
"Berhenti..."
Sebuah teriakan mencegat rombongan Pendekar Tongkat Emas saat akan memasuki Lembah Neraka. Serentak semua orang berhenti dengan penuh pertanyaan dalam hatinya. Bahkan beberapa diantaranya menggumam kegusaran.
"Apa-apaan ini?" Tanya Pendekar Tongkat Emas saat melihat tiga orang berpakaian warna hitam dengan gambar istana di kelilingi api di dadanya menghadang di hadapan mereka.
"Atas perintah wakil ketua Istana Lembah Neraka, tidak ada siapapun yang boleh masuk kecuali menyatakan takluk terhadap ketua Rajawali Merah dan siap mengikuti aturan baru yang dibuat" ucap salah satu dari orang berbaju hitam.
"Sejak kapan Istana Lembah Neraka punya wakil ketua" bentak Dewi Pedang Khayangan seraya mengirimkan pukulan jarak jauh kearah tiga penghalangnya.
Blammmm...
"Sejak kapan Naga Penjaga menyerang anggota setia istana lembah neraka"
Ledakan kecil terjadi. Yang anehnya Dewi Pedang Khayangan yang malah tersurut tiga langkah. Ternyata tenaga yang iya kirimkan bukan menghantam tiga orang penghadangnya, melainkan seorang berbaju jingga yang di dadanya juga bergambar Istana Lembah Neraka.
Di saat yang menentukan tadi, datang Pranggala menghalau serangan Dewi Pedang Khayangan. Seandainya bukan dia yang menyambut, tentu tiga orang penjaha itu akan celaka. Untunglah Wakil yang di tunjuk oleh Rajawali Merah itu cepat datang.
"Hormat pada wakil ketua" Seru ketiga penjaga sambil membungkukkan badan.
Melihat kejadian itu, Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan mengerutkan kening mereka. Keduanya melihat Pranggala dari atas sampai bawah sambil mengingat-ingat siapa orang yang ada dihadapannya. Sampai beberapa kali keduanya saling pandang, sepertinya mereka belum juga bisa mengingat siapa orag ini.
"Siapa Kau? Berani sekali mengaku-ngaku wakil dari ketua Istana Lembah Neraka." Bentak Pendekar Tongkat Emas.
"Lancang Kau berbicara seperti itu pada wakil ketua" Balas salah seorang penjaga tak kalah garang membentak.
Pranggala pun mengangkat tangannya memberi isyarat untuk diam. Lalu lelaki itupun berkata
__ADS_1
"Maafkan sebelumnya ki, nyi, kalau pengangkatan aku sebagai wakil ketua mengejutkan kalian," tukas Pranggala. "Kejadiannya memang hanya disaksikan oleh aku sendiri dan ketua" tambah pranggala seraya menunjukan sebuah lempengan logam berwarna keemasan yang menjadi lambang seorang wakil ketua.
Melihat apa yang ditunjukkan Pranggala terkejut juga orang-orang yang ada di situ. Tanpa di komando anggota-anggota tingkat tiga dan empat yang barusan datang langsung berlutut sambil memberi salam. Hanya Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan saja yang masih berdiri ditempatnya.
"Hmmmm... aku ingin melihat alasan Ketua memilihmu sebagai wakilnya, dan ingin kubuktikan apakah layak kau mendapatkannya." ucap Pendekar Tongkat Emas yang menyiratkan sebuah tantangan.
"Lalu apa maumu ki?" tanya Pranggala.
"Kau layani aku barang sepuluh atau dua puluh jurus. Bila kau mampu mengalahkan aku, maka akan kuakui kau sebagai wakil ketua Istana Lembah Neraka." Tantang Pendekar Tongkat Emas secara terang-terangan kali ini.
"Baiklah, aku akan layani kalian berdua sekaligus" Sahut Pranggala seraya melompat berpindah ketempat yang lebih lapang.
"Jangan congkak kau orang baru, kau kira melawan aku sendiri sudah mampu, apalagi melawan kami berdua. Tapi bila kami menolak, nanti apa kata orang-orang luar, seorang wakil ketua diremehkan orang sebawahannya. Mari nyi, kita liat seperti apa kemampuan yang mengaku wakil ketua ini."
Keduanya pun melesat menyusul Pranggala. Di tanah yang agak lapang tak jauh dari mulut lembah, Pranggala sudah menunggu dengan tangan bersedekap. Wakil ketua Istana Lembah Neraka itu tersenyum menunjukkan wibawanya.
