istrinya.


Tak berapa lama sepasang suami istri itu tiba di puncak gunung. Nampak di sana berdiri sebuah pondok sederhana. Di halaman sebuah pondok terlihat seorang gadis berumur sekitar dua puluh tahunan sedang merawat pekarangan bunga di tempat itu. Sesekali si gadis mengajak tanamannya berbicara.


“Mohon maaf nisanak mengganggu waktunya sebentar.” Sapa Jaka sambil menjura memberi hormat.


Perlahan gadis itu memalingkan wajahnya ke arah Jaka dan Cempaka. Sambil tersenyum ramah gadis itu berdiri dan perlahan menghampiri mereka berdua yang berada di depan pagar rumah.


“Oh.. ada orang rupanya. Maaf kalau aku keasikan bermain dengan bunga-bunga. Siapakah kalian. Ada apa gerangan?”


“Maafkan kalau kami mengganggumu nisanak. Aku Jaka dan ini istriku Cempaka. Kami ingin bertamu dengan Empu Basarudita, apakah beliau berada di sini?”

__ADS_1


“Oh.. kalian sedang mencari kakekku rupanya.” Ucap gadis berpakaian serba putih itu. “Mari kuantar ke tempat beliau.”


Kemudian gadis itu keluar rumah dan berjalan ke arah kanan pondok. Jaka dan Cempaka mengikuti gadis itu di belakang. Nampak penampilan dan cara berjalan gadis itu sangat anggun. Rambutnya yang panjang terurai sebatas pinggang membuat keanggunan nya semakin terlihat.


Tiba di tempat kosong yang terdapat sebuah gundukan tanah mereka berhenti. Kemudian gadis itu mendekat ke gundukan tanah itu. Sedangkan Jaka dan Cempaka mematung. Namun mereka sudah menduga-duga apa gerangan maksud si gadis membawa mereka ke tempat itu.


“Kakek sudah lima tahun yang lalu beristirahat dengan tenang. Di sini hanya aku sendiri tinggal. Dua puluh dua tahun yang lalu kakek menemukanku setelah kedua orang tuaku tewas dirampok. Oleh kakek aku diangkat jadi cucunya.” Tutur gadis itu.


“Ahh.. maafkan kami Nisanak. Kedatangan kami mungkin membuat nisanak kembali bersedih.” Ucap Jaka merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa. Kakek memang menyuruh aku menunggu kalian di sini sebagai penggantinya untuk membatu kalian. Kata beliau kelak akan datang sepasang suami istri ke sini hendak meminta bantuan ku, tapi beliau sudah tidak di dunia lagi. Jadi beliau memintaku cucunya menggantikan beliau.”


Jaka dan Cempaka tak dapat menyembunyikan rasa terkejut dan kekaguman mereka pada sang empu yang sudah meninggal dunia. Mereka pun percaya bahwa sang cucu yang diminta menggantikannya bukanlah orang sembarangan. Terbukti gadis yang berjalan tidak menggunaka alas kaki itu, tak sedikitpun debu maupun tanah menempel di kakinya yang mulus itu. Bahkan jejak kaki di tempat itu tak terlihat dari bekas pijakannya, yang berarti gadis itu selama berjalan tadi menggunakan ilmu meringankan tubuh.


“Maafkan kelancanganku nisanak. Bolehkan kami tau nama ataupun gelarmu.” Tanya Cempaka.


“Hihi gelar apa?” sahut gadis itu tertawa kecil. “Kakek menamaiku Canik Kemuning. Katanya wajahku kecil makanya nama itu diberikan kepadaku.”


Memang wajah gadis itu terlihat kecil, dengan hidung yang bangir sehingga membuatnya kelihatan sangat cantik. Apalagi ditambah kulitnya yang berwarna kuning Langsat hingga ke wajah, membuat gadis itu benar-benar mempesona.


“Kapan kita akan berangkat ke Hutan Pengecoh Arwah?” tanya Canik Kemuning.


Tentu saja hal ini mengagetkan mereka berdua sampai melongo dibuatnya. Rupanya ramalan Empu Basarudita benar-benar tepat tentang kedatangan dan tujuan mereka ke tempat itu. Merekapun semakin yakin Canik Kemuning telah benar-benar disiapkan sang empu untuk membantu mereka.


Bersambung...


Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja. 

__ADS_1


 


__ADS_2