"Langsung saja" Jawab Pendekar Tongkat Emas. Orang tua itu langsung menyerang Pranggala dengan jurus-jurus andalannya.
Melihat rekannya sudah menyerang lawan, Dewi Pedang Khayangan langsung ikut menyerang Pranggala. Tanpa kesulitan sama sekali, Pranggala dapat dengan mudah melayani kedua orang penantangnya.
Sudah berlalu dua puluh jurus, Pendekar tongkat emas dan Dewi Pedang Khayangan tak mampu mendesak lawannya. Bahkan nampak Pranggala tak sedikitpun melakukan serangan balasan. Merasa diremehkan keduanya pun mengeluarkan ilmu kesaktian mereka.
Deru angin menyebar membuat pepohonan di tempat itu sedikit bergoyang. Sambaran-sambaran pedang dan tongkat berkekuatan tenaga dalam tingkat tinggi semakin gencar menyerang Pranggala. Kali ini orang kepercayaan Rajawali Merah itu mau tak mau memberikan perlawanan. Sambil mengerahkan tenaga sakti inti apinya ia pun menangkis dan menyerang lawan.
buukk..
plakkkk..
__ADS_1
Dua serangan beruntun mengenai dada Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan. Keduanya terjengkang sejauh dua tombak. Untung saja Pranggala tidak berniat melukai lawan. Sehingga Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan hanya menderita luka ringan.
"Masih ragukah kalian denganku? Sebenarnya aku berasal dari anggota tingkat ke empat. Tapi berkat pelajaran dari ketua, ilmu yang ku miliki berada diatas Raja Iblis Bukit Tengkorak sekalipun." Tutur Pranggala menjelaskan.
Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Khayangan pun bangki. Tak lama kemudian mereka membungkuk memberi hormat.
"Hormat pada wakil ketua, maafkan kekurang ajaran kami." sesal keduanya bersamaan.
"Sudahlah, aku mengerti apa yang kalian lakukan adalah hal yang wajar. Dan itu juga membuktikan kesetiaan kalian pada Istana Lembah Neraka. Kelak kalian lah yang akan menjadi dua pelindung perkumpulan. Sekarang kita masuk dulu kelembah, kemudian membicarakan segala urusan" Ucap Pranggala.
Kemudian Semuanya memasuki lembah kecuali tiga orang penjaga. Kali ini orang-orang yang baru datang melihat pemandangan yang tak seperti biasanya di Lembah Neraka. Api-api merah dari dalam bumi menyambar-nyambar dari di sekeliling tempat itu. Api itu pun sangat beracun. Hampir saja mereka tewas kalau saja tidak meminum pil penawar yang diberikan Pranggala.
"Ki, mengapa ketua tidak pulang bersama kalian, apa yang terjadi sehingga anggota kita yang pulang hanya tinggal sepertiganya saja" tanya Pranggala sambil di perjalanan menuju istana
Pendekar Tongkat Emas pun menceritaka semua yang terjadi. Sesekali Dewi Pedang Khayangan turut menimpali. Berkali-kali kening Pranggala berkerut mendengarkan cerita Pranggala.
"Jadi bagaimana keadaan ketua, apakah tidak meninggalkan jejak sedikitpun?" tanya Pranggala cemas.
Pendekar Tongkat Emas hanya menggelengkan kepala. Sesaat ia tenggelam dalam ingatan pada kejadian beberapa hari yang lalu di bukit kosong. Memang tak asa seorangpun yang tau apa yang terjadi pada diri Rajawali Merah.
"Mungkinkah ketua telah tewas ki?" tanya Pranggala lagi.
"Entahlah..." Jawab Pendekar Tongkat Emas sambil menggelengkan kepalanya. "Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Aku kira seandainya ketua selamat, pasti dia sudah kembali ketempat ini." tambahnya lagi dengan nada putus asa.
"Aku sangat yakin ketua masih hidup ki. Mungkin saja dia ada urusan sehingga tidak secepatnya kembali ke sini." bantah Dewi Pedang Khayangan.
"Akupun yakin ketua masih hidup," ucap Pranggala menyetujui pendapat Dewi Pedang Khayangan. "Tapi yang aku khawatirkan ketua mengalami musibah atau terluka dalam, sehingga tidak bisa datang ke sini." tambahnya lagi memberitahukan ke khawatirannya.
__ADS_1